para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan
wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap
"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Kantor kembali damai setelah badai melanda kantor tiga hari lalu aktivitas karyawan masih berlanjut seperti biasanya namun badai kemarin masih menyisahkan sedikit bekas - bekas terpaiannya buktinya kantor masih terlihat sepi walapun waktu telah menunjukkan pukul 09:00 pagi.
para karyawan hari ini terlihat lesu menjalani hari, banyak karyawan yang mendapatkan amukan dedi mereka harus kena phk di tempat tanpa aling - aling pesangon ataupun surat rekomendasi karyawan yang mendapatkan amukan dedi tidak hanya satu dan dua orang namun puluhan sehingga menimbulkan kekosongan pada meja - meja kantor biasanya sudah dipenuhi oleh karyawan.
Konsentrasiku terbagi karena banyaknya keluhan dari berbagai pihak karena pekerjaan yang menumpuk, tak ingin masalah ini semakin menyusahkanku kulangkahkan kaki menuju ruang HRD meminta pak Aris menghubunggi para karyawan untuk kembali ke kantor dan memulai kerjanya seperti sebelumnya.
Amarahku kian menunjak karena tidak bisa menerima sikap acuh dedi ketika kuceritakan efek dari kemarahannya itu, dirinya malah berkata
"so? " tanpa tidak tahu malunya dirinya tetap melanjutkan langkahnya dan menggikuti meating bersama beberapa petinggih di kantor ini.
Hingga waktu makan siang tiba, seperti biasanya kutemukan teman - temanku berkumpul dimeja kantin yang selalu kami tempati, dengan langkah pasti kugerakkan kaki menuju mereka.
"Sepet banget tu muka kenapa?" ucap lisa
"Boss kalian itu ngak di rumah gak di kantor cuman bisa bikin kepalaku hampir meledak" Ucapku berang dan semakin mengguatkan genggamanku pada sendok dan garpu yang kupegang
" Waooo waoow ada kemajuan nyonya nyinyir mulai curhat tanpa di desak" Tio
"Memangnya ada apa?" narend
"Iya ada apa sih wi kemarin si boss ngamuk - ngamuk eh pas lo masuk ruangannya si boss kok jadi adem ayem..? lo apain dia? " Lisa
"Biasa kalo otak laki udah pindah ke ************ dicolek dikit langsung on dia"
"Hah? maksud kamu wi? " Narend
" Boss kalian ngamuk ngak dapat jatah sebulan " Ucapku acuh dan kembali menyantap makananku
Aku dengan ngamblangnya menggutarakan itu tetapi ternyata mendengar itu andre yang sangat mengerti makna dari perkataanku tiba – tiba menyemprotkan kopinya dan Tio hampir terselak ludahnya sendiri hingga membuatnya terbatuk-batuk.
" Ya ampun mulut lo wi nyablak aja apa kabar kami para jomblo ini kan kalo on emang kamu tangung jawab?" Andre
"Terus - terus udah gak ngamuk dong ya kan udah?" Ucap tika usil sembari menaik turunkan alisnya
"Hmmm" Gumamku
"Trus laki lo mana kok ngak kelihatan hari ini" Tika.
"Kenapa lo mau gantiin kasi jatah ke dia" Ucapku menatap tika intens
"Astafirullah mulut lo jing sini gua cabein"ucap Tika dengan berang.
Seketika tawa kami pecah dengan hal sepeleh seperti ini yang kurindukan dari mereka hanya mereka yang menerimaku dengan tulus tak ada kepura - puraan antara kami, kami akan dengan santainya mengutarakan semua pikiran kami tak peduli akan menyakiti hati siapa yang jelas hal yang ingin ucapkan tersalurkan dan tidak menyesakkan hati sendiri
"Rend katanya lo dijodohin! ma siapa?" ucap andre mengalihkan pembicaraan.
"Iya ada" ujar narend acuh seakan enggan untuk membahas mengenai wanita itu
"Sama siapa sih lis? gak sama lo kan? " Ucapku penasaran
"sejomblo-jomblonya gua, gua ngak makan teman kayak lo" bantah lisa dengan wajah suntuk.
"Lo nerima kupikir lo cintanya ke gua ternyata lo gampang ya berpaling hati" ucapku tenang namun sedikit disertai tawa
"Emangnya kamu mau menikah sama saya?" ucap narend menggikuti permainanku dan ketika mendengar kata itu teman – temanku seketika diam dan menunggu jawabanku
"Mau, asal kamu siap melarat tujuh turunan" Ujarku acuh seperti biasanya
Namun tenyata perkataanku menggundang tawa diantara kami apa lagi ketika Tio melihat ekspresi narend yang mendelik ngerih mendengar ucapanku makin meledaklah tawanya.
