NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Maya menangis hampir satu jam.

Setelah air matanya habis, ia tidak merasa lega. Hanya kosong. Ia duduk di lantai kamar, punggung bersandar pada sisi ranjang, tangan memegang perut. Anak dalam kandungannya belum bergerak. Masih terlalu kecil. Tapi Maya bicara pelan seolah bayi itu bisa mendengar.

"Jangan malu pada Ibu, ya."

Kalimat itu membuat air matanya jatuh lagi.

Pintu diketuk pelan.

"Maya."

Suara Raka.

Ia tidak menjawab.

"Aku masuk kalau kamu tidak menjawab."

Maya mengusap wajah cepat. "Jangan."

Hening sebentar.

"Baik."

Langkah Raka tidak pergi. Ia duduk di luar pintu. Maya tahu dari suara kain bergesek dan napas yang dekat.

Mereka hanya dipisahkan selembar pintu.

"Mas Raka," kata Maya akhirnya.

"Hmm."

"Apakah saya gagal sebagai ibu?"

Tidak ada jawaban cepat.

Maya menunggu dengan dada sakit.

Lalu Raka berkata, "Tidak."

"Mas tidak berpikir lama."

"Aku berpikir bagaimana menjawab tanpa terdengar marah."

Maya menutup mata.

Raka melanjutkan, "Anak yang malu pada pengorbanan ibunya bukan bukti ibunya gagal. Itu bukti anaknya belum selesai menjadi manusia."

Maya tertawa kecil, getir. "Kalimat Mas tajam sekali."

"Aku sedang menahan diri."

Maya menyandarkan kepala ke pintu.

"Saya lelah."

"Buka pintunya."

"Kenapa?"

"Supaya kamu lelah di tempat tidur, bukan lantai."

Untuk pertama kalinya sejak menangis, Maya tersenyum.

Ia berdiri pelan, membuka pintu. Raka duduk di lantai koridor, jasnya sudah dilepas, wajahnya serius. Melihat pria seperti dia duduk di lantai hanya karena menunggu membuat dada Maya kembali sesak.

"Mas duduk di lantai."

"Kamu juga."

"Saya bukan CEO."

"Aku sedang libur dari menjadi CEO."

Maya menatapnya.

Raka berdiri, lalu mengangkatnya tanpa bertanya.

"Mas Raka!"

"Kamu habis duduk di lantai satu jam."

"Saya bisa jalan."

"Aku tahu."

Jawaban itu selalu berarti ia tetap akan melakukan kemauannya.

Ia membaringkan Maya di ranjang, lalu menarik selimut. Kali ini Maya tidak protes.

Raka hendak pergi mengambil air, tapi Maya memegang tangannya.

"Jangan jauh."

Raka duduk di sisi ranjang.

"Aku di sini."

Maya menatap wajahnya. "Mas tidak bosan dengan masalah saya?"

"Sangat."

Maya membeku.

Raka menatapnya datar. "Tapi aku tidak bosan denganmu."

Maya menutup mata. "Mas Raka, cara Mas menghibur membuat jantung saya kerja terlalu keras."

"Bagus. Berarti masih hidup."

Maya tertawa pelan.

Malam itu, ia tidur lebih awal.

Raka tetap di kamar sampai napasnya stabil. Setelah itu ia keluar ke ruang kerja, menelepon Bima.

"Tekan Sabrina dari jalur bisnis. Jangan menyentuh Surya Dharma dulu. Aku ingin bukti langsung."

Bima menjawab, "Pak Surya meminta bertemu besok. Katanya soal Sabrina dan Bu Maya."

Raka menyipitkan mata. "Di mana?"

"Rumah sakit keluarga Surya. Pak Surya bilang sekalian ingin melakukan pemeriksaan kesehatan rutin."

"Atur jadwal."

Namun rencana bertemu Pak Surya tertunda karena pagi berikutnya Maya mengalami mual berat. Dr. Laila datang, memeriksa, lalu menyatakan Maya perlu istirahat penuh.

"Stres emosional memengaruhi tubuh Bu Maya," kata dokter. "Pak Raka, beberapa hari ini tolong jauhkan dulu dari konflik."

Raka menatap dokter dengan wajah seperti orang yang baru diberi misi negara.

"Berapa hari?"

"Minimal tiga hari."

"Tidak cukup."

Maya yang berbaring langsung berkata, "Dokter bilang minimal, bukan kurung saya sebulan."

Dr. Laila tersenyum.

"Yang penting tenang."

Tenang ternyata sulit.

Sore harinya, Yudha mengirim pesan melalui email pengacara. Ia mengirim rekaman tambahan tentang Ratna dan Vina, sekaligus menulis satu pesan pribadi yang diteruskan Bima kepada Maya karena isinya tidak melanggar batas.

