NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Obses seorang Rendra.

“Iya, Ma.”

Jawaban yang Thalia keluarkan membuat Rendra semakin yakin bahwa Thalia yang ia kenal mulai kembali. Kecurigaan yang sempat muncul ke permukaan pun lenyap begitu saja.

“Ren,” panggil Thalia pelan.

“Hm?”

“Soal data Amradita yang semalam kubilang…”

Dahi Anna mengernyit tipis. “Data Amradita?”

Thalia menatap ibu mertuanya dengan sikap ragu yang sengaja ia tampilkan.

“Aku ingin menyusun ulang profil kerjaku, Ma. Kalau nanti benar-benar masuk Dirgantara, aku tidak ingin mempermalukan Rendra.”

Kalimat itu tepat mengenai ego Rendra.

“Memang harus begitu?” tanya Anna. “Kalau membawa nama suami, jangan asal bicara.”

“Karena itu aku ingin belajar dulu, Ma,” jawab Thalia pelan.

Rendra menyandarkan punggungnya, memperhatikan istrinya lekat. “Kamu mau lihat data yang kupakai?”

“Kalau boleh. Bukan bagian proyekmu. Aku hanya ingin tahu bagaimana kamu menyusun profil keluargaku,” jawab Thalia.

Anna mengangguk puas. “Bagus. Minta baik-baik seperti itu. Tidak perlu melawan suami sendiri.”

Thalia mengangguk pelan. “Iya, Ma.”

Rendra tersenyum tipis. “Setelah sarapan, ikut aku ke ruang kerja. Aku pilihkan bagian yang bisa kamu lihat.”

“Terima kasih, Ren.”

Rendra mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Thalia di atas meja. "Tidak perlu berterima kasih, kamu istriku."

Senyum puas di bibir Anna kian terlihat. “Begini jauh lebih baik,” ucap Anna. “Seorang istri memang harus tahu kapan menurunkan ego.”

Thalia tersenyum. Ibu mertuanya melihat dirinya sebagai istri penurut, sementara Rendra menganggap dirinya kembali luluh. Namun mereka berdua tidak tahu, nama Thalia yang tercatat di Dirgantara bukanlah sebagai pelamar baru, melainkan sebagai tamu. Cv miliknya yang sengaja ia tinggalkan hanya untuk membuat Rendra percaya jika ia akan berkerja di Dirgantara dan tetap berada di bawah kendali Rendra.

Tidak satu pun dari mereka sadar, Thalia sedang memakai wajah lama untuk membuka jalan baru.

.

.

Setelah sarapan, Rendra membawa Thalia ke ruang kerja.

Anna turut berdiri. “Mama ikut. Mama ingin tahu apa yang akan kalian bicarakan. Lagi pula, kalau ini menyangkut keluarga, tidak ada salahnya Mama tahu.”

Rendra menghembusan napas pelan, ia sadar, sulit menahan sifat keras kepala ibunya.

Rendra duduk di balik meja, menyalakan komputer, lalu memasukkan kata sandi dengan cepat. Thalia berdiri di sampingnya, sementara Anna duduk di sofa tidak jauh dari meja komputer.

Mata Thalia menangkap beberapa nama file di layar, dan mengunci dalam ingatannya.

DG_Expansion_RP

Simulation_Backup

Amradita_Profile

Jantung Thalia berdetak lebih cepat, namun tetap mempertahankan senyum di bibirnya tetap terpasang.

“Ini yang kupakai,” ucap Rendra sambil membuka satu file PDF. “Hanya data umum. Riwayat bisnis ayahmu, aset yang pernah tercatat, dan beberapa relasi lama.”

Anna mencondongkan tubuh dari sofa. “Banyak juga data keluargamu.”

“Tidak semuanya masih aktif, Ma,” jawab Thalia pelan. “Karena itu aku perlu belajar lagi.”

Rendra tersenyum. “Benar. Kamu cukup pahami bagian dasarnya.”

Ia membuka halaman berikutnya. Tabel nama perusahaan lama, nilai aset, koneksi bisnis, dan catatan potensi dukungan keluarga tampak di layar.

“Kalau nanti ada yang bertanya kenapa nama Amradita masih punya nilai bisnis, aku cukup menjelaskan dari sini?” tanya Thalia.

“Ya. Tapi jangan terlalu jauh," jawab Rendra dengan peringatan.

“Aku takut salah bicara.”

“Makanya tanya aku dulu,” jawab Rendra.

Anna mengangguk puas. “Dengar itu. Jangan malu bertanya pada suami.”

