NovelToon NovelToon
Putri Mafia Di Negeri Asing. Season 3

Putri Mafia Di Negeri Asing. Season 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Colly Shen berangkat ke luar negeri untuk menjalani hidup baru, namun tanpa sengaja terseret ke dalam organisasi kejahatan yang berbahaya. Di negeri asing, ia harus bertahan dan melindungi dirinya sendiri di tengah ancaman dan pertarungan yang terus datang.

Di sisi lain, kehadiran Colly menarik perhatian beberapa pria—Micheal Xie, sosok dari masa lalunya, Wilbert, calon suaminya, dan seorang ketua organisasi misterius yang awalnya menjadi musuh.

Siapa yang mampu mendapatkan cinta dari Colly Shen yang terkenal dengan sifatnya yang tidak pernah mau mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

“Dokter, cepat sembuhkan papaku!” perintah Amy panik.

“Kondisi Tuan Long cukup parah. Tubuhnya seolah tidak berfungsi. Ini terjadi sangat tiba-tiba, tanpa gejala sama sekali,” jawab dokter itu serius.

“Dokter… kenapa mata Tuan Long tidak bisa berkedip?” tanya Colly dengan nada polos, namun sengaja.

Dokter itu menggeleng pelan.

“Kelumpuhan yang dialami Tuan Long seolah mematikan seluruh saraf tubuhnya. Bahkan kelopak matanya pun tidak bisa bergerak,” jelasnya.

“Itu artinya… Tuan Long hanya bisa melihat, mendengar, dan merasakan… tapi tidak bisa bereaksi?” lanjut Colly.

Ia menatap Jason sekilas.

“Bukankah itu… lebih menderita daripada mati?”

“Diam!” bentak Josep yang langsung maju. “Kau yang melakukan ini pada papaku, kan?!”

Namun sebelum ia sempat mendekat—

Wilbert melangkah maju dan menghentikannya.

Tatapannya dingin.

“Kau sebagai anak tidak bisa merawat orang tuamu, bahkan membuat drama pemakaman palsu,” ucap Wilbert tajam..“Mengenai kejadian ini, kau masih harus memberi penjelasan kepada semua orang.”

Ia sedikit mencondongkan tubuh.

“Dan sekarang… kau malah ingin menyalahkan tunanganku?”

Nada suaranya menekan.

“Josep Long, jangan keterlaluan.”

“Wilbert Lu!” balas Josep dengan marah. “Kedatangan kalian memang hanya untuk menimbulkan masalah!”

Tatapannya tajam penuh amarah.

“Jangan harap kalian bisa keluar dari sini!”

“Pa, aku akan mengantarmu ke mobil. Aku yang akan mengurus masalah di sini,” ucap Micheal.

“Baiklah,” jawab Roland singkat, lalu berbalik pergi diikuti oleh Micheal.

Satu per satu, para tamu juga mulai meninggalkan tempat itu dengan wajah kecewa.

“Paman! Jangan pergi! Tolong tegakkan keadilan untuk kami! Gadis ini yang membuat papaku jadi lumpuh!” teriak Amy panik.

Namun tak ada yang peduli lagi.

Jason hanya bisa duduk kaku di dalam peti, mendengar semua percakapan tanpa bisa bereaksi.

“Dokter… apakah papaku bisa sembuh?” tanya Josep dengan suara tegang.

Dokter itu menggeleng pelan.

“Sangat sulit. Bahkan jika didatangkan dokter terbaik di dunia pun… tidak ada jaminan kondisi Tuan Long akan membaik.”

“Kurang ajar!” bentak Josep.

PLAK!

Tamparannya mendarat keras di wajah dokter itu hingga terjatuh ke lantai, meninggalkan bekas merah.

“Josep Long…” suara Colly terdengar dingin. “Ayahmu seperti ini karena balasannya."

Tatapannya tajam.

“Kalian sendiri yang membuat semua sandiwara ini untuk menjebakku. Dan sekarang… yang menanggung akibatnya justru ayahmu.”

“Diam!” bentak Josep marah.

Ia mengangkat tangannya memberi perintah. “Serang mereka! Jangan sampai ada yang lolos!”

Tatapannya penuh kebencian mengarah ke Colly. “Buat gadis sialan itu berlutut dan mengakui semuanya!”

Dalam sekejap...

Anak buah keluarga Long mulai bergerak maju, suasana kembali memanas.

Beberapa petarung berotot maju bersamaan, langkah mereka berat dan penuh tekanan. Aura mereka jelas berbeda dari anak buah biasa—lebih terlatih, lebih berbahaya.

Mereka mengunci target.

Colly… dan Wilbert.

Tanpa banyak kata, mereka langsung menyerang.

WUSSH!

Satu orang melesat ke arah Colly, tinjunya mengarah lurus ke wajahnya.

Colly menyamping tipis—

DUK!

Siku kanannya menghantam perut lawan, membuat pria itu terhenti sesaat.

Namun belum selesai...

Dua orang lain datang dari sisi kiri dan kanan.

Di sisi lain—

Wilbert melangkah maju setengah langkah.

Tatapannya dingin.

“Kalian maju,” perintahnya singkat.

Serentak, anak buahnya bergerak.

BRAK! BRAK!

Benturan terjadi di berbagai sisi ruangan.

Kursi terlempar. Meja bergeser. Suasana duka berubah menjadi medan pertarungan.

Salah satu petarung besar menyerang Wilbert dengan pukulan lurus.

Wilbert tidak mundur.

TANG!

Ia menahan serangan itu dengan satu tangan.

Lalu—

DUK!

Pukulan balasan menghantam dada lawan, membuatnya terpental mundur beberapa langkah.

Sementara itu...

Colly dikepung tiga orang sekaligus.

WUSSH! WUSSH!

Serangan datang beruntun.

Colly menghindar cepat, langkahnya ringan meski tubuhnya masih terluka.

Satu celah—

Ia masuk.

DUK!

Pukulan ke dagu.

BUK!

Tendangan menyapu kaki lawan.

Satu jatuh.

Namun dua lainnya masih menyerang.

Di tengah kekacauan...

Jason hanya bisa duduk kaku di dalam peti, matanya terbuka lebar, menyaksikan semuanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Pertarungan di rumah duka itu… benar-benar pecah.

“Apakah aku… Jason Long… harus berakhir seperti ini?” batinnya, matanya membelalak namun tubuhnya tetap kaku tak bergerak.

Colly berdiri tenang.

Cincin di jari telunjuknya berkilat samar.

Klik.

Sebuah bilah tipis tersembunyi muncul dari cincin itu.

Tatapan Colly berubah dingin.

Tiga petarung bayaran berdiri mengitarinya, bersiap menyerang.

“Jadi… kalian adalah pembunuh bayarannya?” ucap Colly pelan.

WUSSH!

Salah satu dari mereka langsung maju, pukulan lurus mengarah ke wajahnya.

Colly memiringkan kepala...

Hindar.

Dalam satu gerakan cepat...

SHK!

Bilah tipis dari cincinnya menggores lengan lawan.

“GH—!”

Pria itu mundur setengah langkah, kaget.

Dua lainnya tidak menunggu.

WUSSH! WUSSH!

Serangan datang bersamaan dari kiri dan kanan.

Colly mundur satu langkah... lalu memutar tubuhnya.

SWISH!

Serangan mereka hanya menyapu udara.

Satu celah.

Colly masuk.

DUK!

Sikut menghantam rahang.

BUK!

Tendangan menghantam lutut lawan lainnya.

Satu goyah.

Satu terpental.

Namun mereka bukan petarung biasa.

Dengan cepat, ketiganya kembali mengambil posisi.

Mata mereka kini waspada.

“Kecil… tapi berbahaya,” gumam salah satu dari mereka.

Colly mengangkat sedikit tangannya.

Bilah di cincinnya berkilat dingin.

“Baru sadar?” balasnya tenang.

“Bunuh mereka semua!” perintah Josep pada anak buahnya dengan wajah penuh amarah.

Pintu aula kembali terbuka.

Sejumlah anak buah keluarga Long yang baru tiba langsung masuk, menambah jumlah pasukan di sisi mereka.

Suasana langsung berubah.

Dua kubu kini saling berhadapan.

Di satu sisi—anak buah Wilbert, berdiri rapi, tatapan tajam.

Di sisi lain—anak buah Jason Long, jumlah lebih banyak, penuh amarah.

Hening sesaat…

Lalu—

“Serang!”

BRAK!

Pertarungan pecah.

Anak buah Wilbert bergerak cepat, terlatih dan terkoordinasi.

Sementara pihak keluarga Long menyerbu dengan brutal.

Benturan terjadi di segala arah.

DUK! BRAK!

Teriakan dan suara hantaman menggema memenuhi ruangan duka yang kini berubah menjadi medan pertempuran.

Seorang pria dari pihak Long menerjang dengan pukulan keras...

Namun...

TANG!

Serangan itu ditahan, lalu dibalas dengan pukulan yang membuatnya terlempar.

Di tengah kekacauan...

Wilbert melangkah maju.

Tatapannya dingin.

Tangannya bergerak...

Sebuah senjata tajam muncul di genggamannya.

WUSSH...

Gerakannya cepat.

Satu lawan yang mendekat langsung roboh.

Tanpa ragu.

Tanpa ekspresi.

Seorang pembunuh bayaran mencoba menyerangnya dari belakang.

Wilbert langsung sudah menyadarinya.

Ia berbalik cepat...

DUK!

Serangan balasan membuat lawan itu terpental.

Langkahnya tetap tenang, seolah berada di atas medan yang sudah ia kuasai.

Di sisi lain...

Anak buah Wilbert mulai mendominasi, meski jumlah mereka lebih sedikit.

Formasi mereka rapat. Serangan mereka terarah.

Sementara pihak keluarga Long mulai goyah, meski masih terus menyerang tanpa henti.

