NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 8

Sore itu, Rey duduk bersama Dwi di meja makan. Keduanya tengah menikmati hidangan sore mereka dalam suasana yang cukup tenang Rey perlahan menyendok kuah rawon. Namun, begitu sendok itu terangkat di hadapan matanya, pandangannya tiba-tiba terpaku pada kuah hitam pekat tersebut

Entah mengapa, warna hitam itu membangkitkan sebuah ingatan yang selama ini tersimpan jauh di dalam benaknya.

Paradise.

Tempat yang dahulu begitu ramai, kini terbayang dalam suasana yang hitam kelam. Masa ketika para penduduk harus bertahan hidup di tengah kelaparan yang parah. Persediaan makanan menipis, sementara tindakan kriminal semakin sering terjadi demi sekadar bertahan hidup Bayangan itu muncul begitu jelas hingga Rey tanpa sadar terdiam. Tangannya masih menggenggam sendok, tetapi ia seolah sudah tidak lagi berada di meja makan Dwi yang menyadari perubahan sikapnya segera menatap Rey dengan heran.

"nak?"

Tidak ada jawaban.

"nak, kamu kenapa? Apakah rawonnya tidak enak? (tanya Dwi sekali lagi)

Rey akhirnya tersadar. Ia berkedip beberapa kali, lalu menurunkan pandangannya ke mangkuk di hadapannya.

"Tidak..."(ujar Rey pelan)

Ia kemudian memasukkan sendok berisi kuah itu ke dalam mulutnya

"Enak, kok rawonnya ma"

Dwi menyadari bahwa Rey melamun itu bukanlah hal yang di sengaja melainkan, dia tau bahwa Rey sedang memikirkan sesuatu. Dwi sebenarnya masih merasa ada yang aneh dengan sikap Rey. Namun, ia memilih untuk tidak memaksanya bercerita. Alih-alih membahasnya lebih jauh, Dwi segera mengalihkan topik pembicaraan.

"Mama sebenarnya ingin belajar bikin terang bulan," ujar Dwi. "Tapi entah kenapa mama selalu gagal membuat sarangnya. Kadang bagian kulitnya malah gosong."

"Mungkin adonannya kurang pas, Ma. Bisa jadi takarannya yang salah," jawab Rey santai sambil kembali menikmati rawonnya.

Dwi menghela napas panjang.

"Benar juga. Nanti lain kali mama mau minta resep langsung dari abang-abang penjual terang bulan Entah kenapa, setiap kali mama mengikuti resep dari internet, hasilnya selalu gagal. Mungkin kualitas bahan yang mama pakai berbeda dengan yang digunakan di resep. Kalau tanya langsung ke penjualnya, mama bisa sekalian tahu merek dan jenis bahan yang mereka gunakan."

"Iya juga, ya, Nak..."

Dwi mengangguk kecil, lalu kembali menikmati makanannya Beberapa saat kemudian, Rey tiba-tiba membuka pembicaraan.

"Ma... sepertinya besok aku bakal bekerja bersama asisten baru itu."

"Asisten baru?" Dwi langsung menoleh.

"Iya. Dia baru saja diterima menjadi asisten. Tadi Dani bilang, kemungkinan selama beberapa hari ke depan aku akan bekerja bersamanya."

"Dia perempuan atau laki-laki?"

"perempuan, Ma."

Rey berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Namanya Sasha. Dia teman satu sekolahku dulu, dari SMA Rahayu. dia salah satu siswi berprestasi waktu itu."

Dwi tampak sedikit terkejut.

"Teman satu sekolahmu?"

"Iya."

"Wah, tak kusangka dunia ini ternyata sempit sekali."

"Benar juga. Dari sekian banyak orang, malah dia yang akhirnya jadi asistennya aku."

Dwi tersenyum, tetapi kemudian ekspresinya berubah lebih serius.

"Yang penting, kamu harus tetap hati-hati saat bekerja. Apalagi kalau harus membawa asisten yang masih pemula. Jangan sampai dia malah ikut terkena masalah."

"Tenang saja, Ma."

Rey menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil tersenyum percaya diri.

"Aku kan sudah senior."

Tentu. Aku akan membuat alurnya lebih natural, memperkuat emosi Rey, dan membuat perpindahan dari suasana hangat di karnaval ke trauma masa kecilnya terasa lebih halus. Dialog juga akan dibuat lebih realistis dan tidak terlalu berulang. Setelah makan bersama Dwi, Rey segera membersihkan dirinya. Seusai mandi, ia langsung masuk ke kamar.

Begitu membuka pintu, pandangan Rey tertuju pada selembar kertas yang tergeletak di atas meja. Ia menghampirinya, lalu mengambil kertas tersebut.

Tulisan tangan yang sudah sangat dikenalnya terpampang di sana.

***

Nak, mama menulis pesan di kertas ini mama tau kalau kamu bakalan menghiraukan pesan di hpmu.

Mama ingin memberitahumu bahwa ini adalah waktunya menemui dokter haris untuk pemeriksaan kesehatanmu, maaf... mama tidak bisa menemanimu karena mama ada keperluan meeting di luar

mama selalu menyayangimu selalu.

-mama

***

Rey terdiam cukup lama setelah membaca catatan itu. Tatapannya kosong, tanpa mengatakan apa pun, ia meremas kertas tersebut hingga menjadi bola kecil, kemudian melemparkannya ke tempat sampah.

"Kenapa harus aku...?"

Suaranya terdengar lirih Rey mengembuskan napas panjang sambil menatap lantai.

"Kenapa bukan orang lain?"

Tangannya mengepal.

"Aku cuma ingin hidup bebas seperti anak-anak muda lainnya..."

Ia tertawa kecil, tetapi terdengar hambar.

"hahaha... Sejak kecil, kenapa hidupku nggak pernah seperti mereka?"

Rey terdiam sejenak.

"entah mengapa diriku ini.... mirip seperti anjing penjaga"

Ia segera mengambil hoodie hitamnya dan mengenakannya.Tanpa berpikir panjang memutuskan untuk tidak pergi menemui dokter Haris, Rey keluar dari rumah dan memilih berjalan kaki menuju warung sate ayam taichan favoritnya.

Udara malam terasa cukup sejuk. Namun, baru beberapa menit berjalan, Rey menyadari ada sesuatu yang menghalangi jalannya.

Sebuah karnaval sedang berlangsung di jalan utama.

Lampu warna-warni menghiasi sepanjang jalan Musik terdengar dari kejauhan, bercampur dengan suara tawa dan riuh pengunjung. Rey berhenti sejenak Ia menoleh ke arah jalan lain Kalau memutar, jaraknya akan jauh lebih lama.

"Astaga... kenapa harus ada karnaval malam-malam begini? Kalau muterin jalan ini, bakalan lama sampainya" (ujar Rey kesal)

Akhirnya, ia memutuskan untuk melewati kerumunan tersebut Namun, baru beberapa langkah masuk ke area karnaval, pandangannya menangkap sebuah pemandangan yang membuat langkahnya melambat Seorang anak kecil duduk di atas bahu ayahnya sambil menunjuk seseorang yang mengenakan kostum karakter.

"Ayah, lihat! Kostumnya keren banget!"

Anak itu tampak bersemangat.

"Ayah, kapan aku bisa punya kostum seperti itu?"

Sang ayah tertawa kecil.

"hahaha... Kalau kamu mau, nanti Ayah coba buatkan sendiri."

Wajah anak itu langsung berbinar.

Rey hanya diam.

Namun, suara lain tiba-tiba terdengar di kepalanya.

"dasar anak tidak berguna! Sudah tahu keluarga kita sedang kesulitan, masih saja minta macam-macam!"

Langkah Rey semakin cepat Suara itu begitu jelas Begitu nyata. Padahal suara tersebut hanya berasal dari ingatan masa lalunya Rey menggeleng pelan dan mencoba melanjutkan langkah Namun, pemandangan lain kembali menarik perhatiannya.

Seorang anak kecil berjalan di antara kedua orang tuanya sambil menggenggam segumpal permen kapas.

"Ayah, Bunda... makasih sudah beliin aku ini!"

"Iya, sama-sama, Sayang."

"Anak Ayah memang pintar."

Ketiganya tertawa bersama.

Rey menundukkan kepala.

Lalu sebuah suara lain kembali muncul dalam ingatannya.

"Kamu seharusnya fokus sekolah, bukan malah sibuk bekerja! Lihat nilai rapotmu! Jelek semua!"

"tapi ma.... aku cuman mau membeli itu"

PLAK!!

Suara bentakan itu bercampur dengan suara pukulan yang masih teringat jelas di kepalanya Napasnya mulai tidak teratur Ia mencoba mengabaikannya.

Namun semakin ia berjalan, semakin banyak kenangan bermunculan.

"ayah.... ayah kenapa berselingkuh dari mama....?apa mama jelek?"

Rey menarik tudung hoodie hingga menutupi sebagian wajahnya.

"ayah kenapa sering memukuli mama?"

Langkahnya semakin cepat.

"kapan aku bisa di peluk ayah, seperti teman-temanku?"

Rey berjalan semakin cepat hingga harus menabrak beberapa orang Ia tidak lagi peduli jika harus menyenggol beberapa orang di sekitarnya. Suara-suara itu terus berdatangan Tawa anak-anak.

Suara orang tua Semua bercampur dengan kenangan masa kecil yang selama ini berusaha ia kubur.

Akhirnya, Rey berhasil keluar dari kerumunan nafasnya yang tak teratur Rey menunduk, lalu menarik napas dalam-dalam untuk mengatur nafasnya.

Sekali,Dua kali, Namun pikirannya masih dipenuhi suara-suara tersebut Akhirnya, Rey mengangkat kedua tangannya dan menutup telinganya Matanya terpejam erat Ia menarik napas panjang.

"kumohon berhenti!"

Beberapa detik berlalu. Perlahan, suara-suara itu menghilang Rey menurunkan tangannya kemudian Ia membuka mata sedikit demi sedikit Suasana di sekitarnya kembali terdengar normal musik karnaval masih terdengar dari kejauhan Rey mengembuskan napas lega Namun, saat ia menatap ke depa Seseorang tiba-tiba sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Hallo, Rey."

"WAH!"

Rey tersentak mundur terkejut Matanya membelalak saat melihat Sasha berdiri di depannya.

"S-Sasha?!"

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!