NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Putih Abu-Abu

Jika ada sesuatu yang paling menyenangkan di kotaku saat itu tentulah saat diriku mulai diperbolehkan mengenakan celana panjang di sekolah.

Kata orang, dunia putih abu-abu adalah dunia penuh imajinasi anak baru gede penuh pemberontakan. Dunia penuh perdebatan segala sesuatu dengan versi pembenaran diri sendiri.

"Kita satu sekolah lagi Pras !"

Selain tetap bersama lagi dengan Juli dan Firman, hal yang paling tak dapat kulupakan saat itu adalah ketika Aku mengetahui Erwin, Arin, dan Eliza ternyata bersamaku lagi di sekolah yang sama.

"Wuih, bakalan seru nih," kataku saat Erwin menyapa di hari pengumuman penerimaan murid baru SMA.

Tak sengaja bertemu lagi dengannya, tentu saja Aku yang kebetulan bersama Firman melihat pengumuman mulai bersapa akrab.

Bocah jabrik itu masih seperti dulu, ajeg gak bisa anteng. Belum apa-apa dia sudah mengajakku berkeliling ke kelas-kelas dan seluruh ruangan SMA baru kami.

Puas berkeliling kami nongkrong di warung belakang SMA.

"Gimana kabar lapak parkiran-mu Man ?" Erwin yang tak menyangka bertemu Firman lagi, menanyakan lapak parkir tempat kami menghabiskan waktu masa kecil kami di hari Minggu dulu.

"Ush, dia sudah punya bisnis sekarang Win. Lapak parkir sudah lama dilupakannya," ujarku riang.

"Ah, Pras terlalu membesar-besarkan Win," bantah Firman.

Seperti masa kecil kami yang penuh kedekatan, reuni kami kembali di SMA tak pelak penuh guyonan masa kecil kami. Apalagi ada Arin dan Eliza yang disinggung Erwin satu SMA lagi dengan kami.

"Siapa tuh ?" Firman ingin tahu dua bocah perempuan yang disebut Erwin.

"Wuih pokoknya semlohay Man," Erwin terkekeh. Tangannya mulai menggambarkan kesempurnaan lekuk wanita dua kawan perempuanku itu. "Nanti kamu pasti semaput kalau ketemu mereka." Mulut Erwin terus nyerocos memanas manasi Firman yang penasaran.

"Wah si Arin gimana kabarnya ?" Aku yang lama tak mengetahui kabarnya akhirnya ikut nimbrung membahas persoalan perempuan.

"Wah pokoknya kayak Sophia Latjuba, sensual dan menggoda." Otak Erwin sepertinya sudah lebih di depan dalam urusan perempuan. Dari tadi mulutnya tidak berhenti mengulik daya tarik kedua bocah perempuan itu.

"Aku tuh tanya kabar .... Bukan tanya yang macem-macem."

"Kabar baiknya, si Arin belum punya pacar .... Kabar buruknya, dia belum meresponku," balas Erwin. Kali ini nadanya memelas.

Aku dan Firman tergelak mendengar kabar buruk yang dikatakan Erwin.

"Sukurlah, jadi Aku masih bebas menemuinya nanti," ujarku kemudian

"Eh si Eliza gimana sekarang Pras ?" Kali ini Erwin menyinggung Eliza.

"Baik, nanti juga kita ketemu kalau sudah mulai masuk," jawabku.

Banyak rencana-rencana anak baru gede yang kami obrolkan sambil menunggu kedatangan Juli yang sedang mengambil kaos seragam olah raga.

Yang jelas Erwin lalu mendeklarasikan Department of Supporter saat dirinya mengetahui Aku dan Firman menjadi tim inti kesebelasan SMA kami.

"Pokoknya aku akan siap meneror lawan kalian nanti." Kali ini otak Erwin sudah dipenuhi rencana kemenangan lewat pemain keduabelas versi dirinya.

Memang untuk urusan sepakbola, Erwin tak sekuat Aku dan Firman. Tapi kalau urusan mental bertanding, kawan kecilku itu kuakui sangat kuat. Tak peduli melawan siapapun mulut usilnya bisa menghancurkan taktik lawan karena terbakar emosi yang kadang berujung perkelahian.

