Secara perlahan, setelah kepahitan bahkan kehancuran yang dialaminya karena J King. Juliet mulai mengerti dan memahami sisi lain kehidupan J yang membuatnya merasakan sesuatu untuk pria itu.
Diamnya seorang J King menunjukkan sisi lain J yang sebenarnya. Pria dengan masa lalu kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh Juliet.
...
Romeo dan Juliet tidak pernah menemukan akhir yang bahagia. Kematian adalah akhir cerita cinta mereka.
Aku, J King tidak akan membiarkan Juliet kembali pada Romeo karena dia hanya milikku.
Bahkan jika nyawaku juga terancam, aku tidak peduli.
Aku tidak peduli jika Juliet menderita, selama bayangannya masih tertangkap dalam pandanganku, itu sudah cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
There Something Missing In My Heart
Sesuatu yang hilang di dalam hati, membawa kehampaan. Kekosongan yang menyiksa, menekan ego untuk mengalah dan berdamai dengan hati.
Hati yang terlantar tanpa ada seorangpun yang akan menjaga. Menata kembali kepingan yang hancur dan tak bisa kembali utuh.
...
Juliet cukup bersemangat mengerjakan tugas kampus. Sekarang saatnya dia untuk pulang, dia tidak sabar untuk bertemu dengan J. Siapa sangka jika sekarang dia tidak ingin jika bayangan pria itu menghilang dari pandangannya.
Cukup lama Juliet menunggu, kenapa J belum juga datang? Apakah tugas kuliah pria itu belum selesai? Setengah jam, Juliet merasa kesal sendiri karena terus menunggu.
Ada apa dengan J?
Berusaha berpikir positif, Juliet masih bisa bersabar dan dia memutuskan untuk mendatangi J, tidak ada salahnya kali ini dia yang datang pada J.
Langkah Juliet terasa ringan disertai senyuman yang mengembang. Debaran di dadanya tidak bisa dibohongi, dia gugup karena akan menatap kembali wajah dan senyuman pria yang sudah menggenggam hatinya.
Juliet merasa lega sekarang, tidak ada lagi yang mengganjal dalam perasaannya, dia begitu yakin terlebih setelah dia bertemu Toddy dan menyelesaikan segalanya.
Flashback
Jam kedua mata pelajaran Juliet sudah selesai, dia segera keluar karena berjanji akan bertemu untuk makan siang dengan J.
Namun, saat baru keluar dari dalam kelas, dia bertemu dengan Toddy--lebih tepatnya pria muda itu datang untuk menemuinya.
"Nona Juliet?!" sapa Toddy.
Juliet sedikit tidak bisa mengambil sikap, bukan karena dia gugup, tapi dia takut jika J akan tahu dan marah seperti tempo hari.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu," ucap Toddy setelah melihat gestur tidak nyaman dari wanita hamil tersebut.
"Apa? Aku akan bicara dulu dengan J," kilah Juliet, dia tidak mau jika J akan salah paham jika tahu dia bicara dengan Toddy tanpa izin darinya.
Juliet ingin menjaga perasaan J, dan dia pikir J harus tahu jika dirinya bicara dengan pria dengan senyum manis di hadapannya.
"Tidak perlu, aku sudah bicara dengannya, jadi ini tidak masalah. Jangan khawatir!" ucap Toddy yang mengerti kegelisahan Juliet.
"Ah, begitu? Apa yang ingin kau bicarakan?" Juliet merasa lega, ternyata J tahu tentang hal tersebut.
"Bagaimana kalau kita mencari tempat lain?" tawar Toddy yang hanya dijawab anggukan oleh Juliet.
Mereka menuju sebuah taman dekat kampus, tempat favorit para mahasiswa menghabiskan jam istirahat. Sebuah taman yang indah dengan udara yang segar.
Toddy dan Juliet duduk di sebuah bangku taman, entahlah sejujurnya Juliet merasa tidak nyaman, tetapi dia berusaha melupakan rasa cemas dalam dadanya.
"Maaf jika ini membuatmu tidak nyaman, ini sangat penting bagiku," ucap Toddy sebagai pembuka percakapan.
"Iya,aku mengerti. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Juliet.
Cukup lama untuk mendapat jawaban dari Toddy, pria itu seperti ragu untuk menyampaikan kalimat yang tertahan dalam tenggorokannya.
"Tentang perasaanmu, benarkah kau punya cinta untukku?" tanya Toddy dengan ucapan yang sangat dia jaga supaya tidak menyinggung perasaan Juliet.
Toddy melihat Juliet begitu terkejut karena pertanyaan tadi, pria itu sedikit takut jika Juliet marah padanya.
"Kumohon jawab pertanyaan ku, Juliet!" pinta Toddy karena wanita yang ada di hadapannya masih terdiam.
Juliet hanya bisa memejamkan mata karena pertanyaan itu sudah tidak ada dalam pemikirannya. Kenapa Toddy tiba-tiba menanyakan hal itu.
Apakah J akan tahu? Juliet tidak ingin membuat J terluka lagi, terlebih setelah apa yang pria itu lewati selama ini.
Apakah perasaannya begitu penting saat ini? Juliet tidak lagi merasakan debaran di dadanya untuk Toddy. Berbeda jika dia memikirkan J yang selalu membuat jantungnya berdetak cepat.
Juliet melihat Toddy yang masih setia menunggu jawaban darinya. Dia berpikir akan menyelesaikan semua supaya tidak ada lagi yang menjadi sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
"Ya, Toddy! Aku mencintaimu," jawab Juliet dengan senyum tulus.
Toddy terpaku pada jawaban Juliet. Tidak ada keraguan sedikit pun pada ucapannya, jangan lupakan rona di wajah wanita muda itu.
Senyum tipis juga terpajang di wajah Toddy, pria muda itu merasa bahwa saat ini adalah hari yang begitu indah.
Namun, semua itu hanya angan setelah melihat kembali raut wajah Juliet yang berubah serius.
"Aku pernah mencintaimu dengan setulus hatiku. Maaf, aku tidak bermaksud berbohong pada siapapun termasuk diriku sendiri," ucap Juliet panjang lebar.
"Pernah?" tanya Toddy dengan nada yang terdengar kecewa, "itu artinya sekarang?"
Juliet menunduk kemudian tersenyum pada pria muda itu."Ya, kau pasti tahu bahwa sekarang ada orang lain dalam hati ku," jawabnya kemudian.
"J??" tanya Toddy, tentu sahabatnya itu sudah mengambil alih posisinya di hati Juliet.
"Tidak kah kau tahu, bahwa aku juga menyukaimu selama ini?" Juliet sangat terkejut mendengar ungkapan dari Toddy.
Juliet merasakan dadanya bertalu, jadi Toddy juga menyukainya selama ini. Sungguh Juliet merasa sakit sekarang. Saat ini dia hanya memikirkan J seorang.
"Maafkan aku, saat ini hanya dia yang ada dalam hatiku," jawab Juliet dengan penuh penyesalan.
Kenapa menjadi demikian, Juliet merasa berat pada awalnya untuk melupakan Toddy karena J, dan sekarang karena pria dingin itu pula dia tidak bisa kembali pada perasaannya terhadap Toddy.
"Tidak perlu meminta maaf, ini karena kebodohan ku yang tidak bisa menentukan sikap," ucap Toddy setelah mendengar penjelasan Juliet.
"Jangan menyesal! Percayalah semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Awalnya akan begitu berat tapi cobalah untuk menerima!"
"Setelah ini apakah kita masih bisa saling menyapa?" Toddy berkata dengan senyuman getir.
"Tentu. Aku bisa menawarkan hubungan yang terbaik untuk kita berdua, sebagai teman," jawab Juliet sambil mengulurkan tangan yang disambut oleh pria muda pemilik senyum manis.
"Terima kasih," ucap Toddy kemudian mereka berpelukan sebagai teman baik.
Flashback end
Juliet tidak menemukan J, dia terkejut karena salah seorang teman kelas J mengatakan pria itu sudah pergi setelah makan siang tadi.
Juliet merasakan firasat buruk tentang hal tersebut. Tanpa berpikir panjang dia segera pulang karena dia tahu J pasti sudah berada rumah.
Ketakutan Juliet semakin menjadi, apakah itu ada hubungannya dengan Toddy tadi siang? Oh, Juliet melupakan sesuatu bahwa dipastikan ada yang sudah mengatur semua ini.
Seperti tempo hari saat J marah juga cemburu karena dia bertemu dan bicara dengan Toddy. Seseorang pasti sudah memanfaatkan situasi tersebut untuk membuat J salah paham.
Juliet melafalkan doa saat pulang, dia berharap kejadian itu tidak terulang lagi, sungguh dia tidak mau J tersakiti kembali.
...
Langkah Juliet begitu cepat melewati pintu masuk rumah. Tidak ada yang aneh, semua tampak normal. Para pelayan yang menyambut kedatangannya dan keadaan rumah yang begitu tenang.
Juliet bergegas menuju kamar dan harapannya sedikit melambung, mungkin dia berpikir terlalu takut padahal semua baik-baik saja.
Pintu kamar terbuka, dia mencari J, tetapi pria itu tidak ada. Juliet mencari suaminya ke semua sudut rumah sampai taman belakang yang jarang dikunjungi.
Nihil ...
J tidak ada, Juliet merasa sedikit takut dan memutuskan untuk menemui Corina. Dia segera bertanya pada kepala pelayan tersebut.
"Nyonya Corina. Dimana, J?" Juliet bertanya dengan tidak sabar.
"Nyonya, Anda pulang terlambat? Tuan J sudah berangkat ke Belanda bersama Tuan Diaval, Tuan Antonio dan Nona Daisy," jawab Corina tanpa melihat ekspresi terkejut di wajah Juliet karena wanita tua tersebut sedang merapikan meja makan.
"Apa? Itu tidak mungkin, dia tidak mengatakan apapun padaku!" Juliet berkata dengan nada yang putus asa.
Corina yang baru menyadari majikannya itu putus asa hanya tersenyum. "Anda sedang hamil, Nyonya! Perjalanan dengan pesawat cukup lama dan Tuan J tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya," jawabnya.
Juliet terdiam, ucapan Corina sangat masuk akal, dirinya akan tersiksa jika berada dalam pesawat cukup lama.
Namun, bagi Juliet ada yang janggal dari kepergian J. Dia tidak bisa membohongi perasaannya bahwa sesuatu yang tidak dia inginkan akan terjadi.
Juliet kembali ke kamar dengan perasaan yang berkecamuk. J pergi tanpa memberi kabar atau mengatakan hal itu pada Juliet. Jika J kembali dia bersumpah akan memaki pria itu karena sudah membuatnya cemas.
Wanita muda Juliet kembali memeriksa ponsel pintarnya berharap dia melewatkan sesuatu atau tidak menyadari J mengirim pesan padanya.
Tidak ada ...
Tidak ada satupun pesan masuk dari siapapun. Juliet hanya bisa berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah.
Juliet merasakan dadanya sesak, berbagai macam pikiran timbul dalam pikirannya. Dia kesal, marah, kecewa, dan banyak lagi yang berkecamuk dalam hatinya.
Sampai matanya menangkap suatu objek yang terlewatkan, Juliet mendekati meja dimana selembar kertas berada di sana, ujung-ujung kertas tersebut seperti akan terbang jika sesuatu tidak menahannya.
Angin yang berhembus dari luar jendela serta ruangan gelap karena Juliet tidak menyalakan lampu kamar menambah suasana semakin dramatis.
Juliet meraih kertas tersebut yang ternyata pesan dari J. Oh, Juliet merasa dunianya runtuh saat ini juga. Sebuah tangisan lolos dari matanya begitu saja.
Juliet menutup mulut untuk meredam isak tangis, hatinya begitu hancur sekarang. Apa yang ia takutkan kini terjadi. J meninggalkannya dengan alasan yang tidak ia ketahui.
Tubuh Juliet runtuh dia terduduk di lantai dingin sambil meremat kertas pesan yang ditinggalkan J.
'Aku tidak sanggup untuk melihatmu lagi, semoga kau bahagia dengan orang-orang yang kau cintai!'
'Aku pergi demi dirimu!'
'J'
"Bodoh! Kau benar-benar bodoh!" Juliet meraung sejadinya, dia tahu J pasti sudah salah paham pada dirinya. Kenapa selalu seperti itu? J selalu mengambil kesimpulan tanpa mendengar penjelasannya.
Selain surat dari J, masih ada lembar lain yang sudah dibubuhi tandatangan pria itu, sebuah surat yang ditujukan untuk Juliet yaitu surat gugatan cerai.
