Ini adalah lanjutan dari Kultivasi Raja Bayangan, jadi baca dulu jilid pertama dan kedua sebelum ke novel ini...
Liu Yuwen adalah seorang kultivator jenius yang pernah lahir di dunia, ia mencapai puncak beladiri sampai dijuluki sebagai kultivator tiada tanding karena hampir tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Di puncak kekuatannya, Liu Yuwen tidak menyangka ia justru akan tewas oleh sebuah racun yang diberikan adiknya.
Racun itu membuat Liu Yuwen terbunuh, dalam kematianmya rasa marah dan dendam menguasai hatinya karena pengkhianat sang adik, Liu Yuwen berjanji akan membalas kejahatan adiknya jika diberi kesempatan.
Nyatanya kesempatan itu terwujud saat Liu Yuwen terbangun di tubuh seorang anak kecil berusia sepuluh tahun.
Liu Yuwen yang mengerti dirinya hidup kembali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berencana membalaskan dendamnya pada sang adik, meski kekuatan kembali kesemula namun selama dirinya terus berlatih, Liu Yuwen yakin bisa mencapai puncak kekuatannya sepert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon secrednaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 28 — Pedang Cambuk
Perhatian Liu Yuwen langsung tertuju pada pedang yang digunakan Lan Hua, pedang itu memiliki bentuk yang tidak biasa, mata pedangnya lentur seperti cambuk dengan panjang sekitar empat meter.
Liu Yuwen bisa melihat pedang cambuk itu adalah pusaka tingkat tinggi yang memiliki ketajaman yang luar biasa, sebelum Liu Yuwen mengukur kekuatan pedang itu lebih jauh, Lan Hua sudah bergerak dan mengayunkan pedangnya.
Liu Yuwen buru-buru mengeluarkan Pedang Pembasmi Raja dari cincin ruang sebelum menangkis setiap serangan lawannya.
Dengan ukuran pedangnya yang panjang, Lan Hua bisa menyerang Liu Yuwen dari jarak jauh. Setiap serangannya dipenuhi kekuatan hebat, memotong apapun yang dilaluinya.
Para pengunjung segera mengambil jarak lebih jauh saat menyaksikan jangkauan serangan gadis itu, mereka bisa menyaksikan meja, kursi, dan benda lainnya langsung terpotong seperti tahu dihadapan ketajaman pedang cambuk Lan Hua.
Liu Yuwen mengerutkan dahi, serangan Lan Hua yang semakin cepat tanpa jeda membuat ia harus menggunakan segenap kemampuan untuk menangkisnya. Tidak hanya sampai di sana, perlahan-lahan Liu Yuwen juga dibuat melangkah mundur.
Karena terus bergerak mundur, Liu Yuwen akhirnya keluar dari restoran.
Lan Hua tidak menghentikan ayunan pedangnya saat dinding restoran sempat menghalanginya, sebaliknya dinding yang terbuat dari kayu itu dengan mudahnya terpotong menjadi ratusan potongan kecil.
Ketika pertarungan berlanjut keluar ruangan, seketika keduanya menjadi pusat perhatian para warga yang sedang beraktivitas.
Mereka bergerak menjauh, khawatir menjadi korban dari sasaran nyasar pedang Lan Hua yang panjang.
"Hm? Kemampuanmu ternyata juga tidak buruk dan pedang yang kau pakai sepertinya cukup bagus." Lan Hua menautkan alisnya sambil melihat pedang putih Liu Yuwen.
Puluhan jurus beradu dan pedang Liu Yuwen masih tidak lecet, Lan Hua yang mengetahui benar ketajaman pedang cambuknya menyadari pusaka pemuda itu tidaklah biasa.
"Apa kau bisa menghadapinya, sepertinya dia memiliki kekuatan yang tinggi?" Sebuah suara terdengar dikepala Liu Yuwen, sebuah suara yang berasal dari Bai Huahua, roh pedang dari Pedang Pembasmi Raja.
Liu Yuwen tersenyum tipis. "Entahlah, aku tidak bisa meraba tingkat kultivasinya tapi yang jelas, ia belum menggunakan kekuatan penuhnya saat ini."
"Kurasa dia akan jadi lawan yang merepotkan bagimu."
"Benar, kemungkinan besar kultivasinya sudah tidak lagi ditingkatan Alam Kaisar."
Liu Yuwen menghela nafas panjang, gadis yang sedang dihadapinya saat ini memiliki kekuatan yang hampir sama dengan laki-laki yang pernah ia lawan saat baru mendapatkan Pedang Pembasmi Raja, Quan Hu Sang Pedang Kecemburuan.
Keduanya terus bertukar serangan sampai ratusan jurus, baik kedua-duanya belum sampai tahap melukai karena Lan Hua tidak menggunakan kekuatan penuhnya sementara Liu Yuwen juga tak balik menyerang.
"Aku telah salah menilaimu, sepertinya kau bukan kultivator sembarangan." Lan Hua menyipitkan matanya.
"Apakah itu penting, apa mengetahuinya akan membuatmu berhenti menyerangku?"
