NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Badboy / Obsesi / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Wida Dwi Oktafiani

Karena sebuah ciuman Gibran jadi terobsesi dengan Diandra.

Sebuah ciuman yang membuat Gibran ingin memiliki Dirandra seutuhnya dan hanya untuknya.

"You're my baby Diandra"

Obsesi gila yang menuntut Gibran untuk segera menikahi Diandra sebelum orang lain merebut gadis itu darinya.

Dan obsesi gila yang membuat Gibran nekat melakukan apapun untuk membuat Diandra menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida Dwi Oktafiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingin Bertemu

Sudah tiga hari Gibran seperti kehilangan arah karena kedua orang tuanya membawa Diandra entah kemana ditambah lagi Anetta yang tidak bisa dia hubungi atau temukan. Berita yang tersebar juga semakin luas membuat kepalanya hampir pecah memikirkannya, dia ingin segera menyelesaikan semuanya, tapi Gibran seolah tidak diizinkan.

Semua akses untuk menghubungi Anetta hilang begitu saja entah teman atau managernya dan wanita itu sendiri tidak bisa dia hubungi. Sekarang Gibran berada di apartemennya yang entah sudah berbentuk seperti apa karena dia melempar begitu banyak barang untuk meluapkan amarahnya.

Dia sudah memohon pada orang tuanya agar diberikan izin untuk menemui Diandra, tapi sama sekali tidak diberikan.

'Tanggung jawab untuk semua kelakukan kamu Gibran! Selesaikan semuanya dan jangan berani untuk menemui Diandra!'

'Jangan mimpi untuk menemui menantu Mama sebelum berita sialan itu hilang!'

Sungguh Gibran ingin berteriak sekencang mungkin, dia hampir frustasi. Belakangan ini Gibran juga tidak makan dengan baik bahkan bisa dibilang dia hanya makan satu kali.

Beberapa kali Ghina menelponnya, tapi Gibran abaikan dia tidak ingin bicara pada siapapun. Selain itu Gibran juga sudah meminta bantuan pada Arjuna untuk membantunya menemukan Anetta.

Suara pintu terbuka membuat Gibran mendongak dan dia melihat Ghina yang datang sendirian lalu berlari kecil menghampirinya.

"Kakak"

Raut wajah Ghina terlihat cemas, dia diminta Mama nya untuk melihat keadaan Gibran dan diberi tau password apartemennya juga.

"Kenapa kamu disini Na?" Tanya Gibran pelan

"Ghina takut Kakak kenapa-kenapa ditelpon gak aktif." Kata Ghina

Dia duduk disamping Gibran lalu meminta Kakaknya itu untuk menghadapnya.

"Mama minta Ghina lihat keadaan Kakak." Kata Ghina

Mendengar itu Gibran terdiam sebentar, tapi dia seolah mendapat ide untuk melakukan sesuatu.

"Ghina bantu Kakak." Kata Gibran

"Bantu apa?" Tanya Ghina

"Telpon Mama dan tanyakan dia dimana bilang kamu mau kesana." Kata Gibran

Untuk sesaat Ghina terdiam, tapi melihat wajah penuh permohonan Kakaknya membuat Ghina mau tak mau mengeluarkan ponselnya. Dia menayap Kakaknya sebentar ada binar penuh harap disana membuat Ghina tidak tega melihatnya.

Menekan nomor Mamanya Ghina menghidupkan loadspeaker agar Gibran juga bisa ikut mendengarnya. Beberapa kali deringan terdengar hingga akhirnya diangkat dan suara Dara dapat Gibran dengar.

'Halo Ghina'

"Mama Ghina baru saja pulang dari apartemen Kak Gibran." Kata Ghina sambil menatap Kakaknya yang mengangguk

'Benarkah? Bagaimana keadaannya sayang? Mama cemas sekali, tapi Papa tidak izinkan Mama untuk menelpon Gibran'

"Hmm apartemennya berantakan Kak Gibran juga...."

Ghina menatap Gibran sebentar dan pria itu sekali lagi mengangguk seolah membiarkan Ghina mengatakan apa yang dia ingin katakan.

'Apa Ghina? Kakakmu sakit?'

