NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dari Gue-Lu jadi Aku-Kamu

Matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat warna jingga di ufuk barat saat bel tanda berakhirnya kelas terakhir berbunyi. Aku buru-buru merapikan alat tulis dan memasukkan buku diktat akuntansi ke dalam tas kain. Di sebelahku, Rara berjalan beriringan menyusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang berbondong-bondong menuju gerbang keluar.

"Vi, pangeran lo udah di depan?" tanya Rara sambil melirik jam di pergelangan tangannya.

"Iya, Ra. Tadi pas jam empat sore dia udah chat katanya udah otw dari kampusnya," jawabku dengan senyuman yang tidak bisa kusembunyikan.

Begitu kami menapakkan kaki di trotoar depan gerbang, sebuah mobil hitam mewah yang sangat kukenali sudah terparkir rapi di tepi jalan. Kaca mobil diturunkan setengah, menampilkan seraut wajah tampan Arga yang sedang menatap ke arah kami. Aku langsung menoleh ke arah Rara dengan mata yang berbinar.

"Ra, gue duluan ya. Arga udah jemput tuh," pamitku riang sambil menepuk pundaknya pelan.

Rara menyengir lebar, melambaikan tangannya dengan gerakan heboh yang sengaja dibuat-buat. "Iya, iya, si paling dijemput setiap hari. Gak usah buru-buru kali, Vi, gak bakal ilang itu mobilnya. Dadah, Shavia. Tiati di jalan ya, jangan sampai pingsan gara-gara kebaperan"

"Ih, Rara. Apaan sih!" seruku malu-malu, refleks mencubit lengan Rara gemas, sebelum akhirnya berbalik dan berlari kecil menuju mobil Arga.

Aku membuka pintu penumpang depan, lalu mendudukkan diriku di atas kursi mobil yang empuk dan sejuk. Aroma parfum maskulin khas Arga kembali mengepung indra penciumanku, membawa rasa aman yang luar biasa kepelupuk hatiku.

"Hai, Arga! Sore," sapaku ceria begitu pintu tertutup rapat.

"Sore, Shavia," sahut Arga.

Suara baritonnya yang berat terdengar begitu tenang. Pria itu mengulas senyuman tipis yang sangat samar sebelum mulai melajukan mobilnya kembali membelah jalanan sore kota yang mulai merayap.

Begitu mobil bergerak konstan, sifat ekspresifku yang biasanya tertahan mendadak keluar begitu saja tanpa permisi. Aku memutar tubuhku sedikit menghadap ke arah Arga, memulai rentetan cerita dengan nada suara yang menggebu-gebu.

"Arga, kamu harus tahu kejadian di kelas aku tadi siang. Sumpah, kocak banget," ujarku penuh semangat, kedua tanganku bergerak lincah memperagakan ceritaku.

"Tadi pas matkul akuntansi keuangan, ada temen sekelas aku yang ketahuan tidur pas dosen lagi ngejelasin materi di depan. Pas dibangunin, dia malah latah nyebut angka neraca saldo, sampai seisi kelas ketawa heboh, termasuk dosennya juga ikut geleng-geleng kepala. Terus ya, tadi pas jam istirahat kedua, aku sama Rara sempat nyobain es kul-kul buah yang baru buka di kantin belakang, rasanya enak banget tahu. Besok-besok kalau kamu main ke kampus aku, kamu harus cobain es itu, oke?"

Aku mengoceh tanpa henti, menceritakan setiap detail kegiatanku hari ini dari A sampai Z tanpa melewatkan satu hal pun. Di tengah-tengah rentetan ceritaku, aku mendadak teringat pada kotak bekal hijau toska yang kubawakan subuh tadi.

Aku mencondongkan tubuhku sedikit lebih dekat ke arah kursi kemudi, menatap profil samping wajahnya dengan mata berbinar penasaran. "Oh iya, Arga. Bekal nasi tim ayam jamur yang subuh tadi aku bawain... gimana rasanya, enak gak? Jujur ya, jangan bohong!"

Arga menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas di depan berubah warna menjadi merah. Pria itu melepaskan satu tangannya dari setir, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahku.

Mata tajamnya menatapku lurus dengan tatapan yang sangat dalam. Di balik sepasang manik matanya yang biasa kaku, ada binar kegemasan yang luar biasa pekat yang sengaja dia sembunyikan namun terlihat sangat jelas dari jarak dekat.

