Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pendar cahaya dari lampu gantung kristal di ruang kerja CEO Samudra Group memantul di atas permukaan meja mahoni yang mengkilap. Udara di lantai paling atas gedung pencakar langit itu terasa dingin, dipenuhi bau samar tembakau dan aroma bahaya yang tak kasat mata.
Alvan Samudra duduk bersandar di kursi kulitnya. Kedua tangannya bertaut di atas meja, matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arah pria yang baru saja melangkah masuk dengan senyuman penuh percaya diri.
Reno.
Mantan asisten pribadi almarhum Roy itu mengenakan setelan jas abu-abu yang disesuaikan secara khusus.
Penampilannya tampak sangat rapi, seolah-olah ia tidak sedang diburu oleh bayangan kejahatannya sendiri. Langkah kakinya tenang, menyiratkan keangkuhan seorang pemain catur yang merasa telah memegang kendali atas papan permainan.
"Lama tidak berjumpa, Tuan Alvan," kata Reno, menyunggingkan senyuman tipis yang tidak pernah mencapai matanya. Ia menarik kursi di hadapan Alvan tanpa menunggu diizinkan, lalu duduk dengan santai.
Alvan tidak bergeming. Tidak ada riak emosi di wajahnya yang tegas. "Aku tidak punya banyak waktu untuk mantan karyawan yang mengundurkan diri secara mendadak sembilan bulan lalu, Reno. Katakan maksudmu datang ke sini."
Reno terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya seraya menyilangkan kaki. "Saya datang membawa penyelamat untuk Anda, Tuan. Atau lebih tepatnya... untuk reputasi istri Anda yang saat ini sedang hancur di media."
Dari dalam tas dokumen berbahan kulit mahal yang dibawanya, Reno mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan meletakkannya di tengah meja, mendorongnya perlahan ke arah Alvan.
"Apa ini?" tanya Alvan datar, tanpa menyentuh amplop tersebut.
"Itu adalah data analisis forensik perbankan tandingan," jawab Reno dengan nada yang dibuat-buat prihatin. "Saya tahu bahwa dokumen transaksi lima puluh miliar yang beredar di media pagi ini sangat menyudutkan Nona Andira. Sebagai mantan asisten yang pernah dibesarkan oleh keluarga Samudra, hati saya tergerak untuk mencari tahu kebenarannya."
Reno memajukan tubuhnya, menatap Alvan dengan sorot mata yang penuh manipulasi.
"Saya berhasil melacak alur transaksi gelap itu melalui jaringan perbankan swasta," lanjut Reno berbisik licik. "Uang itu memang benar-benar dialirkan dari rekening cangkang Elena. Namun... jika Anda menginginkan saya untuk memutarbalikkan fakta ini di depan pers dan menyatakan bahwa rekening Andira telah diretas tanpa sepengetahuannya, saya bisa melakukannya."
Alvan menyipitkan matanya. "Dan apa harganya?"
Reno tersenyum miring, sebuah senyuman yang memancarkan kerakusan tanpa batas. "Sederhana. Saya ingin diangkat kembali ke dalam dewan direksi Samudra Group sebagai Direktur Operasional, beserta uang kompensasi sebesar tiga puluh miliar rupiah atas jasa rahasia ini."
Reno percaya betul bahwa Alvan sedang dalam posisi terdesak. Dalam pikirannya, Alvan pasti akan melakukan apa saja demi menyelamatkan nama baik Andira yang baru saja ia bersihkan di panggung konferensi pers.
Ia bermain di dua sisi secara sempurna, memeras Elena dari dalam sel, dan kini memeras Alvan di dalam ruang kerjanya.
Namun, di balik meja kayu mahoni itu, Alvan Samudra bukanlah mangsa yang mudah dijebak.
Di dalam saku jas tiga lapis yang dikenakan Alvan, sebuah saluran panggilan terenkripsi sedang aktif terhubung ke ruang pemantauan di lantai bawah, tempat Detektif Hendra dan Bima mendengarkan setiap suku kata yang diucapkan oleh Reno.
