NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Langkah yang Tak Diketahui

Vano seakan menghapus segala kelembutan yang sempat terlihat. Ia kembali menenggelamkan diri di balik tumpukan berkas yang tak kunjung menipis, suaranya singkat dan tajam, tatapannya dingin hingga ke tulang. Setiap langkahnya di lorong kantor membuat para karyawan menunduk, menahan napas, berharap tak dipanggil namanya. Sosok yang lembut itu seakan tak pernah ada — yang tersisa hanyalah pimpinan yang menakutkan, jauh, tak tersentuh.

Pagi itu, Meloudy melangkah masuk ke ruangan kantor yang hening, meletakkan tas pelan di meja, lalu duduk. Ia menyalakan laptop, jari-jarinya bergerak di atas papan ketik, namun pikirannya tak lepas dari pintu ruangan di ujung lorong itu.

Belum lama ia bekerja, Delina — sahabat sekaligus teman duduknya — mendekatkan kursi perlahan, matanya tak lepas dari sosok yang terlihat samar di balik kaca pintu.

"Mel…" bisiknya, bergetar antara kekaguman dan ketakutan.

"Lihat dia… dari dekat sungguh luar biasa tampan dan berkarisma, bukan? Tapi ya Tuhan… sifatnya sedingin ini. Semua orang di kantor ini gemetar saat ia lewat. Tak ada yang berani menatap matanya lebih dari sedetik."

Delina menghela napas, lalu menoleh ke arah Meloudy, sama sekali tidak menyadari ke mana pria itu pergi setiap hari.

"Dan kau tahu, setiap sore aku melihatnya berjalan ke lorong tangga itu…" lanjutnya pelan, bingung namun tak menaruh curiga ke arah mana.

"Entah ke mana ia pergi begitu sendirian. Tak pernah aku tahu tujuannya. Hanya hilang begitu saja. Tak ada yang tahu apa yang ia lakukan di sana."

Meloudy menahan napas. Ia menunduk sedikit, membiarkan rambutnya menutupi separuh wajah, berharap sahabatnya tak melihat betapa jantungnya berdebar kencang. Delina tidak tahu. Tidak tahu sama sekali bahwa pria itu menuju atap gedung, dan bahwa orang yang menunggunya di sana, yang berbagi angin dan kepulan asap di tempat tertinggi itu, adalah dirinya — sahabat yang duduk tepat di sampingnya.

Delina teooorus berbicara, tak menyadari apa pun.

"Pasti ada tempat yang ia tuju, kan? Hanya saja tak ada yang tahu ke mana. Mungkin ia butuh tempat untuk menyendiri, jauh dari semua orang. Sayangnya… tak ada yang tahu apa yang ia lakukan di sana, atau siapa yang menemaninya. Ia menyimpannya rapat sekali."

Meloudy menarik napas pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

"Mungkin memang begitu, Deli. Ada hal-hal yang lebih tenang jika disimpan sendiri."

Delina mengangguk, sama sekali tidak curiga.

"Benar juga. Tapi tetap saja… penasaran sekali ke mana ia pergi setiap sore itu."

Meloudy tersenyum tipis, getir namun hangat. Ia tak bisa berkata apa-apa. Tak bisa memberitahu bahwa setiap sore, saat Vano berjalan ke lorong tangga itu, ia sudah menunggu di sudut yang tak terlihat, lalu menyusul diam-diam — agar tak ada yang menyadari kebersamaan mereka. Di atas sana, di antara angin dan langit yang mulai memerah, mereka bukan atasan dan bawahan, bukan siapa-siapa selain dua orang yang saling memberi jeda. Dan rahasia itu, ia jaga mati-matian — demi Vano, dan demi dirinya sendiri.

"Siapa pun yang menemaninya… semoga dia menjaganya dengan baik," ucap Meloudy pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Delina tersenyum, lalu kembali menatap layar komputernya.

"Semoga ya. Tapi kau tahu, Mel… entah kenapa, kadang aku merasa dia menatap ke arah sini. Ke arah meja kita. Mungkin hanya perasaanku saja."

Meloudy menunduk lebih dalam, menyembunyikan senyum yang tak bisa ia tahan. Bukan perasaanmu, Deli… bukan sekadar perasaan.

Sore itu, saat jam kerja hampir usai, pintu ruangan pimpinan terbuka. Vano melangkah keluar, tatapannya menyapu ruangan — dingin, tajam, hingga berhenti sejenak tepat di arah meja Meloudy. Tak ada kata, tak ada senyum. Hanya jeda singkat, lalu ia berbalik dan berjalan menuju lorong tangga — sendirian, seperti yang selalu dilihat Delina.

