NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Hari Pertama Kerja

Pagi pertama Aurel di rumah itu datang jauh sebelum matahari benar-benar tinggi. Ia terbangun bahkan sebelum alarm kecil di ponselnya berbunyi.

Aurel hanya menatap langit-langit kamar sambil berkedip pelan. Semalam ia terlalu lelah sampai tertidur begitu saja, dan pagi ini rasa asing itu datang lagi. Kasur yang empuk dan kamar yang terlalu rapi, dinding bersih berwarna krem.Tidak ada suara ayam berkokok dari belakang rumah yang ada hanya kesunyian besar.

Aurel langsung duduk. Dia benar-benar sadar sudah bukan lagi di rumahnya, sudah ada di Jakarta, di rumahnya keluarga Arvano.

Perutnya menegang sedikit. Hari ini hari pertamanya bekerja. Bukan membantu ibu dan bukan sekadar beres-beres rumah sendiri. Hari ini, untuk pertama kalinya, Aurel benar-benar merasa seperti seseorang yang sedang memulai hidup baru.

Ia cepat-cepat merapikan rambut, mencuci muka, lalu keluar kamar pelan-pelan. Rrumahnya masih sepi. Langkahnya Aurel otomatis mengecil, takut membuat suara terlalu keras.

Begitu sampai di dekat dapur, aroma masakan langsung menyambutnya. Dan entah kenapa dada Aurel terasa sedikit lega. Karena setidaknya, ada sesuatu yang terasa akrab.

Di dapur, Feni sudah lebih dulu sibuk. Mengenakan celemek sederhana, rambutnya digelung seadanya. Tangannya cekatan memotong sayur sambil sesekali mengecek panci di atas kompor.

Aurel langsung mendekat. “Bibi Feni.”

Feni menoleh, lalu tersenyum kecil. “Eeh, sudah bangun? Cepat juga.”

Aurel mengangguk. “Maaf, Aurel takut kesiangan.”

Feni tertawa pelan. “Bagus. Hari pertama memang biasanya begitu.”

Aurel berdiri sebentar, lalu buru-buru berkata, “Ada yang bisa Aurel bantu?”

Feni menatapnya beberapa detik, seolah menilai. “Bisa, tolong cuci sayur itu terus ambil piring di lemari sebelah.”

Aurel langsung bergerak cepat. Tangannya cekatan mencuci sayur, meniriskan, lalu menata piring di meja kecil dapur. Awalnya masih canggung, tapi semakin lama tubuhnya mulai menyesuaikan.

Dan itu membuat Feni diam-diam memperhatikan.

“Lumayan juga kamu,” katanya.

Aurel menoleh. “Hah?”

“Biasanya anak baru suka bingung dulu, tapi kamu enggak terlalu kikuk.”

Aurel tersenyum tipis. “Dari kecil biasa bantu Ibu.”

Kata itu sederhana, tapi membuat Feni mengangguk pelan. “Pantas.”

Setelah urusan dapur agak selesai, Feni menyeka tangan. “Kamu bersihkan ruang tamu dulu ya. Nanti sebentar lagi Bu Indah turun.”

“Iya, Bi.” Aurel mengambil kain lap dan mulai berjalan ke ruang tamu. Ruang itu begitu luas sampai dia masih belum terbiasa. Sofa besar berwarna netral, meja kaca yang mengkilap, vas bunga segar di sudut ruangan. Semuanya terlihat mahal.

Aurel berjalan pelan sambil mulai mengelap meja.

Ia berusaha hati-hati, sangat hati-hati. Takut menjatuhkan sesuatu, takut membuat kesalahan dan takut terlihat bodoh.

Saat ia sedang fokus membersihkan meja kecil di dekat tangga, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.

Tok. Tok. Tok.

Aurel spontan mendongak. Seorang wanita turun dengan langkah anggun. Yaitu Indah yang sudah rapi. Kemeja putih, rok panjang elegan, rambut tertata rapi, dan wajah yang tampak segar.

Begitu melihat Aurel, senyum kecil muncul di wajahnya. “Selamat pagi, Aurel.”

Aurel langsung menunduk sopan. “Selamat pagi, Bu.”

Feni yang keluar dari dapur juga ikut menyapa. “Pagi, Bu.” Indah mengangguk. “Pagi.”

Lalu Indah melihat sekeliling sebentar. “Kalian sudah mulai kerja dari pagi ya.”

