Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Malam itu, Kayla duduk di tempat tidurnya dengan diam. Ia memeluk bantal, mengingat kejadian di sekolah tadi. Wajahnya kembali terasa panas.
"Aku malu banget…" bisiknya pelan.
Ia membayangkan teman-temannya… apakah mereka akan menertawakannya? Apakah besok semua orang akan tahu? Perasaan takut mulai muncul lagi.
Mama masuk ke kamar dan duduk di samping Kayla.
"Kamu masih kepikiran ya?" tanya Mama lembut.
Kayla mengangguk.
"Aku takut ke sekolah besok, Ma…"
Mama mengusap kepala Kayla.
"Wajar kalau kamu merasa malu. Tapi bukan berarti kamu harus lari dari itu," kata Mama pelan.
Kayla terdiam.
"Semua orang pasti pernah mengalami hal yang membuat mereka malu. Tapi yang membuat kita kuat itu bukan karena kita tidak pernah malu… tapi karena kita berani menghadapi rasa itu."
Kayla menatap Mama.
"Memangnya aku bisa?" tanyanya ragu.
Mama tersenyum.
"Bisa. Pelan-pelan saja."
Keesokan paginya, Kayla bangun dengan perasaan campur aduk. Ia berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri.
"Aku… bisa," ucapnya pelan, mencoba meyakinkan diri.
Meski masih takut, ia tetap berangkat ke sekolah. Saat sampai di kelas, jantung Kayla berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Beberapa teman melihatnya. Kayla menunduk sebentar… tapi kemudian ia menarik napas dalam dan mengangkat kepalanya lagi. Ia memilih duduk seperti biasa.
Salsa langsung menghampiri.
"Kayla!" sapanya ceria, seolah tidak ada yang berubah.
Kayla sedikit lega.
"Kamu udah baikan?" tanya Salsa.
Kayla mengangguk.
"Iya… makasih ya kemarin."
Salsa tersenyum.
"Teman kan harus saling bantu."
Hari itu berjalan lebih baik dari yang Kayla kira. Ia masih merasa sedikit malu, tapi tidak lagi ingin lari. Ia tetap mengikuti pelajaran, tetap mencoba belajar.
Sepulang sekolah, Kayla berjalan dengan langkah lebih ringan.
"Ma…" panggilnya saat sampai di rumah.
"Iya, Nak?"
"Aku tadi tetap ke sekolah," kata Kayla.
Mama tersenyum bangga.
"Gimana rasanya?"
Kayla berpikir sejenak.
"Masih malu… tapi gak seseram yang aku bayangin," jawabnya.
Mama mengangguk.
"Itu namanya berani."
Kayla tersenyum kecil.
Malam itu, Kayla kembali duduk di meja belajarnya. Ia membuka buku. Kali ini, bukan hanya karena disuruh, tapi karena ia mulai percaya pada dirinya sendiri.
Rasa malu memang tidak nyaman, tapi bukan berarti harus dihindari. Kadang, justru dari rasa malu itulah, kita belajar menjadi lebih kuat dan berani.
Papa duduk bersama Mama di ruang tamu. Wajahnya terlihat serius. Kayla yang penasaran mengintip sedikit dari balik pintu.
"Jadi harus berangkat minggu depan?" tanya Mama pelan.
Papa mengangguk.
"Iya… ada urusan bisnis di luar kota. Mungkin agak lama," jawab Papa.
Malam itu, saat makan bersama, suasana terasa sedikit berbeda.
"Kayla…" panggil Papa.
"Iya, Pa?"
"Papa mau bilang sesuatu."
Kayla langsung berhenti makan. Papa tersenyum, meskipun terlihat berat.
"Papa harus pergi ke luar kota untuk kerja. Ada urusan bisnis yang penting."
Kayla menunduk.
"Perginya lama, Pa?" tanyanya pelan.
"Mungkin beberapa minggu," jawab Papa.
Sendok di tangan Kayla berhenti. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Keesokan harinya, Papa mulai menyiapkan barang-barang. Koper diletakkan di ruang tamu. Kayla hanya memperhatikan dari jauh.
"Kayla, sini," panggil Papa.
Papa dan Kayla berbincang dengan hangat.
Hari keberangkatan pun tiba. Pagi itu, suasana rumah terasa haru. Papa mengangkat koper. Mama berdiri di dekat pintu. Kayla memeluk Papa erat.
"Papa cepet pulang ya…" ucap Kayla dengan suara bergetar.
"Iya, Nak," jawab Papa.
"Jangan lupa belajar," tambah Papa sambil tersenyum.
