🖊SEQUEL MENIKAHI SUAMI TIDAK NORMAL.
Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML028~
"Alena, kamu sudah selesai dengan urusan iparmu itu?" tanya Pak Alex dari seberang telpon.
"Udah. Kak Alex dimana sekarang? Kok nggak bilang bawa Ziya, aku panik nungguin di sekolah."
"Maaf ya, aku memang menunggumu selesai dengan urusanmu, aku tidak ingin mengganggu. Sekarang Ziya bersamaku dan Axan, kami sedang di Mall bagian playground."
"Oke deh, aku kesana ya."
Alena bergegas menuju lokasi.
"Hmmm, kenapa ya? Aku kok masih belum tenang? Padahal udah tau Ziya dimana."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Playground.
Raut wajah Alena yang semula biasa saja langsung berubah drastis saat melihat Ziya.
"Ziya, tangan Ziya kenapa??" tanya Alena dengan panik, Pak Alex dan Axan menghampiri Alena.
Mata Alena membulat, ia lebih terkejut melihat keadaan Axan.
"Xan, kenapa mata Xan biru gini? Kalian berantem??"
Axan dan Ziya menggeleng bersamaan.
"Alena, tenang dulu."
"Kak, mereka kenapa?"
Pak Alex pun menceritakan semuanya, Alena menatap Ziya dengan tatapan nanar, langsung Ziya masuk ke dalam dekapan Alena.
"Ziya nggak apa-apa, Ma. Tapi kasihan Xan, dia sampek lebam di matanya. Tadi sempat mimisan juga."
Alena beralih menatap Axan, rasa haru bercampur sedih. Bagaimana tidak? Axan yang masih sekecil ini sudah mampu mempertaruhkan dirinya sendiri untuk membela Ziya, selama ini ia tidak memberi kontribusi apapun dalam hidupnya tetapi Ziya malah menerima perlakuan sebaik ini.
Tanpa tau status orang tua asli, tanpa tau siapa orang tua kandungnya dan sama sekali tidak memiliki kenangan dari orang tua aslinya, sungguh lebih malang melebihi Ziya.
Axan mengusap air mata Alena dengan tangan mungilnya, ia kembali menyekanya saat air mata Alena terus mengalir.
"Xan tidak apa-apa, hanya sedikit sakit." ucapnya dengan tenang, spontan Alena membawa Axan ke dalam pelukannya.
"Makasih ya, anak baik. Makasih udah belain Ziya, Tante nggak tau harus gimana buat ungkapin rasa terima kasih Tante ke Xan. Kedepannya, kalau Xan butuh apa-apa jangan ragu bilang sama Tante ya."
Axan membalas pelukan Alena, tangannya melingkar dengan erat, ia memejamkan mata dan merasakan kehangatan yang tidak biasa. Kehangatan yang mungkin selama ini ditunggu-tunggu.
"Aku akan mengurus mereka." ucap Pak Alex, mendengar hal itu Alena langsung melepas pelukannya.
"Nggak pakek cara aneh, kan?" tanya Alena memastikan.
Tiba-tiba saja Alena teringat momen 8 tahun lalu saat Pak Alex menghabisi Silvi dan Sugar daddy-nya tanpa belas kasihan bahkan sampai kini pihak kepolisian tidak mengendus siapa pelaku aslinya.
"Cara aneh apa?" tanya Pak Alex pura-pura tidak mengerti.
"Mengurus disini maksudnya kayak dulu? Jangan, aku takut."
Pak Alex terkekeh, tentu saja apa yang ditakutkan Alena itu adalah rencana B. Rencana A tidak akan membuat seseorang kehilangan nyawa, hanya kehilangan harga diri saja.
"Mereka sudah mengusik anak-anak kita, mana mungkin aku hanya akan diam saja? Terlalu memanjakan manusia seperti itu yang ada hanya menumpuk kejahatan."
Alena sedikit ragu, namun mengingat Ziya dan Axan sudah sampai seperti ini, ia tidak punya pilihan selain setuju pada rencana Pak Alex selagi rencana itu tidak harus menghilangkan nyawa.
"Oh iya, Mama udah dapat pengumuman belum?" tanya Ziya.
"Eh, Mama belum lihat grup kelas. Nanti Mama cek ya."
"Ziya kasih tau duluan deh, minggu depan di sekolah ada acara emmm apa itu namanya ya? MPLS kayaknya. Iya nggak, Xan?"
Axan mengangguk.
"Kata Bu Guru bakalan seru! Ada game-nya juga." pungkasnya.
"Wah, semangat ya!"