Alvan mengulurkan jemarinya, mengusap pinggiran amplop cokelat itu secara perlahan. Tatapannya tetap dingin, tidak memancarkan sedikit pun kepanikan yang diharapkan oleh Reno.
"Tiga puluh miliar dan kursi Direktur Operasional..." ulang Alvan dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Permintaan yang cukup berani untuk seseorang yang tidak membawa jaminan kebenaran."
Reno terkekeh penuh percaya diri. "Saya adalah satu-satunya orang yang memegang kunci untuk membalikkan opini publik, Tuan Alvan. Tanpa kesaksian dan berkas forensik yang saya miliki ini, masyarakat akan tetap menganggap Andira sebagai komplotan Elena."
Alvan menatap mata Reno selama beberapa detik yang terasa begitu panjang dan menegangkan.
Ia melihat pantulan kemurahan dan kerinduan akan kekuasaan di mata mantan asisten adiknya itu. Sebuah analisis kilat berputar di dalam kepala Alvan. Reno terlalu percaya diri, dan kepintarannya telah dibutakan oleh keserakahannya sendiri.
"Baiklah," ucap Alvan tiba-tiba, menyunggingkan senyuman tipis yang begitu samar hingga terlihat mengerikan. "Aku menerima tawaranmu, Reno."
Reno tersentak pelan, matanya berkilat gembira atas apa yang ia anggap sebagai kemenangan mudah. "Keputusan yang sangat bijaksana, Tuan Alvan."
"Namun," potong Alvan cepat, memajukan wajahnya ke arah Reno, "uang dan jabatan itu baru akan kuberikan secara utuh setelah kamu menyerahkan seluruh dokumen sumber asli dan kesaksian resmimu di hadapan tim penyidik Kejaksaan Tinggi besok malam. Sampai saat itu tiba, berkas ini akan kupelajari terlebih dahulu."
Reno berdiri, merapikan jasnya dengan dagu terangkat tinggi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya baru saja melangkah masuk ke dalam sangkar besi yang telah disiapkan Alvan.
"Kesepakatan yang adil, Tuan Samudra," kata Reno penuh kepuasan. "Sampai jumpa besok malam."
Begitu pintu ganda ruang kerja tertutup rapat dan derap langkah sepatu Reno menjauh di koridor, pintu samping yang menghubungkan ruang kerja dengan ruang arsip terbuka.
Detektif Hendra melangkah masuk dengan raut wajah yang amat tegang, diikuti oleh Bima.
"Pria itu benar-benar ular, Alvan," ujar Detektif Hendra seraya menyalakan batang rokoknya. "Gaya bicaranya, gesturnya... dia tidak datang untuk membantumu. Dia datang untuk menguji sejauh mana kamu bisa diperas."
Alvan menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, menatap ke arah pintu dengan pandangan membunuh. "Dia berpikir dia sedang memegang kendali atas dua sisi papan catur. Dia merasa berada di atas angin karena mengira kita panik."
"Lalu kenapa Anda menerima tawarannya, Tuan?" tanya Bima ragu.
"Karena seseorang yang berada di atas angin akan cenderung ceroboh," Alvan mengetukkan jemarinya di atas meja. "Biarkan dia merasa berhasil menjebakku. Bima, perintahkan tim pengawal rahasia untuk membuntutinya dua puluh empat jam tanpa putus. Jangan sentuh dia dulu sampai kita menemukan dari mana dia mendapatkan akses data ini."
Detektif Hendra mengambil amplop cokelat yang ditinggalkan Reno, lalu mengeluarkannya di atas meja. "Aku akan membawa lembaran analisis ini ke laboratorium forensik Mabes Polri. Profil Reno sangat mencurigakan. Seorang mantan asisten tidak mungkin memiliki akses tingkat tinggi ke server bank swasta tanpa ada yang membukakan jalan dari dalam."
Sementara permainan intelijen bergerak memanas di pusat kota, suasana di mansion utama Samudra menyajikan sebuah transformasi besar yang mengejutkan.
