Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Welcome back, Baby!
Dalam perjalanan pulang, Geanetta tidak pernah berhenti bercerita. Suara kecil yang selama tiga bulan terakhir ini sangat Ezra rindukan, kini akhirnya bisa ia dengar kembali secara langsung. Setiap cerita yang mengalir dari bibir mungil itu terdengar begitu polos dan jujur, menunjukkan bahwa bocah itu telah mendapati kembali tempat nyamannya untuk berceloteh.
"Om Ezra harus segera bertemu Mami deh. Nanti hadiahnya juga dibagikan ke Mami yang lainnya ya," ujar gadis kecil itu yang kini duduk dengan nyaman di pangkuan Ezra.
"Hmm, tapi Om tidak membeli banyak hadiahnya," sahut Ezra, sengaja memancing reaksi keponakannya.
"Haihh, jangan pelit-pelit, Om! Nanti deh kalau Anet sudah dewasa, Anet ganti semua uang hadiahnya!" protes gadis kecil itu tidak terima.
Ezra terkekeh kecil mendengar jawaban ketus tersebut. Rasa capek akibat perjalanan panjang di pesawat mendadak sirna begitu saja, berganti dengan rasa antusias untuk terus menggoda gadis kecil di pangkuannya ini.
"Memangnya nanti kalau sudah dewasa, Anet mau bekerja di mana biar bisa mendapat uang untuk menggantinya?" tanya Ezra jenaka.
"Hmm di mana ya? Nanti Anet gambar Oma deh, terus gambarnya dijual. Kan Anet sekarang sudah pintar menggambar," sahut Anet dengan penuh percaya diri.
"Kenapa tidak menggambar Om Ezra saja? Aku kan tampan, keren, dan berkarisma. Pasti akan sangat laku tuh lukisannya kalau Anet menggambar wajah Om Ezra. Semua cewek pasti akan berebut untuk membelinya," ujar pria itu dengan percaya diri tinggi sembari mempromosikan dirinya sendiri.
Geanetta langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak mau ah. Anet tidak mau kalau ada banyak orang yang suka sama Om Ezra," tolaknya polos.
"Hahaha! Pasti takut tersaingi ya? Dasar bocil!" ejek Ezra lalu tertawa lepas, gemas dengan sifat posesif keponakan kecilnya itu.
Bukan ke rumah Gallelio, Ayuna ternyata membawa mobilnya langsung balik ke rumah utama Alastar. Keputusan itu diambil atas perintah Ezra yang hanya ingin segera pulang dan mengistirahatkan diri. Perihal melihat istri baru kakaknya yang diceritakan oleh Geanetta dengan sangat antusias, Ezra meyakini wanita itu pasti sosok yang sangat baik karena berhasil mengambil hati keponakannya, bahkan bisa meluluhkan kakaknya yang sudah lama menduda.
Besok-besok masih ada waktu, pikirnya santai. Lagipula tubuhnya sudah terlalu capek dan butuh tidur untuk memulihkan tenaga karena besok ia harus langsung kembali masuk ke sekolahnya.
.
.
.
"Oh ya, Bapak mulai bekerja sama Papa saya sejak kapan?"
Di mobil lain yang bergerak menjauh dari area bandara, Clara masih asyik bicara dengan sang sopir. Ia bertanya-tanya tentang banyak hal yang ia lewatkan selama dirinya berada di Inggris.
"Baru beberapa minggu, Nona," jawab sopir itu datar dengan pandangan yang tetap fokus menatap jalanan di depan.
Clara mengangguk singkat. Selama beberapa saat ia terdiam sembari menikmati pemandangan jalanan sore yang padat, sebelum akhirnya kembali bertanya karena rasa penasaran dan janggal yang mulai mengusik benaknya. "Pak, Papa dan Mama saya ke mana ya? Tiba-tiba saja ponsel mereka tidak pernah aktif sejak beberapa hari terakhir?"
Sang sopir melirik sekilas ke arah kaca spion tengah, memperhatikan Clara yang kembali fokus ke layar ponselnya setelah melontarkan pertanyaan tersebut. Pria itu menarik sudut bibirnya tipis, membentuk senyuman misterius. "Itu... mereka ada di rumah, Nona," jawabnya santai.
Namun, keanehan mulai dirasakan oleh Clara begitu menyadari mobil yang membawanya sama sekali tidak menuju ke arah kediamannya. Kendaraan roda empat itu justru berbelok arah, entah ke mana tujuannya.
