Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Dua Sisi
Plaaak!
Plaaak!
Tangan Ryu melayang dengan begitu ringan dan mendarat di pipi keempat pengawal yang ia minta untuk menjaga Gladys.
Keempat orang itu pun hanya diam karena mereka tau, jika mereka salah. Mereka masih merasa beruntung karena Ryu hanya menampar.
Jika itu orang lain, sudah pasti mereka akan ikut di siksa bersama penjahat yang melukai bos mereka.
Ryu segera kembali ke Apartemen saat mendengar kejadian yang menimpa istrinya. Untungnya, saat itu pekerjaannya sudah selesai.
Awalnya Ryu yang baru kembali dari laut pagi itu, ingin beristirahat sembari menghabiskan waktu bersama sahabat - sahabatnya di Barak Militer.
Namun, ia sungguh terkejut kala mengaktifkan ponselnya dan mendapatkan pesan penyerangan yang dialami oleh Gladys.
Ryu pun akhirnya membatalkan rencananya untuk menghabiskan waktu satu hari bersama rekan - rekannya dari militer Jerman.
"Dimana orang - orang itu?" Tanya Ryu pada Boy.
"Ada di ruang rahasia, Pak." Jawab Boy.
Dengan langkah lebar, Ryu segera menuju ke lantai bawah tanah yang ada di Apartemen itu diikuti dengan empat orang pengawalnya.
Ryu masuk ke dalam ruangan yang terasa sangat dingin itu. Disana, ia mendapati tiga orang pria dalam posisi terikat dan hanya mengenakan celana pendek.
Pengawal Ryu sengaja melucuti pakaian yang di kenakan oleh orang - orang itu sebagai awal hukuman. Tentu saja tubuh ketiga pria itu hampir membeku karena di dalam ruang bawah tanah yang sangat dingin itu, tak ada penghangat.
"Shit!" Umpat Ryu. Ia kemudian menendang ketiga pria itu, hingga membuat tiga pria itu menyemburkan darah dan tersungkur.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Ryu yang berbicara dengan bahasa Jerman.
Namun, ketiga pria itu masih saja bungkam. Sama halnya ketika Boy mengintrogasi mereka semalam.
"Cepat katakan, atau saya patahkan leher kalian!" Ancam Ryu dengan tatapan berang.
"Jangan bunuh kami. Kami hanya di bayar oleh orang yang sepertinya berasal dari negara yang sama dengan anda." Jawab salah satu pria.
"Siapa nama orang itu?" Tanya Ryu.
"Kami tidak tau!"
"Cepat katakan siapa orang itu!" Paksa Ryu sambil menjambak salah satu pria hingga kulit kepalanya mengeluarkan darah.
"Sumpah! Kami tidak tau! Kami hanya di bayar untuk mengganggu wanita itu." Jawab si Pria.
"Cih!" Ryu melepaskan cengkramannya pada pria yang sepertinya hanya preman jalanan itu.
"Introgasi ciri - ciri pria yang membayar mereka. Siksa saja kalau mereka tidak mau menjawab. Saya akan kembali ke kamar." Ujar Ryu yang kemudian segera kembali ke kamarnya.
Tak memencet bel, Ryu langsung masuk dengan kartu akses yang ia miliki. Ryu mengintip di kamar dan melihat Gladys sedang tertidur.
Tak langsung menghampiri, Ryu memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai berpakaian, barulah Ryu menghampiri Gladys yang ada di kamar.
Ryu mengusap kepala Gladys. Ia sedikit terkejut kala memegang dahi Gladys yang terasa panas. Gladys yang merasa ada tangan yang mengusap kepalanya, langsung mencekal tangan itu dan hendak memelintirnya.
"Abang!" Ujar Gladys. Ia kemudian melepaskan tangannya yang hendak memelintir tangan Ryu.
"Kapan Abang pulang?" Tanya Gladys.
"Barusan." Jawab Ryu.
"Kenapa gak telfon dulu? Kan aku bisa siapkan makanan." Kata Gladys.
"Gak usah. Nanti beli aja." Jawab Ryu.
"Gimana keadanmu? Lukamu gimana? Kenapa badanmu demam?" Tanya Ryu.
"Lukaku gak dalam. Aku juga gak tau, kenapa tiba - tiba demam kayak gini." Jawab Gladys.
Tak berbicara, namun Ryu langsung membuka perban di tangan Gladys. Ia lalu beranjak dan mengambil obat dari tasnya.
"Pisau itu pasti di beri racun." Kata Ryu setelah melihat luka di tangan Gladys yang membiru dan sedikit kehitaman.
Ryu kemudian mengoleskan salep di luka Gladys dan memberinya obat yang bisa menetralisir racun.
"Istirahat, ya." Titah Ryu setelah kembali membalut luka Gladys. Perlakuannya begitu lembut.
"Bang..."
"Iya."
"Boleh peluk? Sebentar aja." Lirih Gladys. Meski ragu, namun entah mengapa ia sangat ingin mencari rasa aman dan nyaman pada Ryu.
Ryu mengangguk. Ia kemudian membuka tangannya dan menyambut pelukan Gladys. Ryu mengusap lembut kepala Gladys yang berada di dadanya.
Gladys kembali merasakan nyaman dan aman dalam pelukan Ryu. Seolah kini rasa khawatir dan was - was di hatinya menguap begitu aja.
"Mau peluk lama, juga gak apa - apa." Celetuk Ryu yang membuat Gladys hendak melepaskan pelukannya.
Namun, Ryu dengan cepat menahan tubuh Gladys dan justru semakin erat memeluk tubuh istrinya.
"Maaf, ya. Karena Aku harus jalanin misi, kamu jadi di serang kayak gini." Lirih Ryu yang di jawab gelengan oleh Gladys.
"Bukan salah Abang." Jawab Gladys.
"Makasih ya, karena Abang pulang dengan selamat." Lirih Gladys.
Mendengar itu, Ryu pun tersenyum. Namun ia tiba - tiba kembali menetralkan wajahnya saat Gladys melepaskan pelukan.
"Udah makan?" Tanya Ryu yang di jawab gelengan oleh Gladys.
"Aku pesan makanan." Kata Ryu.
"Aku masak aja, Bang. Udah ada bahan masakan di kulkas." Kata Gladys.
"No! Aku pesan aja makanan untuk kita. Kamu istirahat di sini, besok, kalau demam mu belum turun juga, kita ke Rumah Sakit." Kata Ryu yang di jawab anggukan oleh Gladys.
Ryu kemudian mengusap kepala Gladys sebelum meninggalkan istrinya. Di luar, Ryu menunggu pesanan makanannya datang sembari menjawab panggilan telfon dari Boy.
Wajahnya terlihat menegang ketika mendengarkan penuturan dari Boy. Tangannya mengepal dengan erat hingga buku - buku jarinya memutih. Giginya pun gemeretak menahan emosi yang hampir meledak.
"Siapkan peralatan. Aku sendiri yang akan mencarinya." Kata Ryu.
Tepat setelah panggilan telfonnya usai, makanan pesanannya pun sampai. Ryu kemudian menyiapkan makanan dan meletakkannya di meja makan.
Ekspresi wajah kakunya pun sudah berubah kembali lembut saat ia menemui Gladys untuk mengajaknya makan di ruang makan.
"Dys, bangun. Ayo kita makan." Ajak Ryu yang membangunkan Gladys. Tubuh istrinya masih demam dan berkeringat.
Gladys pun mengangguk, ia kemudian bangun dan berjalan dituntun Ryu menuju ke ruang makan.
Keduanya pun makan, meski Gladys tampak tak berselera menyantap makanan di depannya. Gladys tiba - tiba bangun dan mengambil air lalu meletakkannya di sebelah Ryu.
"Aku bisa ambil sendiri." Kata Ryu.
"Rasanya ada yang aneh aja, karna gak lihat air minum di sebelah Abang." Jawab Gladys.
Selain mengambilkan makanan di piring, Ia memang terbiasa menyiapkan minum untuk suaminya.
"Lebih aneh waktu makan gak sama kamu, kemarin." Lirih Ryu.
"Apa, Bang?" Tanya Gladys.
"Gak apa. Makan yang banyak." Kata Ryu untuk mengalihkan perhatian Gladys.
Setelah selesai makan, Ryu membereskan bekas makan mereka lalu kembali menghampiri Gladys yang sedang beristirahat di kamar.
"Dys, Aku mau keluar dulu." Pamit Ryu.
"Abang mau kemana?" Tanya Gladys.
"Ada urusan diluar." Jawab Ryu.
"Lama?" Tanya Gladys yang di jawab gelengan oleh Ryu.
"Secepatnya Aku selesaikan urusannya." Ujar Ryu yang di jawab anggukan oleh Gladys.
"Hati - hati, Bang." Pesan Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kan lebih besar dan lebar 🤣🤣🤣🤣
manisss bgttt tanpa kepura² an....
love you author ku sayang🩷🩷🩷
Jangan per bopoan aja
tp nanti klo Gladys n Ryu dah dalam tahap bucin... lebih seruuuuuu lagi pastinyaaa..
gak sabar mereka bucin🤣