"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sindiran Alat Kupas Padi dan Pangeran Agung yang Tersisih
Begitu langkah kaki Ibu Suri Indira dan para pengawalnya tidak lagi terdengar, topeng ketenangan Selir Yasmin pecah berkeping-keping.
Dengan mata yang memerah menahan murka, ia meraih vas porselen langka di atas meja dan menghantamkannya ke lantai hingga hancur menjadi serpihan tidak berbentuk.
PRANGGG!
"Sialan! Wanita tua itu benar-benar keterlaluan!" desis Selir Yasmin, napasnya memburu kaku.
Ia berbalik, menatap Yovan dengan pandangan menuntut.
"Yovan, jelaskan pada Ibu! Kenapa Ibu Suri begitu peduli dan mati-matian melindungi Aurellia sekarang?! Bukankah dulu dia sangat membenci gadis itu? Jika bukan karena Alistair yang selalu pasang badan, Aurellia sudah habis di tangan Ibu Suri sejak lama! Tapi kenapa sekarang situasinya berbalik?!"
Yovan yang duduk menunduk hanya bisa menggelengkan kepala, wajahnya dipenuhi kebingungan yang sama.
"Aku juga tidak tahu, Ibu. Aurellia berubah drastis dalam beberapa hari ini. Dia bukan lagi Aurellia yang kukenal. Apakah karena perubahan sikapnya itu yang membuat Ibu Suri ikut melunak?"
Selir Yasmin mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, Yovan! Jangan biarkan dia menjadi batu sandungan kita lebih lama lagi. Perihal hukumanmu di pengadilan, biar Ibu yang mencari cara agar kamu bisa terbebas. Sekarang, Ibu harus menghadap Raja."
Dengan langkah anggun yang dipaksakan untuk menutupi kekesalannya, Selir Yasmin berjalan menyusuri koridor istana barat.
Namun, di tengah jalan, langkahnya terhenti ketika melihat sesosok wanita muda yang sedang berjalan berlawanan arah sambil membawa sebuah benda kayu aneh di tangannya.
Itu adalah Selir Keempat, Selir Luvania. Sebagai selir termuda, Luvania terkenal dengan sifatnya yang energik, murah senyum, dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Di tangannya saat ini terdapat sebuah alat mekanis sederhana ciptaannya sendiri, sebuah alat engkol kayu yang dirancang untuk mengupas kulit padi dengan cepat dan hemat tenaga.
"Ah, Kakak Yasmin," sapa Luvania dengan senyum ceria tanpa beban saat mereka berpapasan.
Yasmin melirik alat kayu di tangan Luvania dengan tatapan meremehkan.
"Apa lagi yang sedang kamu lakukan, Luvania? Membawa mainan kayu murahan seperti itu di lingkungan istana? Sungguh membuang-buang waktu dan tidak mencerminkan martabat seorang selir kerajaan."
Luvania tidak tersinggung. Ia justru terkekeh pelan, memutar engkol kecil pada alatnya dengan santai.
"Sama sekali tidak membuang waktu, Kakak. Jika alat kupas padi ini dikembangkan dalam skala besar, para buruh tani kerajaan tidak perlu lagi menumbuk padi sampai punggung mereka patah. Ini namanya efisiensi kerja."
Luvania melangkah melewati Yasmin, namun sebelum menjauh, ia menoleh sedikit sambil melemparkan senyum manis yang mengandung pukulan telak.
"Lagipula, Kak... menurutku, menghabiskan waktu untuk membuat alat yang bermanfaat bagi orang banyak jauh lebih baik, daripada sibuk mencari cara agar terlihat cantik tapi dengan merugikan nyawa orang lain."
DEG. Langkah Yasmin membeku. Rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang hampir meledak karena sindiran yang begitu spesifik mengenai ritual perbatasan.
"Dasar wanita tidak tahu diri!" desis Yasmin tajam, menatap punggung Luvania yang berjalan menjauh menuju kediaman Raja dengan perasaan dongkol setengah mati.
***
Sementara itu, di paviliun medis, perlahan-lahan kelopak mata Lia bergerak. Rasa sakit di kepalanya sudah jauh berkurang berkat ramuan dari Tabib Agung.
Begitu matanya terbuka sepenuhnya, ia tidak melihat langit-langit kamar yang sepi, melainkan dua wajah wanita anggun yang menatapnya dengan binar mata penuh kecemasan.
"Oh, syukurlah, Nak! Kamu sudah sadar!" seru Permaisuri Isadora lembut, langsung membenarkan posisi bantal Lia.
"Aurellia, jangan banyak bergerak dulu. Tubuhmu masih sangat lemah setelah menghadapi singa-singa kelaparan itu," timpal Ibu Suri Indira, tangannya yang hangat mengusap dahi Lia dengan kasih sayang seorang nenek yang tulus.
Lia mengerjapkan matanya, agak linglung melihat perhatian yang begitu melimpah.
Wah, gue berasa kayak anak emas yang baru pulang setelah menang lomba cerdas cermat tingkat nasional, batin Lia, senyum lemahnya terkembang di wajahnya yang pucat.
Di sudut ranjang, Alistair berdiri dengan semangkuk bubur hangat dan sendok di tangannya. Melihat istrinya sudah sadar, Alistair melangkah maju, berniat untuk menyuapi Lia sendiri, sebuah bentuk perhatian langka yang sengaja ia siapkan.
Namun, baru saja Alistair mengambil satu langkah, tubuhnya langsung dihalangi oleh bahu Ibu Suri Indira.
"Alistair, pinggirkan buburmu. Biarkan Permaisuri yang menyuapinya, tanganmu yang besar itu pasti kasar dan tidak becus menyuapi orang sakit," usir Ibu Suri tanpa perasaan.
"Tapi, Nenek... aku suaminya," protes Alistair, suaranya terdengar sedikit kaku dan tidak terima.
"Suami apa yang membiarkan istrinya sampai batuk darah di luar sana?" sahut Permaisuri Isadora sambil merebut mangkuk bubur dari tangan Alistair dengan gerakan cepat.
"Sudah, kamu berdiri saja di pojokan sana. Jangan mengganggu kami merawat Aurellia."
Alistair membeku di tempatnya. Pangeran Agung yang ditakuti di medan perang dan disegani di ruang sidang itu, kini mendadak kehilangan wibawanya dan tersisih ke sudut ruangan seperti pajangan baju zirah kuno.
Wajahnya ditekuk kaku, memancarkan aura kesal karena perhatiannya pada Lia diabaikan begitu saja oleh nenek dan ibunya sendiri.
Lia yang melihat pemandangan konyol itu dari atas ranjang tidak bisa menahan tawa kecilnya. Wajah pucatnya perlahan-lahan merona kemerahan karena geli melihat ekspresi cemberut Alistair yang sangat langka.
Melihat senyuman Lia kembali dan rona merah di pipinya yang menandakan kondisinya mulai pulih, rasa kesal di hati Alistair mendadak menguap begitu saja. Ia bersedekap dada di pojok ruangan, menatap Lia dengan sorot mata yang melunak.
Setidaknya, wanita ajaib itu sudah kembali tersenyum, batin Alistair lega.