Suasana seketika berubah hening saat perut Axan berbunyi tanda minta di isi, Axan hanya tersenyum canggung.
"Om, Ziya mau makan. Mama kan udah dateng, udah boleh makan?"
"Hmm, kenapa harus nunggu aku?" tanya Alena pada Pak Alex.
"Memangnya tidak boleh menunggu Ibunya supaya bisa makan bersama?"
Refleks Alena memukul lengan Pak Alex karena malu.
"Menunggu Ibunya? Hmmm... Tante Alena Ibunya Ziya, tapi Papa berkata 'Ibunya' tanpa ada nama Ziya setelah kata itu, apakah Tante Alena juga Ibuku?!" batin Axan.
"Xan?" panggil Pak Alex, Axan langsung tersadar.
"Eh, iya." jawabnya gelagapan.
"Mikirin apa? Dipanggil dari tadi nggak jawab." tanya Ziya.
"Bukan apa-apa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari mulai sore, puas bermain Ziya mengajak pulang.
"Makasih banyak, Kak." ucap Alena.
"Tidak perlu sungkan."
"Oke deh, aku dan Ziya pulang duluan. Ziya kayaknya udah mulai ngantuk juga."
"Iya, hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku saja."
"Makasih," Alena tersenyum, Pak Alex membalas senyuman itu dengan senang.
"Tante... Hati-hati." ucap Axan dengan ragu-ragu.
"Iya, Xan juga hati-hati ya." Alena mengacak-acak rambut Xan. Bukannya marah, Axan malah merasa senang dan merasa ini bentuk kasih sayang.
"Om ganteng besok jemput Ziya lagi, nggak?" tanya Ziya tanpa ragu.
Alena menoel lengan Ziya.
"Maaf Kak, Ziya emang suka sembarangan kalau ngomong, hehe."
"Kalau Ziya mau, Om akan jemput Ziya besok. Jadi Mama Ziya cukup menunggu di rumah."
Ziya bersorak senang sedangkan Alena menggeleng tanda menolak, sungguh bukan ia menolak kemudahan dalam hidup ini, namun ia sungkan.
"Udah-udah, aku pulang duluan." Alena menarik Ziya pergi.
Ziya melambaikan tangan pada Pak Alex dan Axan, mereka berpisah di parkiran.
"Dadahhh Om!"
"Xan juga mau dijemput Tante Alena terus, Pa."
"Tidak boleh, Tante Alena itu perempuan. Sebagai laki-laki, kita tidak boleh membiarkan Tante Alena kelelahan." tegasnya.
Axan berpikir sejenak, ia mengangguk tanda paham dan setuju atas pemikiran Ayahnya itu.
"Papa mau antar Ziya ke rumahnya pasti ada sesuatu ya? Apa ini alasan untuk menemui Tante Alena?"
"Anakku memang cepat mengerti sesuatu." puji Pak Alex.
"Tindakan Papa ini semakin menguatkan dugaanku!" batin Axan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setibanya di rumah Alena, mereka berdua dikejutkan dengan keberadaan Ayah Ahen yang sedang duduk di teras.
"Papa?" Alena segera turun.
"Kakek!" Ziya turun dari mobil dengan buru-buru.
"Assalamu'alaikum, Kakek!" ucap Ziya yang langsung mencium punggung tangan Kakeknya.
"Wa'alaikumsalam cucu Kakek yang manis."
"Makasihhhhh~" ucapnya dengan manja, Ziya langsung menempel pada Kakeknya.
"Papa, udah dari tadi?" tanya Alena, ia mencium punggung tangan mertuanya.
"Baru saja sampai,"
"Papa sama siapa kesini?" tanya Alena, ia sama sekali tidak melihat kendaraan milik mertuanya.
"Oh sama si Adit, sopir baru Papa. Ada barang ketinggalan di rumah, jadi Papa suruh dia ambil dulu."
"Ohh, ya udah ayo masuk."
Alena membantu mertuanya berdiri.
"Ziya, tolong bukain pintu ya."
"Iya, Ma." Ziya mengambil kunci mobil di dalam tas Alena dan membuka pintu.
"Pelan-pelan." Alena membantu mertuanya berjalan sampai ke ruang depan.
"Kakek, Ziya mau ganti baju dulu ya." pamitnya, dengan setengah berlari Ziya menaiki anak tangga.
"Papa kok nggak ngabarin dulu? Kan Alena bisa pulang cepet kalau Papa bilang mau kesini."
"Rencananya membuat kejutan untukmu, Nak."
"Hmmm, Papa ada-ada aja. Alena buatin minum dulu ya."
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin