NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 Hari yang Kutunggu Selama Enam Tahun

"Setiap perjuangan pasti akan menemukan garis akhirnya. Namun, yang paling mendebarkan bukanlah perjalanan itu sendiri, melainkan saat menunggu hasil dari semua usaha yang telah dilakukan."

Beberapa minggu setelah melewati pengalaman pertamaku sebagai seorang remaja, masa liburan sekolah masih berlangsung. Hari-hariku kembali berjalan seperti biasa. Rasa canggung yang sempat kurasakan perlahan mulai menghilang, meskipun sesekali aku masih teringat kejadian yang membuatku kebingungan beberapa waktu sebelumnya. Aku menghabiskan waktu di rumah sambil membantu Mama dan menunggu dimulainya kehidupan baru sebagai siswa sekolah menengah pertama.

Suatu sore, ketika sedang berada di halaman rumah, sahabatku yang bernama Lily datang menghampiriku dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya terlihat bersemangat seolah membawa sebuah kabar penting.

"Hitas," panggilnya sambil tersenyum. "Besok jangan lupa datang ke sekolah, ya. Tadi Pak Guru bilang pengumuman kelulusan akan dibacakan."

Aku langsung menatapnya dengan mata membesar.

"Apaaa... besok sudah pengumuman?"

Lily mengangguk.

"Iya. Semua murid kelas enam diminta datang."

Setelah Lily pulang, pikiranku langsung dipenuhi berbagai macam bayangan. Selama enam tahun aku belajar di sekolah itu, baru kali ini aku benar-benar merasa takut menghadapi hasil yang belum kuketahui.

Berkali-kali muncul pertanyaan yang membuat dadaku terasa sesak.

"Bagaimana kalau aku tidak lulus? Bagaimana kalau semua usahaku selama ini belum cukup?"

Malam itu aku sulit memejamkan mata. Setiap kali mencoba tidur, bayangan tentang pengumuman kelulusan kembali muncul. Aku akhirnya duduk di atas tempat tidur, mengangkat kedua tangan, lalu berdoa dengan sungguh-sungguh.

"Ya Allah... semoga Hitas lulus. Ya Allah... semoga Hitas lulus."

Doa itu terus kuulang hingga akhirnya aku tertidur dengan harapan Allah mengabulkan permohonanku.

Keesokan paginya aku bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi dan mengenakan seragam merah putih yang selama enam tahun menemaniku belajar, aku berpamitan kepada Mama seperti biasa.

"Hitas, hari ini ke sekolah?" tanya Mama.

"Iya, Ma. Ada yang harus Hitas selesaikan di sekolah."

Aku sengaja tidak memberi tahu bahwa hari itu adalah hari pengumuman kelulusan. Entah mengapa, aku ingin menyimpan rasa gugup itu sendiri sampai semuanya benar-benar selesai.

Sesampainya di sekolah, suasana yang kulihat sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Teman-temanku memang sudah berkumpul di dalam kelas, tetapi tidak ada suara canda yang biasanya memenuhi ruangan.

Sebagian besar hanya duduk diam di bangku masing-masing sambil menundukkan kepala. Ada yang memainkan ujung bajunya, ada yang terus mengusap telapak tangan karena gugup, dan ada pula yang hanya menatap kosong ke arah papan tulis.

Mungkin kami semua sedang memanjatkan doa yang sama di dalam hati.

Aku berjalan menuju tempat dudukku tanpa banyak berbicara. Baru beberapa saat duduk, suara langkah sepatu mulai terdengar dari arah lorong kelas.

Tok... tok... tok...

Suara itu membuat seluruh isi kelas serentak menoleh ke arah pintu. Pak Guru masuk sambil membawa sebuah wadah yang berisi gulungan-gulungan kertas kecil. Berbeda dengan biasanya, pagi itu wajah beliau tampak lebih serius dan hampir tidak memperlihatkan senyum.

Aku menoleh kepada Rani yang duduk di sampingku.

"Pak Guru kok kelihatannya beda, ya?"

Rani mengangguk pelan.

"Iya. Aku jadi semakin gugup."

Pak Guru berdiri di depan kelas dan memandang kami satu per satu sebelum akhirnya mulai berbicara.

"Anak-anak, sebentar lagi Bapak akan membagikan hasil kelulusan kalian. Apa pun hasilnya nanti, Bapak berharap kalian bisa menerimanya dengan lapang dada. Tahun ini ada beberapa siswa yang dinyatakan tidak lulus."

Ucapan itu membuat suasana kelas berubah semakin tegang. Beberapa teman langsung saling berpandangan. Bahkan aku melihat ada yang mulai meneteskan air mata karena takut namanya termasuk di antara siswa yang dimaksud.

Pak Guru kembali melanjutkan penjelasannya.

"Nanti setiap orang mengambil satu kertas. Jangan ada yang membukanya sebelum Bapak memberi aba-aba."

