Warning!! 21+
Jangan tanyakan tentang etika, norma dan agama. Karena ini pure hanya sebuah cerita halusinasi yang bertujuan untuk menghibur. Harap bijaklah dalam membaca!
❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Bagaimana perasaanmu? Jika kamu diculik dan disekap oleh pria yang tak di kenal? Menyeramkan bukan?
Tapi bagaimana, jika orang yang menculikmu adalah seorang pria muda, tampan dan kaya? Bahkan, memperlakukanmu seperti ratu. Karena dia telah jatuh cinta pada gadis yang diculiknya dan telah direnggut kehormatannya.
Hal itulah yang terjadi pada seorang gadis yang bernama Rhibie Amoura. Gadis sebatang kara yang menjalani hidup bersama sahabat-sahabatnya.
Bagaimana pula perjuangan sahabat-sahabat Rhibie untuk mencari keberadaan gadis itu, setelah sang Maha Dewi menghilang secara tiba-tiba?
Please, dukungannya ya!...🙏😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryn HR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Dari Papa
Eldanno menatap hambar ke arah dua manusia yang sedang tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan di sofa. Mereka tak lain adalah istri dan sahabatnya sendiri.
Miris 'kan?
Miris kalau mereka dalam keadaan normal. Tapi mau bagaimana lagi? Rhibie yang sudah kelelahan akibat muntah-muntah terus dari pagi, kini bisa menikmati tidur siangnya setelah perutnya terisi. Ditambah mualnya yang sudah mereda.
Eldanno mengalihkan tatapan pada layar ponselnya yang berdering.
Papa Memanggil....
"Hallo, Pa!" Eldanno mengangkat panggilannya. Dan berjalan menuju kamarnya. Dia memilih balkonnya untuk mengobrol bersama sang Papa.
"Apa kau sudah melihat berita tentang perusahaan kita?" Kata Papa tanpa basa-basi dari sebrang sana.
"Berita tentang apa, Pa? Maaf, aku gak sempet liat TV ataupun sosial media!"
"Perusahaan kita di ambang kebangkrutan!"
Kabar itu membuat Eldanno menarik nafasnya. Dengan seksama, dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Papa Dimas. Beliau mengatakan, jika industri mereka sudah kehilangan pesonanya. Setelah pemberitaan di media massa menyebar luas ke seluruh penjuru dunia. Bahkan di media sosial, issue itu telah menjadi pergunjingan para netizen.
Semua produsen yang menggunakan leather dari keluarga Abraham, telah mencabut kerjasamanya. Mereka begitu cepat termakan issue, tanpa ingin memberikan kesempatan pada Papa Dimas untuk mengklarifikasi kabar tersebut.
Sepertinya, issue tak sedap itu memiliki dalang yang berperan apik didalamnya. Sehingga, membuat pemberitaan tersebut begitu cepat mencuat ke permukaan media.
Papa Dimas memang tidak tinggal diam. Saat ini kasusnya sedang di tangani pengacara andalannya yang tak lain sahabatnya sendiri, yaitu Oom Ikram Attala. Papanya Axelle.
Namun pemberitaan itu, membuat industri Papa Dimas hampir lumpuh total. Karena tak ada lagi produsen yang mau lagi menerima leather-nya. Mereka terlalu kemakan berita beracun yang tersebar luas di media. Bahkan produsen kecil pun tak ada yang sudi untuk meliriknya. Sebab itulah, Papa Dimas melakukan pemberhentian kerja pada pegawainya untuk sementara waktu secara besar-besaran. Beliau berjanji akan memanggil mereka kembali, andai industrinya sudah berjalan normal seperti semula.
Saat ini, kulit hasil penyamakan itu menumpuk di gudang. Papa Dimas tak tahu harus melakukan apa. Karena fokusnya saat ini, hanya memburu pelaku yang bekerja sama dengan Seno. Pria itu sengaja di bebas liarkan, guna melakukan pengintaian untuk setiap gerak-geriknya.
"Sebab itulah, Papa memintamu untuk pulang sementara waktu!" Ucap Papa di akhir ceritanya.
"Tapi, Pa..."
"Untuk apa kau bertahan disana, Eldan? Jika industri tempatmu bernaung, saat ini sedang koma!"
"Pa... Sekarang aku sudah punya istri. Sebentar lagi, kami akan segera memiliki keturunan" Ucap Eldanno, lemah.