Arga merasa sangat takjub. Baru kali ini, setelah sekian lama mengurung diri di dalam benteng yang dibuatnya, dia bertemu dengan seorang gadis seceria dan se-ekspresif Via. Apapun kejadian kecil di kampusnya, Via ceritakan dengan penuh kejujuran dan ketulusan tanpa ada kepalsuan yang manipulatif.

Rasa tertarik yang selama beberapa hari ini samar-samar dia sangkal, mendadak menyeruak hebat memenuhi seluruh rongga dadanya saat memandangi wajah antusias Via yang sedang bercerita dengan bibir yang sesekali mengerucut gemas.

Arga perlahan mengulas sebuah senyuman tulus yang sangat manis hingga membuatku sempat menahan napas karena terpesona. Pria itu perlahan mengulurkan tangannya, mengacak pucuk kepalaku pelan dengan gerakan yang sangat lembut.

"Enak banget, Shavia," ujar Arga pelan, intonasi suaranya terdengar jauh lebih rendah dan lembut sore ini.

"Masakan kamu... selalu pas di lidahku. Makannya habis bersih gak tersisa."

Deg.

Jantungku rasanya berhenti berdetak detik itu juga. Fokusku mendadak buyar, pasokan oksigen di paru-paruku serasa menipis, namun, hal yang paling membuat dadaku meledak oleh rasa manis dan kebingungan yang luar biasa bukanlah pujian masakannya, melainkan untaian kata ganti yang baru saja dia ucapkan.

Aku... Kamu. Dia gak pakai kata "gue-lu" lagi.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali dengan wajah yang mendadak memerah padam bagai kepiting rebus.

"Arga... kamu... barusan bilang apa?" tanyaku gelagapan, memastikan pendengaranku tidak salah dengar.

Arga sempat tertegun sejenak, tampaknya baru menyadari perubahan gaya bahasanya sendiri, yang keluar begitu saja dari alam bawah sadarnya karena saking nyamannya berada di dekatku.

Pria itu melirik ke arah lain sejenak dengan salah tingkah yang kentara, sebelum akhirnya kembali mengunci tatapan kearahku dengan helaan napas panjang yang sarat akan ketulusan.

"Ya... aku bicara pakai aku-kamu sama kamu, Shavia. Apa kedengarannya aneh?"

"Eh...Enggak. Enggak aneh kok!" jawabku refleks dengan suara yang sedikit melengking saking paniknya.

Aku buru-buru menundukkan kepala, menyembunyikan senyuman lebar yang merekah di balik tas kainku.

"Aku... aku justru seneng banget, Arga. Rasanya jauh lebih hangat kedengarannya."

Arga terkekeh pelan melihat tingkah panikku, rasa salah tingkahnya berganti menjadi rasa damai yang menjalar di dada. Lampu lalu lintaspun kembali berubah menjadi hijau, dan pria itu kembali melajukan mobil mewahnya dengan perlahan membelah jalanan kota.

Hari ini, arus lalu lintas kota beruntung tidak begitu padat seperti biasanya. Kendaraan bergerak konstan dengan arus yang lancar, sehingga kami tidak begitu telat untuk pulang menuju lingkungan rumah kosanku.

Mobil hitam mewah milik Arga akhirnya berhenti dengan mulus tepat di depan pagar halaman kosanku. Mesin mobil dimatikan sepenuhnya, menyisakan keheningan malam hari yang mulai turun menyelimuti pekarangan.

Aku mengambil tas kainku, lalu menoleh ke arahnya dengan senyuman tulus. "Udah sampai. Makasih banyak ya, Arga, udah dianter pulang lagi."

"Sama-sama, Shavia," jawab Arga tenang. Pria itu melangkah turun dari mobil terlebih dahulu, memutari kap depan, lalu membukakan pintu penumpang untukku, sebuah perlakuan manis dari cowok nyata yang kembali membuat jantungku bertalu-talu.

Aku melangkah turun dari mobil, berdiri di atas paving blok pekarangan tepat di hadapannya. Baru saja aku hendak membalikkan badan dan mengucapkan kata perpisahan untuk masuk ke dalam rumah kos, langkah kakiku mendadak terhenti kaku saat Arga tiba-tiba memanggil namaku.

"Shavia, tunggu sebentar," ujar Arga, suara baritonnya yang berat bergema pelan di kesunyian pekarangan rumah kosku.

Aku refleks menghentikan langkah dan berbalik badan dengan dahi berkerut bingung.

"Iya, Arga. Kenapa, Ada barang aku yang ketinggalan di dalem ya?"

