NovelToon NovelToon
Kisah Cinta Pendekar Pedang

Kisah Cinta Pendekar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Firdaus Rangkuti

Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.

Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.

Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.

Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedai Minum

Sebelumnya, semua perguruan tinggi seni bela diri memprotes di depan istana megah yang di tutup tembok putih terhadap tindakan Kerajaan Sinpor. Para guru seni bela diri pedang tahu kalau Kerajaan Sinpor itu punya tujuan jahat untuk mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya untuk kepentingan istana.

Operasi penangkapan di mulai di sekitar kerajaan terbesar. Banyak pendekar pedang terlibat pertarungan dengan para prajurit dan sejumlah besar pimpinan tertinggi prajurit.

Hasilnya semua pendekar pedang yang berada di dalam kerajaan besar, terlihat sedang bertarung, latihan bersama dan membawa pedang, di tangkap oleh prajurit. Mereka yang di tangkap harus mengabdi untuk menjadi prajurit atau menjadi tahanan.

Era pendekar pedang liar telah di mulai sejak lama. Namun semua yang terjadi sama sekali tidak membahayakan masyarakat.

Seminggu sebelum kebijakan Kerajaan Sinpor itu di kerjakan. Sepasang pendekar pedang muda sudah melakukan perjalanan sendirian di tempat dan desa yang berbeda. Tujuannya untuk mencari rahasia kekuatan pedang tersembunyi bernama pedang Zen Xi, di Desa Win dan pedang terkuat lain bernama Pedang Zou Chu di Desa Hon lembah terlarang.

Selama menempuh perjalanan jauh, mereka akan saling bertemu dengan melewati tempat penuh petarung liar dan melawan prajurit Kerajaan Sinpor. Mereka akan melewati hutan, air terjun. Lalu mereka berdua harus membantu warga desa yang di lewati sedang dalam masalah. Setelah tujuan mengambil rahasia pedang tersembunyi tercapai, mereka kembali ke desa masing-masing untuk menghancurkan Kerajaan Sinpor.

Kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan oleh orang tua perempuan. Namun mereka punya cara mengatasi masalah itu agar mereka bisa menikah.

****************

Di sebuah kedai minum tradisional untuk para lelaki hebat, masuk seorang pria berambut panjang memakai jubah pakaian sederhana, berjalan masuk melalui pintu depan yang berbunyi.

Suasana ruangan minum berubah menjadi mencekam. Para penghuni melihatnya dengan mata melotot saat berdiri masuk di pintu. Pria yang bernama Rio itu wajahnya tetap tenang dan terus memandangi sekitar ruang minum dengan tatapan mata biasa.

Rio, seorang pendekar pedang yang suka bertindak nekat dan belum bisa membaca dan mengatur keadaan jika dalam keadaan mendesak, namun tidak panik. Dia pendiam, namun dia punya tujuan di suruh oleh gurunya untuk berkelana. Rio dalam hal asmara tidak bisa membaca perasaan wanita. Namun Rio punya tujuan jelas dan akan di bantu oleh seorang wanita cantik yang menemani perjalanan mengambil pedang tersembunyi.

Langkah kaki Rio mengenakan sandal kayu menggema di ruangan minum yang sunyi, berjalan ke depan menuju meja.

"Pesan minum satu."

"Baik, tuan."

Pria berbadan besar berjalan menghampiri Rio sedang duduk. Tidak butuh waktu lama pesanan Rio di hidangkan di meja dengan gelas cukup besar berisi bir berwarna kuning penuh soda.

Pria berbadan besar itu berdiri di belakang Rio. Namun saat ingin mengambil gelas di tangan kanannya, pria itu langsung mengambil gelas lebih dulu dan melempar keras ke kepala Rio.

"Duaaaar....."

Gelasnya langsung pecah di tangan kanan Rio. Darah menetes jatuh ke lantai, telapak tangan di genggam mengangkat dekat kepalanya.