"Kau pasti bercanda. Baiklah, aku akan menunggu sampai kau pulang!"
...
Hari demi hari, Juliet menunggu tapi tidak ada tanda-tanda J akan pulang atau menghubunginya. Juliet selalu mencoba menghubungi pria itu dan hasilnya dia benar-benar kehilangan J.
Satu bulan Juliet menunggu dan dia sudah tidak kuat lagi menahan rasa rindunya pada J. Setiap malam dia bermimpi berada dalam pelukan pria itu dan membuatnya tersiksa.
"Pulanglah, J! Aku merindukanmu!" lirihnya sambil memeluk kemeja pria itu yang wangi tubuhnya masih tertinggal di sana. Juliet mengecupnya beberapa kali seolah itu benar-benar J.
"Nyonya Corina, aku akan pulang ke rumah orang tuaku, jika J kembali tolong hubungi aku secepatnya!" pinta Juliet pada Corina.
Dia memutuskan untuk pindah karena tidak bisa tinggal di rumah sepi milik J yang membuatnya kesepian.
...
Juliet kembali meraung saat tiba di rumah orang tuanya, dia tidak kuasa menahan tangis karena luka di hatinya.
Keluarga Harrison kembali berkumpul walaupun luka meliputi kehidupan mereka karena Juliet tidak bisa bahagia sedangkan perutnya semakin membesar.
Juliet marah dan benci pada J sekarang yang sudah menyakitinya. Kenapa dia begitu tega meninggalkan dirinya beserta bayi kembar mereka.
...
"Julie, kau mau kemana?" tanya Emma saat melihat Juliet terlihat rapi, jangan lupakan perutnya yang sudah besar.
"Aku akan mencari pekerjaan, Mama!" jawab Juliet sambil memasang flatshoes di kedua kakinya.
"Apa? Tapi kau sedang hamil, kau harus menjaga kesehatan!" sergah Emma, tentu dia tidak mau jika putrinya terkena masalah.
"Aku tidak bisa berdiam diri. Lagipula sebentar lagi aku akan melahirkan, aku butuh biaya," jawab Juliet tanpa menghentikan kegiatan merapikan semua pakaiannya.
"Bukankah J sudah memberi jaminan untuk itu?" tanya Emma, memang terkadang dia sulit membujuk putrinya yang sedikit keras kepala.
"Aku tidak mau! Tidak sedikit pun dari kekayaan yang ia milikki," kilah Juliet. Rupanya dia benci pada J sekarang. Emma hanya menghela napas, kenapa semua jadi rumit?
"Mama jangan khawatir aku akan baik-baik saja!"
...
Waktu terus berjalan, sudah lewat dari lima bulan Juliet memutuskan untuk hidup mandiri, dan sampai saat ini dia juga belum mendapat kabar tentang J, pria itu seperti hilang tertelan bumi.
Juliet bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang industri. Dia tidak meneruskan kuliahnya demi si kembar yang akan segera terlahir.
Padahal setiap bulan salah seorang pegawai J datang untuk memberikan sejumlah uang tetapi dia selalu menolaknya.
"Juliet! Nanti siang akan ada klien yang ingin menemui ku, kau buatkan janji dan atur ulang waktu rapat ku!" perintah atasan Juliet.
"Baik, Tuan!" jawab Juliet antusias. Dia merasa beruntung mendapat bos yang begitu baik dan mau mempekerjakan wanita hamil seperti dirinya.
Pria seusia ayahnya itu tidak terlalu membebaninya dalam pekerjaan. Sehingga Juliet berusaha memberi yang terbaik untuk sang atasan.
Tok-tok ...
"Masuk!" Juliet menjawab dengan sedikit berteriak saat pintu ruang kerjanya diketuk, dia terus berfokus pada pekerjaannya menyusun dokumen.
"Permisi, Nona! Apakah Tuan Madison ada di tempat?" Juliet terkejut saat seorang tamu yang dimaksud sang atasan menyapa dirinya.
"Toddy?" tanya Juliet dengan tatapan heran.
"Juliet? Hey, sedang apa kau di sini?" Ternyata tamu yang punya janji dengan sang bos memang Toddy Muller, seketika Juliet ingat kembali pada J yang sebenarnya selalu ia rindukan.
