Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 DEAD ZONE
Sentul – Perbatasan Krajan Timur
Suasana di wilayah Sentul sudah tidak bisa lagi disebut sebagai tawuran biasa; ini adalah medan perang empat arah yang menyesakkan.
Di bawah pendar lampu jalan yang berkedip-kedip, empat pilar kekuatan berkumpul di satu titik koordinat. Bagas Nawawi, pemimpin terkuat Tirtamulya, berdiri tegak dengan aura yang sangat menekan.
Di sampingnya, Bram dari Gamusi menyeka darah di dagunya, sementara Dimas dari Masdim19 dan Gilang bersiaga penuh.
"Gua rasa kita semua sepakat," ucap Bagas Nawawi dengan suara berat yang menggelegar. "Wirasaba, Krajan, dan Tirtamulya... kalau kita gak nyatu sekarang, kita semua bakal rata sama Slonong Boys."
Bram mengangguk mantap, memegang tongkat baseball-nya erat-erat. "Gua setuju. Aliansi sementara dibentuk."
Dimas dan Gilang pun mengangguk, mengunci kesepakatan itu di tengah kepulan asap petasan.
Tepat di hadapan mereka, gelombang massa Slonong Boys (SB) sudah bersiap menggempur dengan jumlah yang tidak masuk akal.
Di garis paling depan barisan SB, berdiri Alfriza Farizy (Friza) dengan jubahnya yang berkibar, matanya menyala liar.
Tiba-tiba, ponsel di saku Friza bergetar. Ia mengangkatnya di tengah kebisingan.
"Woy, siapa?!" bentak Friza.
"Zel... cepet kemari. Situasi di pusat sudah chaos total," suara Rega Raditya dari seberang telepon terdengar sangat dingin dan datar, mengabaikan keributan di sekitar Friza.
"REGA?! Sialan lu!" Rega langsung menutup teleponnya. Tanpa basa-basi, Friza melesat maju bagaikan peluru.
WUSSS... BUGHHH!! DUAAGH!!
Friza berlari lincah melewati barikade aliansi Bagas-Bram-Dimas. Ia tidak berhenti untuk duel panjang; dengan gerakan akrobatik dan pukulan cepat—CRAKK!—ia menjatuhkan siapa pun yang menghalangi jalannya demi mencapai pusat Krajan.
Gilang yang melihat itu langsung bereaksi. "Serahin Friza sama gua! Kalian yang jaga di sini aja, jangan biarin pasukan SB yang lain nembus!" teriak Gilang sambil berlari membuntuti Friza.
Bagas Nawawi mendengkus sinis, menatap punggung Gilang yang menjauh. "dia pikir dia siapa memerintah gua? Baiklah... anggap saja ini pemanasan sebelum gua ketemu Ruler itu."
Di belakang Gilang, Zela melesat dengan kecepatan tinggi, dan tentu saja, Ryuka Wijaya menempel ketat di belakang Zela. "Woy, Zel! Tungguin gua, anjing!" teriak Ryuka.
Pawarengan – Krajan Barat
Adegan berpindah ke area Barat Krajan yang sudah hancur lebur.
Di sini, Aliansi OKOM merajalela dengan kekuatan penuh. Fraksi KRS dan Satelit benar-benar berada di ambang kekalahan karena jumlah massa OKOM yang sangat masif.
Muza, pemimpin Loszetas, tampak bersimbah darah. Ia mati-matian mencoba bangkit kembali meski tubuhnya sudah gemetar hebat.
Di depannya, dua pimpinan fraksi OKOM berdiri dengan angkuh: Yaksa dari Arko19 dan Dahlan dari Kepaduri.
"Jangan... harap... kalian bisa lewat..." bisik Muza seraya memaksakan diri berdiri tegak.
Di sisi lain pertarungan Muza, Ahmad Juanda (Juan) dari Satelit sedang dikeroyok oleh dua monster OKOM lainnya: Rai dari BK Lads dan Zaka dari Warjal Mystery.
DUAGH! BAM! Juan menangkis tendangan Rai, namun sabetan rantai dari Zaka membuatnya terdesak ke arah tembok ruko yang hancur.
Tepat di tengah-tengah kekacauan Pawarengan, Iky Smntry (pemimpin KRS) terlibat duel maut melawan Regi dari WAR19.
Benturan fisik mereka menciptakan gelombang angin yang menghempas debu di sekitar. BAMMM!! Pukulan Iky beradu dengan tangkisan Regi, keduanya tidak ada yang mau mundur satu inci pun.
Sentul – Krajan Timur Arah Pusat Krajan
Sementara itu, di sisi lain pertempuran, adegan beralih ke pengejaran yang sangat intens.
Zela melesat cepat menembus lorong-lorong gelap menuju arah Pusat Krajan. Di belakangnya, Ryuka menempel ketat, diikuti oleh Friza yang sedang memburu Zela, serta Gilang yang berusaha mengejar Friza.
"ZEL! BERHENTI, BANGSAT! LU GA HARUS IKUT PERANG DISINI BUKAN TEMPAT LU" teriak Ryuka sambil melompat melewati tumpukan kayu bekas.
Zela tidak menghiraukan teriakan itu. Ia terus berlari dengan kecepatan Galactian yang luar biasa. Namun, saat mereka sampai di sebuah area yang cukup terbuka menuju jalan utama Krajan, Ryuka berhasil memotong jalur Zela.
SRET! TAP!
Ryuka berdiri di depan Zela dengan napas memburu. Zela yang merasa langkahnya terhenti secara mendadak langsung meluapkan amarahnya. Ia merangsek maju dan mencengkeram kerah baju Ryuka dengan sangat kasar.
"Hah! Lu tahu apa soal gua?!" desis Zela dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh kebencian. "Masa lalu gua aja lu gak tau! Lu cuma anak kemaren sore di kota ini, gak usah belagu mau jadi pahlawan, bangsat!"
Ryuka tidak membalas dengan pukulan. Ia membiarkan kerah bajunya ditarik, menatap lurus ke dalam manik mata Zela. "Lawan lu cuma buang-buang waktu doang, Zel. Gua gak peduli soal masa lalu lu atau urusan Utara ini. Itu bukan urusan gua!"
Zela mendesis, cengkeramannya makin kuat. "Terus kenapa lu terus ngikutin gua?!"
Ryuka menyeringai tipis, sebuah cengiran yang terlihat sangat tulus di tengah medan perang. "Ya udah sih, sori... Tapi kalau gua yang berhasil kalahin pemimpin OKOM itu, lu mau balik lagi kan ke Sukaseri?"
Zela tertegun. Cengkeramannya perlahan mengendur. Ia menatap Ryuka dengan tatapan heran dan bingung. "Kenapa... kenapa lu segitu pedulinya ama gua, Ryuka? Padahal kita baru kenal sebentar."
Ryuka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, menyeringai konyol. "Gua juga gak tahu... cuma rasanya ada yang kurang aja kalau lu gak ada di bangku pojok kelas itu. Jadi, biarin gua ikut lu buat kalahin orang itu. Setuju?"
Zela membuang muka, mendengkus pelan untuk menutupi rasa harunya. "Cih... lu emang gak ada duanya kalau soal ngeselin, Ka."
"Hah?! Gua berusaha nolong lu malah bilang gua ngeselin?!" Ryuka langsung marah-marah secara konyol, merusak suasana dramatis tadi.
"Udah lah! Tapi lu harus janji, kalau abis ini beres, lu gak bakal ikut campur urusan gua lagi!" tegas Zela.
Ryuka hanya mengangkat bahu santai. "Gimana ke depannya aja. Percuma aja lu mikir kejauhan kalau ujung-ujungnya kita mati di sini mah."
"WOY! BERISIK AMAT LU BERDUA!!"
Suara teriakan Friza menggelegar dari depan. Ia berdiri dengan wajah yang merah padam, urat lehernya menonjol karena sangat kesal melihat dua orang di belakang nya malah "curhat" di tengah perang wilayah. "Gedeg banget gua denger bacotan kalian! Lu mau perang atau mau reuni keluarga, hah?!"
Di belakang mereka, Gilang menyusul sambil tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHA! Kita seolah-olah lagi beraliansi sekarang, padahal kenyataannya ngga ya?"
Friza menoleh ke arah Gilang dengan tatapan membunuh. Wajahnya merah padam karena marah. "OGAH GUA ALIANSI SAMA KALIAN! Dan yang bikin gua kesel, napa lu semua ngikutin gua sih, anj?! Lu mau nyari mati?!"
Ryuka, Zela, dan Gilang secara spontan dan kompak menjawab bersamaan: "PENGEN LIAT LU MATI!"
"ANJING LU SEMUA!!" teriak Friza histeris. "Lu pada ngikutin gua cuma buat liat gua mati?! Kenyataannya kalianlah yang akan mati di sini!"
Friza langsung berlari kencang ke depan menuju arah Pusat Krajan sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memaki mereka. Ryuka, Zela, dan Gilang mengikuti dari belakang dengan kecepatan tinggi.
Namun, tiba-tiba langkah Friza melambat. Ia berhenti mendadak, membuat Ryuka, Zela, dan Gilang yang berada di belakangnya ikut terhenti.
"Woy, kenapa berhenti, Za—" Ryuka menghentikan kalimatnya.
Pusat Krajan – The Dead Zone
Langkah kaki Ryuka, Zela, dan Gilang akhirnya sampai di pusat Krajan, membuntuti Friza.
Namun, begitu mereka sampai, pemandangan di depan mata membuat napas mereka tercekat. Pusat Krajan sudah hancur lebur; api berkobar di mana-mana dan bangunan-bangunan di sekitar tampak runtuh.
Di tengah jalanan utama, terdapat tumpukan ratusan berandalan dari berbagai fraksi yang terkapar—bertumpuk bagaikan bukit manusia.
Di puncak bukit mayat hidup itu, duduklah Oky Febrian dengan posisi yang sangat dominan. Tangan kanannya mencengkeram erat kerah baju Ambon, pemimpin Krajan Boys, yang sudah pingsan dan kalah total.
Tak jauh dari bukit itu, duel pilar sedang berlangsung: Dimby (pemimpin TOP) sedang bertarung sengit melawan Izal, orang kedua terkuat di OKOM sekaligus pemimpin T.O.K.
Di pinggir pertarungan, Rega Raditya berdiri dengan sangat santai, menyulut sebatang rokok sambil menonton kekacauan tersebut seolah-olah itu hanya hiburan biasa.
Friza menghampiri Rega dengan napas memburu. "REGA?! Kenapa bisa chaos begini, hah?!" teriak Friza sambil menunjuk ke arah reruntuhan dan tumpukan orang di sekitar mereka.
Friza menatap Rega yang masih diam saja. "Lu kenapa diem aja, Bangsat?! Lihat noh pasukan kita!"
Rega menghembuskan asap rokoknya pelan, wajahnya datar. "Ya justru itu gua nyuruh lu ke sini, Zel... biar lu sendiri yang kalahin Oky. Bukannya lu yang mau bales dendam atas kekalahan lu tadi siang?"
Friza langsung memasang raut muka merah padam. "CIH! GUA GAK KALAH YA, BANGSAT! CUMA KEINTERUPSI DOANG!" teriak Friza histeris.
Ryuka, Zela, dan Gilang yang menonton interaksi konyol antara dua pimpinan SB itu hanya bisa melongo. Zela menghela napas panjang dengan raut wajah heran. "Perasaan gua aja apa gimana... tapi dari tadi si Friza kerjaannya marah-marah mulu?"
Ryuka terkekeh lemas, matanya masih menatap ke arah bukit manusia. "Ya... dia lagi sensi gara-gara kalah lawan Oky tadi siang."
Namun, tawa Rega perlahan lenyap. Matanya yang merupakan keturunan Galactian mulai menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ryuka kaget setengah mati.
Di mata Rega, sosok Oky Febrian yang duduk di atas tumpukan orang itu tidak lagi terlihat seperti manusia biasa.
Rega secara tidak sengaja bisa melihat Aura Hitam yang bercampur dengan Merah Darah pekat menyelimuti seluruh tubuh Oky.
Hawa keberadaannya terasa berkali-kali lipat lebih berat dan mengerikan dibandingkan saat Friza merasakan hawa pertempuran Oky melawan nya di sore hari tadi.
"Ga... hawa orang itu..." bisik Friza dengan keringat dingin mengucur. "Dia bener-bener beda sama yang gua lawan sore tadi. Ini orang... aura nya bener bener seorang bencana."
"Ya lu bener za, Dia udah kaya monster aja"
bisik Rega ke Friza.