Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. MUSUH DI ANTARA MEREKA
Malam itu, rumah keluarga Khontacron jauh dari kata tenang.
Di ruang kerja lantai dua, suara gelas pecah menggema keras hingga ke lorong. Pecahan kaca berserakan di atas lantai marmer, sementara cairan berwarna cokelat mengalir di antara serpihannya.
Pak Teo, ayahnya Phat dan Arka, berdiri di belakang meja kerjanya. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, dan napasnya terdengar berat. Di hadapannya, lima orang anak buahnya berdiri berjajar dengan kepala tertunduk.
“Jadi, kalian ingin mengatakan bahwa tiga orang itu masih hidup?” tanyanya pelan.
Tidak seorang pun berani menjawab.
Pak Teo mengangkat pandangan. “Aku bertanya kepada kalian.”
“S-sesuai laporan, Tuan, mereka berhasil keluar dari rumah sakit sebelum kami bisa—”
DOR!
Suara tembakan memutus kalimat itu.
Pria yang baru saja berbicara tersungkur ke lantai. Empat orang lainnya sontak mundur dengan wajah pucat. Salah seorang bahkan hampir kehilangan keseimbangan ketika melihat pistol di tangan Pak Teo mengarah kepadanya.
“Jangan salahkan keadaan atas kegagalan kalian,” ujar Pak Teo dingin. “Kalian dibayar untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan untuk memberiku daftar alasan.”
“Tuan, mohon beri kami kesempatan sekali lagi!”
Pak Teo menoleh kepadanya.
“Kesempatan?”
Pria itu langsung berlutut. “Kami akan menemukan mereka! Kami bersumpah—”
DOR!
Tubuhnya ambruk.
Dua tembakan berikutnya menyusul dalam jeda yang singkat. Ruangan itu dipenuhi bau mesiu dan kepanikan. Anak buah yang tersisa berusaha memohon, tetapi Pak Teo sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.
Tembakan kelima akhirnya mengakhiri semuanya.
Lima orang tergeletak di lantai ruang kerjanya.
Pak Teo menurunkan pistol. Ia menatap pemandangan di hadapannya tanpa perubahan berarti pada ekspresinya, seolah-olah baru saja menyingkirkan lima benda rusak dari rumahnya.
Ia lalu menyerahkan pistol itu kepada seorang pengawal yang berdiri di dekat pintu.
“Bersihkan ruangan ini.”
“Baik, Tuan.”
“Dan jangan biarkan seorang pun di luar rumah mengetahui apa yang terjadi malam ini.”
Pengawal itu mengangguk cepat.
Pak Teo merapikan manset kemejanya, kemudian berjalan keluar. Namun, alih-alih menuju kamar atau ruang tamu, ia justru berhenti di depan sebuah pintu di ujung lorong.
Pintu menuju ruang bawah tanah.
Ia mengeluarkan kunci dari sakunya.
Sebelum membukanya, Pak Teo sempat mendengar suara samar dari balik pintu.
Suara seseorang yang berusaha menahan rintihan.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Setidaknya,” gumamnya, “masih ada satu orang yang perlu diajari caranya mematuhi perintah.”
Tangga menuju ruang bawah tanah itu sempit dan gelap.
Lampu-lampu kecil di sepanjang dinding hanya menerangi sebagian ruangan. Udara lembap bercampur dengan bau besi dan debu. Di salah satu sudut, sebuah kursi kayu diletakkan tepat di bawah lampu yang menggantung rendah.
Phat duduk terikat di kursi itu.
Kedua tangannya diikat ke belakang, sementara pergelangan kakinya tertahan pada kaki kursi. Kemeja yang dikenakannya sudah kusut dan robek di beberapa bagian. Memar kebiruan terlihat di lengan serta lehernya, dan beberapa bekas cambukan membentang di punggungnya.
Kepalanya tertunduk. Napasnya berat, tetapi begitu mendengar langkah kaki menuruni tangga, ia perlahan mengangkat wajah.
Ayahnya telah tiba.
“Sudah selesai bermain sebagai anak yang tidak tahu aturan?” tanya ayahnya.
Phat tidak menjawab.
Ayahnya berhenti beberapa langkah di depannya. Ia mengamati kondisi putranya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iba.
“Aku memberimu satu tugas sederhana.”
Phat menelan ludah. “Aku sudah mencoba menghentikan Arka.”
“Mencoba?”
Ayahnya mengulang kata itu seakan-akan sedang mendengar sesuatu yang menjijikkan.
“Kau mendatangi Arka di taman. Kau membawa beberapa orang. Kau membuat keributan, menarik perhatian, dan membiarkannya pergi bersama Sara. Setelah itu, apa yang terjadi?”
Phat mengepalkan tangannya di balik ikatan.
“Serangan di rumah sakit gagal,” lanjut ayahnya. “Polisi menangkap orang-orang kita. Salah satu dari mereka bahkan meninggalkan bukti yang mengarah langsung kepada urusan Tiara Chenzae.”
“Itu bukan salahku sepenuhnya!” Phat akhirnya berseru.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Ayahnya menatapnya lama.
Phat segera menyadari kesalahannya, tetapi semuanya sudah terlambat.
“Apa katamu?”
“Aku hanya—”
“Jangan berani meninggikan suara kepadaku!”
Ayahnya menampar wajah Phat dengan punggung tangannya. Kepala Phat terlempar ke samping. Ia menarik napas tajam, berusaha menahan rasa sakit yang menjalar di pipinya.
“Aku sudah membesarkanmu, memberimu segala sesuatu yang tidak pernah bisa dimiliki orang lain, dan mempercayakan urusan penting kepadamu,” kata ayahnya. “Tetapi kau justru bertindak seperti anak kecil yang tidak mampu membedakan keinginan pribadi dengan pekerjaan.”
Phat mengangkat wajahnya perlahan.
“Karena Arka?” tanyanya serak. “Ayah menghukumku seperti ini hanya karena aku gagal menghentikan Arka?”
Mata ayahnya menyipit.
“Jangan berpura-pura tidak mengerti.”
“Sejak dulu, semua selalu tentang Arka!” Suara Phat bergetar, bercampur amarah dan kelelahan. “Apa pun yang kulakukan, Ayah selalu membandingkanku dengannya. Sekarang aku bahkan tidak boleh melakukan sesuatu dengan caraku sendiri?”
Ayahnya tertawa pendek tanpa kegembiraan.
“Caramu sendiri?”
Ia menarik sebuah kursi dari dekat dinding, lalu meletakkannya di hadapan Phat. Dengan tenang, ia duduk dan menyilangkan kaki.
“Kalau kau benar-benar mampu menggunakan caramu sendiri, Arka seharusnya sudah berada di hadapanku sekarang. Tiara seharusnya tidak lagi menjadi ancaman. Dan polisi itu seharusnya tidak punya kesempatan untuk mengusik keluarga kita.”
Phat terdiam.
“Namun, kau gagal dalam semuanya.”
Ayahnya membungkuk sedikit, menatap putranya tepat di mata.
“Yang paling buruk, kau membiarkan perasaanmu terhadap seorang perempuan mengendalikan keputusanmu.”
Wajah Phat menegang.
“Jangan bawa Sara ke dalam masalah ini.”
“Lihat dirimu.” ayahnya menggeleng pelan. “Bahkan dalam keadaan seperti ini, kau masih memikirkannya.”
“Dia tidak ada hubungannya dengan urusan keluarga kita!”
“Benarkah?”
Ayahnya tersenyum tipis.
“Kalau begitu, mengapa kau kehilangan kendali ketika melihat Arka bersamanya? Mengapa kau membiarkan kecemburuan membuatmu gegabah? Dan mengapa kau justru menciptakan masalah baru ketika seharusnya kau menyelesaikan masalah yang sudah ada?”
Phat tidak mampu menjawab.
Bukan karena ia tidak memiliki jawaban, melainkan karena sebagian dari perkataan ayahnya benar.
Ia memang membiarkan kemarahannya mengambil alih. Ia mendatangi Arka tanpa memikirkan akibatnya. Ia ingin membuat adiknya itu merasakan kehilangan, setidaknya sekali saja, seperti dirinya yang selama bertahun-tahun merasa selalu berada di posisi kedua.
Namun, ia tidak pernah menyangka kegagalannya akan berakhir seperti ini.
Ayahnya berdiri.
“Mulai malam ini, kau tidak akan keluar dari ruangan ini sampai aku memutuskan apa yang harus kulakukan terhadapmu.”
Phat mendongak. “Ayah tidak bisa menahanku di sini selamanya.”
