Mentari Senja, gadis desa yang berusia 18 tahun. Anak terakhit dari pasangan Jaka dan Santi. Dia merupakan salah satu gadis yang menjadi primadona di desanya. Dia mempunyai keluarga yang sederhana dan ayah yang sangat disayanginya. Mentari adalah sosok gadis yang lembut, cantik dan pendiam serta sangat menuruti permintaan sang ayah. Namun siapa sangka Mentari tiba-tiba saja dijodohkan oleh sang ayah dengan sosok lelaki yang dia tidak kenal sama sekali. Dia terpaksa harus menerima perjodohan itu demi kesembuhan sang ayah. Mengubur semua cita-citanya selama ini dan harapannya untuk melanjutkan pendidikan. Hidup dengan seorang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, tapi tidak pernah dianggap dan dicintai.
Chapter 28
Mentari dan Queen yang baru saja sampai di kantin langsung saja matanya tertuju pada meja Willie.
“Kita disana aja Tar” tunjuk Queen pada meja di pojokan kantin.
Mentari hanya menganggukkan kepala, namun tatapan-nya masih ke arah Willie dan Natasya.
Mereka berdua duduk di meja tersebut setelah memesan makanan.
Queen yang melihat Mentari menatap ke arah Willie menaikkan sebelah alisnya.
“Gua nanti mau main ke apartemen kak Willie” ucap Queen santai.
Mentari langsung saja menoleh pada temannya itu dengan tatapan terkejut.
“Ngapain?”
“Eh maksud aku kamu mau main kesana?” tanya Mentari.
“Iya, gua mau kesana. Gua mau tahu apa bener kak Willie udah memiliki seorang istri!”
“Sedangkan kita tahunya kak Willie masih menjalin hubungan sama tu si natadecoco” lanjut Queen.
“Apa si natadecoco itu istri kak Willie!”
“Kenapa kamu ingin tahu siapa istrinya kak Willie Queen?”
“Jelas dong, aku kan adik sepupunya. Masak aku nggak kenal sama istrinya kakak sepupu aku sendiri” ucap Queen santai.
Mentari hanya mengangguk pelan saja sambil tersenyum kikuk.
‘Aku istrinya kak Willie Queen, kalau kamu ingin tahu. Bukan Natasya!’ batin Mentari.
‘Tapi tidak mungkin aku memberi tahu sama kamu. Yang ada kak Willie marah sama aku’ Mentari menatap Queen dalam.
“Kamu yakin kalau pembantu kak Willie itu bilang istri bukan pacar” ucap Mentari.
“Nggak tahu juga sih, soalnya pas bibik itu bicara gua lagi main game” ucap Queen sambil tertawa.
“Aku yakin kamu pasti salah dengar” ucap Mentari, ia mencoba untuk menyakini Queen kalau apa yang di dengarnya itu adalah salah.
“Mungkin aja sih, tapi gua tetap mau main ke apartemen-nya kak Willie” ujar Queen.
“Udah mending kita makan aja” lanjut Queen.
.
Selesai makan di kantin, Willie mengantar Natasya ke kelas. Gibran dan Geral menatap malas dua orang yang sedang berjalan di depan mereka. Sejoli yang sedang bergandengan tangan dengan sangat mesra.
“Gua mau ke ruangan osis dulu, lu mau ikut sama gua atau mau ikut sama si Willie Ger?” ucap Gibran menatap ke arah Geral.
“Gua ada keperluan di ruangan guru” ucap Geral yang langsung pergi.
“Mereka semua kenapa sih? Kayak nggak suka gitu sama aku” ucap Natasya menatap mereka berdua heran.
“Udah kamu nggak usah mikirin mereka, kayak nggak tahu aja Gibran sama Geral gimana orangnya” ucap Willie lembut.
“Tapi mereka bikin aku kesel aja” ucap Natasya dengan wajah cemberutnya.
“Udah biarin aja, aku anterin kamu ke kelas yuk” Willie mengandeng tangan Natasya.
.
“Si Willie bego banget jadi cowok, udah tau Natasya cuma mau morotin uangnya aja. Tapi masih juga tutup mata” gerutu Geral kepada Gibran.
“Kayak lu nggak pernah bego seperti itu juga” balas Gibran sambil menatap Geral dengan tengil.
“Ampun suhu!” Geral menyatukan kedua tangannya di depan dada menghadap pada Gibran.
“Kayak lu yang paling pinter aja urusan cewek. Putus udah lama aja sampe sekarang belum move on juga lu” gerutu Geral.
“Udah ya” ucap Gibran Ketus.
Gibran kembali berjalan menuju ke ruangan osis, karena memang ia ada keperluan disana.
“Woi mau kemana lu?” Geral mengerutkan keningnya saat melihat sikap dingin Gibran.
“Ruangan osis lah!”
Melihat Gibran yang semakin lama semakin menghilang, Geral hanya dapat berdecak kesal saja.
“Mending gua ke perpustakaan aja, lagi pula gua tadi cuma bohong aja. Siapa tahu gua bisa ketemu sama adik kelas yang cantik-cantik disana” ucap Geral sambil tersenyum jahil.
Geral masuk ke dalam perpustakaan. Kebetulan sekali suasana perpustakaan tidak terlalu ramai dan juga tidak ada penjaga perpustakaan. Geral langsung duduk di meja yang terdapat beberapa murid cewek. Ia tidak tahu entah itu siswa kelas 10, 11 atau kelas 12.