Sosok wanita muda bernama Jinsin memakai pakaian ketat masuk ke dalam ruang minum berjalan santai menuju meja, duduk di sebelah Rio melipat kakinya tidak melihat gelas pecah di lantai di antara Rio dan pria besar yang sedang bertengkar.

Jinsin adalah sosok wanita muda pemberani yang mampu menganalisa situasi, berani mengungkapkan perasaan, punya tujuan jelas dan tidak terburu-buru. Namun dia suka pemarah dan pemalu terhadap pria yang di sukai. Dia sedang berkelana sendirian mencari kekuatan pedang tersembunyi. Dia adalah wanita yang mampu menghajar pria dengan kekuatan besarnya tanpa pedang kalau sedang marah. Dia akan melengkapi perjalanan Rio dalam membantunya.

Dia adalah wanita yang baru saja singgah di kedai karena baru beberapa hari melakukan perjalanan dan sedang berhenti di sebuah kedai.

"Pesan minum satu, saya haus." ucap wanita itu duduk tersenyum ke pelayan.

"Baik bu, silahkan di tunggu."

"Na.. Nana Nana Nana na.."

Jinsin bersuara kecil sedang melantunkan nada nyanyian, melihat lemari penuh botol minuman, menidurkan dua lengan ke meja untuk bersantai sembari menunggu pesanan datang. Rio menurunkan tangan penuh darah yang masih mengalir hingga mejanya basah dengan wajah santai.

Seketika suasana tempat minum menjadi tidak mencekam dan tidak ada lagi tatapan para pemuda yang memelototi Rio saat Jinsin masuk ke dalam tempat minum. Suara berisik gelas dan botol minum serta percakapan kembali bersuara. Pria itu terus berdiri di belakang Rio tidak bergerak melihat kepalanya tanpa henti.

"Ini, Bu."

Pelayan meletakkan bir ukuran besar kepadanya, sembari mengelap meja di antara Rio dan Jinsin.

"Terima kasih, tuan. Uug. Uug. Uug. Uug. Uuug. Uug. Uug." Jinsin meminum segelas bir hingga habis dan meletakkan gelas itu dengan keras ke meja.

Rio hanya mendengar suara tegukan Jinsin yang sedang meminum bir dengan kepala tertunduk ke arah meja.

"Pesan minum satu, tuan." Rio mengangkat tangan kiri kepada pelayan.

"Baik." ucap pelayan hendak ke belakang menyiapkan minum.

Jinsin melihat ke wajah Rio dengan tatapan bahagia sembari mencagakkan dagu di telapak tangan kanan.

"Ini tuan minumnya."

Rio belum mengambil gelas itu menggunakan tangan kirinya. Karena pria besar itu masih berdiri di belakang sehingga masih merasa risau terhadap keberadaan pria itu saat hendak ingin meminum.

Beberapa menit Rio menunggu, pria itu tetap tidak mengambil gelas yang belum di minum.

"Kenapa tidak di minum?" tanya Jinsin kepada Rio diam menatap gelas bir.

"Iya, sebentar lagi ku minum." ucap Rio menjawab dengan senyum bahagia.

Beberapa menit setelah Rio menjawab pertanyaan Jinsin. Rio mengambil gelas birnya memakai tangan kiri secara perlahan sambil melihat pria besar dengan sebelah mata.

Pria besar itu langsung melempar gelas Rio. Dengan cepat, telapak kaki kanan Jinsin menangkis gelas bir Rio yang ingin di lempar pria besar itu ke kepalanya yang masih duduk tidak bergerak untuk melawan.

Wajah Jinsin mengeluarkan amarah hebat kepada pria itu hingga menendang wajahnya dengan kaki kanan penuh beling di sepatunya sampai terjatuh ke lantai.

"Plaaaakk.."

Jinsin memukul keras kepala Rio sedang duduk hingga terjedut ke meja jidatnya.

"Hey, apa yang kau lakukan, orang ini mau lempar gelas ke kepala mu!" teriak Jinsin memarahi Rio sedang duduk diam.

