Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sora mengunci keputusannya di tengah tusukan jarum jahit yang menembus pangkal lukanya.
Di depan matanya, opsi konfirmasi berkedip menuntut kepastian. Peluang bertahan hidupnya menipis seiring racun yang merayap di pembuluh darah, dan satu keping cip adalah satu-satunya modal yang ia miliki di dunia ini.
‘Konfirmasi Ya.’
Pikiran itu ia putuskan dalam satu tarikan napas pendek.
Aksara neon di hadapannya berkedip sekali dengan kilatan kuning tembaga. Angka pada kolom saldo berganti menjadi nol, diiringi desau halus yang bergetar di dasar saraf pendengarannya.
...----------------...
...[SISTEM KASINO]...
...[Saldo: 0 Point Chip]...
...[Kondisi: Risiko Kegagalan Organ 12% - Stabil]...
...----------------...
Rembesan peluh perih di kening Sora yang semula mengucur deras perlahan menyusut. Sensasi terbakar di rongga dada dan belakang tengkoraknya surut cepat, berganti aliran sejuk yang menenangkan denyut nadinya.
Denyut nadinya yang semula berdegup liar mulai melambat teratur. Rasa sesak di paru-parunya melonggar, membiarkan udara berbau alkohol dan karat di dalam kontainer kargo masuk memenuhi dadanya tanpa hambatan.
Dok Han baru saja mengikat simpul pada jahitan kelima ketika dokter tua itu menyadari perubahan fisik pasiennya.
Gerakan tangannya terhenti di udara. Matanya menatap leher Sora, tempat urat-urat biru yang tadi menegang kaku kini mengendur tenang. Napas pemuda itu tidak lagi terdengar seperti orang yang tercekik air got.
Dok Han meletakkan gunting bedah ke baki logam dengan bunyi denting pelan. Dahinya berkerut dalam. Ia menyentuh kening Sora menggunakan punggung tangan kirinya yang dingin dan berbau tembakau.
Dok Han menarik tangannya cepat. Kerutan di dahinya semakin berlipat di balik kacamata kawat tebal.
“Tunggu dulu,” gumam Dok Han curiga.
Ia berbalik ke meja instrumen, menyambar termometer raksa kaca dari wadah logam kecil. Dokter tua itu mengibaskannya ke udara dua kali, mencabut perban sumbat dari mulut Sora, lalu menyelipkan ujung perak termometer itu ke bawah lidahnya.
“Kulum. Jangan digigit sampai pecah,” perintah Dok Han pendek.
Sora duduk diam di atas meja periksa dari plat besi yang dingin. Nyeri di pangkal kelingking kirinya kini menyisakan ngilu jahitan fisik biasa—kulit yang dirapatkan paksa oleh benang nilon, bukan lagi racun mematikan yang menyiksa sumsum tulang.
Dua menit merayap dalam keheningan pengap di dalam kontainer. Hanya ada raungan generator diesel di luar dinding seng dan desau hisapan rokok kretek Dok Han yang menyala merah temaram.
Dok Han mencabut termometer kaca itu dari mulut Sora. Ia melangkah ke bawah sorotan tabung lampu neon, memiringkan kaca untuk membaca ketinggian garis air raksa perak di dalamnya.
Mata pria tua itu menyipit tajam. Garis air raksa itu berhenti tepat di angka tiga puluh enam koma delapan derajat Celsius.
“Tiga puluh enam koma delapan,” gumam Dok Han pelan, suaranya sarat ketidakpercayaan seorang mantan ahli bedah militer. “Tiga menit lalu kamu menggigil dengan suhu empat puluh satu derajat dan pembuluh darahmu penuh nanah. Darahmu terbuat dari apa, nak?”
Sora menatap Dok Han tanpa mengubah raut wajahnya. Sorot matanya lurus dan tenang, seperti saat ia mengawasi putaran piringan rolet sebelum bola gading meluncur.
“Mungkin cuma salah linat, Dok,” sahut Sora datar sambil menurunkan tangannya yang telah terbalut kain perban bersih.
Dok Han membuang ludah ke samping. Ia menatap Sora dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan otot-otot pemuda itu yang kembali rileks.
Dokter buronan itu tidak bertanya lebih jauh. Di muara Pesisir Tiram, orang yang terlalu banyak mencampuri urusan orang lain biasanya berakhir mengapung di hutan bakau.
“Salah lihat atau apa itu, urusanmu,” kata Dok Han sambil melepas sarung tangan karetnya dan melemparnya ke tempat sampah. “Tapi jahitan ini butuh antibiotik biar gak membusuk lagi. Dan kamu butuh makan kalau gak mau roboh di jalanan.”
Dok Han menggerakkan dagunya ke arah pintu kontainer yang menghadap ke jalan dermaga.
“Warung kopi pasar loak buka dua puluh empat jam. Di emperan belakangnya ada meja judi dadu koprok murahan. Kalau tanganmu yang sisa empat jari itu masih ingat cara main koin, cari uang di sana sebelum perbanmu lepas.”
Sora menurunkan kedua kakinya dari meja periksa. Ujung sol sepatunya menjejak lantai semen yang dingin. Tubuhnya terasa ringan dan napasnya lapang, meski staminanya belum pulih penuh akibat darah yang terbuang.
Ia meraba saku dalam jaket parkanya, memastikan serat kasar syal rajut milik Mila masih aman di tempatnya.
Di sudut mata kirinya, angka nol pada antarmuka sistem kasino berkedip tenang.
Sora melangkah keluar dari kontainer kargo. Angin asin muara langsung menyambar wajahnya, dan ia tahu ia harus memutar koin di meja pasar loak sebelum malam ini berganti hari.