Di tengah dua kubu itu...

pertarungan semakin brutal.

Dan rumah duka itu benar-benar berubah menjadi medan perang tanpa kendali.

Colly dan tiga pembunuh itu bertarung dengan sengit.

WUSSH!

Salah satu dari mereka melesat maju.

DUK!

Tendangan keras dilepaskan—

Colly menghindar tipis, tubuhnya miring ke samping.

BRAK!

Tendangan itu justru menghantam kursi tamu di belakangnya hingga patah berkeping.

“Tenaganya besar…” batin Colly, matanya menyipit.

Belum sempat ia menarik napas...

WUSSH! WUSSH!

Dua pembunuh lain langsung menyusul.

Kini mereka bertiga menyerang bersamaan.

Gerakan mereka rapi. Terlatih.

Jelas bukan petarung sembarangan.

Di tangan mereka, terpasang bilah tajam yang berkilat dingin, mengikuti setiap gerakan serangan.

SWISH!

Satu tebasan nyaris mengenai leher Colly.

Ia menunduk cepat...

Hindar.

Namun

WUSSH!

Serangan lain datang dari bawah.

Colly meloncat mundur, menjaga jarak.

“Kalau mereka bekerja sama, aku akan kesulitan mengalahkan mereka,” batinnya cepat.

Ketiganya kembali mengepung.

Satu di depan. Dua di samping.

Langkah mereka perlahan… mengunci.

“Kau tidak bisa terus menghindar,” ujar salah satu dari mereka dingin.

Colly tersenyum tipis.

“Memangnya aku berniat terus menghindar?”

WUSSH!

Ia bergerak lebih dulu kali ini.

Masuk ke celah kecil di antara mereka—

SHK!

Bilah tipis di cincinnya menyambar.

Salah satu lawan mundur, wajahnya tergores.

Namun dua lainnya langsung bereaksi.

TANG!

Serangan mereka saling menutup celah.

Colly terpaksa mundur lagi.

Tiba-tiba—

WUSSH!

Dari belakang peti, seorang pembunuh lain muncul dan langsung melemparkan sejumlah senjata tajam ke arah Colly.

Colly menoleh cepat.

Dalam sepersekian detik, ia melepas jaketnya dan melemparkannya ke arah deretan pisau itu.

WUSSH!

Pisau-pisau itu menancap pada jaket... namun dorongannya masih kuat, terus melaju menembus ke arah Colly.

Jarak terlalu dekat.

Tidak sempat menghindar...

BRAK!

Sebuah meja kayu tiba-tiba melayang menghantam jalur serangan.

Pisau-pisau itu berubah arah dan menancap keras ke permukaan meja.

DUK! DUK! DUK!

Getarannya terdengar jelas.

Colly berhenti sejenak.

Tatapannya beralih...

Micheal berdiri tak jauh dari sana, satu tangannya masih terulur setelah melempar meja tadi.

1
Maria Mariati
kaya nyaaaa colly mank jodoh nya Michelle, bukan wilbert, mungkin wilbert harus ngalah demi colly
Tiara Bella
Colly dilawan....
Kinara Widya
hebat kolli
Maria Mariati
kapok sudahlah 👍👍👍
Dame Manalu
mantaf colly
Tiara Bella
hemmm cuma pura-pura ternyata....
Fortu
wkwkwk lucu🤣🤣🤣 pura pura mati ntar almarhum benaran kamu Jason
Fortu
😂😂😂😂😂
Fortu
hahhahaa🤣🤣🤣
Kinara Widya
aduh ternyata pura2 mati...di kabulkan kan sama Colly pak jasson...😂😂😂
Fortu
ah pura pura meninggal s Jason
mau gunakan cara licik
Fortu
Michael telepon sama Little Tiger😃😃
walaupun jauh abangnya pasti tetap pantau siapa lagi kalau bukan Michael yang pantau
Tiara Bella
wah siapa tuh yg tlpnan sm Michael....
Fortu
Diposisi ini saya cuma mau komentar kalau sebenarnya colly agak sombong juga sih.
sudah dibully dapat serangan bertubi-tubi
tapi ga mau kasih info ke keluarganya.
Dia punya kaka yang hebat orang tua juga hebat, tapi soknya kebangetan juga, 🙄🙄seharusnya kasih tau gitu setidaknya ada pengawal bayangan.
punya tunangan juga ga guna cuma bisa melarang doankk, bantuin calon tunangan mu kek, masa berjuang sendiri🙄🙄🙄
Maria Mariati
kaka nya kemana katanya kalo ada apa2 sama colly dia selalu tahu
Tiara Bella
ceritanya bagus...keren pkoknya
Tiara Bella
gk ada yg bantuin Colly apa ya....lehernya udh kegores pisau...
Kustri
☕ngopi sik thor... semangat UP💪
Kustri
yg terakhir, kemeja putih koq ky densu🤭yaa
Tiara Bella
wow visualnya ganteng² semua...😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!