Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013: Gadis di Tepi Waduk
Sari baru kembali ke Kebun Cempaka menjelang malam.
Mobil Arman berhenti di depan gudang kecil. Nadia turun lebih dulu, matanya tidak lepas dari wajah ibunya. Sejak dari rumah sakit, ia sudah tiga kali memeriksa suhu tubuh Sari, dua kali menyuruhnya minum, dan sekali mengancam akan mengikatnya di kursi kalau masih nekat bergerak.
"Aku masih bisa jalan," kata Sari.
"Ibu juga tadi bilang masih bisa berenang. Lihat hasilnya."
Sari tidak membantah. Lututnya memang perih, punggungnya remuk, dan rambutnya masih lembap meski perawat sudah memberi handuk. Tapi yang terus kembali ke kepalanya bukan rasa sakit itu. Yang terus muncul adalah tangan kecil Lintang yang menggenggam ujung bajunya di ruang observasi.
Bu Maya menunggu di bawah lampu gudang dengan wajah cemas.
"Bu Sari! Ya Allah, saya hampir nyusul ke rumah sakit."
"Saya masih utuh."
"Utuh tapi basah dan bandel," kata Nadia.
Bu Maya langsung mengangguk. "Saya ikut Dokter Nadia."
Darto membuka pintu depan untuk Arman. Pria itu turun dengan kemeja putih kusut dan bekas lumpur di lengan. Wajahnya lebih tenang daripada saat mencari Lintang, tetapi matanya masih menyimpan ketakutan yang belum selesai.
"Bu Sari," katanya, "Lintang harus dipantau beberapa jam lagi. Dokter keluarga saya sudah menuju rumah sakit."
"Bagus. Jangan hanya kirim dokter. Duduklah di sampingnya."
Arman menerima teguran itu tanpa tersinggung. "Saya akan kembali setelah mengantar Ibu."
"Saya tidak minta diantar."
"Saya tahu."
Jawaban itu membuat Sari menatapnya sebentar. Hendra biasanya mengubah kekhawatiran menjadi perintah. Arman tidak. Ia memberi ruang, tetapi tetap berdiri di sana, menunggu kalau-kalau ruang itu runtuh.
Bu Maya melirik Sari, lalu Arman, lalu Darto. Rasa ingin tahunya jelas sekali.
"Pak Arman dari proyek atas bukit, ya?"
"Ya," jawab Arman.
"Pradipta Group?"
"Saya bagian dari sana."
Darto menunduk sedikit. Sari menangkap gerakan itu. Bagian dari sana, katanya. Bukan jawaban lengkap.
Nadia menerima kartu nama yang diberikan Arman untuk informasi kondisi Lintang. Begitu membaca, alisnya naik.
"Executive Director?"
Bu Maya hampir tersedak.
Sari hanya menatap Arman. "Tadi bilang bagian dari sana."
"Benar."
"Bagian yang duduk di atas?"
"Kadang-kadang. Lebih sering berdiri karena rapat terlalu banyak."
Ayu tidak ada di sana, tetapi Sari yakin kalau gadis itu mendengar, ia akan menyeringai. Sari sendiri menahan senyum kecil.
"Saya mau pulang," katanya.
Arman mengangguk. "Darto akan mengikuti mobil Ibu sampai kontrakan. Dia tidak akan turun kalau Ibu tidak butuh."
"Pak Arman terbiasa membuat orang sulit menolak?"
"Saya sedang belajar membuat bantuan tidak terasa seperti perintah."
Kali ini Sari tidak punya jawaban cepat. Ia hanya masuk ke mobil sewaan, membiarkan Nadia menutup pintu.
Di kontrakan, Nadia langsung menyiapkan air hangat dan obat. Sari mandi sebentar, lalu duduk di tikar dengan kaki diluruskan. Dari luar gang terdengar motor lewat, suara anak mengaji, dan ibu-ibu membeli gorengan. Hidup biasa terasa aneh setelah sehari penuh melompat dari kain kafan, ruang sidang keluarga, waduk, lalu rumah sakit.
Nadia duduk di depan laptop, mengisi lamaran untuk RS Pejaten. Namun jari-jarinya berhenti di tengah kalimat.
"Ibu masih mikirin Lintang?"
Sari mengambil gelas. "Kamu juga."
"Aku dokter. Wajar."
"Ibu pedagang. Tidak wajar, tapi terjadi."
Nadia menutup laptop. "Reaksinya waktu disentuh tidak biasa. Diamnya juga bukan diam anak capek. Aku tidak bisa menuduh siapa-siapa, tapi ada yang harus dilihat lebih dekat."
"Pengasuhnya?"
"Bisa. Bisa juga trauma sejak orang tuanya meninggal. Arman bilang Lintang keponakannya, kan?"
Sari mengangguk. "Orang kaya suka menyewa banyak orang untuk mengurus luka. Kadang lupa anak tetap perlu wajah yang pulang."
Nadia menatap ibunya pelan. "Ibu sedang bicara tentang Lintang atau tentang kami?"
Pertanyaan itu tidak keras, tetapi membuat Sari diam.