"Aku bekerja di sini, Tuan Madison sudah menunggu Anda. Silakan!" Melihat ekspresi Juliet membuat Toddy ingin bertanya lagi.
"Setelah bertemu dengan Tuan Madison, aku ingin bicara denganmu!" ucap Toddy sebelum masuk ke dalam ruangan Madison--atasan Juliet.
...
Singkat cerita Toddy mengajak Juliet makan siang setelah minta izin dari Madison. Juliet tahu cepat atau lambat semua orang akan tahu jika rumah tangganya sudah kacau tanpa alasan.
Terpaksa Juliet mengatakan hal yang sebenarnya pada Toddy tentang kenyataan J yang sudah mencampakan dirinya.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa ini terjadi? Aku sungguh tidak tahu. Kupikir kau dan J baik-baik saja?" Toddy merasa prihatin pada Juliet yang terlihat menderita.
Tentu Toddy berpikir demikian karena setelah pembicaraan dengan Juliet beberapa bulan lalu, dia diminta oleh orangtuanya untuk meneruskan cabang bisnis di luar Amerika.
Dengan kata lain, Toddy lebih memilih menghindar dari rasa sakit di hatinya. Dia tidak lagi mengetahui kabar tentang J dan Juliet atau bahkan sahabatnya yang lain.
Toddy hanya fokus pada pekerjaannya sebagai seorang direktur di anak perusahaan milik keluarganya.
"Kabar terakhir yang kudengar J pergi ke Belanda, mungkin menemui keluarganya," jawab Juliet, hidung wanita itu sudah memerah serta mata yang berkaca.
Toddy menatap sedih melihat Juliet yang seperti ingin menumpahkan semua tangisannya. Hidup sendiri tanpa pendamping pasti membuatnya kesulitan, ditambah kehamilannya yang sudah semakin tua.
Toddy tidak tahu alasan apa yang menyebabkan perpisahan J dan Juliet. Wanita itu tidak menjelaskan hal itu padanya, apakah J dan Juliet bertengkar atau tidak saling cinta.
Namun, satu hal yang ia tahu, Juliet masih sangat mencintai J. Itu bisa terlihat dari cara wanita itu menyebut nama mantan suaminya itu.
Toddy sangat menyayangkan hal itu. Ternyata J dan Juliet sudah bercerai. Itu yang dikatakan Juliet kepadanya.
"Tenanglah, Juliet! Aku akan selalu membantumu sebisaku, hubungi aku jika kau butuh bantuan!" Toddy menyerahkan kartu nama yang berisi nomer yang bisa Juliet hubungi.
"Terima kasih," ucap Juliet setelah menerima kartu tersebut.
"Tentu, kau sahabatku, bukan?" Juliet tersenyum lebih lebar mendengar ucapan Toddy.
"Setelah ini aku akan lebih sering menghiburmu, hm?"
"Ketahuilah, kau mungkin kehilangan J tapi kau tidak akan pernah kehilangan sahabat. Aku, Roman, dan Fablo pasti akan selalu melindungi mu!"
Juliet menangis sekarang, ucapan Toddy membuat ia kembali bersemangat untuk melewati semua masalah yang ia milikki.
Juliet hanya merasa sedih karena J justru tidak ada saat dirinya begitu membutuhkan pria itu di sampingnya.
...
Di tempat lain, seorang pria tengah berhadapan dengan seorang pria lainnya yang jauh lebih tua. Si pria dengan tampilan elegan dan rapi serta terlihat begitu dingin.
Suasana ruangan sepi dan sedikit aura mencekam sangat mendominasi, terlebih dua pria tersebut saling menatap tajam.
"Sudah hampir enam bulan kau berada di sini, tapi tatapan mu masih seperti itu padaku?" Pria lanjut usia dengan rambutnya yang sudah memutih mulai bertanya pada pria muda yang begitu dingin.
"Apa ini masalah untuk, Anda? Kakek?" timpal pria tersebut.
"Jacey Raiden King! Kau dilarang berbicara seperti itu padaku! Di rumahku!" Pria tua kembali berkata sambil mengetuk lantai dengan tongkatnya beberapa kali.
Usianya mungkin sudah begitu tua, tapi kharisma dan wibawa pria tua tersebut tidak berkurang sedikit pun. Sangat terlihat bahwa dia adalah sosok yang dominan dengan kepribadian tegas dan arogan.
