NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)

...Ketika Hukum dan Kasih Duduk Berhadapan...

..."Hukum menjaga agar kehidupan tidak kehilangan arah. Kasih menjaga agar hukum tidak kehilangan hati."...

Untuk pertama kalinya sejak Hariara Bolon menancapkan akarnya di langit, hukum dan kasih duduk berhadapan dalam satu lingkaran yang sama.

Pagi itu, Banua Ginjang tidak diselimuti cahaya keemasan seperti biasanya. Langit tetap terang. Namun sinarnya terasa melembut. Seolah seluruh semesta sedang menahan napas.

Tidak terdengar nyanyian Sitabeak Bintang. Parmanurung Rambu menghentikan tarian pergantian malam dan siang. Parhobas Rambu meninggalkan jembatan pelangi untuk pertama kalinya sejak mereka diangkat menjadi penjaga. Bahkan Hariara Bolon menggugurkan daun-daunnya lebih lambat daripada biasanya.

Semesta mengetahui, hari ini bukan sekadar hari persidangan biasa. Hari ini, keputusan yang akan diambil akan mengubah jalan sejarah.

Di bawah naungan Hariara Bolon, akar-akar raksasa kembali membentuk lingkaran sidang.

Namun kali ini, di tengah lingkaran berdiri sebuah batu bening setinggi pinggang orang dewasa. Permukaannya memantulkan warna langit. Di dalamnya mengalir garis-garis cahaya seperti urat kehidupan. Itulah Batu Sipasu-pasu. Batu Kesaksian.

Sejak awal penciptaan, setiap kata yang diucapkan di hadapannya akan ditimbang oleh kejujuran hati.

Bila lahir dari kebenaran, batu itu memancarkan cahaya hangat. Namun bila lahir dari dusta, cahayanya akan memudar.

Keberadaan waktu itu bukan untuk mempermalukan, tetapi lebih untuk mengingatkan setiap makhluk, bahwa semesta selalu mengenali isi hati.

Puluhan Parjaga Holong berdiri mengelilingi lingkaran sidang. Lentera biru keperakan mereka menyala tenang.

Tidak ada tombak. Tidak ada pedang. Tidak ada rantai.

Sebab di Banua Ginjang berlaku satu hukum yang diwariskan sejak musim pertama:

..."Mereka yang datang mempertanggungjawabkan perbuatannya tidak pernah kehilangan martabatnya."...

Ketika lonceng angin berdenting tujuh kali, Deak melangkah memasuki lingkaran sidang. Ia tidak menundukkan kepala karena malu. Tidak pula mengangkat wajahnya karena menantang. Ia hanya berjalan dengan tenang.

Di bahunya masih tersampir Ulos Cahaya pertama yang pernah ditenun Nai Tonun. Corak gunung, akar Hariara dan pohon bercabang tujuh di atas ulos itu berkilau lembut.

Burung Erung terbang rendah di belakangnya. Jonggi bertengger di bahu kiri sang putri. Tidak ada satu pun penghuni Banua Ginjang yang memandang Deak dengan kebencian.

Yang tampak hanyalah pandangan penuh kesedihan. Kesedihan karena mereka mengetahui, apa pun keputusan hari itu, tidak seorang pun akan pulang dengan hati yang sama.

Tak lama kemudian, cahaya memenuhi seluruh lingkaran. Seluruh hadirin berdiri. Mulajadi Nabolon telah hadir. Seperti biasa, tidak seorang pun mampu memandang wajah-Nya sepenuhnya. Yang terlihat hanyalah cahaya yang menenangkan sekaligus menggetarkan jiwa.

Mulajadi Nabolon tidak duduk di atas singgasana. Beliau malah berdiri sejajar dengan seluruh Penjaga Keseimbangan. Karena di hadapan kebenaran, bahkan Sang Pencipta memilih untuk mendengarkan terlebih dahulu.

Ompu Ragidup melangkah ke tengah lingkaran. Beliau meletakkan telapak tangannya di atas Batu Sipasu-pasu. Cahaya lembut segera memancar dari dalam batu. Pertanda bahwa setiap kata yang akan diucapkannya lahir dari hati yang jujur.

Dengan suara yang tenang beliau berkata, "Atas nama Patik Semesta... Sidang Pengadilan Banua Ginjang dibuka."

