Saat pernikahan sudah di ambang kehancuran, saat itu kita menyadari jika kita sudah gagal membinanya.
Ingin mempertahankan demi putri tercinta, tapi semua sia-sia saja.
Perceraian yang sangat menyakitkan, karena sebenarnya kita tidak ingin mengorbankan buah hati kita.
Dia, anak kecil yang tidak berdosa, yang akhirnya harus merasakan sakit hati karena perpisahan antara ayah dan ibunya.
Mampukah Shofia melewati semua ujian itu? di hianati oleh sang suami, yang sudah diam-diam mempunyai istri simpanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28. Aku Bukan Wanita Murahan
"Wanita murahan, penggoda suami orang, sudah tahu punya istri masih di kejar,"
Plak, Satu tamparan mendarat di pipi wanita yang baru datang, dan langsung marah-marah kepada Shofia. Tapi Shofia bukan wanita lemah, dia tidak tinggal diam, dia melawan dengan perlakuan wanita itu, yang tidak lain adalah Sherly istri Hanif. Terkejut karena Shofia menamparnya.
"Kamu tidak malu, mengatakan aku murahan, bukankah yang merebut itu kamu, bukan aku. Pelakor tetaplah pelakor, dan aku adalah korban kejahatan kalian." Jawab Shofia marah.
"Tapi kamu sudah bukan istrinya lagi, dan aku istrinya, suamiku kerja, kamu ikuti, pantas saja dia lebih banyak diam, pasti ini kelakuan kamu, kalau bukan mau merusak rumah tangga aku dan Hanif lalu apa?" Ujarnya marah-marah.
"Kamu pikir, hanya Hanif satu-satunya laki-laki didunia ini? Kurang kerjaan sekali kalau aku sampai mengejar suami kamu, seharusnya kamu tanya suami kamu itu kesini untuk apa? dan aku kesini untuk apa? dasar wanita sinting."
"Kamu yang sinting, mau merebut suamiku,"
"Wanita gila, suami kerja sampai di ikuti," ujar Shofia menatap tajam, lalu masuk dengan keras menutup pintu kamarnya.
Dor, dor dor. Sherly menggedor pintu kamar Shofia keras. membuat tamu lain terganggu. sedangkan Shofia tidak mengubris sama sekali.
Tak lama datang Hanif menghampiri Sherly. wajahnya sudah penuh amarah, mungkin Hanif marah atas sikap Sherly yang kelewat batas.
Tangan Sherly di tarik menuju kamarnya, tanpa bicara, Hanif menarik keras tangan Sherly.
"Sakit Sayang," Ujar nya cemberut.
"Untuk apa kamu menemui Shofia? Bikin malu saja, Kamu pikir dengan sikap kamu seperti akan mengubah sesuatu bisa menjadikan kamu yang pertama? Tidak. Kamu Bukan yang Pertama, dan kamu tetap wanita kedua dari Shofia." Ucapan Hanif penuh emosi membuat Sherly terkejut, karena Hanif masih membela Shofia.
"Kamu masih membela dia? Hah sudah jelas dia adalah orang lain, tapi kamu masih membelanya, aku sakit hati dengan semua ini, tahu?" Jawab Sherly penuh amarah
"Ini bukan soal membela Sherly, tapi ini masalah harga diri, dengan kamu besifat seperti itu, sama saja kamu kehilangan harga diri kamu, karena kamu dengan bangga mengatakan Shofia mau merebut aku dari kamu. Bikin malu, seharusnya kamu sadar diri, kita yang bersalah atas semua ini. Dan dia kesini karena tugas kantornya juga." Jelas Hanif marah.
Sherly pun diam, dia tidak lagi marah atau menjawab kata-kata Hanif. mencoba menerima, tapi masih merasa sakit hati.
Setelah keduanya sama-sama diam, dan mempelajari, mengingat yang terjadi, Hanif menoleh kearah Sherly.
"Maaf, aku bukan membela Shofia, tapi kita tidak usah menoleh ke belakang lagi. Kita sudah menikah, dan sebentar lagi kita mau meresmikan pernikahan ini. Hanya menunggu restu ibu kamu saja. Kita harus lupakan semua masa lali kita, aku tidak ingin menjadi laki-laki pengecut yang sering meninggalkan tanggung jawabku, cukup Naina yang menjadi korban dari kesalahan aku." Ujar Hanif pelan sepertinya dia sangat menyesal dengan semua perbuatannya di masa lalu.
"Iya Mas, tapi berjanjilah kamu tidak akan kembalu lagi pada Shofia.
"Iya." Jawab Hanif singkat.