Di ruang perpustakaan pribadi keluarga Samudra yang megah, tumpukan berkas laporan keuangan tua dan jurnal akuntansi terhampar di atas meja kaca besar.
Andira tidak lagi duduk diam memeluk ketakutannya seperti sembilan bulan lalu.
Di tangannya, sebuah pulpen hitam menari-nari lincah di atas kertas catatan, membandingkan baris demi baris angka dari salinan bukti transfer palsu yang dikirimkan lewat amplop teror semalam dengan buku catatan keuangan pribadi milik almarhum Roy.
Di sampingnya, Ibu Rosa duduk di atas kursi roda, memegang sebuah kacamata baca. Wajah sang ibu mertua tampak tenang dan penuh tekad.
"Andira, lihat ini," kata Ibu Rosa seraya menyodorkan sebuah dokumen bertuliskan tangan. "Ini adalah buku register penerimaan hibah yayasan yang dipegang Roy sebelum dia meninggal. Pada bulan Maret tahun lalu, bulan yang sama dengan tuduhan transfer pertama dari Elena, Roy sebenarnya mengalihkan dana operasional panti asuhan melalui rekening penampungan lama yang sama."
Andira menerima dokumen itu, matanya membelalak. Jemarinya dengan cepat menelusuri tanggal dan nominal yang tertera.
"Nominalnya pas, Bu!" seru Andira dengan napas menahan haru. "Nominal lima ratus juta di bulan Maret itu bukan transfer dari Elena untuk saya... melainkan dana hibah resmi dari almarhum Mas Roy untuk Yayasan Kasih Samudra! Elena dan komplotannya hanya mengubah nama pengirim dan penerima di lembar cetakan forensik digital, tetapi mereka lupa menghapus nomor referensi transaksi internalnya!"
Ibu Rosa memegang tangan Andira, meremasnya dengan kehangatan seorang ibu yang bangga. "Ibu tahu kamu tidak akan pernah menyentuh uang haram itu, Nak. Kamu adalah wanita yang memiliki kehormatan."
Andira menatap Ibu Rosa dengan matanya yang berbinar penuh keberanian.
Teror amplop hitam yang diletakkan di meja riasnya semalam bukannya melumpuhkan jiwanya, melainkan justru membakar sisa-sisa ketakutan di dalam dadanya.
Ia menyadari satu hal, jika ia terus bersembunyi di balik punggung Alvan dan menangis, maka sosok dalang berinisial 'S' dan komplotannya akan terus menganggapnya sebagai titik lemah yang mudah dihancurkan.
"Saya tidak akan membiarkan mereka merusak kebahagiaan kita lagi, Bu," bisik Andira tegas. "Saya akan menyerahkan bukti transaksi tandingan asli ini langsung kepada Alvan dan Detektif Hendra malam ini."
Pintu perpustakaan terbuka pelan. Alvan melangkah masuk dengan raut wajah yang lelah setelah seharian berhadapan dengan pers dan permainan Reno.
Namun, saat matanya menangkap sosok Andira yang duduk tegak di antara tumpukan berkas keuangan dengan mata yang memancarkan tekad membara, seluruh rasa lelah Alvan mendadak sirna.
Alvan melangkah mendekat, memandang tumpukan dokumen di meja. "Andira? Apa yang sedang kamu lakukan?"
Andira berdiri, menyambut suaminya dengan tatapan lurus tanpa keraguan. Ia mengambil lembaran catatan tandingan yang telah disusunnya bersama Ibu Rosa, lalu menyodorkannya tepat ke dada Alvan.
"Ini adalah bukti tandingan asli, Alvan," kata Andira dengan suara yang jernih dan berani. "Nomor referensi transaksi lima puluh miliar yang dituduhkan kepada saya adalah rekayasa dari dana hibah panti asuhan almarhum Mas Roy. Mereka memalsukan namanya, tapi lupa mengganti kode otentikasi bank di lembar transaksi asli."
Alvan menerima berkas itu, membacanya sekilas, lalu menatap istrinya dengan rasa takjub yang mendalam. Keberanian dan kecerdasan Andira di saat terdesak membuktikan bahwa wanita yang dicintainya ini bukanlah sosok lemah yang bisa dihancurkan oleh fitnah apa pun.