Meloudy menunggu beberapa saat, membiarkan sahabatnya sibuk dengan urusannya, lalu bangkit perlahan.

"Ke mana, Mel?" tanya Delina sekilas.

"Ke kamar mandi sebentar," jawabnya tenang.

Ia melangkah pergi, tak menoleh ke belakang, menuju arah yang berbeda — lalu berbelok pelan menuju lorong tangga yang sepi. Di sana, di antara pintu besi yang tertutup, vano menunggu.

Dan tak ada yang tahu.

*

*

*

Jarum jam tepat menunjuk ke arah jam pulang. Suasana ruangan kantor perlahan riuh, suara berkas ditutup, kursi digeser, salam perpisahan saling bersahutan. Meloudy masih duduk di tempatnya, menatap layar ponsel yang baru saja menyala di atas meja.

Satu pesan masuk. Tanpa nama pengirim yang tercantum, namun ia tahu betapa setiap goresan kata itu — miliknya.

Naiklah!

Hanya dua kata. Singkat, tegas, tak memberi ruang untuk menolak. Namun di baliknya, ada sesuatu yang tak terucap — panggilan yang sudah menjadi kebiasaan, undangan yang hanya untuknya seorang.

Jantungnya berdebar seketika. Ia melirik sekilas ke arah Delina yang sedang merapikan tas, tak menyadari apa pun.

"Hei, Mel… aku duluan ya!" pamit sahabatnya sambil tersenyum.

"Sampai ketemu besok!"

"Hati-hati, Deli," jawab Meloudy lembut, berusaha terbiasa tenang.

Ia menunggu hingga langkah Delina lenyap di pintu keluar, menunggu ruangan perlahan sepi, lalu perlahan berdiri. Ia memastikan lengan kemejanya tertutup rapat, kancing di pergelangan tangan terkunci baik, baru melangkah menuju lorong tangga yang sepi — jalan yang hanya mereka berdua yang tahu.

Langkahnya pelan di awal, lalu semakin yakin. Di atas sana, di tempat tertinggi yang dimiliki sepenuhnya oleh Vano, pria itu sudah menunggu. Angin sore menyambutnya lebih dulu saat pintu besi didorong terbuka — sejuk, bebas, membelai wajahnya yang memerah.

Dan di tepi pagar pembatas, siluet itu berdiri tegak. Punggungnya lurus, namun bahunya tampak menanggung beban yang tak terlihat. Tangan kanannya memegang sebatang rokok yang belum dinyalakan, seakan menunggu kedatangannya sebelum memulai apa pun.

Suara pintu tertutup pelan di belakangnya. Ia melangkah mendekat, napasnya tertahan di kerongkongan.

"Aku datang…" ucapnya lirih, cukup terdengar oleh angin yang berhembus di antara mereka.

Vano berbalik perlahan. Tatapannya tidak lagi dingin seperti di kantor. Di sini, di tempat yang hanya milik mereka berdua, topeng itu dilepaskan. Matanya menatapnya lekat, penuh lelah namun juga penuh sesuatu yang tak sanggup ia ucapkan.

"Terima kasih," jawabnya pelan, suaranya serak.

"Aku tak ingin menghabiskan waktu ini sendirian."

Ia menyalakan rokok di tangannya, lalu mengulurkan bungkusan itu ke arah Meloudy — persis seperti yang selalu mereka lakukan, tanpa perlu diminta.

"Datanglah ke sini," panggilnya lembut.

"Mendekatlah."

Meloudy melangkah mendekat, berdiri di sampingnya, membiarkan jarak di antara mereka menyusut perlahan. Langit di hadapan mereka mulai berubah warna — jingga keunguan, indah sekaligus singkat. Sama seperti momen ini.

^^^Bersambung...^^^

1
Isma Iis
gak sekalian aja orangnya langsung bawa pulang suruh main gitar di depan anda Tuan Vano
Isma Iis
gak bisa Tuan, meloudy harus menyembunyikan lengannya terutama dari anda Tuan Vano
Isma Iis
pas tau ternyata meloudy itu Laudy, nyesal tau rasa
Isma Iis
galak amat
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
naws
hih bangga bgt pasti dia bisa deket2 sama vano 😖
naws
kalopun tau, harusnya elona gaboleh marah. mereka kan gak ada komitmen.
naws
dia napsunya bukan sama kamu mbak
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!