NovelToon NovelToon
Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Dosen
Popularitas:826.3k
Nilai: 5
Nama Author: Shofia Hanina

Pertemuan tidak sengaja antara Nefertiti dan Akmal di dalam kereta api memberikan kesan yang mendalam bagi keduanya.

Nefertiti yang biasa dipanggil Titi ternyata menjadi salah satu pengajar di kampus tempat Akmal menimba ilmu.

Akmal yang biasanya dingin kepada lawan jenisnya, tetapi ketika berhadapan dengan Titi menjadi berubah. Akmal tertarik kepada Bu Dosen Titi sejak pertemuan pertama.


Apakah pantas seorang mahasiswa menginginkan Dosennya?


Apakah ada larangan hubungan asmara antara mahasiswa dan Dosennya?

Mungkinkah seorang mahasiswa bisa menjadi suami Dosennya sendiri?


Bagaimana kelanjutannya.

Ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofia Hanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tour Guide

Titi menoleh ke arah Akmal setelah mengambil sepedanya. Bersiap-siap untuk mulai mengayuh sepedanya.

"Tunggu sebentar Bu?" kata Akmal dan buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Titi mengernyitkan dahinya. Kenapa harus menunggu dia segala. Tetapi pikiran Titi tidak berbanding lurus dengan badannya. Tubuhnya masih setia diam menunggu tanpa mau mendengarkan perintah otaknya untuk segera beranjak dari tempat itu.

Tidak berapa lama Akmal keluar dengan memakai celana training atau celana olahraga dan juga sepatu. Tadi memakai sarung. Cepat juga rupanya, sudah ganti pakaian. Tidak ribet memang untuk ukuran seorang laki-laki, tinggal ganti baju sudah siap berangkat.

Akmal menuntun sepedanya mendekati Titi. Sepeda kuno yang sudah dimodifikasi sehingga tampilannya tampak berkelas. Titi pernah menyaksikan perkumpulan sepeda model begini, ternyata lumayan banyak anggotanya. Bukan hanya orang tua, anak muda juga banyak. Sepeda jadul seperti itu harganya lumayan mahal. Paguyuban yang mendirikan dan mewadahi pecinta sepeda model itu biasanya dari berbagai kalangan, tetapi kebanyakan kalangan menengah ke atas. Karena seperti kolektor gitu, perlu biaya mahal untuk perawatannya juga.

Titi lumayan heran, kok si Dia, punya sepeda model itu. Rumahnya tadi juga besar. Kemarin juga dirinya melihat mengendarai mobil. Ah...kok jadi melantur ke mana-mana pikiran Titi. Biasa untuk jaman sekarang, kalau mahasiswa bisa jadi lebih kaya daripada Dosennya. Bukankah itu sesuatu yang patut diapresiasi, kalau peserta didik kita lebih sukses dari pada yang mendidik. Contoh nyata saja, Seorang Guru SD sudah tentu akan merasa bangga kalau murid yang diajar dulu waktu di SD dan sekarang sudah menjadi presiden. Tentu rasa bangga, prestisius dll adalah sangat wajar dirasakan guru SD sampai jenjang yang lebih tinggi menyaksikan peserta didiknya berhasil.

"Ayo Bu, maaf bukan bermaksud lancang dan tidak sopan, Saya cuma takut Ibu tersesat. Saya tahu tempat yang bagus dan bisa jadi rekomendasi. Anggap saja saya tour guide gratis, Bu," ucap Akmal dengan sopan sambil membungkukkan badannya.

Titi memandang Akmal sekilas. Berusaha mempertimbangkan positif dan negatif dari tawaran Akmal. Akhirnya Titi menjalankan sepedanya. Akmal mengikuti di belakang. Jalanan terus menanjak naik. Titi berusaha untuk tetap mengayuh sepedanya. Sudah lama tidak naik sepeda dan langsung di medan yang cukup tinggi tanjakannya mampu membuat keringat mengucur deras.

Akmal di belakang Titi menginstruksikan kalau harus belok dll. Memang benar kalau sebagai penduduk pribumi otomatis lebih menguasai medan. Berbeda dengan Titi yang tidak tahu ini sedang di desa mana.

Jalanan naik dan turun dengan posisi ektrim mampu membuat adrenalin bekerja keras. Titi memberi semangat kepada dirinya sendiri, jangan sampai pingsan. Malu banget sama yang ada di belakang, kalau dirinya kalah.

"Bu, kalau capek berhenti dulu. Di sana nanti masih ada tanjakan yang lebih tinggi lagi. Di Baturaden, ada desa Ketenger yang tanjakannya sangat tinggi," ucap Akmal sambil sepedanya maju ke depan sehingga bisa sejajar dengan sepeda Titi.