"Apa?? Kau sudah menikah?? Kenapa kau tak memberi tahuku, Eldan? Apa kau sudah menganggap, Papamu ini tak berarti??" Papa Dimas terdengar murka seketika.
Jangankan anda, Tuan Dimas! Rhibie aja gak tau kalau dirinya udah jadi istri orang.
"Maaf, Pa! Bukan maksud aku begitu, panjang ceritanya Pa..."
"Papa punya banyak waktu untukmu!"
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya!" Sahut Eldanno. Dan mulai bercerita, mengisahkan tentang pertemuan pertamanya dengan Rhibie. Mulai dari penyekapannya, perlakuannya pada Rhibie, pernikahan yang tidak diketahui oleh istrinya sendiri. Bahkan, menceritakan si calon jabang bayi yang begitu mengidolakan sosok Baghal.
"Jadi, Papa akan segera menjadi seorang kakek??" Sahut Papa Dimas sambil tersenyum berangan.
"Apa Papa tidak marah?"
"Kenapa harus marah? Papa lebih senang kamu menikah, daripada harus terus-terusan menghabiskan uang untuk membayar wanita malam"
"Apa Papa tak ingin mempermasalahkan babat, bibit, dan bobotnya?"
"Jika kamu bilang dia masih virgin saat bertemu denganmu, itu artinya dia gadis baik-baik bukan? Lalu apa masalahnya jika kamu mencintainya? Apalagi, dia sedang mengandung cucu Papa" Papa masih terus mengembangkan senyumannya.
"Ajaklah dia pulang!" Lanjut Papa.
"Sepertinya untuk sementara waktu belum bisa, Pa. Karena kondisi kandungannya sangat lemah"
"Ya, sudah! Tapi kau harus tetap pulang dulu Eldan! Sebentar saja!"
"Gimana nanti, saja. Tapi akan ku usahakan"
"El..."
Tiba-tiba suara Rhibie dari ambang pintu balkon, mengejutkannya. Membuat Eldanno serentak menoleh ke arahnya.
"Hai Sayang, udah bangun?" Sambut Eldanno.
"Dia memanggilmu El??" Tanya Papa yang masih terhubung di telepon.
"Iya, Pa. Dia memanggilku seperti itu!" Jawab Eldanno dan merentangkan satu tangannya, menyambut Rhibie yang kembali bermanja padanya.
"Persis seperti mendiang Mama mu"
"Iya, Pa. Hanya mendiang Mama, Mamanya Baghal dan Rhibie yang memanggil namaku begitu"
"Karena Mamanya Baghal merupakan sahabat dekat Mama mu, sebab itulah dia memiliki panggilan yang sama. Tapi kenapa istrimu memiliki panggilan yang sama?"
"Tentu saja karena dia nyamanannya kayak gitu, Pa!" Ucap Eldanno seraya tersenyum pada Rhibie.
"Iya, kau benar! Jangan dimatikan panggilannya, Eldan! Lakukan video call, dan arahkan saja kameranya pada istrimu! Papa ingin lihat, seperti apa wajah istrimu" Pinta Papa Dimas.
Tanpa bicara lagi, Eldanno segera melakukan apa yang dikatakan Papanya. Menerima panggilan videonya, dan mengarahkan kameranya pada Rhibie.
"El, kamu mau ngapain? Kamu mau video aku, ya?" Tolak Rhibie, risih.
"Papa ingin lihat wajah mommy-nya El junior" Sahut Eldanno sambil tertawa kecil.
"Apa?? Itu Papa kamu? Jangan kayak gini El, aku malu!" Ucap Rhibie seraya menutup muka dengan kedua tangannya.
"Gak apa-apa, Bie! Apa kau tak ingin menyapa Papa?" Eldanno menarik tangan Rhibie.
Sedang Papa Dimas diseberang sana, tak henti-hentinya tersenyum.
Rhibie pun melepaskan tangannya dan berdiri di samping Eldanno. Merapatkan wajahnya pada dada Eldanno dengan wajah yang memerah, malu.
"Hallo, Oom! Apa kabar??" Sapa Rhibie malu-malu.
"Hallo! Kok Oom?? Eldan panggil saya Papa!" Balas Papa Dimas.
Rhibie mendongakkan wajahnya, menatap Eldanno. Mengisyaratkan apa yang harus dilakukannya?
Eldanno pun mengangguk. Meminta Rhibie untuk melakukan seperti yang dikatakan oleh Papanya.
"Maaf, Pa! Apa kabar?" Rhibie mengulang sapaannya.
