Bahtera rumah tangga Seorang Presdir yang bernama Daniel diambang kehancuran, Setelah kehadiran seseorang dari masa lalu nya.
Disitulah kesetiaan seorang istri sedang diuji.
Akanlah Istri nya bertahan dengan pernikahan nya atau malah mengubur janji suci mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Alya dan Rendi kecil sedang berada direstaurant seafood. ia berulang kali menghubungi ponsel suami nya tetapi daniel tak menerima panggilan video nya.
Alya merasa tidak nyaman dengan perasaan nya. wajah nya tampak gusar dan memasang wajah sedih. rendi kecil memandang wajah ibunya sambil menyuapkan dimsum kedalam mulut nya.
"Mommy, are you oke?" tanya rendi kecil.
Alya berusaha tersenyum melihat putra nya.
"I'm okey honey." jawab alya
Alya menahan tangis nya dan memutar-mutar pasta yang ada dihadapan nya. mendadak selera makan alya hilang sebab daniel tak kunjung menerima panggilan nya.
Tiba-tiba rafly duduk disamping alya dan membuat alya terkejut.
"Hey,,kenapa kamu ada disini? mana tania?" tanya alya.
"Tania lagi sama kakek nya, aku tidak sengaja melihat mu sedang melamun." jawab rafly.
"Apa kamu mau memesan makanan mu? kali ini biar aku yang traktir." ujar alya kembali tersenyum melihat wajah rafly.
"Baiklah," rafly memanggil pelayan restaurant dan ia memesan makanan nya.
Alya merasa sangat senang dengan momen seperti ini. ia seperti merasa sedang berkumpul dengan keluarga kecil nya.
"Mungkin seperti inilah suasana keluarga kecil ku andaikan saja rendy masih hidup." batin nya. Alya sangat merindukan rendy yang selalu saja menyempatkan waktu nya agar selalu berada disamping nya. mata alya memerah menahan tangisnya ketika melihat rafly yang memiliki paras seperti rendy sedang menyuapkan makanan kedalam mulut rendi kecil.
"Kenapa kamu tidak memakan pasta mu?" tanya rafly.
Alya memandang wajah rafly yang sedang menatap nya.
"Rafly, aku merasa kamu sangat mirip dengan seseorang." ujar alya
"Alya, apa aku boleh memakan makanan ku sekarang?" jawab rafly yang tak ingin alya mempertanyakan siapa sebenarnya dirinya.
Alya menganggukkan kepala nya dan mulai memakan pasta nya.
Tania dan kakek nyaa menghampiri rafly yang sedang duduk bersama alya dan rendi kecil.
"Disini kamu rupa nya." ujar ayah rafly dan memandang wajah alya dan rendi kecil bergantian.
"Pa,,kenalin ini alya dan ini rendi anak nya alya yang sering tania ceritakan padamu." ujar rafly.
Alya mengulurkan tangan nya dan pak arifin menerima uluran tangan alya.
"Aku.sangat penasaran dengan wanita yang yang sering disebut-sebut tania sebagai ibu nya. ternyata kamu memang cantik dan memiliki paras wajah keibuan." ujar pak arifin yang mencoba memberi pujian kepada alya.
Alya tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan ayah rafly.
"Terima kasih pak, saya sangat tersanjung mendengar nya." ujar alya
"Mari silahkan duduk." alya mempersilahkan ayah rafly untuk bergabung bersama mereka.
terdengar suara tertawa alya lepas ketika bersama keluarga rafly dan membuat nya melupakan kesedihan nya kepada daniel yang belum juga membalas pesan dan panggilan alya.
***
Daniel duduk dipinggir pantai bersama qanita setelah acara reuni mereka usai.
Qanita menyandarkan kepala nya dibahu daniel dan daniel menatap laut yang tidak berujung.
"Daniel, saat kau memutuskan hubungan kita, aku berpikir kamu tidak akan mungkin benar-benar melakukan nya, aku pikir itu hanya ancaman dan lelucon agar aku mau menyusulmu dilondon." ujar qanita
"Bukan nya kamu tau kalau aku tidak pernah bercanda qanita." jawab daniel
"Apa kamu tau kalau sebenarnya aku sudah mendaftar diuniversitas yang telah kita janjikan dan aku sudah diterima diuniversitas itu." ujar qanita
Daniel melihat kesamping nya menatap wajah qanita yang masih bersandar dibahu nya.
"Kamu jangan mengira aku menyerah begitu saja dan tidak berusaha untuk hidup bersama mu dilondon, tapi papa menentang keras keinginanku dia memaksaku agar berkuliah diamerika dan ia mengancamku agar aku sama sekali tidak pergi kuliah kemanapun." ujar qanita sambil meneteskan air mata nya.