“Iya, Ma.”

Rendra menggeser kursor, hendak membuka file lain, namun segera ia urungkan dan kembali ke file sebelumnya. “Bagian ini saja yang perlu kamu tahu untuk sekarang.”

“Baik," jawab Thalia sengaja tidak bertanya.

“Kalau perlu, nanti aku cetakkan bagian profil ini,” ucap Rendra.

“Boleh?”

“Boleh. Aku sendiri yang akan mencetaknya untukmu," jawab Rendra.

“Aku mengerti.”

Anna tersenyum puas dari sofa. “Nah, begitu. Kalau dari awal kamu bicara baik-baik, Rendra pasti membantu.”

Thalia menoleh pada ibu mertuanya. Setiap kalimat sarkas yang ibu mertuanya ucapkan, tertanam dalam benaknya. Dan beberapa saat lalu, dua orang yang sudah menggunakan nama keluarganya bersikap seolah dirinya-lah yang salah. Mereka masih tidak sadar, siapa yang menjadi benalu.

“Maaf, Ma. Aku memang terlalu emosional kemarin.”

Jawaban Thalia kembali menumbuhkan senyum puas di bibir ibu dan anak yang serakah itu. Padahal di kepala Thalia, tiga nama file itu sudah masuk dalam daftar yang incar termasuk file yang tidak Rendra buka.

DG_Expansion_RP.

Amradita_Profile.

Draft_Formal_Support.

Jalan menuju bukti asli yang ia butuhkan.

.

.

.

Sikap lunak yang Thalia perlihatkan meruntuhkan total kewaspadaan Rendra serta ibu mertuanya. Beberapa saat setelah mereka bertiga keluar dari ruang kerja, Rendra berangkat ke kantor. Sementara ibu mertuanya memilih pergi untuk bekumpul bersama teman sosialitanya.

Dan di sinilah Thalia kini berada. Berdiri di depan pintu ruang kerja Rendra dengan satu tangan berada di knop pintu yang ia dorong perlahan.

Thalia melangkah masuk, lalu berhenti di depan meja. Ia mengamati seisi ruangan, mengingat posisi setiap benda yang ia lihat. Map, pulpen, tumpukan dokumen, termasuk sudut kecil kertas yang mencuat dari laci meja. Setelah beberapa saat, barulah ia menyalakan komputer.

Layar menyala. Kolom sandi muncul.

Jemari Thalia berhenti sebentar di atas keybord. Rendra terlalu percaya diri saat mengajarinya hingga dia lupa Thalia bukanlah wanita bodoh.

Thalia memasukkan sandi yang sudah ia hafal dari gerakan jari Rendra pagi ini. Komputer terbuka dua detik kemudian, menumbuhkan senyum dingin di bibir Thalia.

"Kau lupa satu hal, Ren" gumamnya pelan. "Aku diam bukan karena aku tidak mengerti."

Ia membuka file yang tersimpan di kepalanya. Membaca cepat file pertama yang ia buka, lalu menyalinnya ke flashdisk yang sudah ia siapkan. Kemudian berlanjut ke file yang lain dan melakukan hal serupa.

Setelah selesai mengambil semua yang ia butuhkan, Thalia menghapus jejak akses terakhir sebelum mematikan komputer.

Ia tak selesai sampai di sana. Thalia membuka laci dan lemari, namun tidak menemukan apapun yang bisa diunakan sebagai bukti tambahan. Sampai tatapanya jatuh ke sebuah kotak di sudut meja.

Ia membukanya.

Di dalamnya, ada sebuah map hitam dan amplop coklat. Thalia membuka map hitam lebih dulu. Begitu melihat halaman pertama, jantungnya seakan berhenti berdetak.

Dokumen itu hampir sama dengan yang ada di dalam komputer. Yang membuatnya berbeda adalah, dokumen itu sudah tersemat tandatangan miliknya. Di halaman berikutnya, surat kuasa yang menyatakan bahwa Rendra diberi hak untuk menggunakan nama dan data aset keluarga Amradita demi kepentingan investasi keluarga.

Tangan Thalia mengerat di sisi kertas.

Dugaan Arkana ternyata benar.

Rendra tidak hanya menggunakan namanya, tetapi juga memalsukan tandatangan. Pria itu bahkan sudah menyiapkan bukti palsu untuk menjeratnya. Dan Thalia tahu apa alasannya: Rendra ingin menggunakan dokumen itu untuk mengancam dirinya agar tidak bercerai.

. . ..

. . .

To be continued...

1
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!