"Tidak Ma, tapi Kak Gibran terlihat kacau Ghina juga takut melihatnya." Kata Ghina masih dengan menatap Kakaknya

'Yaudah sayang besok kamu kesana lagi ya? Suruh Gibran makan dengan baik'

"Iya Ma"

'Mama tu...'

"Ma nanti Ghina mau tanya." Kata Ghina

'Tanya apa sayang?'

"Mama dimana? Ghina mau kesana juga." Kata Ghina

Hening, tidak ada jawaban yang Dara berikan untuk beberapa waktu.

'Ghina harus kuliah'

Hanya jawaban itu dan Ghina menatap Kakaknya yang terlihat kecewa sambil menyandarkan kepalanya pada sofa. Merasa kasihan Ghina mencari cara lain setidaknya untuk membuat Gibran merasa lebih baik.

Ghina mendapatkannya!

"Mama boleh Ghina bicara sama Kak Diandra?" Tanya Ghina

Berhasil Gibran kembali menatapnya dengan penuh harap.

'Boleh Mama panggilkan dulu ya? Diandra sayang'

Gibran terlihat begitu senang dia menunggu dengan penuh harap dan hal itu membuat Ghina terharu juga bahagia.

Cukup lama hingga akhirnya suara yang paling Gibran rindukan itu terdengar dan membuat sudut bibirnya membentuk senyuman.

'Halo Ghina'

"Kak bagaimana kabar Kakak disana?" Tanya Ghina

'Aku baik hanya sering merasa mual saja, tapi itu sudah biasa'

"Aku senang mendengarnya." Kata Ghina

'Kamu habis bertemu Gibran?'

"Iya Kak aku baru saja pulang dari apartemennya karena selama tiga hari Kak Gibran tidak pulang ke rumah." Kata Ghina

Diandra diam untuk sesaat lalu bertanya dengan suara yang pelan dan terdengar sedih.

'Apa dia baik?'

"Tidak"

Helaan nafas terdengar, tapi tidak ada suara yang Diandra keluarkan untuk waktu yang cukup lama.

'Aku merindukan dia'

Pelan sekali, tapi Gibran masih bisa mendengarnya dan hal itu membuat Gibran ingin menangis.

Dia merindukan Diandra.

"Kak aku matikan dulu ya? Aku mau keluar sebentar." Kata Ghina sambil menatap Kakaknya

'Minta dia untuk makan dengan baik dan jangan menyakiti dirinya sendiri'

"Iya Kak"

Setelah mematikan telponnya Ghina menatap Kakaknya yang menghela nafasnya pelan sambil memegang dahinya cukup kuat. Bersamaan dengan itu air matanya jatuh membuat Ghina tertegun melihatnya.

Diandra sangat berarti untuk Kakaknya.

"Kak"

Gibran mendongak dan mengatakan sesuatu sambil mengusap kasar air matanya.

"Makasih Ghina"

Mengerucutkan bibirnya Ghina memeluk Gibran dengan sayang dan membuat Kakaknya itu kembali menangis sambil membalas pelukannya dengan tak kalah erat.

"Besok aku telpon Kak Diandra lagi." Kata Ghina

Gibran menjauhkan tubuhnya dan Ghina dapat melihat kalau mata Kakaknya memerah juga ada air mata disana. Selama ini yang Ghina tau Kakaknya hampir tidak pernah menangis selain ketika kematian Oma mereka, tapi sekarang Gibran menangis dihadapannya.

Menangis karena Diandra yang entah ada dimana.

Sesaat setelahnya deringan ponsel Gibran terdengar membuat pria itu menghapus air matanya dan mengangkat panggilan tanpa berfikir panjang.

'Gibran kita menemukan keberadaan Anetta'

Perkataan itu sudah cukup membuat Gibran langsung bangun dan bergegas ke kamarnya untuk mengambil jaket serta kunci mobil.

"Kirim alamatnya sekarang Jun." Kata Gibran sambil mematikan panggilan telponnya

Dia menghampiri Ghina dan mengatakan kalau Gibran akan pergi untuk mengurus sesuatu.

"Hati-hati Kak"

Gibran menatap adiknya lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Hari ini dia harus menyelesaikan semuanya.