Entah berapa lama mereka saling bicara lewat telepon. Berbicara kesana-kemari dengan topik pembicaraan yang berganti-ganti. Namun menyenangkan. Setelah Papa Dimas merasa puas melihat wajah Rhibie, panggilan pun di akhiri.
Eldanno membawa Rhibie untuk duduk di ranjang santai yang ada di balkonnya. Menaruh gadis itu di pangkuannya.
"Bie..."
"Hem"
"Andai bisnisku disini ditutup, apa yang akan kamu lakukan? Apa kau bersedia ikut bersamaku ke Jakarta?" Tanya Eldanno seraya menatap gadis yang ada di pangkuannya.
"Enggak lah! Ngapain aku ikut sama kamu? Mending aku meneruskan hidup bersama sahabat-sahabatku!" Jawab Rhibie. Beranjak dari pangkuan Eldanno, lalu duduk disampingnya.
"Tapi, bagaimana dengan bayi kita?"
"Kamu harus membayar kompensasi padaku, aku akan menggugurkannya!" Ucap Rhibie enteng.
"Jangan membunuhnya, Bie! Dia berhak untuk lahir ke dunia ini!"
"Tapi aku gak mau punya anak dari hubungan yang gak jelas. Andai kamu tetap disini, aku akan melahirkan bayi ini dan menyerahkannya padamu. Setelah itu, aku akan pergi"
"Apa kau tak ingin menikah denganku? Dan kita hidup bersama, membesarkan anak kita?" Tanya Eldanno meraba-raba. Sebenarnya dia ingin mengatakan jika mereka sudah menikah. Namun, Eldanno ingin mengetahui reaksi Rhibie terlebih dahulu.
"Enggak! Ngapain aku nikah sama kamu? Entar yang ada aku harus saingan sama para lon** yang pernah kamu booking. 'Kan gak elite, saingannya. Haha..." Ledek Rhibie yang ternyata menganggap perbincangan Eldanno sejak tadi hanya sebuah lelucon.
Eldanno beranjak dari tempatnya dan berdiri di tepi pagar pengaman disana. Memandang lepas hamparan tanah luas di hadapannya dengan hati yang penat.
Rhibie menatap Eldanno yang tak merespon candaannya. Apakah pria ini sedang ada dalam masalah? Kenapa dia nampak begitu tak bergairah? Padahal, dia 'kan hanya bercanda.
Ya, sudahlah! Kenapa harus dipikirin? Memangnya dia siapa? Bukan siapa-siapa 'kan? Dia hanya seorang bajingan yang telah memperkosanya. Dan kini, benih bajingan itu sedang bersemayam dalam rahimnya.
Rhibie yang sedang berkutat dengan pikirannya, mengusap perutnya.
Kemana sosok Rhibie yang memiliki jiwa empati terhadap sesama? Benarkah dia harus acuh pada pria yang sering memanjakannya? Meskipun pria itu memang seorang bajingan.
"El, apa kau sedang ada masalah?" Akhirnya, jiwa empati lebih mendominasi di hatinya.
Eldanno menoleh kearahnya dengan senyuman yang di paksakan.
"Apa kau tak ingin bercerita?" Akhirnya Rhibie mendekat. Dan menyentuh tangan Eldanno yang bertumpu di atas pagar.
Kembali, Eldanno hanya tersenyum tipis membalasnya. Dia membalikkan telapak tangannya untuk menggenggam tangan Rhibie.
"Bercerita lah, El! Ceritakan semuanya padaku!" Ucap Rhibie teduh dan lembut.
Eldanno kembali ke tempat tidur santainya, sambil menggenggam tangan Rhibie. Mengajak gadis itu untuk rebahan disana.
Rhibie tak menolak. Dia menurut saja pada perlakuan Eldanno. Rhibie malah sengaja memeluk tubuh pria itu, sambil mengelus-elus dada kokohnya. Berharap bisa menenangkan hati Eldanno yang sedang risau.
"Besok, aku akan ke Jakarta" Ucap Eldanno seraya menaruh lengan di atas keningnya dengan mata terpejam.
"Mau ngapain?" Tanya Rhibie dengan suara yang bergetar.
Eldanno pun mulai bercerita tentang masalah yang sedang menimpa perusahaan keluarganya. Semua yang dikatakan papa Dimas tadi, Eldanno ceritakan kembali pada Rhibie tanpa ada yang disembunyikan.
Rhibie hanya menyimaknya dengan tenang dalam pelukan Eldanno.