Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Alan semakin cemas melihat perubahan sikap istrinya. Beberapa hari terakhir, Arien kerap murung, melamun tanpa tujuan, dan kerap melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak biasa—piring pecah, masakan gosong, seolah pikirannya melayang jauh dari tubuhnya. Tidak tahan lagi melihat Arien terbelenggu kegelisahan sendiri, Alan pun memutuskan untuk bertanya langsung.
Langkah kakinya terdengar pelan di atas lantai keramik. Alan mendekat perlahan, melihat Arien berdiri mematung di depan jendela dapur, menatap kosong ke arah halaman yang mulai gelap. Ia meletakkan tangan di pundak istrinya, sentuhan lembut yang nyaris tak terasa, berusaha meruntuhkan tembok keheningan yang mulai menyesakkan dada.
Neng, kunaon?
"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya dengan nada selembut mungkin.
Teu biasa na loba ngalamun. Kamari meupeuskeun piring, tadi keur masak tepi ka tutung. Mikiran naon atuh?
"Beberapa hari ini kamu sering melamun. Kemarin piring pecah, tadi masakan sampai gosong. Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Arien tersentak, bahunya naik turun. Ia segera menunduk, menghindari tatapan mata suaminya yang begitu tajam menembus ke dalam jiwa.
Teu nanaon, Aba. Kirang bobo hungkul, da,
"Gak apa-apa, Mas. Cuma kurang tidur aja, kok," jawabnya lirih, berusaha menyunggingkan senyum yang terlihat getir dan rapuh.
Alan menggenggam kedua tangan Arien, meremasnya pelan, berusaha menyalurkan kekuatan dan rasa aman. Namun tatapannya tak lepas dari wajah istrinya.
Aya keneh nu di sumputkeun, Neng. Iwal ti cincin nikah nu tos leungit kamari?!
"Masih ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Sayang. Bukan hanya soal cincin pernikahan kita yang hilang kemarin, kan?!"
Ulah bohong ka Aa, Neng. Gerak-gerik Neng katingal pisan. Sok caritakeun, Aa teh kan suami Neng, urang pilari solusina bareng-bareng.
"Jangan berbohong padaku, Sayang. Perubahan sikapmu terlihat sangat jelas. Ceritakanlah, aku ini suamimu. Kita bisa cari jalan keluarnya bersama-sama."
Di samping suaminya, Arien hanya bisa terpaku dalam keheningan yang panjang. Pikirannya melayang jauh, terjebak di tempat yang tak tersentuh siapa pun. Ada beban rahasia yang terkunci rapat di kepalanya—informasi sakral yang haram diutarakan sembarangan. Sebagai seorang pengendali Aura, ada sekat tak kasatmata yang membuatnya tak mampu membagi beban itu, bahkan dengan Alan, laki-laki yang paling dicintainya.
Masih teu bisa di caritakeun jeung Aba, Neng?
"Masih belum bisa diceritakan padaku, Sayang?"
Suara Alan terdengar gemetar, terperangkap di antara rasa tak percaya dan kecewa. Ia mulai frustasi, mengerutkan kening dalam-dalam, lalu menatap tajam wajah istrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan itu terasa lebih menekan daripada kemarahan.
Arien sadar, kesabaran suaminya mulai menipis. Ia berusaha menjawab sebaik mungkin, menenangkan walau hatinya sendiri sedang berantakan.
Emang Neng nuju seueur pikiran, tapi Neng can tiasa nyarioskeun! Neng teu acan siap, Aba..
"Memang aku sedang banyak pikiran, tapi aku belum bisa menceritakannya! Aku belum siap, Ayah.."
Alan mengerutkan keningnya lebih dalam. Jawaban itu terdengar manis, namun terasa kosong. Ia tahu ada rahasia besar yang ditahan di balik mata itu. Napasnya memburu, menahan amarah yang mulai naik ke kerongkongan. Ia menatap lurus ke manik mata Arien, suaranya kini tegas dan dingin, menuntut kejujuran yang utuh.
Kunaon repeh wae, Arien? Naon deui atuh nu di sumputkeun ti Aa teh?!
"Kenapa kamu hanya diam saja, Arien? Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?!"
Suara Alan meninggi, memecah keheningan dapur. Nada tanyanya menuntut, tertahan di antara rasa sakit dan kemarahan.
Arien tertunduk lemas, lututnya terasa tak bertulang. Posisinya benar-benar menyudutkan. Di satu sisi ada janji dan sumpah menjaga rahasia kekuatan Aura; di sisi lain ada hati suaminya yang mulai terluka. Bagaimana mungkin ia bercerita tentang kehidupan tujuh ratus tahun yang lalu, tentang enam orang kakak yang mungkin masih hidup, tentang identitasnya sebagai Arbella—Kaisar Pengendali Aura yang sudah lama dianggap musnah?
Ia tahu betul: ia tidak akan pernah bisa berbohong kepada Alan. Suaminya memiliki ketajaman yang mampu menguliti setiap kebohongan apa pun yang orang lain lakukan padanya, begitu pun Arien istrinya. Apa pun yang ditutupi, pada akhirnya akan terungkap juga. Namun, pertahanan diri yang dibangun selama ini runtuh semenjak ia merasakan keberadaan aura kakaknya—Rael. Rasa rindu dan luka lama itu menghantamnya begitu hebat hingga ia tak mampu lagi mengontrol emosinya sendiri.
Aba ek ngambek ka Neng ge teu nanaon.
"Ayah mau marah padaku juga tidak apa-apa."
Neng aya alasan oge, Ba! Teu tiasa di obrolkeun!
"Aku punya alasan juga, Yah! Yang belum bisa dibicarakan sekarang!"
Lain teu ngahargaan Aba, Neng mah. Hampura..!
"Bukan aku tidak menghargai Ayah. Maafkan aku..!"
Lambat laun, petunjuk dari masa lalu mulai muncul ke permukaan tanpa bisa dicegah. Arien dirundung kecemasan mendalam. Bagaimana jika kebenaran terungkap? Bagaimana jika Alan tak mampu menerima siapa dirinya sebenarnya? Beban itu kian menghimpit batinnya, memaksanya terus mencari waktu yang tepat—namun momen itu seakan tak pernah datang.
BRAK!
Suara gebrakan tangan ke meja mengguncang ruangan. Cangkir teh di atasnya bergetar hebat, bunyi berdenting tajam.
Kumaha Neng we, ek kumaha wae ge!
"Terserah kamu saja! Mau bagaimana pun juga!"
Alan berdiri kasar, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Punggungnya menjauh dengan cepat, meninggalkan Arien yang duduk terpaku, tak mampu mengucapkan satu kata pun untuk menahannya.
"Hah......"
Arien menghela napas panjang, terasa berat di dada. Ia meraih cangkir kopi yang masih hangat, menggenggamnya seolah itu satu-satunya sumber kekuatan saat ini. Tatapannya kosong menatap uap tipis yang mengepul.
'Benar-benar marah...' gumamnya pelan, getir.
'Bagaimana aku harus bicara padamu, Yah? Kalau aku punya enam kakak yang masih hidup, dan perempuan yang menjadi istrimu ini bukanlah jati dirinya yang sesungguhnya...'
Ia menggeleng pelan, mata mulai berkaca-kaca.
'Apakah kamu akan percaya padaku, Yah...?'
"Hah......"
... ****************...
Sore itu, sinar matahari mulai miring, menyisakan warna keemasan di tepi langit. Arumie berlari riang di atas rumput hijau, rambutnya terbang diterpa angin sore, diiringi tawa teman-temannya. Dunia terasa begitu sederhana dan indah—sampai sebuah jeritan memecah kebahagiaan itu.
Huuuaaaaaaa.. Mamah, nyeri!
"Huuuaaaaaaa.. Mama, sakit!"
Amelin terjatuh keras di jalur lari berpasir dan batu bata. Lututnya tergores dalam, darah segar mulai merembes keluar. Gadis itu menangis kencang, kaget sekaligus kesakitan.
Arumie berhenti berlari, menoleh cepat, lalu berlari menghampiri.
Eh, Amel! Kunaon? Amel teu nanaon?
"Eh, Amel! Kenapa? Kamu tidak apa-apa?" Ia berjongkok di samping temannya, wajahnya penuh kekhawatiran.
Alah... Tingal, getih na...
"Aduh... lihat, berdarah..."
Tanpa pikir panjang, Arumie mendekatkan tangannya ke lutut Amelin, bermaksud membersihkan debu dan pasir yang menempel di sekitar luka agar tidak infeksi. Jari-jarinya menyentuh kulit yang terluka itu dengan lembut.
Dan saat itulah—sesuatu terjadi.
Sshhaaaaaaaaaaaaa...
^^^Bersambung...^^^
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