NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA

TAKDIR CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Revan adalah pria tampan dan pengusaha muda yang sukses. Namun di balik pencapaiannya, hidup Revan selalu berada dalam kendali sang mama, termasuk urusan memilih pendamping hidup. Ketika hari pertunangan semakin dekat, calon tunangan pilihan mamanya justru menghilang tanpa jejak.

Untuk pertama kalinya, Revan melihat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Bukan sekadar mencari pengganti, ia menginginkan seseorang yang benar-benar ingin ia perjuangkan.

Hingga ia teringat pada seorang gadis yang pernah ia lihat… sosok sederhana namun mencuri perhatiannya tanpa ia pahami alasannya.

Kini, Revan harus menemukan gadis itu. Namun mencari keberadaannya hanyalah langkah pertama. Yang lebih sulit adalah membuatnya percaya bahwa dirinya datang bukan sebagai lelaki yang membutuhkan pengganti, tetapi sebagai lelaki yang sungguh-sungguh ingin membangun masa depan.

Apa yang Revan lakukan untuk meyakinkan wanita pilihannya?Rahasia apa saja yang terkuak setelah bersatu nya mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 perjalanan

Awal mula hari yang berbeda bagi Eliana.

Ia perlahan tersadar dari tidurnya, masih setengah sadar. Namun seketika keningnya berkerut ketika ia merasakan sesuatu yang berat menekan perutnya. Dengan ragu, Eliana membuka mata.

"Astaghfirullahaladzim…"

Refleks ia menahan napas saat menyadari sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, mengeratkan pelukan dari belakang.

“Revan…” gumam Eliana terbata.

Sesaat kemudian, senyum kecil terukir di bibirnya. Ingatannya kembali utuh, ia telah menikah. Pria yang kini memeluknya bukan lagi orang lain, melainkan suaminya sendiri.

Eliana melirik jam dinding di kamar. Angkanya menunjukkan pukul setengah lima pagi. Waktu Subuh hampir tiba.

Dengan gerakan hati-hati, Eliana mencoba membangunkan Revan.

“Re… Revan… bangun,” bisiknya lembut.

“Sebentar lagi Subuh.”

“Hmmm…” gumam Revan pelan.

Alih-alih bangun, Revan justru menarik Eliana lebih dekat ke dalam pelukannya. Lengannya mengencang, seolah enggan melepaskan kenyamanan yang ia rasakan. Revan benar-benar menikmati momen itu.

Eliana terdiam. Jantungnya berdegup tidak karuan. Wajahnya memanas, pikirannya mendadak kosong. Ia bingung harus bersikap bagaimana.

Beberapa detik kemudian, Eliana kembali mencoba.

“Revan,” ucapnya lebih tegas namun tetap lembut.

“Sudah Subuh. Nanti waktunya habis.”

Revan akhirnya membuka mata. Ia tersadar akan posisinya dan segera melepaskan pelukan itu, lalu duduk.

“Kamu sudah bangun?” ucapnya dengan suara masih serak.

“Maaf… kalau aku membuatmu tidak nyaman.”

Nada suaranya terdengar tulus, meski dalam hatinya ia sadar betul apa yang ia lakukan tadi.

Eliana tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, senyum yang begitu menenangkan bagi Revan. Sebenarnya ia tidak merasa keberatan. Mereka telah sah. Hanya saja, ia memang belum sepenuhnya siap melangkah lebih jauh.

“Ayo bersiap,” ajak Eliana pelan.

Keduanya pun bangun dan bersiap melaksanakan kewajiban mereka.

Pagi itu terasa begitu tenang. Untuk pertama kalinya, Eliana dan Revan melaksanakan salat Subuh berjamaah sebagai suami istri. Revan berdiri di depan sebagai imam, sementara Eliana mengikutinya di belakang. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan, sebuah awal yang sederhana namun penuh makna.

Selesai salat, Eliana menyalami tangan Revan. Revan membalasnya dengan mencium kening Eliana.

Mereka tidak langsung berdiri. Revan menggenggam tangan Eliana dengan lembut.

“Apa yang kamu rasakan?” tanyanya pelan.

Eliana menatap Revan sejenak.

“Aku… bahagia,” jawabnya jujur.

“Tapi juga masih tidak percaya… dan sedikit takut.” Suaranya melemah di akhir kalimat.

Revan mengangguk, seolah memahami setiap kegundahan itu.

“Kamu tidak perlu takut,” ucapnya sambil mengeratkan genggaman.

“Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama.”

Eliana mengangguk mantap.

“Ayo, kita bersiap,” lanjut Revan sambil melipat sajadah.

“Nanti setelah sarapan, kita langsung berangkat.”

“Berangkat ke mana?” tanya Eliana penasaran.

Revan mendekat. Ia berdiri di belakang Eliana yang sedang menggantung mukena. Dengan suara rendah, hampir berbisik, ia berkata,

“Bulan madu.”

Eliana merinding seketika. Wajahnya memerah, namun senyum tak bisa ia sembunyikan.

Revan tersenyum melihat reaksi istrinya. Ada rasa gemas yang sulit ia tahan.

“Tapi aku belum mengemasi keperluanku,” ucap Eliana akhirnya.

“Tidak perlu,” jawab Revan tenang.

“Semuanya sudah disiapkan. Yang perlu kita lakukan sekarang hanya bersiap.”

Pagi itu, senyum Eliana tak lepas dari wajahnya. Ia sadar, hidup barunya telah dimulai, bersama seseorang yang memilih berjalan seiring, bukan melangkah lebih dulu.

---

Setelah acara malam tadi, suasana hotel terasa lebih hidup dari biasanya.

Eliana dan Revan turun ke restoran hotel untuk sarapan. Revan menggenggam tangan Eliana, seolah ingin memastikan istrinya selalu berada di sisinya. Keduanya melangkah menuju restoran hotel, restoran bergaya semi, terbuka dengan cahaya pagi yang lembut dan aroma kopi yang menenangkan.

Begitu mereka muncul, beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka.

“Wah… pengantin baru turun juga akhirnya,” celetuk Nadia dengan nada jahil sambil tersenyum lebar.

“Auranya beda banget, lho.”

Eliana tersipu, sementara Revan hanya tersenyum tipis.

“Ayo sarapan?” ajak Fatma lembut sambil menarik kursi untuk Eliana.

“Kelihatannya kalian berdua segar sekali.”

“Alhamdulillah, Bu,” jawab Eliana sopan. Ada perasaan malu karena begitu diperhatikan oleh orang disekelilingnya.

Ridwan mengangguk puas melihat putrinya.

“Kelihatannya kamu bahagia, Nak.”

Eliana membalas dengan senyum hangat. “Iya, Yah.” Jawab Eliana singkat.

Sarapan pagi itu berlangsung akrab. Obrolan ringan mengalir, ditambah lagi tentang rencana hari itu, makanan hotel yang lezat, dan sedikit canda dari Nadia yang tak henti menggoda pengantin baru.

Namun, suasana sedikit berubah ketika Miranda datang terlambat. Wajahnya tampak pucat, langkahnya lemah.

“Aduh… kepala Mama pusing sekali,” ucap Miranda sambil memegangi pelipisnya.

“Mama rasa tidak enak badan.”

Revan langsung berdiri. “Mama kenapa?”

Miranda menatap Revan lama, lalu berkata pelan, “Kamu tidak seharusnya pergi hari ini, Revan. Mama butuh kamu di sini.”

Udara seketika terasa canggung.

Sebelum Revan sempat menjawab, ayah Revan berdeham pelan.

“Sudahlah,” ucapnya tenang namun tegas.

“Kalian tidak perlu khawatir. Mama kamu hanya kelelahan. Ada Papa di sini, iya kan ma.”

Miranda menoleh tajam, namun Surya melanjutkan tanpa ragu,

“Pergilah. Ini waktunya kalian. Jangan pikirkan apa-apa.”

Nenek Sonya ikut tersenyum dan mengangguk setuju.

“Benar. Perjalanan kalian tidak boleh ditunda, apalagi batal. Mama kamu nanti juga akan  baik-baik saja.” nenek Sonya tersenyum kecil saat melihat reaksi putrinya.

Miranda terdiam. Ia tak bisa membantah lebih jauh. Tangannya mengepal di bawah meja, namun wajahnya berusaha tetap tenang.

Eliana menggenggam tangan Revan pelan, memberi dukungan tanpa kata. Sebenarnya Eliana juga tidak enak, jika harus pergi dalam keadaan seperti ini.

“Terima kasih, Pa,” ucap Revan mantap.

“Kami akan segera kembali.”

Setelah sarapan selesai, mereka berpamitan. Eliana menyalami kedua orangtua dan kedua orang mertuanya. lalu memeluk Nenek Sonya dengan penuh hormat.