Feni menjawab, “Iya, Bu. Biar nanti lebih ringan.” Indah tersenyum.

“Aurel, kamu enggak usah terlalu tegang yang santai saja.” Ucap Indah.

“Iya, Bu.” Sahut Aurel.

Tapi jujur kata santai terasa sulit dilakukan.

Indah berjalan mendekat meja makan. “Nanti aku berangkat kerja, tapi mau sarapan dulu, masih nunggu Pak Bagaskara dan Arvano turun.”

“Iya, Bu,” jawab Feni.

Setelah itu Aurel kembali ke pekerjaannya. Namun kini dia bekerja sambil lebih waspada, Karena ternyata penghuni rumah mulai turun satu per satu.

Belum lama Aurel melap sisi meja berikutnya, terdengar lagi suara langkah kaki. Kali ini lebih berat, lebih tegas.

Aurel menoleh, seorang pria paruh baya turun dari tangga. Tubuh yang tegap, wajah serius dan tatapan tajam. Aura pria itu berbeda, lebih dingin, lebih menekan.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari bawah tangga. Tatapannya tertuju pada Aurel. “Siapa kamu?” Suara itu datar, tidak keras. Tapi cukup membuat Aurel menegang.

Aurel buru-buru menunduk. “Saya Aurel, Pak.”

“Baru?” ucap Bagaskara. “Iya, Pak.” Sahut Aurel dengan tersenyum.

Bagaskara masih menatap. “Kerja di sini?”

“Iya, Pak, saya menggantikan Ibu saya. Freya. Ibu saya biasanya kerja di sini, tapi beliau sedang sakit sakitan.” Hening beberapa detik. Aurel sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Lalu Bagaskara mengangguk tipis. “Oh.” Hanya itu, tidak ada senyum, tidak ada basa-basi. Setelah itu pria itu langsung berjalan ke ruang makan. Aurel diam di tempat.

Baru setelah Bagaskara benar-benar pergi, ia bisa mengembuskan napas.

Feni muncul dari dapur, menahan senyum. “Takut ya?”

Aurel menoleh cepat. “Kelihatan ya, Bi?” kata Aurel yang bingung.

“Sedikit.” Ucap Feni sambil tertawa kecil.

Aurel menelan ludah. “Pak Bagaskara, serius sekali.”

Feni terkekeh. “Memang.”

Aurel baru mau menjawab, tapi ada suara langkah kaki terdengar lagi. Kali ini Entah kenapa, suasananya terasa berbeda. Langkah itu tenang, tidak tergesa. Tapi, justru membuat udara seperti berubah.

Tok. Tok. Tok.

Aurel mendongak dan untuk sesaat ia lupa bernapas. Seorang pria turun dari tangga. Tinggi, bahunya tegap, kemeja gelap yang rapi, rambut sedikit berantakan tapi tetap terlihat mahal dan wajahnya terlalu dingin, terlalu tenang. Tapi justru itu yang membuat tatapannya terasa tajam.

Pria itu menuruni tangga, lalu langkahnya melambat. Tatapannya jatuh tepat ke Aurel. Aurel juga menatap balik, hanya beberapa detik. Tapi rasanya terlalu lama.

Aurel buru-buru menunduk. Jantungnya berdebar aneh. Arvano tidak mengatakan apa-apa sama sekali.

Arvano hanya menatap sebentar lalu langsung berjalan melewati Aurel menuju ruang makan.

Begitu pria itu lewat, Aurel baru sadar tangannya masih menggenggam kain lap terlalu erat.

Saat suara kursi dari ruang makan mulai terdengar, Aurel tetap berdiri beberapa detik. Entah kenapa tatapan tadi masih tertinggal di kepalanya. Ia belum pernah bertemu orang seperti itu, yang dingin, diam. Tapi, justru membuat orang otomatis ingin menjauh.

Aurel menggeleng kecil. Jangan aneh-aneh. Ia datang ke sini untuk kerja bukan untuk memikirkan anak majikannya.

Ia kembali mengelap meja, namun telinganya tanpa sadar menangkap suara samar dari ruang makan.

“Ma, itu siapa?”suara Arvano. Nada datar tapi jelas.

Indah menjawab, “Aurel. Anak Freya. Freya lagi sakit, jadi dia yang ganti.”

Hening sebentar, kemudian suara Arvano lagi. “Masih muda.”

