Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.
Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.
Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?
Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelan-Pelan
Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja Raina menyadari dirinya telah terbaring di sofa ruang tamunya, dengan tubuh kekar Tama menindihnya. Tama tak henti menjelajahi tubuh Raina dengan bibir dan tangannya, meninggalkan jejak kemerahan di leher hingga dada gadis itu.
Kaus yang dikenakan Raina telah raib entah kemana, begitupun kaus Tama. Tama menyukai sensasi saat kulitnya bertemu kulit lembut Raina. Sesuatu di bawah sana nyaris meledak ketika ia mengelus paha Raina dengan penuh bujukan. Apalagi mendengar desahan gadis itu, Tama nyaris gila.
Tama tahu, ia harus berhenti. Raina telah menyerahkan kontrol sepenuhnya padanya, dan dia harus berhenti sekarang atau ia akan menyesal nanti. Karena Tama sadar bahkan kalaupun Raina ingin berhenti, gadis itu tak akan mampu menghentikan dirinya.
Maka Tama susah payah mengangkat tubuhnya, melepaskan belitan tangan Raina di tengkuk dan punggungnya. Duduk di sofa, dengan tangan menutupi wajahnya. Ia tak sanggup menatap Raina yang tubuh bagian atasnya polos, dengan bibir bengkak karena terlalu banyak dicium, rambut berantakan karena pergumulan mereka tadi, dan matanya yang sayu penuh gairah. Takut kembali tergoda.
"Tama.." Raina berusaha menyentuhnya, namun Tama beringsut. Perang antara nurani dan nafsu bergejolak hebat dalam dirinya. Dan dengan satu sentuhan saja, ia yakin nuraninya akan kalah, dan takut ia akan kembali menerkam gadisnya tanpa ampun.
"Sayang, jangan sentuh aku dulu, plis?" pinta Tama. Raina mengangguk paham. Pelan-pelan bangkit dari duduknya, meraih kausnya yang terlempar sembarangan dan segera berlalu ke arah dapur.
Tak lama kemudian gadis itu muncul kembali dengan segelas air putih di tangan. Memberikannya pada Tama yang segera menghabiskannya dalam beberapa tegukan. Ditatapnya gadisnya dengan kehangatan yang tak bisa ditutupi.
"Kita pelan-pelan saja ya. Aku nggak mau nyakitin kamu," bisik Tama, mengelus rambut Raina lembut.
Raina mengangguk. Menyenderkan kepalanya di bahu Tama.
"Walaupun susah banget untuk aku menahan diri biar ngga tergoda saat dekat sama kamu gini," kata Tama lagi.
"Emang kamunya aja yang mesum," delik Raina. Tama tertawa.
"Hei, aku cowok normal, tau. Mana kamu pake baju kurang bahan melulu, kamu pikir aku bisa nahan diri terus?" Tama membela diri.
"Itu makanya aku pengen kamu ngurangin pake baju mini kaya gini kalau di depan umum. Kebanyakan cowok tu pikirannya ngga akan jauh-jauh dari ****, apalagi kalau kamu mancing-mancing gini," kata Tama lagi.
"Ya itu mah dasar pikiran cowok aja yang mesum!" elak Raina.
"Ya kalo ga dipancing ngga bakalan on melulu, Sayang," gemas Tama. Raina tertawa, senang melihat muka frustasinya Tama.
Percakapan mereka terhenti oleh dering ponsel Tama. Tama mengernyit membaca nama si penelepon.
"Apa, Bang?" tanya Tama begitu mengangkat panggilan telepon itu.
"Kenapa harus gue? Abang kan free?" nada suara Tama menarik perhatian Raina.
"Gue di tempat Raina. Iya. Gue ngerti."
Raina memandang Tama, menunggu penjelasan kekasihnya. Tama terlihat gusar.
"Almira sakit. Orangtuanya lagi ke luar negeri, jadi Bang Arka minta tolong aku untuk nganter dia ke rumah sakit," jelas Tama. Raina bingung.
"Kenapa harus kamu?" protes Raina.
"Sebenarnya Bang Arka yang dikasih tahu pembantu Almira. Tapi karena aku lagi di luar, jadi sekalian biar aku aja."
"Aku ikut ya,"kata Raina tanpa pikir panjang.
"Ini udah hampir tengah malam, Ra. Kamu dirumah aja, ya?" Tama tak suka gagasan Raina keluar malam.
"Nggak mau. Aku nggak mau kamu berduaan doang sama Almira. Lagian kan kita bisa pake mobilku untuk nganter Almira ke rumah sakit. Ya? Plis?"
Tama berpikir sebentar, menyadari kebenaran dalam kata-kata Raina tadi.
"Ya udah, ayo."
---
Almira terbaring lemas karena demam tinggi di kamarnya, badannya menggigil. Almira tak bisa membedakan apakah ia bermimpi atau tidak saat melihat sosok Tama duduk di samping ranjangnya.
"Mir? Gue anter ke rumah sakit ya?" suara dalam cowok itu menyadarkan Almira, ini bukan mimpi. Gadis berjilbab biru itu memaksakan senyum.
Namun senyum itu pudar saat seorang gadis berambut cokelat panjang duduk di samping Tama. Meraba dahi Almira dengan telapak tangannya, lalu terkejut sendiri.
"Badannya panas banget, Tam. Kita ke rumah sakit sekarang aja," kata gadis itu. Almira mengenali sosok itu sebagai Raina.
"Mira, kamu bisa berdiri, nggak? Aku bantuin ya," tanpa disangka suara Raina terdengar tulus. Almira mengangguk samar, berusaha beringsut bangkit dari ranjang. Raina buru-buru menahan tubuh Almira. Mengusir Tama dengan gelengan kepala saat cowok itu mendekat hendak membantunya. Tidak rela Tama bersentuhan dengan Almira.
"Kamu siapin mobil aja," kata Raina.
Tak ada pilihan lain bagi Tama selain menuruti kata-kata Raina.
Sudah pukul 12 malam saat mereka tiba di UGD. Almira segera ditangani dokter jaga, dan harus opname karena demamnya sangat tinggi. Sementara Tama mengurus administrasi, Raina menemani Almira di kamar rawat inap.
Pemandangan yang dilihat Tama begitu menyusul Raina ke kamar rawat Almira membuat cowok itu tertegun sesaat di ambang pintu.
Raina duduk di samping ranjang Almira yang terbaring dengan infus di tangan, kepalanya terkulai di atas ranjang berbantalkan lipatan lengannya. Wajah cantiknya terlihat tenang. Gadis itu tertidur.
Pelan Tama mengguncang bahu Raina, memintanya untuk pindah agar berbaring di sofa. Ruang VIP yang ditempati Almira ini ditempati sebuah sofa untuk keluarga yang menjaga pasien. Tapi Raina menolak.
"Kamu aja yang tidur di sofa. Aku tetap disini." Raina bersikeras. Tama tak habis pikir dengan sikap keras kepala gadis itu.
"Aku nggak mau kamu yang duduk deket sama Almira." Raina mencebik. "Udah kamu ke sofa, sana. Aku ngantuk, tau," sergah Raina.
Tama tersenyum melihat sifat posesif gadis itu. Bahkan dengan Almira yang sedang sakit saja ia bisa secemburu itu. Saat Tama menawarkan diri untuk mengantarkan Raina pulang, gadis itu langsung menolaknya mentah-mentah. Tak lain karena Raina tak mau membiarkan Tama berduaan saja dengan Almira.
"Oke. Aku nggak akan duduk dekat Almira. Kamu yang duduk di sofa, sama aku. Paham?" kata Tama lembut. Karena tak sanggup lagi menahan kantuk, Raina mengangguk juga akhirnya.
Raina membaringkan diri di sofa dengan kepala berada di atas pangkuan Tama. Tama membelai rambut gadisnya lembut hingga tak lama kemudian terdengar napas teratur Raina, tanda gadis itu telah terlelap. Tama meraih jemari Raina, membawanya ke bibirnya, mengecupnya.
Tama menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, masih dengan jemari Raina dalam genggamannya, lalu menyusul Raina ke alam mimpi.
Almira menyaksikan semua adegan tadi dengan mata setengah terpejam. Tadi dia memang pura-pura tidur saat Raina menungguinya di samping ranjang. Ia bingung harus bersikap bagaimana dengan kekasih cowok yang ia suka sejak lama.
Lalu saat Tama datang, Almira sedikit mengintip dari sela bulu matanya. Melihat perdebatan sepasang kekasih itu, menyaksikan sendiri betapa lembut dan perhatian sikap Tama kepada Raina.
Di sela demam yang mendera tubuhnya, Almira menyadari bahwa tak mudah baginya bila ingin tetap masuk ke dalam hidup Tama.