"Aku pernah membaca sebuah deretan kata yang mengatakan bahwa Menikahi laki-laki cuek adalah setengah dari penderitaan hidup.
Aku sepenuhnya setuju pada pernyataan itu" - Adhara Cellia.
Kehadiran cinta masa SMA nya semakin memperkeruh hidup Dara. Ia ragu mampu menahan diri dari godaan pria di masa lalunya dan mempertahankan pernikahannya yang memang telah rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
Rey merasa hampa ketika satu bulan kemudian Alexa dinyatakan hamil. Pria itu merasa dunianya seakan terhenti. Kehamilan Alexa akan menahannya tetap berada di samping wanita itu hingga waktu yang tak bisa ditentukan.
"Kita hanya sekali melakukannya Al, apa mungkin bisa langsung hamil?" Rey tau pertanyaan itu pasti sangat menyakiti hati Alexa, tapi karena pria itu begitu terluka membuat bibirnya tak mampu ia tahan. Pertanyaan menyakitkan itu akhirnya keluar dari mulutnya.
"Apa menurut kamu aku hamil anak orang lain Rey? apa menurutmu aku sehina itu? aku sangat mencintai kamu, dan aku berani bersumpah bahwa aku mengharamkan tubuhku disentuh oleh pria lain Rey. Kamu boleh membenciku, tapi kumohon jangan ragukan janin yang sedang aku kandung karena dia benar-benar milik mu" Ucap Alexa penuh kelembutan. Meski Rey sudah sangat melukai harga dirinya namun Alexa berusaha menutupi kesakitan nya.
Rey berlalu tanpa berucap sepatah kata pun lagi. Satu bulan ini mereka memang tinggal seatap namun Rey mengabaikan Alexa, mereka bahkan tidur terpisah. Rey sama sekali tak peduli pada permohonan maaf istrinya yang begitu gigih untuk memperbaiki semuanya.
Hati pria itu terlanjur kecewa pada kebohongan Alexa yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun. Kebohongan yang membuatnya terikat dan mengorbankan cintanya yang begitu besar pada Dara. Ia kini terkurung dalam penjara yang Alexa ciptakan.
Semesta seolah begitu berpihak pada Alexa untuk turut serta mengurungnya dalam sebuah ikatan yang berduri. Rey tak bisa berbuat apa-apa, meski ia tak menginginkan kehamilan Alexa namun ia tak bisa lepas tanggung jawab begitu saja saat benih yang ia tanam beberapa waktu yang lalu tengah tumbuh di rahim Alexa. Mau tak mau ia harus berkorban sekali lagi, tetap berada di sisi Alexa minimal hingga bayi mereka terlahir ke dunia.
Membayangkan akan hadir sosok bayi di dalam pernikahan nya bersama Alexa sama sekali tak berhasil membangkitkan rasa bahagia pada diri Reynand. Padahal sejatinya kehadiran buah hati adalah impian semua orang tua, mungkin karena saat ini hati nya telah mati.
🍁🍁🍁
Alexa menatap sedih pada Reynand yang tanpa ekspresi menatap ke layar saat mereka melakukan USG untuk pertama kali. Alexa berharap mampu melihat pancaran kebahagiaan di mata pria itu seperti seorang ayah pada umumnya saat melihat buah hati mereka.
Tapi untuk saat ini Alexa harus cukup bersyukur karena Rey bersedia mengantar nya memeriksakan kehamilan. Rey juga menjalankan tanggung jawabnya memenuhi apa yang ia butuhkan apalagi awal kehamilan seperti ini cukup sulit bagi Alexa karena ia mengalami mual dan muntah yang cukup parah.
"Lihatlah, ini dua kantong kehamilan yang nampak. Itu artinya ada kemungkinan bayinya ada dua, tapi untuk lebih pastinya kita akan ketahui di pemeriksaan selanjutnya satu bulan lagi" Alexa terperangah mendengar penjelasan sang dokter, anugerah yang Tuhan berikan padanya begitu besar jika benar ia akan langsung mendapatkan dua bayi tidak nya satu.
Namun berbeda dengan Rey, pria itu masih tanpa ekspresi. Tak ada kilau semangat yang pria itu tampakkan. Rey tak merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang tengah Alexa rasakan.
"Rey kata dokter kemungkinan kita akan memiliki dua bayi, kamu nggak bahagia?" tanya Alexa saat diperjalanan pulang. Saat bersama dokter Rey lebih banyak diam, hanya Alexa yang sibuk bertanya tentang banyak hal seputar kehamilannya.