Tidak ada yang tau bagaimana perasaan boss mereka terhadapku namun bayang - bayang hidup melarat bukanlah ancaman belaka semua karyawan tau bagaimana kerasnya dedi dan bagaimana kejamnya lelaki itu jika miliknya diusik dan tentunya mereka lebih baik menghindar dari pada menghadapi amukan yang tidak hanya akan menyusahkan mereka namun diibaratkan rumput liar dedi akan mencabutnya hingga akar - akarnya sekaligus
"Terus laki lo mana sih wi?" Tanya Tika
"Lo kenapa dari tadi cari dia si tik?" ucap Tio
"Itu surat cuti gua kapan acc sih ortu gua dah desek gua pulkam nih gua dah kehabisan alasan tuk nolak mereka jadi gua pengen pastiin aja "
"Oghhh mang mau cuti berapa lama" ucap Andre
dengan ragu - ragu tika mengangkat dua jarinya disertai senyuman nyengir ala tika
"dua minggu" cengirnya terlihat bodoh dan malu – malu
"Bussettt tug cuti apaan selama itu jangan - jangan lo mau lahiran ya tik" Lisa
"Egh setan, bikin aja blom enak aja lo nyaplak brojol-brojolan" Ucap Tika berapi-api.
"Lag terus?" Ucap tio yang akhirnya angkat suara.
Dengan gaya malu-malu khas anak kecil yang menggoyang-goyangkan tubuhnya saat ditanya akhirnya tika berkata
"Gua mau nikah"
"Lu mau nikah sama narend" Ucapku nyaring serta menunjuk ke arah Narend yang sudah memelot mendengar ucapanku.
"Bukan goblok, kenapa si semenjak resmi jadi istrinya boss tu mulut ringan banget nyeplak asal - asalan ighhh" Hilang sudah rasa malu-malu Tika dan tergantikan dengan amarah karena tidak seorang pun dari teman-temannya yang normal.
Aku dan yang lainnya tertawa begitu keras karena tak mampu menahan tawa kami melihat wajah tika yang awalnya memerah karena malu - malu seketika berubah merah karena menahan emosinya.
"Oghh ya pulang aja tar gua yang ngatur tapi di acara lo gua ngak perlu kasi apa - apa ya? anggap itu kado buat lo dari gua"
"ighh lo nyebelin wi tapi beneran nihh "
" hhmmmm"
Mendengart itu Tika bersorak kesenangan dan memelukku dengan erat dan jangan lupakan ciuman tika yang memenuhi pipiku saat ini.
"Ok makasi gua langsung pulang habis ini yah?"
"Hmm" gumamku menjawab pertanyaan Tika.
“jadi di HRD gua lapornya kalo lo yang ngizinin dan tanggung jawab kan?”
“ya”
“tapi gaji dan bonus akhir tahun gue aman kan?”
“mmm bisa jadi”
“maksud lo?”
“ya kalo setelahnya lo baik-baik berarti aman, kecuali besok lo nikah terus besoknya langsung brojol gua udah ngak ngerti lagi”
“kampret emang temanan ma kalian. Masih perawan tinting ini gua”
“sekarang iya besok udah jadi bekas”
“sakerapmu deh, tapi tadi lo serius kan?”
"Wi jangan hm hm doang igh jawab atuh"
"Iya tika sulastika minggir lo" kataku melerai pelukan Tika.
"Aduh neng gelis galak pisan" godanya padaku sambil memencubit pipiku dengan gemas.
"Pulang ngak lo gua hitung sampai lima lo belom hilang dari sini laki gua yang kasi cuti seumur hidup ke lo"
"Maksud lo gua di pecat gitu" ucap tika sembari berdecak dan melipat tangannya di depan dada.
"Yoooiiii" seperti biasanya aku hanya menyikapinya santai.
Ku pikir tika hanya akan berdecih mendengar ucapanku namun ternyata lebih dari itu. tanpa aling-aling tika meninggalkan kami sedangkan makanannya masih tersisah banyak.
Tingkah tika yang pergi terbirit-birit sukses menggundan tertawa kami, Tika yang sepertinya sangat menyayanggi gaji bulanannya dan enggan meninggalkan kantor bossnya aka suamiku yang terkutuk itu
ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi
hmmmm 🤔🤔??