“Hai lagi baca apa?” tanya Geral pada salah satu cewek tersebut.
“Kak Geral, ya ampun beneran kak Geral kan” ucap cewek itu sambil tersenyum bahagia.
“Ah nggak kak cuma baca novel aja!”
“Mau aku temenin baca bukunya” ucap Geral sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Serius kak?” tanya gadis itu terkejut.
Geral hanya menganggukan kepalanya sambil menunjukkan senyum manisnya.
“Mau banget kak” ucap cewek tersebut.
Siapa cewek yang akan menolak ketampanan seorang Geral di sekolah ini. Walaupun dia akui kalau Willie dan Gibran lebih tampan dari dirinya, tapi tidak ada yang bisa menaklukan hati wanita seperti dirinya.
‘Gua emang royal sama cewek, tapi gua nggak bego kayak Willie’ batin Geral tersenyum miring.
.
“Sayang aku kan bawa mobil, jadi nanti pulang sekolahnya sendiri aja ya. Gak apa-apa kan?” tanya Natasya.
“Yakin sendiri aja?” tanya Willie yang mulai posesif dengan pacarnya itu.
“Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Natasya dengan wajah sedihnya.
“Bukan aku tidak percaya sama kamu, tapi tumben banget kamu bawa mobil ke sekolah!”
“Biasannya kalau nggak aku jemput pergi ke sekolah kamu selalu diantar” ujar Willie menatap Natasya.
“Ah itu, tadi pak Yanto ngaterin mama. Ha iya nganterin mama” ucap Natasya sedikit gugup.
Bukan bermaksud apa-apa, tapi siapa yang tidak akan ragu melihat kekasihnya yang biasa tidak pernah seperti itu, tau-tau sekarang seperti ada yang di sembunyikan oleh dia.
“Pulang sama siapa?” tanya Willie kembali.
“Emm…. sama temen cowok aku.”
“Berani kamu ya terang-terangan pulang sama cowok lain di depan aku. Nggak bisa!”
“Kamu pulang aku yang nganterin, mobil kamu biar nanti Geral yang bawa. Enak banget ngomong pulang sama temen cowok!” muka Willie berubah menjadi datar,, wajah yang sangat tidak bersahabat sekali.
Natasya langsung saja tertawa melihat ekspresi wajah Willie yang berubah menjadi datar.
“Aku bercanda sayang.” Natasya menangkut wajah Willie dengan kedua tangan nya.
“Aku pulang sama Lisa nanti, karena kita berdua udah janjian mau pergi ke mall dulu” ujar Natasya sambil tersenyum.
Willie mengerutkan dahinya dengan bingung, apa bagi gadis itu hal ini main-main.
“Aku suka deh kalau kamu cemburuan kayak gini sama aku.”
“Bikin aku gemes” Natasya mencubit pipi Willie dengan gemas.
“Aku lagi nggak bercanda Nat” ucap Willie begitu datar tanpa ekspresi menatap Natasya.
“Iya sayang, aku bercanda tadi. Kalau nggak percaya tanya sama Lisa” ucap Natasya sambil menatap Willie dalam.
“Udah ya jangan kayak gitu lagi wajahnya, jelek loh.”
“Awas ya kalau kamu bohongin aku” ucap Willie.
“Iya ih, kamu nggak bisa banget dibercandain.”
“Aku anterin aja kamu ke mall nya” Willie mengandeng tangan Natasya kembali.
Natasya terkekeh kecil melihat sikap posesif Willie pada dirinya.
“Nggak usah, kan aku sama Lisa!”
“Kartu kamu yang di aku itu gimana sayang?” tanya Natasya.
“Udah kamu bawa aja, pasti nanti kamu juga bakalan belanja kan” ujar Willie.
“Makasih sayang” Natasya tersenyum lebar.
Masih sama seperti saat mereka berada di kantin tadi, ada seseorang yang tak suka dengan kebersamaan antara Natasya dan juga Willie. Orang tersebut ingin mereka berdua putus, kalau perlu saling membenci satu sama lain.
Bugrrhh
“Kalau jalan mata lu itu di pake” ucap Regal ketus pada Willie.
“Eh bangs*t lu yang sengaja senggol gua, malah lu yang marah” ucap Willie tak kalah ketus.
Cowok itu paling tidak suka kalau ada seseorang yang sengaja mencari masalah dengan dirinya. Walaupun ia tau kalau orang tersebut terkenal sebagai pembuat onar di sekolah ini.
“Willie udah jangan emosi, mungkin Regal nggak sengaja” Natasya berusaha menenangkan Willie. Ia menahan tangan Willie agar tidak mendekati Regal.
“Kamu belain dia” ucap Willie pada Natasya.
“Bukan sayang, tapi kamu tahu sendiri Regal suka buat masalah.”
Regal memicingkan matanya mendengar ucapan gadis itu, ia juga menatap jam tangan yang dipakai oleh Willie. Kemudian dia melirik tajam ke arah Natasya.
Natasya yang tahu kalau Regal sedang menatap dirinya langsung saja menatap balik cowok itu dengan was-was.
Tanpa aba-aba Regal langsung saja memberikan bogeman pada Willie.
Brugghh
Bersambung…
karna merasa ga respect dn ga suka dgn peran mentari terlalu lebay💯%