Indah terdengar santai. “Iya. Tapi, kelihatannya rajin.”

Aurel menunduk. Telinganya panas. Ia tidak tahu kenapa, mungkin karena baru pertama kali dirinya dibicarakan orang-orang seperti mereka.

Dari ruang makan terdengar kursi bergeser. Sarapan tampaknya selesai. Aurel buru-buru kembali fokus.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar lagi. Bagaskara keluar duluan, kemudian Indah, lalu Arvano. Mereka semua sudah siap berangkat kerja.

Indah tersenyum ke arah Aurel. “Aurel, lanjutkan saja ya. Kalau ada apa-apa tanya Feni aja.”

“Iya, Bu.” Sahut Aurel Sambil Tersenyum lebar.

Bagaskara hanya lewat tanpa bicara dan Arvano, saat melewati ruang tamu, pria itu sempat melirik Aurel sekali lagi. Hanya sekilas tapi cukup membuat tangan Aurel berhenti bergerak.

Lalu Arvao pergi. Pintu depan tertutup dan rumah itu mendadak terasa lebih sepi.

Begitu suara mobil benar-benar menjauh, Aurel menoleh ke Feni. “Bibi.”

Feni sedang membawa nampan kosong dari ruang makan. “Hm?”

Aurel mendekat sedikit. “Itu yang tadi—”

Feni mengangkat alis. “Yang mana?”

Aurel sedikit salah tingkah. “Yang bapak sama yang… yang tadi,”

Feni tertawa pelan. “Pak yang serius itu Pak Bagaskara. Suami Bu Indah.”

Aurel mengangguk cepat. “Kalau yang satunya”

“Itu Arvano.” Feni melanjutkan, “Anaknya. Sekarang kerja di kantor juga. Di PT Argas.”

“PT Argas” gumam Aurel.

“Iya, Perusahaan keluarga mereka.”

Aurel diam beberapa detik, kemudian pelan-pelan mengangguk.

Pantas saja. Aura mereka saja sudah seperti bos.

Feni menyikut lengannya Aurel dengan pelan.“Kenapa? Kaget?”

Aurel langsung gelagapan. “Enggak, cuman…”

“Cuma apa?”

Aurel cepat-cepat menggeleng. “Enggak apa-apa, Bi.”

Feni tersenyum penuh arti. Tapi tidak melanjutkan.

“Sudah, lanjut kerja. Nanti kalau kamu bengong terus, kerjaannya enggak selesai.”

Aurel langsung kembali memegang kain lap. “Iya, Bibi.”

Aurel kembali membersihkan ruang tamu. Tapi, kali ini Pikirannya tidak benar-benar tenang, karena sekarang ia tahu. Pria dingin yang tadi menatapnya

bukan orang biasa, dia Arvano. Anak pemilik rumah, calon pewaris perusahaan besar.

Dan seseorang yang entah kenapa baru beberapa detik dilihat saja sudah membuat dada Aurel terasa aneh.

Menjelang siang, ruang tamu akhirnya selesai dibersihkan. Aurel berdiri sebentar, menatap hasil kerjanya. Rapi, bersih. Tapi, pikirannya masih belum serapi ruangan itu. Ia berjalan ke arah jendela besar. Dari sana, ia bisa melihat gerbang depan.

Mobil hitam keluarga itu sudah tidak ada. Rumah kembali tenang. Aurel mengembuskan napas panjang.

Hari pertamanya belum selesai. Tapi, Aurel sudah merasa seperti masuk ke dunia yang terlalu jauh dari dirinya. Yaitu dunia orang-orang kaya dan dunia orang-orang dingin.

Namun Aurel belum tahu, tatapan pagi itu ternyata bukan hanya Ia yang mengingat. Di dalam mobil menuju kantor, Arvano duduk diam di kursi belakang. Bagaskara sedang bicara sesuatu tentang rapat pagi. Indah sesekali menanggapi.

Tapi Arvano, tatapannya justru kosong menatap ke luar jendela.

Terus, entah kepada siapa, Arvano berkata pelan,

“Anak baru itu…” Indah menoleh. “Kenapa?”

Arvano tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu, baru kemudian Arvano berkata, “Enggak apa-apa.” Tapi jauh di dalam pikirannya, Wajah gadis desa yang tadi berdiri di ruang tamu itu entah kenapa masih belum hilang.

Dan tanpa Aurel sadari, itu baru awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!