¤¤¤

"Anetta!"

Seruan itu terdengar ketika Gibran melihat Anetta di rumah wanita itu kata Arjuna dia baru saja kembali dari Malaysia dan melihat Anetta yang terlihat biasa membuat Gibran geram sendiri. Seringaian muncul di bibir Anetta dia melangkahkan kakinya mendekat membuat Gibran sangat ingin memukul wajahnya.

Dia menyentuh Gibran, tapi dengan segera Gibran menepisnya dan tidak membiarkan wanita itu menyentuhnya meski sedikit saja. Tawa kecil terdengar bersamaan dengan Anetta yang melangkahkan kakinya menjauh lalu duduk di sofa dan meminta Gibran untuk duduk disampingnya.

"Kamu yang menyebarkan semuanya kan?!" Tuding Gibran

"Wah kamu tau?" Kata Anetta sambil tersenyum

Dia pasti sudah gila.

"Anetta! Besok kita berdua harus bicara di depan publik dan katakan kalau itu semua kesalahan." Kata Gibran

"Tidak tidak aku akan bilang kalau kamu mabuk dan memaksa aku untuk melakukannya, terdengar bagus." Kata Anetta

"Kau benar-benar licik Anetta!" Bentak Gibran

Gibran mendekat lalu mencengkram kuat rahang wanita itu tidak peduli jika dia wanita karena Gibran sudah benar-benar marah.

"Jangan main-main denganku." Sentak Gibran

Melepaskannya dengan kasar Gibran menatap Anetta dengan sangat tajam.

"Bermain bersamaku dibelakang Diandra atau aku buat berita itu semakin menarik." Kata Anetta

"Anetta jangan berani mengancamku!" Seru Gibran

"Aku hanya memberikan penawaran aku bisa dengan mudah membuat cerita menarik dan memberikan sedikit tangisan." Kata Anetta sambil tertawa

"Apa masalahmu denganku?!" Tanya Gibran frustasi

"Masalahku? Pertama kau menikah dengan wanita itu dan kedua wanita murahan itu pernah menjambak rambutku." Kata Anetta santai

"Jangan berani mengatakan kalau dia wanita murahan! Kau wanita murahan itu Anetta." Bentak Gibran

"Kau mau kita bicara kan? Baiklah kita klarifikasi semuanya besok, tapi dengan dua cerita berbeda." Kata Anetta

"Ya silakan dan aku akan menunjukkan rekaman ini setelahnya permalukan saja dirimu sendiri." Kata Gibran sambil mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan perekam suara

Mata Anetta membulat dia berdiri dan hendak mengambil ponsel itu dari tangan Gibran, tapi dengan cepat Gibran menyentaknya dan mencengkram kuat rahangnya.

"Aku juga bisa nekat kalau kamu mau tau"

Gibran mendorong Anetta dan berjalan menjauh dan membuat wanita itu mengumpat marah.

"Brengsek!"

¤¤¤

"Akhh Mamaa"

Diandra meringis sambil memanggil nama Dara ketika jarum suntik menembus kulitnya, dia harus di rawat untuk beberapa hari kedepan. Sebelumnya Diandra terus muntah hingga wajahnya begitu pucat lalu dia pingsan dan membuat Dara langsung membawanya ke rumah sakit.

Tentu saja Gibran tidak tau karena Dara hanya memberi kabar pada suaminya, besok dia akan menelpon Gibran. Sekarang Dara berusaha menenangkan Diandra yang ingin menangis karena dia belum pernah sekalipun di rawat.

Selesai memasang selang infus dan dibawa ke ruang rawat Dara langsung duduk di dekat menantunya yang hanya diam.

"Sayang"

"Mama mau Kak Gibran." Kata Diandra dengan mata berkaca-kaca

"Sayang ini sudah...."

"Kak Gibran"

Entah kenapa sekarang Diandra sangat ingin bertemu suaminya, belakangan ini Diandra tidak nafsu makan hingga harus mendapat paksaan bahkan setiap habis makan dia selalu mual dan muntah.

"Maa mau Kak Gibran." Pinta Diandra lagi

"Telpon saja ya?" Kata Dara

Diandra menggelengkan kepalanya dan mulai menangis membuat Dara tidak punya pilihan lain.