Alvan menarik tubuh Andira ke dalam pelukannya, merengkuh pinggang istrinya rapat-rapat di hadapan Ibu Rosa yang tersenyum lega.
"Kamu luar biasa, Andira..." bisik Alvan di telinga istrinya, menyapukan kecupan hangat di pelipis Andira. "Terima kasih sudah berjuang bersamaku."
~
Malam makin larut, menutupi ibu kota dengan selimut kegelapan yang pekat.
Di dalam markas operasi khusus Detektif Hendra di kawasan Jakarta Selatan, suara deru kipas komputer server berbunyi konstan. Tiga orang ahli forensik siber bekerja tanpa henti di hadapan enam layar monitor raksasa yang menampilkan peta digital jaringan internet.
Detektif Hendra berdiri di belakang mereka, menghembuskan asap rokoknya seraya menatap layar utama. Di sampingnya, Alvan berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
BEEP! BEEP! BEEP!
Sebuah sinyal merah berkedip-kedip di layar monitor utama, memetakan pelacakan balik IP address yang mengunggah dokumen transaksi palsu ke sepuluh portal berita independen pagi tadi.
"Ketemu, Komandan!" seru salah seorang ahli forensik siber seraya memutar papan tiknya. "Sistem enkripsi yang digunakan pengunggah berhasil kami jebol menggunakan algoritma deskripsi tandingan dari Mabes Polri!"
Detektif Hendra memajukan tubuhnya. "Di mana lokasi server pengunggahnya?!"
Ahli siber menunjuk ke titik merah yang berkedip di atas peta digital interaktif. Titik itu memperlihatkan sebuah lokasi apartemen mewah tersembunyi di kawasan elite Serpong.
"IP address utama berasal dari server jaringan pribadi di Apartemen SkyLine Tower, Lantai 18, Unit 1804," terang ahli siber itu secara terperinci. "Dan berdasarkan data kepemilikan unit dan tagihan jaringan internet berkala..."
Ahli siber menekan satu tombol, menampilkan dokumen registrasi kepemilikan unit apartemen tersebut di layar monitor raksasa.
Mata Alvan menyipit tajam bagaikan elang yang menemukan mangsanya.
Di layar monitor, tertera nama pemilik resmi unit 1804 tersebut.
RENO ADHIWIJAYA
"Reno..." desis Detektif Hendra dengan tawa dingin yang menyeringai di bibirnya. "Ternyata pria yang tadi siang berlagak menjadi pahlawan di ruang kerjamu adalah orang yang sama yang mengunggah sampah itu ke internet!"
Alvan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan bunyi patahan yang mengerikan. Seluruh kepingan puzzle kini menyatu sempurna. Reno bukanlah sekadar pengamat oportunis. Reno adalah eksekutor lapangan yang bekerja sama secara langsung dengan Elena dari balik sel!
Namun, saat ahli siber mencoba menggali lebih dalam riwayat transaksi pembayaran sewa unit apartemen rahasia milik Reno tersebut, sebuah data terenkripsi tambahan mendadak muncul di layar bawah.
"Tunggu, Tuan Alvan!" panggil ahli siber dengan nada kaget. "Ada aliran dana bulanan yang membiayai sewa unit rahasia Reno ini selama dua tahun terakhir!"
"Dari siapa?!" bentak Alvan tegas.
Ahli siber menatap layar dengan mata terbelalak, membaca nama rekening pembuat transfer otomatis tersebut.
Pengirim - Rekening Internal Otoritas Mansion Utama Samudra - Kode Aset - 'S'
DEGGGG!
Suasana di dalam ruangan forensik mendadak membeku seketika.
Reno bukan bekerja sendiri. Tempat persembunyian rahasia Reno, peralatan peretasannya, dan seluruh aksinya selama ini dibiayai secara langsung oleh sosok 'S' yang berada di dalam mansion utama Samudra!
...----------------...
To Be Continue ....