Satu per satu kami maju mengambil gulungan kertas tersebut. Ketika tiba giliranku, tanganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Kertas kecil itu kugenggam erat seolah di dalamnya tersimpan jawaban atas semua doa yang kupanjatkan semalam.

Setelah seluruh siswa kembali ke tempat duduk masing-masing, Pak Guru menarik napas panjang lalu berkata, "Sekarang... kita buka bersama. Tiga... dua... satu..."

Aku menatap gulungan kertas itu beberapa detik. Dengan jantung yang berdegup sangat kencang, aku membuka lipatannya perlahan sambil memejamkan mata. Setelah merasa cukup siap, aku membuka mata sedikit demi sedikit hingga akhirnya pandanganku tertuju pada satu kata yang tertulis jelas di tengah kertas itu.

LULUS.

Sejenak aku terdiam. Rasanya seperti tidak percaya dengan apa yang kulihat. Kedua tanganku spontan menutup mulut, sementara rasa syukur memenuhi hatiku.

"Alhamdulillah..." lirihku.

Aku segera menoleh ke arah Rani.

"Rani... kamu bagaimana?"

Rani yang baru saja membuka kertasnya langsung tersenyum lebar.

"Aku juga lulus!"

Kami berdua spontan berpelukan karena sama-sama merasa lega. Di berbagai sudut kelas terdengar suara syukur dan tawa bahagia. Hampir semua teman terlihat tersenyum, tetapi kami masih teringat ucapan Pak Guru tentang adanya beberapa siswa yang tidak lulus.

Aku memandang ke seluruh ruangan. Tidak ada seorang pun yang menangis.

"Lalu... siapa yang tidak lulus?" bisik Rani.

Pertanyaan itu rupanya juga ada di benak teman-teman yang lain. Melihat kami saling mencari jawaban, Pak Guru akhirnya tersenyum.

"Yang Bapak maksud adalah teman-teman kalian yang sudah lama tidak masuk sekolah dan tidak mengikuti ujian. Nama mereka masih tercatat sebagai peserta, sehingga dinyatakan tidak lulus."

Mendengar penjelasan itu, seluruh isi kelas serempak menghela napas lega.

"Oh..."

Suasana yang semula dipenuhi ketegangan berubah menjadi senyum dan tawa kecil.

Sebelum kami pulang, Pak Guru memberikan banyak nasihat. Beliau mengingatkan bahwa tidak lama lagi kami akan menjadi siswa SMP, sehingga kami harus lebih rajin belajar, menjaga sikap, dan menghormati guru. Menurut beliau, kehidupan di SMP akan sangat berbeda dengan masa-masa di sekolah dasar, sehingga kami harus mulai belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Semakin lama beliau berbicara, semakin sulit aku menahan air mata. Selama enam tahun, sekolah itu telah menjadi tempatku belajar, bermain, dan bertumbuh. Pak Guru yang berdiri di depan kami bukan hanya seorang wali kelas, tetapi juga sosok yang selalu membimbing kami dengan penuh kesabaran.

Setelah acara selesai, kami maju satu per satu untuk bersalaman. Ketika giliranku tiba, aku mencium tangan beliau sambil mengucapkan terima kasih atas semua ilmu dan perhatian yang telah diberikan selama ini.

"Belajar yang rajin, ya, Hitas," ucap beliau sambil tersenyum.

"Iya, Pak. Terima kasih."

Hari itu aku pulang dengan perasaan yang bercampur menjadi satu. Aku bahagia karena berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar, tetapi di saat yang sama aku juga sedih karena harus berpisah dengan teman-teman, guru-guru, dan ruang kelas yang telah menjadi bagian dari hidupku selama enam tahun. Sebelum meninggalkan sekolah, kami saling berpelukan dan berjanji akan tetap saling mengingat meskipun nanti melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda.

Sesampainya di rumah, aku langsung menghampiri Kak Ucaluna yang sedang duduk bersama Mama.

"Kak, coba baca ini."

Kak Ucaluna menerima kertas itu, membukanya perlahan, lalu tersenyum ketika membaca satu kata yang tertulis di dalamnya.

"Lulus."

Mama yang berada di sampingnya ikut tersenyum bangga, sementara Bapak menepuk bahuku dengan lembut.

"Alhamdulillah. Sebentar lagi Hitas sudah masuk SMP. Minggu depan kita pergi membeli seragam dan semua perlengkapan sekolah yang baru."

"Baik, Pak," jawabku dengan senyum yang tidak bisa lagi kusembunyikan.

Malam sebelumnya aku dipenuhi rasa takut, tetapi hari itu semua kegelisahan itu telah berganti menjadi rasa syukur. Aku belum mengetahui seperti apa kehidupan di sekolah yang baru nanti, tetapi satu hal yang pasti, selembar kertas bertuliskan Lulus telah membuka pintu menuju perjalanan berikutnya, sebuah perjalanan yang kelak akan mempertemukanku dengan begitu banyak pengalaman yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!