"Iya Mama telpon Gibran kamu jangan nangis." Kata Dara

Tidak ada yang lebih penting dari kesehatan Diandra, jadi Dara langsung menghubungi anaknya untuk meminta dia datang ke rumah sakit.

"Gibran datang ke rumah sakit Mama kirim alamat dan nama ruangannya." Kata Dara

Dia tidak menunggu Gibran menjawab dan langsung mematikan telpon lalu mengirimkan alamat serta nama ruangan pada anaknya.

"Sudah, tunggu ya?" Kata Dara

Diandra tersenyum dan mengangguk lalu mengusap perutnya dengan penuh kelembutan.

Anak ini ingin bertemu Ayahnya.

¤¤¤

Yeee updateee😚

Untuk hari ini tiga part yaaa bisa lebih juga kalau aku lagi ada waktu hihii😉

1
Shifa Burhan
novel ini bagus tapi author masih ikut cara konflik klasik seorang wanita
ini konflik klasik
*jika pemeran utama wanita (istri) buat salah, kalian akan tutupi dengan pemeran utama pria (suami) dibuat emosi dan buat kesalahan jadi jatuh nya ujung2 sang suami lah yang minta maaf
*jika sang suami yang membuat salah, suami yang berjuang untuk minta maaf dan memiliki memperbaiki kesalahan

ini saran sikit
*jika suami buat salah pasti akan dibuat menyesal, dapat balasan, minta maaf, berjuang dapat kesempatan, dan memperbaiki kesalahan
*yang harus adil juga jika pemeran utama wanita buat salah harus juga dia dibuat, menyesal, minta maaf dan berjuang ini baru novel yang adil

ini dia konflik yang kurang adil menurut aku
*diandra diam saat mau dicium sagara tapi kesalahan diandra ini kalian tutupi dengan kalian buat gibran berbuat salah yang ujung2nya gibran yang merasa bersalah, menyesal, dan minta maaf
*diandra memaksa ingin menemui pria lain, ini kesalahan sadar tidak diandra sudah tidak peka dan melukai perasaan suaminya tapi novel ini malah anggap ini lucu2an dan bukan masalah
Maria Mahdalena Manalu
aku sangat suka banget sama karakter diandra 😍🤩🤩
Dwie adja
ok
Sundari
Aku baca bagian ini jadi sedih dan nangis. Sedih karna ga ada sosok kakk/abang kayak gavin di keluarga aku. Pengen punya abang/adik yg kuak gavin. Perhatian dn sayang sama adek-adek nya
Surati
Gibran dengan cintanya yang tulus untuk Diandra yang masih trauma dengan perceraian orang tuanya, akhirnya karena dengan ketulusan cinta bisa mendobrak hati Diandra yang terluka. semoga berbahagia selalu
rinny
ceritanya sang apik, romantis, AQ suka novel yg bergenre kaya gini.
putia salim
diandra yg sekarang emang pemaaf👍
putia salim
😍😍
putia salim
kalau akur gitukan seneng liatnya
putia salim
hmmmm🤦‍♀️udah ditolak masih aja ngethek
putia salim
gw aq yg cm baca ikutan kuciwo
putia salim
lagian gibran jg...
siapa coba wanita yg g marah,kecewa,dan salah paham kalau suaminya berbohong brpelukan sm mantan di depan istrinya pula
Rina
cinta itu atas dasar kepercayaan.. kalau ngga bisa percaya gimana mau cinta.. buktikan dulu jauhi para cabe, pelakor, ayam dll
Rina
melihat posisi diandra jelas tidak akan percaya sama gibran.. apalagi terkenal sebagai playboy..
putia salim
lebay....🤦‍♀️
putia salim
kalau gw jd gibran auto udah gw sumpel tu mulut pakai sabel setan,
kesel gw,mana ada nyidam ky gitu🤦‍♀️
putia salim
utututuuuu....emesss🤗
putia salim
cb suami gw ...past udah hmmmm🙆
putia salim
yeeeee....baikan👏👏😁
putia salim
anetta minta di🔨🔨⛏️⛏️⛏️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!