Menikahi sahabat sendiri seharusnya sederhana. Tetapi, tidak untuk Avellyne.
Pernikahan dengan Ryos hanyalah jalan keluar dari tekanan keadaan, bukan karena pilihan hati.
Dihantui trauma masa lalu, Avellyne membangun dinding setinggi langit, membuat rumah tangga mereka membeku tanpa sentuhan, tanpa kehangatan, tanpa arah. Setiap langkah Ryos mendekat, dia mundur. Setiap tatapannya melembut, Avellyne justru semakin takut.
Ryos mencintainya dalam diam, menanggung luka yang tidak pernah dia tunjukkan. Dia rela menjadi sahabat, suami, atau bahkan bayangan… asal Avellyne tidak pergi. Tetapi, seberapa lama sebuah hati mampu bertahan di tengah dinginnya seseorang yang terus menolak untuk disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B-Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Ada istilah yang mengatakan 'Seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya' untuk sebagian orang, istilah itu mungkin memang benar mereka rasakan. Namun, tidak untuk Avellyne. Dia pikir hidup di tengah-tengah keluarga cemara yang harmonis. Dia pikir sang papa sangat mencintai mamanya. Sama seperti sang mama yang sangat mencintai papanya itu. Namun ternyata, kadar cinta antara orang tuanya tidaklah sama.
Cinta sang mama begitu besar sehingga mau menerima semua perlakuan tidak adil dari suaminya sendiri.
Katanya atas nama cinta dan demi anak-anak.
Avellyne baru menyadari jika ternyata hubungan kedua orang tuanya tidak seperti yang dia bayangkan. Seiring bertambahnya usia, wanita itu akhirnya melihat kenyataan kalau lelaki yang memiliki gelar suami sekaligus papa adalah pria terburuk yang pernah dia temui.
Kejadiannya kira-kira kurang lebih tiga belas tahun yang lalu, Avellyne masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Untuk pertama kali secara tidak sengaja dia melihat sang mama dipukuli oleh papanya.
Seorang istri mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya sendiri. Avellyne antara percaya dan tidak. Berawal melihat dari kekerasan fisik tersebut akhirnya dia melihat semua kenyataan jika kehidupan mamanya selama ini adalah palsu.
Seorang papa yang awalnya dia banggakan, seorang papa yang awalnya sangat dia hormati, sangat dia kagumi dan sangat dia cintainya ternyata adalah sosok pria manipulatif serta penuh dengan kebohongan.
Di saat itulah menjadi titik kehancuran dan kekecewaan terbesar Avellyne. Seorang Ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya berubah menjadi sosok Ayah yang menorehkan rasa kecewa, luka dan sakit yang begitu dahsyat untuk Avellyne. Bahkan rasa trauma dan kehilangan kepercayaan.
Dari sinilah Avellyne yang ceria, Avellyne yang selalu bersemangat berubah menjadi pendiam dan pemurung. Dia akan terlihat baik-baik saja di depan para sahabatnya. Dia berpura-pura terlihat kuat, namun rasa kecewa itu masih terus bersarang hingga detik ini.
***
"Hann!" Avellyne memutuskan untuk menemui salah satu sahabatnya–Hanna.
Dia pikir bisa mendapatkan ketenangan dan solusi dari sahabatnya itu.
Melihat kondisi Avellyne, Hanna tidak memberikan satu pertanyaan pun. Dia langsung memberikan pelukan dan menepuk-nepuk punggung sang sahabat.
Jika memang ingin, Avellyne pasti akan menceritakan semuanya tanpa diminta untuk menjelaskan.
"Kita masuk dulu!" Hanna menggiring sahabatnya untuk masuk dan mereka berjalan menuju ruang santai.
Namun, belum lagi sampai di tujuan, anak sulung Hanna– Sagara Arzan Aswangga menghampiri.
"Tante Avel!" Sagara menyalim tangan Avellyne dan memerhatikan sahabat bundanya itu yang tengah menangis.
"Tante nangis?" tanya anak kecil itu.
"Siapa yang sudah membuat Tante nangis?" tanyanya lagi.
Avellyne berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sagara.
Avellyne menyeka air matanya dan tersenyum tipis. "Tante menangis karena kehilangan sesuatu. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Kalau ada orang jahat, Tante tinggal bilang ke Bunda. Karena Bunda jago menghajar orang jahat."
"Kenapa harus bilang ke Bunda? Bukannya harus bilang ke Ayah yang cowok karena tenaganya lebih kuat?" tanya Avellyne. Dia sengaja mengalihkan pikirannya agar bisa lebih tenang meski hanya sebentar.
Sagara menggelengkan kepala dengan tatapan fokus melihat Avellyne. Untuk usianya yang masih kecil, rasa penasarannya cukup tinggi.
"Bunda lebih kuat dari Ayah. Soalnya Abang pernah lihat Ayah kesakitan dan minta ampun waktu Bunda mengeluarkan teknik karatenya."
Avellyne terkekeh mendengar pengakuan dari anak kecil tersebut sedangkan Hanna menahan malu setengah mati. Kejadian sebenarnya bukanlah kekerasan dalam rumah tangga.
Hanna hanya memberikan sedikit pelajaran kepada suaminya karena merasa kesal.
Bukankah wajar, dalam rumah tangga ada sedikit pertengkaran sebagai bumbu kehidupan?
"Tante setuju sama kamu. Tante memang ingin minta perlindungan dari Bunda. Makanya Tante datang ke sini."
"Abang, mainnya di tempat lain dulu, ya! Bunda sama Tante Avel mau bicara penting."
"Baik, Bun."
"Tante jangan nangis lagi, ya." Sagara tersenyum lebar lalu tiba-tiba dia menyeka sisa air mata Avellyne dan setelahnya anak kecil itu pun pergi berlari dengan kaki kecilnya.
"Loe punya anak yang pintar, Hann," ucap Avellyne sudah berdiri seperti sebelumnya.
"Beberapa tahun ke depan loe juga akan mempunyai anak seperti Saga."
Kali ini Avellyne tersenyum getir.
Jangankan anak, untuk menikah saja dia merasa begitu berat.
"Lain kali kalau bertengkar dengan kak Reyiu jangan sampai anak-anak loe melihat. Mereka bisa salah paham." Avellyne berkata hanya sekedar mengingatkan. Apalagi usia anak-anak Hanna masih begitu kecil. Bisa saja mereka salah mengartikan, bisa saja mereka beranggapan mama mereka adalah wanita jahat.
"Aku dan kak Reyiu enggak pernah bertengkar hebat. Kamu tenang aja. Kalau pun ada perdebatan, kami usahakan menjauh dari anak-anak."
Dua wanita itu kembali melangkah memasuki ruang santai dan setelah sampai, keduanya duduk di tempat masing-masing, Hanna menelepon asisten rumah tangga. Dia meminta dibawakan minuman serta makanan.
"Loe enggak mau menanyakan apa pun ke gue?" tanya Avellyne.
Karena Sagara tadi, tangis Avellyne kini sudah berhenti dan yang tersisa hanya suara segukan akibat dia menangis sepanjang jalan menuju kediaman Hanna dan Reyiu.
"Loe pasti bakal cerita tanpa gue minta. Kalau loe enggak mau bicara, gue akan tetap diam. Enggak semua orang mau menerima pertanyaan di saat dia sedang sedih."
"Apalagi loe bukan Avel yang gue kenal dulu. Sekarang loe adalah Avellyne yang berbeda. Sekarang loe menyimpan semuanya sendiri bukan Avellyne yang selalu terbuka. Gue sedang berusaha memahami keadaan loe yang sekarang, Vel."
Avellyne tersenyum getir mendengar semua ucapan Hanna. "Enggak salah gue datang ke sini. Loe benar... gue bukan Avellyne yang dulu. Sementara loe tetaplah Hanna yang selalu penuh pengertian. Apa yang dibilang Saga juga benar, kalau loe bisa diandalkan untuk melindungi melebihi siapa pun." Avellyne mengerjapkan mata berkali-kali sebab dia sedang menahan diri agar air matanya tidak keluar lagi.
"Jangan menahannya, Vel. Loe bisa menangis sepuasnya di depan gue." Hanna kembali memeluk sahabatnya itu.
Dari luar Avellyne memang terlihat sangat rapuh sekali hari ini.
Pada akhirnya, tangisan itu kembali keluar.
"Ja–jangan beritahu Ryos, Hann," pinta Avellyne di sela-sela suara isak tangisnya.
"Iya. Loe tenang aja." Seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya menangis, Hanna mengelus dan sesekali menepuk punggung sahabatnya dengan pelan. Tidak lupa pula, Hanna mengelus rambut Avellyne.
Menit demi menit sudah terlewati, Hanna masih setia menemani sahabatnya itu. Dia bahkan meminta pengertian Reyiu–sang suami yang sudah pulang dari kantor. Melalui chat wa, Hanna menjelaskan secara singkat situasi saat ini dan untungnya pria itu mau mengerti.
"Bagaimana? Loe masih merasa sesak?" tanya Hanna.
Avellyne menggeleng lemah. "Gue merasa sedikit tenang sekarang."
"Hann... apa boleh gue tanya sesuatu?" Avellyne melihat sekilas lawan bicaranya lalu dia menunduk melihat jari-jarinya sendiri.
"Loe bebas mau tanya apa aja."
"Seberapa besar rasa kepercayaan loe ke kak Reyiu?" Avellyne mengangkat wajahnya dan melihat Hanna dengan seksama. Dia memerhatikan raut wajah sahabatnya itu dan juga melihat sorot mata sang sahabat.
"Seberapa besar, ya. Hmm, sangat besar. Gue memberi kepercayaan penuh."
"Apa pernah dia mengecewakan loe?"
"Kak Reyiu manusia biasa, Vel. Gue juga. Gue enggak pernah meminta dia menjadi suami dan ayah yang sempurna. Sebaliknya, gue berusaha keras agar menjadi yang terbaik di keluarga ini."
"Daripada meminta sesuatu yang besar kepada kak Reyiu, gue lebih fokus menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau kita baik, maka Allah akan mengirimkan orang baik untuk kita."
"Kadang seseorang meminta sesuatu yang baik dan sesuatu yang mendekati sempurna, tapi dia sendiri tidak sadar dengan kualitas hidupnya."
"Kak Reyiu pernah membuat gue kecewa, tapi dari sudut pandangnya dia sudah melakukan yang terbaik untuk istrinya. Tinggal kita sendiri bagaimana menyikapi. Baik menurutnya, belum tentu baik untuk kita dan sebaliknya juga begitu. Maka solusinya adalah komunikasi dan saling terbuka. Saling memahami dan meluruskan kesalahpahaman."
Avellyne mendengarkan dengan baik setiap perkataan Hanna. Sedikit banyaknya dia mengerti. Ya, meski ada beberapa poin yang tidak bisa dia terima.
Mamanya adalah istri yang baik, tetapi kenapa Tuhan memberikan seorang suami seperti papanya?
Mamanya memberikan cinta yang begitu besar, bukankah seharusnya sang mama layak mendapatkan balasan cinta yang sama? Tetapi, apa yang terjadi malah sebaliknya.
Cinta dan kebaikan yang diberikan sang mama dengan tulus malah dibalas oleh penghianatan dan kekerasan fisik. Luka nyata itu bahkan berbekas pada lengan mamanya.
"Lalu... apa pandangan loe soal cinta?" Avellyne kembali bertanya.
Hanna tidak langsung menjawab, dia sedang memikirkan sesuatu. Mencari jawaban terbaik untuk meyakinkan Avellyne.
"Kalau itu, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Ada bentuk cinta yang memberikan kekuatan. Seperti perasaan gue ke kak Reyiu. Bagi gue, kami berdua saling memberikan kekuatan, saling memberikan kenyamanan dan saling menyembuhkan."
"Tapi, tidak semua orang mengalami apa yang gue rasakan. Ada juga bentuk cinta yang menyakitkan. Bukan salah pihak yang mencintai, tapi salahnya ada dipihak penerima cinta. Contohnya seperti kasus Vallerie. Dia memberikan cinta yang tulus, tapi siapa sangka cintanya tidak berbalas. Kalau sudah seperti itu, meninggalkan lebih baik. Cinta tidak harus hidup bersama. Adakalanya berpisah membawa kebahagiaan."
"Ada juga yang namanya cinta buta. Apa pun yang dilakukan pasangannya, sekejam apa pun penderitaan yang dia terima, dia tetap tidak ingin melepaskan. Berharap suatu hari nanti pasangannya akan berubah. Dan sebenarnya masih ada banyak lagi jenis cinta itu. Semuanya kembali kepada diri kita sendiri ingin melihat dari sudut pandang yang mana. Bukan orang lain yang memutuskan, tetapi diri kita sendiri, Vel. Loe ingin melihat makna cinta dari sudut pandang yang mana? Dunia ini sangat luas, tidak semua orang memiliki sifat yang sama. Orang baik dan orang jahat memang selalu berdampingan. Tetapi, bukan berarti loe bisa menyamaratakan bahwa semua orang jahat."
Hanna cukup banyak memberikan jawaban untuk sahabatnya itu. Dia berharap apa yang dikatakannya bisa membuka hati Avellyne untuk bisa memercayai orang lain dan berharap sahabatnya itu bisa percaya dengan yang namanya cinta. Bahwa tidak semua cinta itu menyakitkan.
"Apa jawaban gue cukup membuka pikiran dan isi hati loe?"
Avellyne tidak menjawab, yang terdengar malah helaan napas berat.
Ternyata jawaban panjang dari Hanna tidak bisa membuatnya yakin tentang kehidupan ini.
Dia pernah begitu percaya dan mencintai papanya. Tetapi, berakhir dengan pengkhianatan. Meski yang diselingkuhi sang mama, dia ikut merasakan sakitnya.
Meski yang mendapatkan kekerasan fisik adalah mamanya, namun sekujur tubuhnya ikut merasakan sakit.
Jika orang terdekatnya berani mengkhianati, bagaimana bisa dia percaya dengan orang lain?
Orang terdekat saja bisa dengan tega menyakiti, maka orang lain pun bisa melakukan hal yang sama tanpa perlu berpikir panjang.