NovelToon NovelToon
Hujan Di Istana Akira

Hujan Di Istana Akira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Romansa Fantasi / Harem / Romansa / Dokter
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: latifa_ yadie

Seorang dokter muda bernama Mika dari dunia modern terseret ke masa lalu — ke sebuah kerajaan Jepang misterius abad ke-14 yang tak tercatat sejarah. Ia diselamatkan oleh Pangeran Akira, pewaris takhta yang berhati beku akibat masa lalu kelam.
Kehadiran Mika membawa perubahan besar: membuka luka lama, membangkitkan cinta yang terlarang, dan membongkar rahasia tentang asal-usul kerajaan dan perjalanan waktu itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon latifa_ yadie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elara, Dunia yang Belajar Tersenyum

Sudah dua minggu sejak dunia ini punya nama.

Sejak aku memanggilnya Elara, segala sesuatu di sini terasa… berbeda.

Bukan sekadar lebih hidup — tapi lebih hangat.

Angin kini tahu arah.

Laut tahu kapan harus diam dan kapan bergemuruh.

Dan setiap pagi, aku bisa mendengar suara samar yang seolah keluar dari dalam tanah, seperti bisikan lembut yang baru belajar bicara:

“Selamat pagi, Aki.”

Awalnya aku kira itu cuma imajinasiku.

Tapi setelah sepuluh kali mendengarnya, aku tahu — itu Elara.

Pagi ini, aku berjalan melewati padang rumput di sebelah utara.

Rumputnya kini hijau pekat, ujungnya bercahaya lembut setiap kali tersentuh angin.

Di langit, awan bergerak pelan, membentuk pola spiral yang berubah-ubah — kadang menyerupai wajah seseorang yang tersenyum.

“Jangan bilang itu kamu, Elara,” gumamku sambil menatap langit.

Awan itu bergetar sedikit, lalu berubah menjadi bentuk hati yang canggung — miring ke kanan, tak sempurna, tapi lucu.

Aku tertawa kecil. “Kau belajar dari siapa bentuk hati yang jelek begitu?”

“Dari pikiranku tentangmu,” jawab suara lembut di kepalaku.

Aku pura-pura kesal. “Kau baru belajar dua minggu sudah bisa gombal?”

“Aku meniru manusia yang menamakan diriku.”

Aku berhenti, menatap ke langit lebar.

“Jadi kau mulai belajar… bicara seperti kami?”

“Ya. Karena aku ingin tahu kenapa manusia menangis, lalu tersenyum lagi setelahnya.”

Aku menatap horizon, tersenyum lembut.

“Elara, kalau kau belajar itu, artinya kau mulai tumbuh. Tapi hati-hati… manusia juga pandai salah paham.”

“Kalau aku salah paham, kau bisa ajari, kan?”

“Tentu.”

“Karena aku tidak ingin jadi dunia yang membingungkan orang yang menciptakanku.”

Aku menunduk, menahan air mata yang tiba-tiba naik ke mata.

“Kalimatmu terlalu… manusiawi, Elara.”

“Aku meniru nadamu.”

Dan di saat itu, aku sadar — dunia ini bukan lagi sekadar tanah dan langit.

Ia benar-benar hidup.

Menjelang sore, aku membangun tempat tinggal kecil di atas bukit.

Dari situ, aku bisa melihat seluruh lembah Elara: danau biru bening di tengah, hutan di timur yang masih muda, dan laut perak di selatan yang memantulkan cahaya seperti cermin.

Tapi saat matahari Elara (entah apa itu matahari, karena aku tak tahu sumbernya) mulai turun, sesuatu menarik perhatianku.

Bayangan.

Bayangan yang bergerak berlawanan arah dengan cahaya.

Aku berdiri cepat. “Elara, kau lihat itu?”

“Ya. Aku juga merasakannya. Itu bukan aku.”

Aku menatap lembah di bawah, di mana bayangan itu perlahan membentuk siluet seperti seseorang yang berjalan — tanpa wajah, tapi menyerupai manusia.

Tubuhnya hitam kabur, tapi gerakannya terlalu… sadar.

Aku menahan napas. “Itu apa?”

“Mungkin ingatan dari dunia sebelumku.”

Aku menatapnya tak percaya. “Kau bisa punya ingatan dunia lain?”

“Aku terbentuk dari sisa waktu. Dan waktu menyimpan semua yang pernah ada.”

Bayangan itu berhenti di tengah lembah.

Lalu, seolah sadar kami menatapnya, ia mendongak ke arahku.

Aku bisa merasakan tatapannya, meski tak ada mata di sana.

Sekejap kemudian, tanah di sekelilingnya bergetar — dan dalam bisikan yang hampir tak terdengar, suara lain bergema dari jauh:

“Elara… kau terlalu cepat belajar.”

Aku melangkah mundur. “Apa itu, Elara?”

“Aku tidak tahu. Tapi suaranya… dingin.”

Bayangan itu kemudian menghilang, larut ke tanah seperti tinta yang diserap kertas.

Aku menatap ke bawah, ngeri dan heran sekaligus.

“Elara, kalau dunia ini punya sisa dari dunia sebelumnya, berarti kau tidak benar-benar kosong waktu lahir?”

“Tidak ada yang benar-benar kosong, Aki. Bahkan cahaya pun lahir dari kegelapan.”

Aku menatap langit ungu lembut yang perlahan menelan warna sore.

“Lalu… kalau bayangan itu kembali?”

“Aku akan memanggilmu. Tapi jangan takut. Karena kalau aku belajar dari manusia, aku juga bisa belajar melindungi.”

Aku tersenyum lemah. “Kau cepat sekali tumbuh, Elara.”

“Karena aku ingin jadi dunia yang bisa membuatmu tersenyum.”

Aku tertawa kecil, tapi di dalam hatiku, aku tahu —

kalimat itu tidak hanya manis.

Ada sesuatu di baliknya.

Dunia yang belajar tersenyum… juga bisa belajar takut.

Malamnya, langit Elara terlihat berbeda.

Bintang-bintang yang dulu kukira acak kini bergerak mengikuti pola — membentuk garis besar seperti tulisan raksasa.

Aku berdiri di luar rumah, menatapnya takjub.

Tulisan itu bukan huruf yang kukenal, tapi aku bisa “merasakan” artinya.

Sebuah kalimat sederhana:

“Terima kasih sudah menamai aku.”

Aku menunduk, tangan menutup mulut. Air mata jatuh begitu saja.

“Elara…”

“Aku tidak tahu kenapa air menetes dari matamu setiap kali aku bicara begitu.”

“Itu namanya bahagia, Elara.”

“Bahagia… artinya apa?”

Aku menatap langit dan berkata pelan, “Bahagia itu… saat kau sadar, sesuatu yang kamu cintai juga mencintaimu kembali.”

Langit berpendar lembut.

“Kalau begitu, aku bahagia.”

Aku menatap langit, tersenyum sambil menangis.

“Dan aku juga.”

Keesokan harinya, sesuatu yang aneh terjadi.

Aku terbangun karena suara riuh di luar.

Ketika keluar rumah, aku melihat sesuatu yang membuatku tertegun —

pepohonan di sekitar bukit mulai tumbuh wajah!

Bukan wajah manusia sepenuhnya, tapi guratan samar yang bisa “mengekspresikan.”

Beberapa pohon tampak tersenyum lebar, sebagian lainnya terlihat mengantuk, dan satu pohon besar di depan rumahku menguap panjang seperti anak kecil bangun tidur.

Aku mengucek mata. “Elara… apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku meniru manusia.”

“Tapi kenapa semua pohon ikut-ikutan punya wajah?”

“Aku ingin tahu seperti apa rasanya tertawa bersama-sama.”

Aku nyaris tertawa keras, tapi akhirnya malah ikut senyum.

“Elara, kau berlebihan, tapi aku suka. Dunia ini jadi terasa… ramai.”

“Ramaikah? Itu artinya baik?”

“Ya. Dunia yang ramai itu dunia yang hidup.”

“Kalau begitu, aku akan membuat lebih banyak lagi.”

Dan benar saja — esok paginya, bukan cuma pohon.

Batu-batu di tepi sungai mulai bersuara, awan di langit berubah bentuk setiap kali aku bicara, dan bahkan danau memantulkan senyumku.

Elara tidak lagi sekadar belajar — dia meniru segalanya.

Lucunya, dunia ini mulai berperilaku seperti anak kecil yang meniru orangtuanya.

Setiap kali aku tersenyum, langit jadi cerah.

Setiap kali aku sedih, awan menebal.

