Beby menjual keperawanan nya kepada pria asing, bernama Agil. Demi untuk mempertahankan status sosial dan menyambung hidup, jauh dari orang tuanya yang bercerai. Ia tidak mau orang memandangnya rendah!
Tapi, Beby begitu bodoh. Dia tidak sadar selama ini telah di khianati, oleh sahabat dan kekasihnya sendiri.
Suatu hari Beby mendapati sahabatnya Melanie tidur dengan pria yang sangat ia cintai, Dewa.
“Pengorbananku selama ini sia-sia, kalian berdua binatang! Tidak pantas disebut manusia.”
Merasa lelah dan tidak kuat lagi, Beby hampir berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Akan tetapi saat itu, datanglah sosok penyelamat, Agil.
“Tinggalkan dia dan pergi bersamaku, Beby! Aku berjanji akan membuatmu bahagia.”
Janji yang terucap dari mulut Agil. Benar-benar merubah segalanya di dalam hidup Beby. Apakah dia dan Agil dapat bersatu, dan hidup bahagia selamanya?
Yuk, ikutin kisah mereka🌺
Warning❗❗
Mohon bijak dalam memilih bacaan, dan berkomentar. Cerita ini hanya imajinasi Author, yang author tuliskan untuk menghibur para pembaca. Buruknya di buang dan baik nya di ambil. So please don't judge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selling My Virginity Ch 27.
Suasana diruang makan itu nampak begitu canggung dan tegang. Karena tidak ada satu kata yang keluar dari mulut Beby dan Agil. Melainkan hanya Daniel yang terus bicara, dan dia juga tidak bicara pada Beby. Tapi kepada Agil, mereka sedang membicarakan masalah pekerjaan.
Sesekali Beby melirik kearah Agil, begitu pun juga Agil. Saat pandangan keduanya bertemu, Beby langsung memutusnya. Karena tidak nyaman dengan tatapan dingin Agil.
"Oh iya, By! Kamu mau balik ke kampus? Aku antar yah!" tawar Daniel.
"Hmm, tidak! Aku bisa sendiri, Niel. Tidak usah repot-repot!" tolak Beby halus dengan tersenyum.
"Ayolah, jangan canggung! Kita sudah kenal dekat, kamu selalu saja bersikap seolah kita baru saling kenal."
Daniel kembali menyentuh tangan Beby yang berada di atas meja. Beby pun kembali menarik tangan nya. Merasa risih, apalagi dengan tatapan Agil yang dingin. Beby sempat melihat Agil tertawa pelan dan geleng-geleng kepala.
"Hei, Bro! Sengaja yah memanggilku kesini, hanya untuk melihat kalian berdua so romantis seperti ini? Hahaha!" ucap Agil tertawa sambil menepuk bahu Daniel.
"Apa-apaan sih, tidak seperti itu! Kamu jangan sembarang bicara, aku dan Beby tidak ada hubungan apa-apa." Wajah Daniel terlihat memerah. Sedangkan Beby yang mendengarnya, semakin merasa tidak enak, jantung nya berdegup sangat cepat.
"Halah, pake ngelak segala! Kalau aku ganggu disini, aku pergi nih!" sahut Agil kembali, seakan sedang menggoda Beby dan Daniel.
"Beneran gak ada apa-apa antara kami, aku hanya sekedar menolong Beby saja!"
Beby pun menghela nafas dengan kasar. Menghentikan santapan nya dan menyeka mulut nya memakai tisu dengan kasar. Beby beranjak dari tempat duduk.
"Daniel, makasih untuk makan siang nya, dan juga sudah menolongku tadi! Aku langsung balik aja ke kampus!" ucap Beby menatap Daniel dan Agil secara bergantian. Entah kenapa Beby merasa kesal, dengan tingkah Agil yang kekanakan. Agil seperti sedang menggodanya dan Daniel.
"By, tunggu dulu! Biar aku antar yah?" Daniel menahan tangan Beby, dan ikut berdiri.
"Tidak usah, aku bisa sendiri kok, makasih yah atas tawaran nya!" Beby menolak halus dengan senyuman. Dia lirik Agil yang sedang mengusap wajahnya dengan kasar.
"By, tunggu!" decak Daniel kembali.
"Sudahlah, Bro! bukan kah dia sudah menolak mu!"
Seketika Beby pun langsung menghentikan langkah dan menoleh kembali pada Agil. Dia sedang menahan Daniel yang hendak mengejar Beby.
"Mungkin dia sudah memiliki orang lain yang akan membantunya lagi nanti, seperti biasa! Dia bertingkah seolah membutuhkan seseorang, dan membuat para kaum pria simpati!"
DUAAARRR!
Seperti tersambar petir di siang bolong. Perkataan Agil langsung menusuk jantung Beby. Membuat Beby merasa begitu terhina. Tanpa sadar Beby berjalan mendekati Agil dan langsung melayangkan tamparan diwajahnya.
PLAK!
"Jangan sembarangan kamu bicara! Jika kamu tidak mengenalku dengan baik, jangan berbicara seolah kamu tahu segalanya!"
"Beby, maaf! Dia tidak bermaksud seperti itu," ucap Daniel.
"Aku pergi!" Beby pun langsung pergi dari tempat itu. Dengan perasaan kesal dan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Kenapa semua orang selalu saja menghina diriku? Apakah aku pantas untuk menerima hinaan dari mereka?"
Beby berjalan keluar dari gedung apartemen mewah itu. Menyusuri jalanan dengan menggerutu tidak jelas. Sesekali air matanya menetes, namun Beby langsung mengusap nya. Tidak perlu sampai mengeluarkan air mata nya yang berharga, demi kata-kata hinaan orang-orang, pikir Beby.o
"Huft, awas saja kau Agil! Kau pikir kau siapa? Mengatai ku seperti itu!"
"Untuk apa coba dia berkata seperti itu? Menambah-nambah beban pikiran ku saja! Dia, Melanie, dan Dewa, benar-benar brengsek!"
Beby terus menggerutu sepanjang jalan. Kepala nya terasa panas, karena darah mendidih sampai ke ubun-ubun. Ingin rasanya Beby berteriak, namun itu tidak mungkin. Terik nya matahari siang ini. Menambah rasa kesal nya kepada semua orang hari ini.