`Maya, aku dengar kejadian di acara Sabrina. Aku tidak akan menghubungimu langsung. Aku hanya ingin mengatakan, jika kamu butuh saksi soal masa lalu atau soal keluargamu, aku bersedia. Jaga kesehatan.`

Maya membaca pesan itu di ruang keluarga.

Raka duduk di seberangnya, wajahnya langsung berubah.

"Dia sangat patuh pada jalur hukum," kata Raka.

Maya menahan senyum. "Mas tetap tidak suka."

"Benar."

"Tapi dia membantu."

"Itu yang membuatku lebih tidak suka."

Maya akhirnya tertawa.

Raka menatapnya. Setelah dua hari wajah Maya mendung, tawa itu membuat amarahnya pada Yudha sedikit berkurang. Sedikit saja.

"Kamu membelanya?"

"Tidak. Saya hanya merasa lucu."

"Apa yang lucu?"

"Mas Raka cemburu dengan sangat rapi. Lewat pengacara."

Bima yang berdiri di dekat pintu hampir menjatuhkan tablet.

Raka menatap Maya.

"Kamu semakin berani."

"Saya belajar dari banyak hinaan."

Ia mengulang kalimatnya sendiri dari acara lelang, dan kali ini Raka tersenyum tipis.

Suasana itu hampir hangat ketika ponsel Raka berbunyi.

Pak Surya.

Raka mengangkat.

Maya tidak mendengar semua, hanya melihat wajah Raka berubah serius.

"Besok pagi," kata Raka. "Saya bawa Maya kalau dokter mengizinkan."

Maya menatapnya.

Setelah panggilan ditutup, Raka berkata, "Pak Surya ingin bertemu denganmu."

"Kenapa?"

"Dia tidak menjelaskan."

"Apakah tentang Sabrina?"

"Mungkin."

Maya mengingat cara Pak Surya menatapnya. Seolah ia adalah wajah dari masa lalu.

"Mas Raka, ada yang aneh dengan Pak Surya."

"Aku tahu."

"Dia baik pada saya. Tapi bukan seperti orang yang baru kenal."

Raka mengangguk.

"Besok kita cari tahu."

Keesokan paginya, dokter mengizinkan Maya pergi dengan syarat tidak lama dan tidak stres. Raka membawa Maya ke rumah sakit keluarga Surya. Tempat itu lebih mirip hotel daripada rumah sakit. Bersih, tenang, dan mahal.

Pak Surya menunggu di ruang konsultasi pribadi.

Begitu Maya masuk, pria tua itu berdiri.

"Bu Maya, terima kasih sudah datang."

"Pak Surya ingin bertemu saya?"

Pak Surya mengangguk. Matanya kembali menatap wajah Maya terlalu lama.

Raka berdiri di samping Maya, waspada.

Pak Surya membuka laci, mengeluarkan sebuah foto lama.

Foto itu sudah pudar. Seorang perempuan muda tersenyum di depan rumah sederhana. Matanya mirip mata Maya. Senyumnya juga.

Maya merasa napasnya tertahan.

"Ini siapa?"

Suara Pak Surya berubah pelan.

"Perempuan yang pernah saya cari selama tiga puluh tahun."

Maya menatap foto itu, lalu menatap Pak Surya.

"Kenapa Bapak menunjukkannya kepada saya?"

Pak Surya menelan sesuatu yang berat.

"Karena kamu sangat mirip dengannya."

Di belakang mereka, pintu yang tidak tertutup rapat bergerak sedikit.

Sabrina berdiri di luar, mendengar semuanya.

Wajahnya kehilangan warna.

Pak Surya tidak sadar perempuan di balik pintu sudah menahan napas.

Ia menatap foto itu lama, lalu berkata seperti bicara pada orang yang tidak ada di sana. "Kalau aku lebih berani saat itu, mungkin anak itu tidak akan hidup sebagai anak orang lain."

Bima berdiri kaku. "Bapak yakin petunjuknya mengarah ke Bu Maya?"

"Aku belum berani yakin." Suara Pak Surya pecah sedikit. "Tapi tanggal lahirnya, nama bidan lama itu, dan liontin yang disebut perawat... semuanya terlalu mirip."

Sabrina mundur satu langkah. Tumit sepatunya hampir berbunyi di lantai marmer, tetapi ia segera menahannya.

Darah Surya bukan sekadar darah keluarga. Itu berarti saham, warisan, nama besar, dan posisi yang selama ini ia incar lewat pernikahan.

Jika Maya adalah anak Pak Surya, maka perempuan itu bukan janda miskin yang bisa diusir.

Sabrina menggenggam ponselnya.

Ia butuh bukti lebih dulu.

Dan jika bukti itu benar, ia butuh cara agar Maya tidak pernah berdiri di depan keluarga Surya sebagai putri yang hilang.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!