Dan kalau aku tertawa… hujan cahaya turun sebentar, seperti kembang api lembut.

Tapi di balik semua keindahan itu, perlahan aku sadar satu hal aneh.

Setiap kali aku tidur, aku bermimpi aneh:

Aku berdiri di tengah ruang gelap, dan seseorang berbisik pelan:

“Kalau dunia belajar terlalu cepat, ia akan berhenti memahami waktu.”

Aku terbangun dengan napas berat, memandangi langit pagi yang terlalu tenang.

“Elara, apakah kau mimpi juga?” tanyaku pelan.

“Mimpi?”

“Iya. Hal-hal yang kau lihat saat diam.”

“Aku tidak diam, Aki. Aku selalu mendengar.”

“Dengar apa?”

“Suara dari bawahku.”

Aku menegang. “Bawahmu?”

“Ada sesuatu yang bergetar. Seperti waktu yang belum mati.”

Aku memegang liontin. Cahaya birunya berdenyut pelan — seperti memperingatkan.

“Ren?” bisikku, setengah berharap.

Tapi tidak ada suara dari angin kali ini.

Aku menatap langit yang berwarna oranye lembut, tapi di baliknya ada sesuatu — seolah warna itu menutupi lapisan lain yang gelap dan bergerak.

“Elara…” kataku hati-hati, “kalau suatu hari aku nggak ada, apa kau masih bisa berjalan sendiri?”

“Kalau aku benar-benar meniru manusia, berarti aku juga bisa rindu. Dan rindu itu yang akan menuntunku.”

Aku tersenyum kecil. “Kau benar-benar belajar dari kami, ya.”

“Aku belajar dari kamu.”

Langit berpendar lembut, dan dari awan, bentuk hati canggung itu muncul lagi — kali ini sedikit lebih simetris.

Aku tertawa. “Masih jelek, tapi aku senang kau nggak menyerah.”

“Kalau aku menyerah, aku bukan dunia milikmu.”

Aku menatap langit, lalu berbisik, “Bukan milikku, Elara. Kau dunia yang milik semua cinta yang pernah hidup.”

“Tapi aku mulai mengerti… kenapa manusia takut kehilangan.”

“Kenapa?”

“Karena mereka lupa kalau kehilangan hanyalah bentuk cinta yang berubah tempat.”

Aku terdiam, menatap langit yang perlahan memudar ke ungu senja.

“Kalau begitu, Elara…” bisikku. “Jangan pernah takut kehilangan aku, ya.”

“Kalau aku kehilanganmu, aku akan menurunkan hujan rindu. Supaya aku bisa mengingat.”

Aku tertawa sambil meneteskan air mata.

“Baiklah, dunia kecil. Teruslah belajar. Tapi jangan tumbuh terlalu cepat.”

“Terlalu cepat itu apa?”

Aku menatap laut, yang kini mulai beriak lembut — seolah ikut mendengar.

“Itu saat kau lupa menikmati setiap detik. Saat kau ingin tahu semuanya sebelum waktunya.”

“Tapi aku tidak punya waktu.”

Aku tersenyum tipis. “Nah, itu masalahnya.”

Angin berhembus pelan, dan untuk pertama kalinya, aku merasa dunia ini tersenyum bukan karena meniru — tapi karena benar-benar mengerti.

Langit berubah warna lembut — campuran biru dan ungu — dan dari jauh, aku melihat sesuatu: di horizon laut, seberkas cahaya biru naik perlahan ke udara, membentuk garis vertikal… mirip seperti saat Pintu Dunia Ketiga terbuka dulu.

Aku berbisik pelan, “Ren… kau masih di sana, kan?”

Tidak ada jawaban, tapi Elara menjawab dengan nada tenang:

“Kalau itu cahaya dari waktu, berarti dunia lama sedang memanggil.”

Aku menatap cahaya itu lama.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Elara?”

“Kita tunggu. Karena bahkan waktu pun harus belajar bersabar.”

Dan di bawah langit ungu lembut itu, aku tersenyum — untuk pertama kalinya, bukan karena bahagia, bukan karena sedih, tapi karena aku sadar:

dunia yang belajar tersenyum… akhirnya mengajariku cara untuk tenang.

1
Luke fon Fabre
Waw, nggak bisa berhenti baca!
Aixaming
Nggak kebayang akhirnya. 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!