Titi membuka mulutnya takjub. Tadi dirinya sudah melewati tanjakan banyak sekali dan ternyata masih banyak yang lebih tinggi lagi. Benar-benar olahraga yang membutuhkan energi dan tantangan ini.

Akmal turun lebih dahulu dan menuju warung untuk membeli minuman dan camilan. Kemudian menghampiri Titi.

"Ini Bu," ucap Akmal sambil menyerahkan minuman dingin dan roti.

"Terima kasih," jawab Titi lirih.

Mereka duduk di dekat warung tadi. Kebetulan yang dipakai duduk adalah warung juga, tetapi penjualnya sedang libur tidak berjualan sehingga bisa digunakan sebagai tempat istirahat tanpa menggangu pemiliknya. Titi masih mengatur deru napasnya agar tidak terlalu nyaring suaranya.

Pemandangannya benar-benar indah. Sungguh sangat sepadan dengan harga yang harus Titi bayar. Bisa jadi nanti malam kakinya sakit sekali. Kalau hari ini mungkin belum terasa. Besok hari Minggu jadi bisa digunakan istirahat seharian.

Titi melihat lagi pemandangan di sekitarnya. Nampak pohon durian yang berderet dan sebagian sepertinya sudah berbuah. Ya Allah... benar-benar mampu membuat pikiran tenang. Menyaksikan keindahan alam memang mampu untuk membuat otak kita benar-benar fresh. Beban pekerjaan seakan-akan lenyap berganti dengan suasana syahdu dengan iringan musik paling romantis dari alam. Suara burung yang bersahutan dan gemericik air sungai benar-benar mampu menghipnotis siapa saja yang mendengarnya.

"Capek ya Bu?" tanya Akmal.

Titi cuma menghela napas. Mau bilang tidak capek, ketahuan kalau dirinya berbohong. Kalau bilang capek, ya gengsi dong. Masa kalah sama si Dia.

"Di sana masih banyak pemandangan yang bagus-bagus Bu. Kalau mau ke Small World atau lokasi wisata Baturaden juga bisa," tawar Akmal dengan gaya marketing.

"Ada air terjun juga Bu. Banyak juga Curug nya Bu Titi, tetapi ya siap-siap jalannya menanjak. Lumayan tanjakannya," promosi masih berlanjut.

Titi mengukur kemampuan dirinya. Jangan sampai memalukan, tidak kuat mengayuh, apesnya lagi kalau tidak bisa pulang ke rumah Mbah Uti karena kelelahan. Ini pengalaman pertama di Purwokerto naik sepeda, jangan sampai cuma sekali ini saja Titi merasakannya, kalau sampai dirinya kenapa-kenapa, sudah tentu Mbah Uti dan Papah nanti tidak mengijinkan dirinya naik sepeda lagi. Setelah mempertimbangkan cukup matang. Akhirnya Titi ingin sampai sini dulu untuk petualangan hari ini.

"Tadi jarak dari rumah kamu ke sini kira-kira berapa kilometer?" tanya Titi.

"Lebih dari sepuluh kilometer Bu?" jawab Akmal.

Titi membulatkan matanya. Mata Titi yang lebar, ditambah dengan posisi terkejut dan kagum seperti itu sungguh membuat gemas siapapun yang melihatnya.

"Eh... pikiran apa ini sih," gumam Akmal. "Ingat Mal, Beliau itu Bu Titi, dosen di kelas." Pikiran Akmal masih berperang.

"Lumayan jauh juga ya ternyata," ucap Titi yang mampu memutus rantai lamunan Akmal.

"Eh...iya Bu. Ibu mau pulang atau kita lanjutkan lagi?" tanya Akmal.

"Aku suka pemandangan di sini. Hawanya juga sejuk banget. Tetapi untuk sekarang ini, pulang dulu deh, bisa lain kali dengan teman ramai-ramai. Menyenangkan sepertinya kalau bareng-bareng," jawab Titi dengan diplomasi. Harus pintar mengolah kata, jangan kentara sekali kalau dirinya sebenarnya sudah capek banget seperti ingin menyerah.

"Iya Bu. Bisa lain kali. Di sini memang pemandangannya bagus. Udaranya juga sejuk, lereng Gunung Selamet. Itu Gunungnya Bu, sudah hampir kelihatan. Tadi kita melewati jalan menanjak ya, melewati lereng itu Bu," ujar Akmal. Sudah lancar rupanya bisa menjelaskan dengan panjang lebar, tanpa gagap lagi kalau berhadapan dengan Titi.

Titi menganggukkan kepalanya. Tidak dipungkiri perasaan Titi membuncah, senang rasanya bisa melihat keindahan alam yang terpapar di depan mata. Termasuk keindahan juga yang duduk agak jauh di sampingnya...eh...kok jadi ke mana-mana. Titi berusaha konsentrasi, perasaannya gembira karena menikmati suasana alam, tegasnya. Bukan dengan alasan adanya kehadiran seseorang. Tidak ada hubungannya dengan siapapun termasuk si Dia.