Daniel menjadi iba mendengar pengakuan qanita yang selama ini tak pernah ia ketahui.
Selama ini daniel tak pernah ingin mendengar penjelasan dari qanita. ia menganggap qanita lah yang sengaja memilih universitas di amerika agar bisa mendapatkan kebebasan hidup dari daniel karna selama masa SMA daniel mengekang kebebasan qanita untuk berteman dengan pria manapun. daniel tak ingin qanita terjerumus kedalam pergaulan bebas seperti teman-teman mereka kebanyakan.
"Qanita, maafkan aku yang tidak pernah ingin mendengarkan penjelasan mu sebelum nya. selama ini ternyata aku salah menilaimu, sekali lagi maafkan aku." daniel memeluk qanita dan ia merasa sangat bersalah karna tak pernah memberikan kesempatan kepada qanita untuk berbicara kepada nya.
Qanita menangis didalam pelukan daniel dan daniel mengelus punggung qanita mencoba menenangkan nya.
Daniel dan qanita berjalan menuju kamar hotel mereka. qanita berdiri didepan pintu kamar hotel nya dan daniel berdiri dibelakang qanita.
qanita membuka pintu kamar hotel nya dan masuk kedalam kamar nya.
"Good night daniel." ujar qanita sebelum menutup pintu kamar nya.
"Good night qanita." balas daniel dan daniel melangkahkan kaki nya menuju kamar nya.
Daniel merebahkan tubuh nya diatas ranjang nya. ia mengingat kembali ketika ia mencium qanita dihadapan teman-teman nya.
Daniel juga mengulang perkataan qanita bahwa ia juga berjuang agar bisa masuk keuniversitas oxford agar bisa hidup bersama daniel disana. seperti ada rasa penyesalan didalam hatinya. Daniel mencoba memejamkan matanya tetapi terasa sulit bagi nya. Wajah sedih qanita terlintas dipikiran nya.
Daniel bangkit dari tempat tidur nya dan duduk dipinggir ranjang nya.
"Qanita,,qanita,,qanita,,maafkan aku." ujar daniel yang mencoba menghapus qanita dari ingatan nya.
Daniel tak ingin berada dikamar nya, ia ingin keluar mencari suasana angin segar diluar hotel. mungkin dengan cara ini pikiran nya tak akan lagi berpusat kepada qanita.
Ketika daniel membuka pintu kamar nya, ia melihat qanita sudah berdiri didepan pintu kamar nya.
Qanita mencium bibir daniel dan memeluk nya. Daniel membalas perlakuan qanita kepadanya karna ia juga merasakan hasrat yang sama dengan qanita. entah karna rasa bersalah nya hingga membuat daniel ingin melampiaskannya.
Daniel menarik tubuh qanita masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar nya.
Daniel dan qanita sudah dikuasai oleh nafsu mereka. Daniel merebahkan tubuh qanita diatas ranjang nya dan mulai mencumbui qanita.
Daniel benar-benar melakukan nya dan ia telah menyentuh qanita malam ini. qanita mendesah menikmati permainan daniel yang memang semasa SMA hampir ia lakukan dengan daniel tetapi daniel tak ingin melakukan nya. sebab, mereka memiliki mimpi untuk hidup bersama kelak sehingga daniel menahan nya.
Daniel ingin melepaskan benih-benih cintanya kedalam rahim qanita tetapi ia tersadar dengan bayi kembar nya didalam rahim alya dan dengan cepat daniel menghentikan nya dan membuang nya keatas perut qanita.
Daniel terbaring lemas disamping qanita dan qanita memeluk daniel setelah membersihkan tubuh nya dengan tissue. qanita menarik selimut dan menutupi tubuh mereka yang tidak berbusana.
Pikiran daniel mulai kacau. ia mengingat wajah alya dan putra nya. Daniel menarik napas nya dan mengambil ponsel nya yang sedang bergetar diatas meja kecil disamping ranjang nya.
Daniel melihat panggilan video dari alya. daniel melihat qanita yang mulai terlelap didalam pelukan nya.
Daniel membasahi bibir nya yang terasa kering dan jantung nya berdebar tidak karuan.
Ia tak mungkin menerima panggilan video alya dalam keadaan seperti ini.
"Maafkan aku alya, maafkan aku." ujar daniel sambil meneteskan air mata nya. ia menyesali kekhilafan nya.
berarti si rafly trouble maker nya
sudah sampai di bab ini terasa sudah seperti alur cerita sinetron.
meskipun tetap membuat penasaran akhir kisahnya.
feelnya dapat sekali sampai dibuat kesal sendiri. tata bahasanya tidak lebay dan bertele tele.
semangat terus dalam berkarya 😊