Mungkin tidak mereka sadari, kesalahan mereka sampai menyakiti banyak hati. Tidam seharusnya ada amarah dan menuduh yang tidak-tidak. Karena setiap pekerjaan mencerminkan pada dirinya sendiri. Sherly sangat takut kehilangan suaminya, karena dia tahu Suaminya atau Hanif, Sherly dapat denga cara merebutnya. Sebuah pengalaman yang akan membuay mereka takut dengan kelakuannya sendiri. Sedang Shofia terbebas dari pikiran buruk seperti itu, karena Shofia adalah korban dari kelakuan bejat Sherly dan Hanif.
Tuhan cukup adil, siapa sering menyakiti hati orang lain, maka dia akan merasakan sakit seperti apa yang dia buat kepada orang lain, atau akan lebih sakit dari apa yang pernah di alami orang yang kalian sakiti.
Mungkin yang di sakiti terlihat lebih kuat tapi dalam hatinya ada luka yang sulit sembuh, bahkan ad doa yang cepat Tuhan kabulkan.
•~•~•~~•~•~•~●●●●~•~•~•~•~•~•
Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul 06.15, Ada ketukan pintu. Shofia segera membuka pintu kamarnya.
"Ibu Shofia," Tanya petugas Hotel.
"Iya, ada apa?"
"Ibu, ini tiket pesawat ibu, Bapak Fakhri sudah lebih dulu ke Jakarta,"
Shofia melotot, terkejut sekali, karena merasa Bapak Fakhri menyia-nyiakan dirinya sebagai asisten sekaligus sekertaris pribadinya. Dengan kedudukannya mampu menyakiti hati Shofia.
"Kenapa pulang lebih awal?" masih bertanya, karena merasa tidak percaya.
"Kalau masalah itu saya tidak tahu, tapi tadi pagi jam empat Bapak Fakhri menyuruh pengawalnya memberikan tiket ini untuk Ibu Shofia."
"Oke, terimakasih,"
"Mobil ibu sudah siap, nanti kalau mau keluar langsung ke Resepsionis terlebih dahulu."
"Baik,"
"Permisi."
Shofia mengangguk, Petugas Hotel tersebut langsung pergi. Shofia mentup pintunya kembali, ada perasaan kesal dan jengkel, karena sikap Bosnya yang super aneh itu.
Shofia yang merasakan takut karena harus naik pesawat terbang membuat dirinya masih melamun.Tapi Shofia berusaha tenang dan berani. Karena Shofia menyadari dia akan terbang tanpa teman atau orang yang di kenalnya.
Pesawat Shofia akan terbang jam satu siang. Dia pun berkemas, karena sebelum pulang dia ingin berbelanja terlebih dahulu, untuk oleh-oleh.
Sopir yang sudah menunggu Shofia kini mengantarkan Shofia berbelanja oleh-oleh khas Bali, di sebuah pusat perbelanjaan yang luar biasa megahnya, yaitu di Krisna oleh-oleh yang terletak di jalan Sunset Road, Badung.
Setelah memilih baju dan kebutuhan lain untuk di bawa ke jakarta, Shofia langsung membayar di kasir. dan langsung menuju ke mobil, untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Bandar Udara internasional Ngurah Rai Bali.
Shofia berusaha melawan takut, saat sudah berada di dalam pesawat, dia menemui seorang pramugari, mengatakan jika dirinya takut saat pesawat berada di ketinggian. dan berharap jika terjadi seuatu akan di bantu.
"Ibu jangan khawatir, kami akan membantu ibu,"
"Terimakasih,"
"Sama-sama,"
Shofia segera duduk, dan berusaha tenang. Yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja. Meski tubuhnya gemetar, tapi Shofia berusaha bersikap tenang. Matanya di pejamkan, shofia takut jika harus melihat kearah luar jendela. Mulutnya komat kamit, entah apa yang shofia baca, tapi yang pasti dia Fobia, ketakutan yang sangat berlebihan.
●~●~●~●~●~■■■~●~●~●~●~●
Setelah Bapak Fakhri sampai dia langsung pulang kerumah, ada hal penting yang membuat Bapak Fakhri harus pulang lebih awal.
Wajahnya penuh cemas, tidak lagi banyak bicara saat sudah sampai di sebuah kamar, Bapak Fakhri langsung duduk bersimpuh di pinggir tempat tidur, menatap penuh cinta pada sosok wanita yang terbaring tidak berdaya, dia adalah cinta Bapak Fakhri yang di miliki saat ini.
Di gerebek, bukan gerbek..
perhatikan atuh thor..apalagi kalimat manggil Bapak...
Terima kasih pak Fakhri..