"Ibu rumahnya di mana? Kalau boleh tahu, biar kita pulangnya bisa lewat jalur yang cepat, tidak kembali melewati jalan tadi?" tanya Akmal.

"Saya... rumahnya di Karangsalam," jawab Titi.

"Karangsalam Baturaden Bu?" Akmal bertanya lagi untuk memastikan, karena kadang ada desa yang namanya sama tetapi kecamatannya berbeda.

"Saya tidak tahu, dekat kampus letaknya," jawab Titi. Terus terang dirinya belum hapal dengan wilayah di Purwokerto. Harus Titi akui kalau dirinya wajib bersyukur tadi ditemani Akmal, sudah jadi penunjuk wisata sekaligus membelikan minum untuknya dengan gratis. Kapan lagi coba punya tour guide gratis? Hehehe... pikir Titi.

"Kalau sudah tidak capek. Mari Bu, kita pulang. Sudah lumayan panas ini," kata Akmal.

"Atau mau sarapan dulu. Di atas ada pasar yang kulinernya lumayan banyak," ajak Akmal.

Titi menggeleng. Dia sudah kenyang dengan minum dan makan roti tadi, kalau kekenyangan takutnya nanti malah tidak mampu mengayuh sepedanya.

Akhirnya Titi dan Akmal pulang dengan rute yang berbeda. Ternyata cepat juga sudah sampai Pasar Cerme, dan bangunan kampus juga sudah terlihat. Titi yang berada di depan, Akmal tetap di belakang. Dengan instruksi dari Akmal tentunya.

Akhirnya masuk ke perumahan tempat Titi tinggal bersama Mbah Uti. Titi berhenti di depan rumah Mbah Uti. Dirinya menawarkan kepada si Dia supaya mampir, sebagai kesopanan, tetapi Akmal menolak.

"Lain kali saja Bu. Terima kasih. Assalamualaikum," ucap Akmal sambil mengayuh sepedanya kembali.

"Wa'alaikumsalam," jawab Titi.

"Siapa Ti?" tanya Mbah Uti ketika Titi masuk membuka pintu gerbang dan Mbah Uti sudah duduk di kursi teras bersama Mbak Pur yang merapikan tanaman.

"Anu...." jadi bingung mau jawab siapa.

Ayo jawab apa enaknya??

Bagaimana kelanjutannya??

Ikuti terus ceritanya.

Minta tolong kepada pembaca apabila setelah selesai membaca mohon berkenan untuk menekan tombol like dan memberikan komentar dll. Terima kasih semuanya.

.

1
Djoko Prasetyanto
bagus ceritanya..
Cupetong Cupetong
Mungkin malah sekilas tentang kehidupannya yg dibumbui biar tambah makin menarik👍
Fitra Smart
serasa kuliah sambil dengarin dosen jelasin ini🤣🤣
Nining Nuraningsih
bab ini aku lewatin semua ga dibaca maaf ya
Nining Nuraningsih
terlalu bertele tele ya,jadi bosen jarang komunikasinya
Heny Febti
Si Othor udah pernah ikut tes CPNS ya? tau banget. 😀💪
Alia Santi
sangat menarik tapi sudah lama gak up novel e
Ahmad Faudzan
hahh satria enggak mau kalah nieh 🤔🤔🤔
Ahmad Faudzan
super karyanmu Thor ! banyak informasi penting tambah ilmu jadinya
Ahmad Faudzan
God job kak author terusin
Ahmad Faudzan
bau minyak nyong-nyong tu mbak'e 🌹🌹🌹
Ahmad Faudzan
semangat Thor ceritanya menarik
Apariani
super skli novel y sgt menginspirasi dan byk mnanamkn nilai2 akhlak dn aqidah islam yg kental
Alia Santi
lama
re
Suami idaman
AbhiAgam Al Kautsar
terimakasih kak Thor.. yg sudah menceritakan kisah berlokasi di Rembang.. tempat tanah kelahiran ku.
..
komentar terbaik
huh seriusan legalisir sejak sd?
kacau euy, sd aku udah tutup hahaha
komentar terbaik
ini keren detail banget, lokasi, situasi, kronologisnya juga. kebetulan beberapa lokasi yang disebutkan aku pernah ke situ jadi tahu persis sesuai yang digambarkan.

sampai materi tes detail gitu. sering nya kalau cerita tes, pokoknya ikut tes lalu tahu-tahu lulus. di sini sampai isi paparan dan durasi presentasi juga dibahas.

keren.
Alia Santi
kok 2 bln gak up kak
Apariani
sgt menginspirasi skli,muatn moral akhlakul karimah dn ilmu pwngetahuan y byk skli.sukses sllu saya sgt suka novel ini
Djoko Prasetyanto: setuju sekali
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!