"Rey" Panggil Alexa lirih karena Rey tak menggubrisnya.
"Hatiku kebas, aku bahkan lupa rasanya bahagia. Mungkin selamanya tak akan bisa merasakan apapun lagi Al" ucap Reynand tersenyum perih. Matanya fokus menatap jalanan hingga tak menyadari perubahan wajah Alexa yang begitu terluka mendengar ucapannya.
Andai saja Alexa tak berbohong, mungkin ia bisa menjalani pernikahan ini dan akan terus berusaha memupuk rasa cinta untuk Alexa. Ia akan belajar untuk mengikhlaskan bahwa Dara bukanlah takdirnya. Tapi kenyataan nya berlawanan, kebohongan Alexa membuat hati pria itu tertutup rapat dan tak menyisakan sedikitpun celah di hatinya untuk Alexa masuki.
"Rey, kamu berharapnya anak kita laki-laki atau perempuan? atau maunya sepasang?" Tanya Alexa lagi setelah berhasil menata hatinya. Ia harus terus bersabar demi meluluhkan hati suaminya.
"Jangan menanyakan apapun padaku Al, terserah padamu saja. Karena sejak awal juga semua yang terjadi atas keputusan mu." ucap Rey lagi.
Alexa menghela nafas berat, ia tak berniat untuk berbicara lagi. Kondisi hati Reynand tidak memungkinkan untuk mereka membahas apapun. Alexa akhirnya mengalah dan membiarkan Reynand menikmati kebisuannya.
Hari-hari terus berlalu, tak ada yang berubah dengan hubungan Rey dan Alexa. Meski kehamilan Alexa semakin besar Rey masih setia dengan kebekuan nya meski berbagai usaha telah Alexa lakukan. Namun Rey tetap berusaha menjadi suami dan ayah yang siaga. Alexa tau hal itu Rey lakukan hanya karena tanggung jawab semata, tak ada peran cinta di dalamnya.
"Rey, please untuk kali ini aku mohon kesediaan kamu memberikan nama pada putra kita" pinta Alexa di suatu hari setelah bayi kembar mereka akhirnya hadir ke dunia.
Untuk pertama kalinya Alexa melihat sedikit nyala terang di mata Reynand ketika menatap putra kembar mereka.
"Daffa Zayendra dan Raffa Naradifta" Ucap Rey dengan dengan senyum tipis yang membuat hati Alexa lega dan berbunga.
"Nama yang bagus Rey, panggilannya apa?" Tanya Alexa dengan penuh semangat.
"Terserah, Daffa dan Raffa juga boleh" Rey menggenggam bergantian kedua tangan bayi kecil yang mewarisi ketampanan nya. Tak Rey pungkiri mereka begitu mirip dengannya.
Kehadiran anak kembar mereka sedikit demi sedikit mencairkan hubungan antara Rey dan Alexa. Namun satu hal yang tak berubah, Rey masih menjaga jarak dengan sang istri. Hanya saat bersama Daffa dan Raffa juga di depan kedua orang tua mereka masing-masing Rey dan Alexa akan bersikap seperti keluarga yang hangat.
Pernah suatu kali Alexa mempertanyakan sikap Rey padanya.
"Keputusan ada di tangan mu Alexa, ingin terus bertahan atau menyerah. Karena sekuat apapun aku mencoba hatiku tetap tak bisa terbuka lagi. Maaf mungkin aku nggak bisa menjalankan peranku sebagai suami seutuhnya. Aku hanya bisa menawarkan persahabatan padamu" meski begitu Rey selalu berusaha menjadi ayah yang baik bagi kedua putranya.
"Aku akan terus bersabar Rey, aku akan terus bertahan hingga akhir. Aku yakin suatu saat aku bisa meluluhkan hati kamu. Karena bagaimana pun ikatan diantara kita tidak akan pernah terputus, malah semakin erat dengan kehadiran bayi kembar kita. Tak apa meski saat ini aku hanya bisa menjadi sahabatmu." Ucap Alexa sambil tersedu.
Bahkan Alexa tak bisa berbuat apa-apa mengetahui sebuah fakta bahwa Rey terus berusaha untuk mengejar Dara nya. Pria itu terus berupaya untuk mendapatkan promosi agar dipindahkan ke kantor pusat demi mengejar Dara.
Flashback Off
🍁🍁🍁
ahhh mumet