Lonceng angin berdenting satu kali. Burung-burung berhenti berkicau. Air Terjun Cahaya seolah memperlambat alirannya. Seluruh Banua Ginjang menjadi saksi.

...****************...

Pamajuhon Dakwaan (Pembacaan Dakwaan)

Ompu Ragidup membuka gulungan cahaya. Di dalamnya tertulis Patik Semesta yang diwariskan sejak awal penciptaan.

Beliau membaca perlahan namun jelas, "Deak Parujar, Putri Banua Ginjang. Engkau didakwa telah melanggar Patik Ketujuh. Tidak seorang pun diperkenankan menyentuh Samudra Purba Banua Tonga tanpa perintah Mulajadi Nabolon."

Beliau berhenti sejenak. Lalu melanjutkan, "Engkau juga didakwa, mengabaikan nasihat para Penjaga Keseimbangan, memasuki wilayah yang telah ditetapkan sebagai batas semesta, serta menimbulkan kegelisahan yang mengguncang keseimbangan Banua Ginjang."

Keheningan turun. Tidak ada suara protes. Bahkan tidak ada bisikan yang terhembus.

Ompu Ragidup menatap Deak, "Apakah engkau memahami seluruh dakwaan yang dibacakan?"

Deak melangkah ke Batu Sipasu-pasu. Ia meletakkan telapak tangannya di atas batu itu. Seketika batu memancarkan cahaya yang begitu jernih.

"Aku memahaminya." ujarnya sesaat kemudian.

"Apakah engkau mengakui bahwa engkau menyentuh Samudra Purba?" tanya Ompu Ragidup lagi.

"Aku mengakuinya." jawab Deak dengan sikap yang tetap tenang.

Seluruh hadirin menahan napas. Belum pernah ada seorang pun yang mengakui sendiri pelanggaran yang telah dilakukan secepat itu.

...****************...

Silaon (Eksepsi/Keberatan)

Ompu Ragidup mengangguk, "Sesuai Patik Semesta... Engkau diberi kesempatan menyampaikan keberatan."

Semua memandang Deak. Mereka sempat menduga sang putri akan mencoba membela diri.

Namun Deak justru menggeleng perlahan, "Aku tidak keberatan terhadap dakwaan."

Suara lirih terdengar dari berbagai penjuru. Bahkan Ompu Ragidup tampak terkejut.

Deak melanjutkan ucapannya, "Yang ingin kutanyakan... bukan apakah aku bersalah atau tidak."

Ia memandang seluruh Penjaga Keseimbangan.

"Melainkan... apakah setiap pelanggaran akan selalu dianggap lahir dari hati yang hendak merusak?"

Tak seorang pun segera menjawab.

Deak kembali berkata, "Kalau seorang anak melangkah keluar dari rumahnya, padahal sudah dilarang... karena ia mendengar seseorang meminta pertolongan... apakah itu selalu berarti ia telah berhenti mengasihi rumahnya?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Deak tidak sedang mencari pembenaran. Tidak pula menolak keberadaan hukum itu sendiri.

Ia hanya meminta agar hati juga diberi ruang untuk berbicara.

...****************...

Patik Sipaimahon (Putusan Sela)

Para Penjaga Keseimbangan saling berpandangan. Ompu Tiktik tampak memejamkan matanya, sementara Nai Api menundukkan kepala dan Ompu Sada Uluan menatap Deak dengan mata yang penuh kasih.

Akhirnya Mulajadi Nabolon berbicara. Suara-Nya terdengar lembut. Namun setiap kata yang diucapkannya terasa seperti mengalir ke seluruh akar Hariara Bolon.

"Persidangan akan dilanjutkan. Bukan hanya untuk mencari fakta. Karena fakta telah diakui."

Beliau memandang seluruh hadirin, "Sidang ini akan dilanjutkan untuk mencari kebenaran yang bersembunyi di balik fakta."

Keheningan kembali turun. Namun kini tidak lagi terasa terlalu mencekam. Melainkan penuh harap.

Hari itu, semua menyadari, bahwa hukum semesta tidak hanya bertanya, "Apa yang telah dilakukan?"

Tetapi juga berani bertanya, "Mengapa hal itu dilakukan?"

Lonceng angin kembali berdenting. Pertanda tahap pertama persidangan telah selesai.

Namun semua mengetahui, bagian yang paling berat, baru akan segera dimulai. Karena setelah hukum berbicara, kini giliran hati yang akan menjadi saksi.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II).

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!