"Dua-duanya, mungkin," katanya akhirnya. "Ibu dulu pikir uang sekolah, makanan, dan rumah cukup. Ternyata anak bisa tumbuh kenyang tapi tetap tidak tahu cara menjaga ibunya."
Nadia pindah duduk di sampingnya. "Kesalahan Mas Raka dan Mas Bayu bukan semuanya milik Ibu."
"Ibu tahu. Tapi Ibu tetap punya bagian."
"Malam ini bagian Ibu adalah minum obat."
Sari mendengus, tetapi menelan obat juga.
Ponsel Nadia berbunyi pukul sebelas. Nama Arman muncul. Nadia mengangkat, mendengarkan beberapa menit, lalu wajahnya melunak.
"Syukurlah. Tetap pantau batuk dan demam. Untuk psikolog, jangan dipaksa besok juga. Anak baru hampir tenggelam, Pak. Beri dia rasa aman dulu."
Sari pura-pura tidak mendengar, tetapi telinganya jelas bekerja.
Setelah telepon selesai, Nadia berkata, "Lintang stabil. Tidak ada komplikasi paru. Tapi dia mencari Ibu."
Sari menatap gelas kosong di tangannya.
"Pak Arman bilang Lintang menolak susu sampai perawat bilang Ibu Sari juga harus minum obat. Setelah itu dia mau."
"Anak itu pintar mengancam orang tua."
"Ibu senang."
"Matikan lampu."
Nadia tertawa pelan. Malam itu, Sari akhirnya tidur tanpa bermimpi tentang kafan. Ia bermimpi berada di tepi waduk. Di seberang air, Lintang berdiri memakai baju pink, sementara Arman menunggu beberapa langkah di belakang, tidak mendesak, hanya memastikan anak itu tidak sendirian.
Pagi datang terlalu cepat.
Saat Sari membuka kios, Ayu sudah menunggu dengan dua gelas kopi susu dan wajah penuh kabar.
"Bu, versi Ibu masuk waduk sudah ada tiga."
"Cepat sekali."
"Versi pertama, Ibu menyelamatkan anak orang kaya. Versi kedua, Ibu sengaja cari perhatian Pradipta Group. Versi ketiga, Ibu punya ilmu karena habis hidup lagi langsung kuat berenang."
Sari mengambil kopi. "Versi ketiga paling niat."
Ponselnya berbunyi. Nomor tak dikenal. Sari mengangkat setelah Nadia dari belakang memberi isyarat bahwa nomor itu milik Arman.
"Bu Sari, maaf mengganggu pagi-pagi," kata Arman. "Lintang ingin bicara."
Ada gesekan kecil, lalu suara anak perempuan yang sangat pelan.
"Tante Sari..."
"Iya, Lintang?"
"Tante sudah minum obat?"
Ayu menutup mulut, matanya bersinar. Nadia langsung menunjuk botol obat di meja.
Sari menatap kopi di tangannya, lalu obat yang belum ia sentuh.
"Belum. Sebentar lagi."
"Sekarang."
Sari menghela napas dan menelan obat dengan air putih yang cepat-cepat disodorkan Nadia. "Sudah."
Lintang tidak banyak bicara setelah itu. Hanya napas kecil di seberang, lalu suara Arman kembali.
"Terima kasih. Dia mau sarapan setelah mendengar Ibu juga minum obat."
"Pak Arman, jangan biasakan dia bergantung pada orang baru."
"Saya tidak ingin begitu. Tapi hari ini, kalau suara Ibu membuat dia makan, saya tidak akan mengabaikannya."
Sari melihat pelanggan mulai datang. Anak-anak sekolah menunggu di depan rak roti.
"Kirim kabar lewat Nadia saja."
"Baik."
Telepon berakhir. Ayu menyeringai.
"Bu, suara Pak Arman pagi-pagi cocok untuk iklan kopi."
"Hitung stok roti."
"Siap."
Saat Ayu berbalik, Sari melihat pantulan wajahnya di layar ponsel. Ia tidak tersenyum lebar. Hanya sedikit. Cukup untuk membuat Nadia pura-pura batuk dari belakang.
Sari segera mengunci layar, seolah tertangkap melakukan kesalahan. Di luar, dua anak sekolah bertengkar soal rasa es krim. Di dalam kios, hidup kembali pada harga pulpen, stok roti, dan suara kulkas tua yang menderu pelan.
Namun nama Lintang sudah ikut duduk di antara daftar barang yang harus ia periksa hari itu. Sari menulis pesanan gula, plastik sampul, roti tawar, lalu tanpa sadar menambahkan satu baris kecil di sudut kertas: kabar Lintang.
Ia mencoret tulisan itu cepat-cepat.
Nadia melihat, tetapi cukup pintar untuk tidak berkomentar.
Beberapa menit kemudian, Nadia meletakkan segelas air di dekat obat ibunya. "Kalau Tante Sari mau dipercaya anak kecil, Tante Sari juga harus patuh minum obat."
Sari menatapnya.
"Jangan pakai Lintang untuk mengatur Ibu."
"Efektif, kan?"
Ayu tertawa dari kasir. Sari menghela napas, mengambil obat, lalu menelannya tanpa bicara. Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah lama sekali, seseorang berhasil membuatnya patuh tanpa membuatnya merasa kalah sedikit pun.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??