“Jaga diri baik-baik,” pesan Fatma.

“InsyaAllah, Bu,” jawab Eliana.

Sebelum masuk mobil Eliana berpesan pada Nadia." Nad titip Ayah dan ibu ya."

"Ia kamu tenang saja, konsen pada bulan madu mu, biar ponakanku cepat jadi." Jawab Nadia asal.

Eliana tidak menjawab hanya matanya yang membulat sempurna.

Perjalanan pun dimulai.

Di dalam mobil menuju bandara, Eliana sesekali melirik Revan. Rasa penasaran jelas terpancar di wajahnya.

“Kita mau kemana sih?” tanyanya lagi.

Revan tersenyum kecil. “Tunggu saja.”

Sepanjang perjalan, Revan tetap menyembunyikan tujuan mereka. Ia hanya memastikan Eliana nyaman.

Di bandara, Revan mengurus semuanya. Eliana hanya mengikuti, masih bertanya-tanya.

“Sebenarnya kita mau ke mana, Re?” tanyanya lagi saat mereka duduk menunggu panggilan boarding.

Revan mendekat, suaranya rendah.

“Yang pasti… tempat yang tenang, indah, dan pas untuk pasangan seperti kita.”

Eliana mendengus kecil, namun senyumnya tak bisa disembunyikan.

Di dalam pesawat, Revan menaruh selimut di bahu Eliana.

“Tidur saja kalau lelah.”

Eliana mengangguk. “Kamu benar-benar penuh rahasia hari ini.”

Revan terkekeh pelan. Lalu menggenggam tangan istrinya, seolah menyalurkan rasa aman.

Eliana memejamkan mata, bersandar nyaman di bahu suaminya. Dalam hati, ia mengucap syukur dan berdo"a semoga ini awal yang indah untuk pernikahan mereka. Eliana berpikir tak peduli ke mana mereka pergi, selama mereka bersama, itu sudah lebih dari cukup.

1
Yus Nita
semoga kln berdua mendapat kan azab yg setimpal. mak lampir dan siluman rubah
emang sepaket y..
Yus Nita
ini lah engikut Danjal, karena sdh buta matahati ny utk ber buat yg baik.
Yus Nita
si rubah siluman kah itu...
Yus Nita
apa y rahadia masa lalusiMirsndha
jafi pinisirain.. 😁😁😁
Muffin🧚🏻‍♀️: Hai sahabat pembaca!
Aku baru aja rilis cerita baru berjudul “Menjebak Cucu Presdir” ✨

Cleona hanya ingin menyelamatkan ibunya dari penyakit mematikan, tapi sebuah kesalahan membawanya ke kamar Batara, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia. Kini, hidupnya terjerat antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tak pernah ia duga. Apakah ini awal kehancuran… atau takdir yang menunggu?

🔥 Jangan lupa mampir dan ikuti kisahnya yaa~
total 1 replies
Yus Nita
wadoohh..
sprti ny Revan, hrs menyia jan pengawslbsysngsn deh buat Elliana.
Yus Nita
dasar siluman rubah
Yus Nita
syukurin kau meranda, dot imbanglo kan 😀😀😀
Yus Nita
o, o,.. siapa dia...
Yus Nita
emang sr kaya apa yach si Murandha, seblom menikah dengsn papa surya.
jingga segitu nyenilsi dxn ketidak sukaan ny pada Elliana
Yus Nita
masuk siluman rubah
Yus Nita
kebohongan membaws Berkah 😁😁😁
Siti Nurhasanah
sekarang kan subuh jam 04
Siti Nurhasanah: oh iya ya
total 2 replies
erviana erastus
ckckck revan2 beres kan dulu si celine baru happy2 sama elina .... 😏😏😏😏
erviana erastus
dasar j*******g giliran ninggalin revan nggak ngotak skrng mau balikkan 🤣 nggak laku ya say makax cari mantan
erviana erastus
ada rahasia apa dinnk lampir
erviana erastus
emak satu ini minta ditampar biar sadar
erviana erastus
ribet ... knp nggak langsung nikah aza .... satu lagi jalang dia yg pergi tp merasa tersakiti ... hei Miranda kamu tuh ya buka tuh mata lebar2 jadi tau kelakuannya si celine
erviana erastus
jadi orang nggak usah terlalu baik el, tuh calon pelakor didepanmu .....
erviana erastus
miranda ini batu banget, tipe emak2 sok kuasa 😏
erviana erastus
calon plakor mulai tampil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!