Pria muda masih bergeming, ia enggan menjawab pun menatap pada mata pria tua yang suaranya terdengar berat dan menggema di semua sudut ruangan tersebut.
"Namamu mungkin sudah kau ubah, tapi jati dirimu tidak akan pernah bisa menghapus darah yang mengalir dalam tubuhmu itu!" Pria tua kembali berbicara pada cucu pertamanya itu.
"Apa yang Anda inginkan? Kakek?" Pria muda kembali bertanya. Mereka sama-sama bebal dan keras kepala, hingga tidak terlihat salah satunya akan menurunkan ego.
Archibald King dan cucunya-- J saling menatap dengan makna yang berbeda pada tatapan mereka. Pria tua dengan sifat mendominasi dan J dengan tatapan kebencian.
Benar, J benci pada semua orang yang menyandang nama King di belakangnya. Termasuk dirinya sendiri, J tidak suka karena tidak bisa mengambil sikap saat sang kakek memanggilnya untuk segera datang, dan itu terhitung sejak enam bulan yang lalu.
Namun, J tidak menyesal datang ke sana karena merasa itu lebih baik. Menjadi budak bisnis Archibald King masih bisa membuatnya bernapas dari pada harus tinggal di Los-Angeles dengan melihat wanita yang sudah mempermainkan perasaannya.
J tidak ingin lagi bertemu Juliet sebelum bayi mereka terlahir ke dunia. J tidak mau lagi menyaksikan romansa kebohongan yang dilakukan Juliet kepadanya.
Cukup sudah J merasa sakit yang begitu dalam karena Juliet. Tidak akan pernah J lupakan saat wanita itu menyerahkan diri dan membuatnya percaya.
Rupanya Juliet sudah melukainya dari belakang. Tidak akan pernah J lupakan saat berada di taman kampus enam bulan lalu, dimana Juliet berkata cinta pada Toddy, jangan lupakan wajah wanita itu yang dihiasi senyuman.
'Ya, Toddy! Aku mencintaimu.'
J melihat bahkan mendengar semua, sampai dia merasa tidak sanggup lagi menghadapi Juliet dan Toddy yang seperti menari di atas penderitaannya.
Tidak bisa J bayangkan mereka berdua menertawakan hidupnya yang menyedihkan. Sampai J memutuskan untuk pergi tanpa bertemu dengan Juliet terlebih dahulu.
J takut mendengar Juliet akan kembali bersama Toddy, hal itu sangat mempengaruhi mental J sampai saat ia pergi ke Belanda, bahkan J tidak bisa tidur dan harus berkonsultasi dengan psikiater.
"Kau harus kembali ke Los-Angeles! Perusahaan ku membutuhkan pemimpin!" titah sang kakek yang mutlak dan tidak bisa ditolak.
"Kurasa Anda masih memiliki orang kepercayaan," sanggah J dia berusaha menolak secara halus.
"Aku ingin keturunan ku yang mengurusnya, kau paham itu?" J kembali terdiam, bertahun-tahun dia dibuang bahkan tidak diakui, lalu sekarang kenapa dia diterima begitu saja.
Sesungguhnya J merasa hampa sekarang, tetapi hidup dengan perasaan begitu menyiksanya, mungkin jika dia bersikap seperti robot yang diperintah itu tidak akan membuatnya tersiksa lagi.
"Kembalilah dan ambil alih perusahaan Madison!"
TBC
Yup ... Sangat jelas disini J salah paham karena tidak mendengar percakapan Juliet dan Toddy sampai tuntas, ditambah jiwa J yang labil mempengaruhi. Jadi J takut dan berprasangka Juliet akan meminta perpisahan ...
Ya, kurang lebih seperti itu ...
Yoo aku harap chap depan adalah ending ya 😘😘😘
See you next chap & i love u all ❤️
terimakasih atas karya yg luar biasa ini, saya merasa terhibur, ending yg cukup membuat saya tercengang, tapi saya memahami itu, di dunia ini yg namanya masalah tidak akan pernah berhenti datang kecuali tokoh itu mati, dan sifat manusia sulit di rubah, dan dendam tidak akan bisa dilupakan begitu saja, cerita ini hidup, biarkan berkembang bebas dengan sendirinya,
terimakasih karyamu disukai banyak orang