Kayla mengangguk, meskipun matanya mulai berkaca-kaca. Kayla mendekat pelan. Papa duduk di sampingnya. Mobil pun perlahan pergi. Kayla berdiri di depan rumah, melihat sampai mobil itu hilang dari pandangan. Ia merasa kosong. Hari-hari setelah itu terasa berbeda. Tidak ada suara Papa di rumah. Tidak ada yang bertanya, "Hari ini gimana?" Kayla mulai merasa lebih sendirian.
Hari yang berat bagi Kayla berlalu, rasa rindu pada papa dilampiaskan dengan cara menggunakan baju papa saat tidur. Bagi Kayla mencium aroma papa yang tertempel di baju membuat nya merasa dekat dengan papa. Beberapa minggu berlalu, papa yang melakukan bisnis pulang dan sampai di rumah pada malam hari. Mama tetap terjaga sampai papa tiba di rumah.
Hari-hariku masih dipenuhi hal-hal sederhana bermain, belajar seadanya, dan tentu saja… bergantung pada Kak Nadya.
Kak Nadya bukan cuma kakak bagiku.
Dia seperti teman, guru, sekaligus tempatku bercerita. Kalau aku tidak mengerti PR, aku akan lari ke kamarnya.
"Kak, ini gimana sih?" tanyaku suatu sore sambil membawa buku.
Kak Nadya tersenyum, lalu duduk di sampingku.
"Sini, Kak ajarin pelan-pelan ya."
Dan entah kenapa, kalau dia yang ngajarin, semuanya terasa lebih mudah. Tapi suatu hari, suasana rumah terasa berbeda. Mama dan Papa terlihat sibuk. Ada koper besar di ruang tamu. Aku yang masih kecil hanya memperhatikan dengan bingung.
"Mau ke mana?" tanyaku polos.
Mama tersenyum, "Kak Nadya mau kuliah, Nak."
Aku terdiam.
"Kuliah?"
"Iya… Kakak harus pergi ke luar kota," jawab Papa.
Hatiku langsung terasa aneh. Pergi? Ke luar kota? Aku Kayla bertanya-tanya. Malam itu, aku masuk ke kamar Kak Nadya. Dia sedang merapikan baju ke dalam koper.
"Kak… kamu mau pergi lama?" tanyaku pelan.
Kak Nadya berhenti sejenak, lalu menatapku.
"Iya, Kay… Kakak harus kuliah."
Aku mendekat.
"Kalau Kakak pergi… nanti aku belajar sama siapa?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Kak Nadya tersenyum, tapi matanya sedikit berkaca-kaca.
Hari keberangkatan pun tiba. Rumah terasa lebih sepi, walaupun semua orang ada. Aku berdiri di dekat pintu, melihat koper Kak Nadya sudah siap dibawa.
"Kak…" panggilku pelan.
Kak Nadya langsung memelukku. Aku balas memeluknya erat.
Mobil mulai berjalan. Aku berdiri di depan rumah, melambaikan tangan. Sampai akhirnya mobil itu hilang dari pandangan.
Dan saat itu…
aku benar-benar merasa kehilangan. Sejak saat itu, aku mulai mencoba.
Bukan karena aku sudah pintar…
Tapi karena aku tidak ingin terus bergantung.
Aku mulai membuka buku sendiri. Mencoba memahami pelajaran, walaupun sering salah.
Suatu malam, ponsel Mama berbunyi.
"Panggilan video dari Kak Nadya," kata Mama.
Aku langsung berlari.
"Kak!" teriakku.
Di layar, Kak Nadya tersenyum.
"Gimana, Kayla?"
Aku tersenyum, meskipun sedikit sedih.
"Aku lagi belajar… walaupun susah," jawabku.
Kak Nadya tersenyum bangga.
"Itu baru adik Kakak."
Sejak saat itu, Kayla mengerti satu hal:
Kadang, orang yang kita sayang harus pergi bukan untuk meninggalkan kita, tapi untuk membuat kita belajar berdiri sendiri.
Sejak Kak Nadya pergi, hari-hariku memang terasa lebih sepi.
Tapi perlahan… sesuatu mulai berubah.
Aku mulai terbiasa duduk sendiri di meja belajar. Membuka buku tanpa harus disuruh.
Walaupun sering mengeluh, aku tetap mencoba.Banyak hal yang Kayla pelajari dalam hidupnya, waktu berganti, bulan dan tahun pun berganti. Kini Kayla sudah duduk di bangku kelas 6 SD, masa-masa bersama dengan teman-teman tidak lama lagi sebelum pada akhirnya membawa mereka pada perpisahan.