Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan / Macan
Arga alias Macan (narasi)
Yo, semuanya. Gue kenalan dulu di sini. Nama gue Arga Hendrawan, tapi semua orang manggil gue Macan. Umur 30 tahun, dan udah banyak yang gue lewatin dalam hidup ini. Kulit sawo matang agak terang, rambut sama mata cokelat, badan kekar, dan banyak tato karena gue memang suka. Gue ngambil alih bukit ini umur 21, waktu bokap gue mati dijebak. Tentu aja semua yang terlibat gue habisin, semuanya gue balas. Gue tinggal sama Mak, Bu Lastri, yang nggak ada duanya. Gue punya adik, namanya Gabriel, lebih muda, jadi wakil gue di bukit ini. Semua orang manggil dia Kerempeng karena dari kecil badannya ceking, sekarang sih udah lebih berisi. Gue juga punya tangan kanan, Jagung.
Mereka berdua ada di samping gue sejak gue ngambil alih bukit. Sehidup semati sama gue.
Sampai hari ini gue nggak pernah ngakuin satu cewek pun, soalnya di bukit ini isinya cuma cewek murahan yang nempel-nempel terus ke gue. Gue tidurin, iya, tapi dari awal udah gue bilang sama gue nggak bakal lebih dari seks. Ciuman juga nggak. Siapa tahu mulut mereka sebelumnya nyasar ke mana aja sebelum datang ke gue. Gue nggak mau.
Kalau nurutin Mak, gue udah kawin dari dulu. Dia sayang banget sama Cantika, cewek bukit sini yang suka menjilat Mak. Ibunya sahabat dekat Mak, dan kalau demi mereka berdua, gue udah mau resmiin tuh cewek. Nggak bisa gue bilang dia jelek, cakep sih, tapi bukan tipe gue, bro. Anaknya agresif banget. Baru dua kali gue tidurin, udah ngerasa jadi pacar resmi gue. Udah waktunya gue potong sayapnya.
Foto Arga alias Macan 👆
Alarm ponsel bunyi, gue bangun pagi-pagi, mandi, pakai baju santai tapi tetap gaya, pasang topi, sepatu kets, lalu selempangkan senapan serbu ke punggung dan turun keluar rumah.
"Arga, kamu nggak sarapan lagi?" Mak teriak dari dapur.
"Belum lapar. Nanti gue balik sarapan."
Gue naik motor menuju pos jaga. Hari ini ada kiriman barang, dan gue mau ngecek sendiri. Pas sampai di pos, gue lihat cewek cakep banget jalan kaki turun dari bukit.
"Woi," sapa gue ke Jagung sama Bocil yang lagi jaga.
"Siap, Bos," kata Bocil.
"Eh, jatuh dari tempat tidur ya lo?" kata Jagung.
Tapi gue nggak dengar apa-apa. Gue cuma bengong lihat cewek itu lewat dengan langkah mantap. Anak buah di pos godain dia dengan lelucon bodoh mereka, tapi dia nggak peduli. Dia sempat ngelirik gue sebentar, lalu buru-buru buang muka begitu sadar gue lagi natap balik. Dia jalan ke halte, dan bus langsung datang. Dia naik.
"Hei, lap tuh ilernya, netes tuh," kata Jagung sambil ketawa ngeledek gue.
"Apaan sih lo, sialan. Iler apaan?" kata gue kesal.
Mereka masih ketawa sampai akhirnya gue ngomong.
"Terus, itu cewek siapa? Gue belum pernah lihat di sini."
"Nggak tahu, tapi kalau nggak salah dia kerja di tempat Pak Mansur," kata Jagung.
"Namanya Rana, tinggal sama neneknya di Jalan 8," kata Bocil.
"Lo kenal dia?" tanya gue.
"Kenal, Bos. Dan maaf ya, dengan segala hormat, dia nggak bakal pernah melirik Bos." Nadanya kayak orang cemburu.
"Hah, Bocil, kenapa lo ngomong gitu?" Gue menatapnya tajam.
"Soalnya gue kenal dia. Dia takut banget sama preman, kerja dua tempat buat ngurus rumah, nggak pernah kelihatan sama cowok mana pun, baik dari sini maupun dari kota bawah, dan keluar rumah cuma buat kerja," jawabnya.
"Menarik juga," kata gue.
Truk kiriman datang, dan gue ke sana buat ngecek. Pas sadar, udah tengah hari, dan seperti biasa gue nggak sempat makan siang. Untungnya Mak nyuruh salah satu anak buah bawain rantang buat gue dan adik gue.
Gue lagi di ruangan menghitung segepok uang waktu Kerempeng masuk.
"Ada pintu tuh buat dipakai, bukan buat hiasan doang kan," kata gue kesal.
"Wah, kok sensi banget, kurang jatah ya?" katanya.
"Lo nggak kerja lagi, sialan? Dari tadi ke mana?"
"Gue sama pacar resmi gue." Dia nyengir lebar.
"Sejak kapan lo punya pacar resmi, lo gila ya?" kata gue, nggak percaya.
"Sejak kemarin. Di pesta bukit berikutnya bakal gue kenalin ke semua orang sebagai pacar resmi gue."
"Ya ampun, lembek banget lo sekarang," ledek gue, tapi dia sama sekali nggak peduli.
"Gue mau lo suruh orang nyelidikin satu cewek. Namanya Rana, tinggal di Jalan 8. Gue mau tahu sampai warna dalamannya apa." Gue ngomong serius.
"Buat apa?" Dia mengangkat alis.
"Nggak buat apa-apa, cuma mau menjawab beberapa pertanyaan."
"Gue kenal dia. Dia temannya cewek gue. Tinggalin aja dia, setahu gue hidupnya cuma kerja."
"Lakuin apa yang gue suruh, titik." Gue bicara serius.
"Oke, gue urus sekarang." Dia keluar.
Sore gue habiskan di lapak ngurusin berbagai masalah, dan waktu sadar udah hampir jam tujuh. Gue pulang ke rumah buat mandi, lalu ke kedai Pak Mansur. Gue nggak boleh melewatkan kesempatan ngelihat Rana. Cewek itu pasti ngasih gue guna-guna yang parah, soalnya seharian dia nggak lepas dari kepala gue.