Arga tidak langsung menjawab. Pria itu sempat terdiam selama beberapa detik di bawah temaram lampu pekarangan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kasualnya. Dia berdeham pelan sekali, melirik ke arah jalanan luar sejenak seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang dia punya untuk mengatakan sesuatu yang sangat krusial.

Arga kembali menatapku lurus, mengunci pandanganku untuk menatap sepasang mata tajamnya, yang malam ini memancarkan binar penuh harap yang luar biasa tulus.

"Besok pagi... tim basket aku ada pertandingan babak final, Shavia. Ini turnamen besar antar kampus yang udah kami persiapkan dari bulan lalu."

Aku menaikkan alisku, mendengarkan penjelasannya dengan saksama. "Wah, besok final ya. Keren banget. Apa kamu mau aku menonton nya?"

Arga sedikit terkejut dengan sikap geer ku, lalu menarik napas dalam-dalam, memajukan tubuhnya selangkah lebih dekat ke arahku hingga aroma parfum maskulinnya kembali mengepung indra penciumanku.

"Iya, aku... aku mau kamu datang ke pertandingan final besok pagi, Shavia. Aku mau kamu mendukungku secara langsung di lapangan. Aku... aku mau kamu dateng buat aku?"

Deg.

Mendengar ajakan resmi yang begitu lugas dengan kalimat 'aku mau kamu datang buat mendukung aku', yang keluar langsung dari mulut sang kapten basket, yang sebelumnya super dingin itu, seluruh pertahanan hatiku runtuh seutuhnya. Rasa bahagia yang luar biasa membuncah begitu saja, membuat dadaku terasa sesak dan mataku berkaca-kaca karena haru.

Pria dingin yang sebelumnya menganggapku orang asing tidak jelas, kini secara terbuka memintaku menjadi suporter utama di hari terpentingnya.

Aku langsung mengangguk dengan gerakan heboh, senyuman lebar merekah sempurna di bibirku. "Iya, Arga, aku akan datang dengan senang hati, buat mendukung kamu. Apa boleh aku ajak Rara juga biar tribunnya makin ramai?".

"Iya, boleh. Kamu boleh aja dia". Ujar Arga.

"Pokoknya besok aku bakal teriak paling kencang buat semangatin Kapten Arga Wijaya!"

Mendengar jawaban kesediaanku yang tanpa ragu sedikit pun, sepasang mata tajam Arga melebar sedetik sebelum akhirnya memancarkan seutas senyum paling manis, yang belum pernah kulihat darinya selama ini.

Gengsi setinggi langitnya, kini runtuh tak bersisa, digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa pekat memenuhi ulu hatinya.

"Makasih banyak ya, Shavia," bisik Arga lembut, suaranya terdengar begitu menenangkan di telingaku.

Pria itu perlahan mengulurkan tangannya, menggenggam erat jemari tanganku, sebelum akhirnya melepaskannya dengan lembut.

"Kalau gitu, sampai jumpa besok pagi ya. Jangan sampai telat datang ya. Aku tunggu kamu di GOR, atau kamu mau aku jemput lagi."

"Siap dilaksanakan, Kapten. Gak perlu kamu jemput, aku kan mau datang bareng Rara, kami usahakan gak bakal telat!" jawabku penuh tekad.

Arga mengangguk, lalu berbalik dan berjalan mundur menuju mobil hitam mewahnya, dengan senyuman yang belum luntur sedikit pun dari wajah tampannya. Setelah masuk ke kursi kemudi, dia sempat membunyikan klakson pendek sekali, sebelum akhirnya melajukan mobilnya membelah kegelapan malam, meninggalkan pekarangan kosanku.

Begitu lampu belakang mobilnya hilang di belokan jalan, pertahanan jantungku runtuh seketika. Aku melompat-lompat kecil di atas paving blok pekarangan kosanku sambil memeluk tas kainku dengan erat ke dada, menahan pekikan girang agar tidak membangunkan penghuni kos lainnya.

Hari kesebelas dari masa taruhan satu bulan kami telah ditutup dengan keajaiban terbesar. Perubahan gaya bahasa Arga menjadi "aku-kamu" dan ajakannya agar menonton pertandingan final basketnya besok pagi, menjadi bukti nyata bahwa ketulusan yang kubawa selama ini telah berhasil mengubah jalannya takdir kami, bahwa dunia nyata juga bisa seindah khayalanku.

1
falea sezi
😒 Arga php bgt meluk belom di tembak
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!