Ayahnya berhenti di dekat tangga.
“Selamanya?”
Ia menoleh sedikit.
“Jangan terlalu percaya diri, Phat. Kau masih hidup di sini karena aku belum memutuskan bahwa kau tidak berguna lagi.”
Wajah Phat memucat.
Ayahnya kembali menaiki tangga tanpa menunggu jawaban. Pintu besi kemudian tertutup, disusul bunyi kunci yang diputar dari luar.
Klik.
Phat kembali sendirian.
Beberapa saat lamanya ia hanya duduk diam, mendengarkan langkah kaki ayahnya yang semakin menjauh. Rasa sakit di tubuhnya membuat setiap tarikan napas terasa berat.
Namun, bukan rasa sakit itu yang paling mengganggunya.
Melainkan satu hal yang baru saja ia sadari.
Ayahnya tidak sekadar marah karena ia gagal menghentikan Arka.
Ayahnya ketakutan.
Ketakutan karena Arka semakin dekat dengan Tiara Chenzae, dan karena rahasia keluarga mereka mulai terancam terbongkar.
Phat mengangkat wajahnya ke arah pintu besi.
“Tiara Chenzae...” bisiknya.
Nama itu terasa asing sekaligus mengerikan. Selama ini, ia hanya mengetahui bahwa ayahnya sangat ingin Arka berhenti mencari perempuan tersebut. Ia tidak pernah diberi tahu alasan sebenarnya.
Mengapa Tiara begitu penting?
Apa yang diketahui perempuan itu hingga ayahnya sendiri rela membunuh anak buahnya, menyiksanya, dan mengurung putranya di ruang bawah tanah hanya demi menjaga rahasia itu?
Phat memejamkan mata sejenak.
Kemudian, sebuah pikiran lain muncul.
Bagaimana jika selama ini ia hanya menjadi alat bagi ayahnya?
Bagaimana jika suatu hari nanti, ketika ia tidak lagi berguna, nasibnya akan sama dengan lima anak buah yang baru saja ditembak ayahnya?
Phat membuka mata. Kali ini, tatapannya berubah.
“Aku tidak akan mati di tanganmu, Ayah,” gumamnya lirih.
Ia mulai menggerakkan pergelangan tangannya, mencoba mencari celah pada ikatan yang menahannya. Rasa sakit membuatnya meringis, tetapi ia tidak berhenti.
Di luar ruangan, langkah kaki seorang penjaga terdengar mendekat.
Phat segera menundukkan kepala, berpura-pura tidak sadarkan diri.
Pintu kecil di bagian atas pintu besi terbuka. Cahaya dari lorong menyelinap masuk.
“Masih hidup?” tanya penjaga itu dengan nada malas.
Tidak ada jawaban.
Penjaga tersebut mengumpat pelan, lalu menutup kembali celah itu.
Langkahnya menjauh.
Phat perlahan mengangkat kepala. Napasnya masih berat, tetapi kini ia memiliki satu tujuan.
Ia harus keluar dari ruangan ini.
Bukan untuk menyelamatkan Arka. Bukan pula untuk mendapatkan Sara.
Melainkan untuk mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan ayahnya dari mereka semua.
Sebab, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Phat mulai takut kepada orang yang selama ini ia panggil Ayah.
Dan di lantai atas, ayahnya berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil menatap layar ponsel.
Sebuah pesan baru saja masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
“Arka sudah tiba di Pantai Kuta. Kami mengetahui lokasi tempat persembunyiannya.”
Ayahnya membaca pesan itu dua kali.
Kemudian, ia mengetik balasan singkat.
“Jangan sentuh dia dulu. Aku ingin tahu siapa yang membantunya.”
Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap foto keluarga yang terpajang di dekat rak buku.
Foto dirinya bersama Arka dan Phat ketika kedua putranya masih kecil.
Senyumnya menghilang.
“Maafkan aku, Arka,” gumamnya pelan. “Kalau kau terus menggali rahasia ini, pada akhirnya aku mungkin harus memilih di antara kalian berdua.”
Di luar jendela, hujan mulai turun.
Dan jauh dari rumah keluarga Khontacron, di sebuah rumah persembunyian dekat pantai, seseorang baru saja mengirimkan foto terbaru Arka kepada ayahnya.
Seseorang yang seharusnya berada di pihak Arka.