"Loh, Pak. Ini kita mau ke mana? Kok tidak ke arah rumah saya?" tanya gadis itu dengan nada suara yang mulai terdengar waspada dan panik.
Ia terus melihat ke arah depan, menangkap pantulan senyum aneh dari sang sopir yang terlihat melalui kaca spion.
Sumpah? Ini aku mau dibawa ke mana? Mama, tolong! teriak batin Clara. Ia menggenggam ponselnya erat-erat dengan wajah yang mulai pucat pasi.
"Tidak perlu takut, Nona. Saya berbelok arah karena ingin singgah sebentar di supermarket di depan," ujar sopir itu menenangkan setelah menyadari perubahan ekspresi Clara.
"Ouh..." Gadis itu menghela napas kasar, merasa sedikit lega mendengar kalimat sang sopir.
Namun, rasa lega itu langsung sirna dan wajahnya kembali memucat saat bangunan supermarket yang dimaksud justru dilewati begitu saja tanpa ada niat untuk berhenti.
"Pak, stop! Berhenti, Pak!" ujar Clara yang kini mulai panik setengah mati. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah jendela mobil, berniat mencari jalan keluar, namun seluruh pintu mobil telah dikunci otomatis dan kendaraan itu sama sekali tidak melambat.
"Pak! Bapak ini siapa sebenarnya?!" teriak gadis itu histeris sembari membuka ponselnya dengan terburu-buru. "Berhenti, Pak! Berhenti!"
Pekikan Clara yang memekakkan telinga akhirnya membuat sopir itu memutuskan untuk menepi sebentar ke bahu jalan.
Dengan tangan yang gemetaran hebat, Clara mencoba mencari kontak yang bisa dihubungi. Nomor papa dan mamanya kembali ia hubungi dengan dada yang naik turun memburu, namun hasilnya masih tetap sama, tidak aktif.
Kemudian, tepat saat jemarinya hendak menyentuh nomor Ezra untuk mencari bantuan, sang sopir yang sengaja menepi agar bisa dengan leluasa bergerak langsung membalikkan badan. Pria itu merebut paksa ponsel Clara saat gadis itu masih menunduk cemas.
"Saya tidak akan membiarkanmu menghubungi siapa pun!" ujar pria itu tegas.
Ia langsung mematikan daya ponsel Clara, lalu meletakkannya begitu saja di atas dasbor mobil sebelum kembali memegang kendali kemudi.
Clara menangis seketika. Ia menggedor-gedor kaca mobil dengan histeris, berharap ada orang di luar sana yang melihat dan menolongnya. Namun, ia tidak mengetahui bahwa kaca mobil tersebut sangat gelap, sengaja didesain khusus agar apa pun yang terjadi di dalam tidak akan bisa dilihat oleh orang luar.
"Pak, tolong... Tolong berhenti!" isak Clara memohon dengan derai air mata.
"Kita belum sampai di tujuan, Nona. Tenang saja, saya tidak akan berbuat macam-macam, dan kamu akan segera bertemu dengan kedua orang tuamu nanti," ujar sang sopir dingin.
Clara tidak memercayai ucapan itu dan masih terus menangis, namun seluruh usahanya sia-sia. Hingga akhirnya, mobil itu berbelok masuk ke dalam sebuah pekarangan kediaman yang tampak sangat mewah dari luar.
Clara dipaksa turun dan dibawa masuk oleh sang sopir melalui akses halaman belakang, berjalan menuju ke sebuah gudang tua yang berdiri sendirian tidak jauh dari bangunan utama rumah mewah tersebut.
.
.
Bugh!
"Welcome back, Baby!"
Begitu tubuhnya didorong kasar ke dalam saat pintu terbuka, suara sambutan yang terdengar sangat familier langsung memenuhi gendang telinga Clara yang terjatuh terduduk di atas lantai semen yang dingin.
Gadis itu mendongak pelan dengan sisa kekuatan yang ia miliki. "Delon... kamu?!" desis Clara dengan tatapan tajam yang sarat akan rasa benci.
Ia melihat cowok itu berjalan mendekat ke arahnya. Wajahnya dihiasi senyuman, sebuah kilat senyum predator yang tampak siap menerkam siapa pun dan kapan pun. Langkah kakinya bergerak pelan, seolah sengaja mengeruk lantai dingin itu untuk menciptakan ketakutan yang lebih dalam.
"Iya, aku. Bagaimana rasanya tinggal di luar negeri, Baby?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...