Jinsin mengangkang di antara tubuh pria besar itu dan menarik kerah bajunya. Lalu memukul wajahnya dengan pukulan kuat di tangan kanan berwajah marah beberapa kali.

Setelah selesai memukul, Jinsin meludahi wajahnya dan berdiri mengangkat tubuhnya setinggi langit kedai hingga kepalanya terjedut mengenai putaran kipas angin yang berputar. Lalu pria itu di lempar keluar tempat minum hingga pintu masuk rusak.

Suasana kedai minum menjadi sunyi, para pemuda minum bir menjadi diam ketakutan melihat reaksi Jinsin.

Wajah Jinsin berubah kesal sekali karena Rio tetap duduk tenang tidak memperhatikan tindakannya.

"Hiiiiikkh.... kau ini!"

Jinsin menarik baju Rio dari belakang sampai berdiri dan memutar tubuhnya ke wajah Jinsin berwajah marah.

"Hey, hey apa-apa'an ini." Rio kaget melihat reaksi Jinsin tiba-tiba.

"Kau, kau abaikan aku tadi, dimana kepala kamu tadi!" teriak Jinsin memegang wajah Rio penuh amarah hingga percikan ludah muncrat ke wajah.

"Aku minum. Memang kenapa?" ucap Rio jawab santai.

"Gak kau lihat tadi aku menolong kamu hah!" teriak Jinsin menarik baju Rio lebih keras sampai ke langit kedai.

"Iya aku tahu, cepat turunkan aku kepala ku ini sudah mau kena kipas angin." ucap Rio panik melihat reaksi Jinsin.

"Tidak mau!" ucap Jinsin kesal.

"Haaaaa... Tolong kepala ku." Rio ketakutan kepalanya mau kena baling kipas berputar.

"Hiiiikkh....."

Jinsin sangat kesal, menurunkan tubuh Rio lantai hingga terjedut.

"Aduh, sakitnya." Rio memegang bagian pinggang dengan wajah kesakitan.

"Hmpt.."

Jinsin memalingkan wajah kesal ke kanan, berdiri di depan Rio dengan melipat kedua tangan di dada.

"Terima kasih sudah menolong ku. Aduh sakitnya."

"Duduk pula kamu."

Jinsin sebal melihat Rio hanya berkata seperti itu sambil menarik kursi duduknya hingga terpelanting agak jauh dari Rio.

"Aduh. Kok kamu tarik kursi saya?" tanya Rio hingga tubuhnya nungging ke meja akibat di dorong Jinsin ke depan.

"Biarin, lagian kamu cuek sih!" teriak Jinsin memarkirkan telapak kaki kiri ke bokong Rio sedang nungging dengan ekspresi wajah kesal melihat kepalanya.

Setelah beberapa lama Rio di kerjain oleh Jinsin akibat rasa kesal karena balas budi tidak di sampaikan Rio. Jinsin menurunkan kaki kirinya.

Rio langsung berdiri berbalik badan melihat Jinsin dengan wajah tersenyum, berjalan melewatinya mengambil kursi dan duduk kembali untuk memesan minuman bir ukuran sedang kepada pelayan kedai.

"Birnya satu ya."

Rio memesan bir, mengangkat tangan kiri, menoleh ke Jinsin masih melipat kedua tangan wajah kesal, mata menutup.

Tidak lama kemudian birnya datang, di di letakkan di meja Rio.

"Ini, birnya tuan."

Jinsin melihat bir Rio datang dengan mata terbuka sebelah seolah mengintip, melipat kedua tangan dengan wajah heran.

Rio langsung mengambil gelas penuh bir yang sodanya sampai keluar menutupi gelas hingga membasahi meja. Saat Rio hendak memasukkan gelas bir ke mulutnya, Jinsin langsung bertindak kaget.

"Minum ini, minum yang banyak!"

Jinsin mengarahkan gelas bir ke mulut Rio hingga tumpah ke wajah dengan kepala di pegang ke atas sedikit olehnya, berwajah sebal.

1
fnrm
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!