Tak heran Firman sangat senang saat Erwin bersiap mengumpulkan suporter militan buat kami.

"Tuh Juli datang." Firman menyela obrolan setelah melihat Juli berjalan mendatangi kami.

"Yuk habis ini kita ke rumahku," ajak Erwin, "kalian kan belum tahu rumahku," pungkasnya sambil berdiri.

Aku dan Firman tak menolak ajakannya. Apalagi sejak dia pindah ke Purbalingga, rumah lamanya di Sokanegara dikontrakkan. Kata Erwin, sekarang dia pindah ke Kranji, kampung padat tak jauh dari sekolah kami.

"Yuk Jul, ikut kami," ajak Firman setelah Juli bergabung

***

Berjalan kaki dari SMA ke rumah Erwin tak terasa lama dengan guyonan kami sepanjang perjalanan.

Juli yang paling pendiam di antara kami hanya cengengesan jika Erwin dan Firman mulai mengomentari murid perempuan yang kebetulan berjalan searah dengan kami.

"Aduh wangi sekali, jadi ingin ikut kamu loh."

"Cantik, siapa namanya ya ?"

"Kalau tahu rumahmu, pasti menyenangkan ngopi rame-rame di sana."

Ada saja yang menjadi bahan godaan iseng keduanya. Dan bocah-bocah perempuan itu pasti mempercepat langkahnya meninggalkan kami.

"Kami bintang kelas loh di SMP, jangan tinggalkan kami." Seperti tak ada beban, keduanya terus nyerocos berusaha menarik perhatian dengan caranya.

"Brisik Win, bikin mereka takut !" Tentu saja Aku mulai merasa gak enak melihat wajah korban keisengan Erwin dan Firman yang merasa terganggu dengan polahnya.

"Tenang Pras. Lebih baik kita tampil apa adanya," bantah Erwin.

'Kita ?" Aku mulai berbantahan seperti masa lalu kami, "mungkin kamu Win," ujarku lagi sambil tertawa.

"Ah kamu tuh terlalu pasif. Mbok yang rada agresif kalau lihat sesuatu yang menarik. Jaman sekarang harus berani mengemukakan pendapat." Seperti dulu, Erwin tak berubah kengeyelan-nya.

"Pendapat ndasmu !" Aku terbahak lagi mendengar argumen ngawurnya.

Kami mulai berdebat lagi. Masing-masing mempertahankan argumennya

"Tuh rumahku. Home sweet home." Tangan Erwin menunjuk bangunan megah di sela perdebatan kami.

"Wah orang kaya nih," celetuk Firman melihat bangunan yang ditunjuk Erwin.

Tentu saja Aku kagum dengan rumah mewah yang ditunjuk Erwin.

Rumah dua lantai ber cat putih itu terlihat mencolok dengan gaya spanyol yang sedang tren. Dua pilar utamanya gagah menopang kanopi cor yang memayungi teras depannya.

Ada garasi dengan mobil sedan di samping rumah itu. Dua pohon palem merah dan hamparan rumput jepang di halamannya semakin membuat penasaran Aku, Firman, dan Juli.

"Wah pasti sudah ada video nih," celetuk Firman lagi. Dia menyinggung pemutar kaset filem yang sedang in saat itu dan tak semua orang bisa memilikinya.

"Oh pasti. Kebetulan bapak dan ibu pulang sore setiap hari. Kita bebas ngapain saja nanti," pamer Erwin sambil membuka gerbang.

***

Erwin tiga bersaudara, ada Ivan kakaknya dan Dewi adiknya. Selisih mereka hanya dua tahun. Seperti Ibuku dan ibu Erwin, Aku mengenal akrab semua keluarga Erwin.

"Ivan dan Dewi mana Win ?" tanyaku setelah Erwin mengajak kami naik ke lantai dua.

"Gak tahu, paling bentar lagi pada pulang."

"Kamu pindah ke Purwokerto lagi kok gak kabar-kabar sih. Kan kita bisa bantu-bantu kalau tahu," kata Firman. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Sepertinya dia tertarik melihat barang-barang mewah yang baru dilihatnya.

"Suprise dong buat kalian. Aku tuh sengaja gak mau buat repot kalian," ucap Erwin. "Eh buat minum sendiri tuh di sana !" ujarnya lagi sambil menunjuk sudut dekat kamarnya.

"Ok." Firman juga tetap seperti dulu. Selalu cekatan jika Erwin menyuruh ini itu. Mungkin dia merasa sudah banyak dibantu Erwin selama masa kecil kami dulu.

Sebagian barang-barang di lantai dua masih dibungkus kardus. Ada dua kamar di lantai itu. Kamar Erwin bersebelahan dengan kamar Ivan.

"Tuh kardus Man, sudah kusiapkan buatmu. Kupikir kamu masih menguasai lapak parkir alun-alun," kata Erwin. Tangannya menunjuk tumpukan kardus yang terikat rapi di sudut ruangan.

"Wah itu sih cocok buat bisnis kita yang sempat terbengkelai Jul," sahut Firman ke arah Juli.

"Jalan kita habis ini." Juli terlihat senang dengan kesan pertemuan reuni Aku, Erwin, dan Juli.

"Bentar ya, kutinggal ke bawah." Erwin ngeloyor entah kemana saat kami mulai mengemas kardus-kardus yang diberikannya tadi.

"Nanti ambil becak bapakmu Man, kayaknya gak cukup sekali kita memuatnya," kata Juli.

"Ya, kita kumpulkan dulu di bawah. Biar mudah naikin ke becak."

Kami tentu saja sangat bersemangat mengangkut semua kardus tadi ke bawah. Ada sepuluh menit kami naik turun mengeluarkannya.

"Win, aku ambil becak bapak dulu ya." Firman bergegas ke arah alun-alun yang tak jauh dari rumah Erwin untuk meminjam becak bapaknya.

"Jangan lama-lama. Nanti makan siang di sini." Rupanya Erwin tadi meninggalkan kami untuk memesan makanan di rumah makan.

Sungguh, bertemu kawan kecil yang cukup lama terpisah dan tak berubah meninggalkan kesan menyenangkan di hari pertama putih abu-abuku.

Obrolan kami terus berlanjut sambil menunggu kedatangan Firman yang sedang mengambil becak bapaknya ....

***

1
Dhatu Lukita
🌹 untukmu 🤭💪
Dhatu Lukita
kemekel aku bacanya 😄
Wawan: Tengs .... semoga jadi inspirasi buatmu Thor 🤭👍
total 2 replies
Dhatu Lukita
banjir rob itu apaan ya kak
Wawan: Banjir sebab amblasnya tanah dan naiknya permukaan air laut .... Semarang dan Jakarta jadi contoh terkini banjir rob parah ... tengs atensinya
total 1 replies
SANG
Iklan lagi untukmu thor 👍💪
SANG
Lanjut thor👍💪
SANG
Semangat ya thor 👍💪
ginevra
salam juga pras
Aya Ansyar
Semangat terus berkarya Author 👍🏻
SenandikaMaret
percaya diri itu emang harus 🤣
Wawan: Nah kan .... 🤭🤭🤭😍
total 1 replies
asepnya bikin korong jadi irenk🤣
waktu kecil sering gogoh ikan di sawah, dapet seplastik, tapi malah sering lupa dibawa pulang, kerna keasikan maen ... pas diliat lagi dah jadi bangke🤣
ikan melem itu yang kayak apa kak?
jadi inget pas masih angon wedus pas jelas 3 SD🤭
ini cerita authornya kah🤭
Wawan: Hahaha ....simpulkan 🤣
total 1 replies
bjir, raup tayi🤣
kena pecut ekornya
temannya kek nama kakakku bjir🤣
enak tuh daging biawak, kek ayam
kalo anjingku dulu pas SD namanya Bopi, terus pas jalan" ke pameran ada ibu yang manggil bayinya Bopi, kakakku langsung cekikikan🤭
biasanya abis cari ular🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!