Liu Yuwen tidak bisa gegabah bertarung ditengah kota seperti ini, kalau Lan Hua menggunakan kekuatan aslinya maka sepersepuluh kota ini kemungkinan akan hancur dan Liu Yuwen yakin, korban tak bisa terhindarkan oleh serangan gadis itu.
Lan Hua mendengus melihat Liu Yuwen sungguh tidak terpesona pada kecantikannya, hal ini membuatnya semakin kesal pada pemuda itu.
Lan Hua tiba-tiba mengalirkan qi pada pedang cambuknya yang membut mata pedang itu sedikit bersinar kebiruan.
Sebuah goresan tipis mendadak terukir dipipi Liu Yuwen, pemuda itu hampir terlambat menghindar namun untungnya masih bisa bereaksi.
"Kau mungkin tidak menduga pedangku bisa memanjang seperti ini..." Lan Hua tertawa kecil. "Tenang saja, aku tidak akan langsung membunuhmu, rasanya terlalu sayang jika menghabisi pria tampan sepertimu."
Memang benar Liu Yuwen sama sekali tidak berpikir pedang itu dapat memanjangkan ukurannya jadi lima meter, Liu Yuwen yang sudah terbiasa dengan ukuran sebelumnya jadi tidak siap ketika tiba-tiba pedang tersebut berubah ukuran.
Pipi Liu Yuwen yang tergores menjadi terasa panas, terdapat urat-urat hitam keunguan yang kini mulai menyebar kesekitar wajahnya dengan cepat.
"Ini racun..." Liu Yuwen mengerutkan dahinya saat sebagian wajahnya menjadi kebas, pandangannya terhadap pedang cambuk Lan Hua seketika berubah.
"Terkejut? Jangan khawatir, racun itu hanya membuat tubuhmu jadi lumpuh untuk sementara waktu. Kita bisa bermain setelahnya..." Lan Hua mengedipkan salah satu matanya dengan genit.
Liu Yuwen berdecak pelan, ia mengeluarkan sebuah pil sebelum menelannya dalam sekali gerakan, seketika urat hitam dipipinya kembali mengecil sebelum akhirnya menghilang.
Lan Hua menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal bercampur geram. "Apa kau sadar saat ini aku berusaha membawamu dengan cara baik-baik!?"
"Aku tidak bisa memahami 'cara baik-baik' yang kau maksud, menggunakan pedang dan racun saat berkenalan dengan seseorang. Standarisasimu sungguh tak biasa..."
"Baik, aku akan membawamu dengan cara paksa meski jika itu harus memotong dua tangan dan kakimu."
Lan Hua kembali mengayunkan pedang cambuknya pada Liu Yuwen namun kali ini pemuda itu memasang senyum penuh makna.
Liu Yuwen tidak hanya menangkis pedang Lan Hua seperti biasa tetapi juga mengalirkan energi petir bertegangan tinggi pada Pedang Pembasmi Raja.
Dalam sekejap petir di pedang Liu Yuwen merambat dengan cepat ke pedang Lan Hua. Pedang tetaplah pedang, bagaimanapun bentuknya, pusaka atau tidak mereka terbuat dari bahan-bahan konduktor yang bisa menghantarkan listrik.
Lan Hua terlambat menyadari serangan petir Liu Yuwen, sebelum dirinya bereaksi tubuhnya langsung bergetar hebat ketika listrik menyengat dirinya.
Meski serangan petir itu tidak cukup untuk melukai gadis itu namun cukup bagi Liu Yuwen memiliki waktu untuk menyerang balik.
Liu Yuwen mengalirkan qi ke pedangnya lalu melepaskan beberapa gelombang pedang ke arah Lan Hua.
Lan Hua mengumpat, tubuhnya yang masih gemetar membuatnya tak bisa menahan atau menghindari gelombang pedang tersebut.
Saat gelombang pedang itu hampir mencapainya, Nu Bai tiba-tiba muncul dan menangkis gelombang pedang Liu Yuwen dengan mudah menggunakan pedang pusakanya.
Liu Yuwen mengerutkan dahinya melihat mata pedang Nu Bai yang cukup unik, jika Pedang Lan Hua lentur seperti cambuk maka disisi berbeda pedang Nu Bai terlihat transparan seperti pedang kaca.
Nu Bai berdecak pelan pada Lan Hua, "Hanya karena kita yang paling kuat di kekaisaran ini bukan berarti kita harus ceroboh."
Lan Hua mengumpat tapi tidak bisa membantahnya, dirinya memang salah karena terlalu meremehkan Liu Yuwen.
Tak lama tubuh Lan Hua sudah berhenti bergetar, pandangannya pada Liu Yuwen diliputi nafsu membunuh yang kuat.
Lan Hua melepaskan aura kultivasinya yang kuat, saat ia hendak menyerang Liu Yuwen lagi Nu Bai segera menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan? Menarik perhatian lebih banyak orang lagi, jika kau melakukannya maka rencana yang sudah kau siapkan akan menjadi sia-sia." Nu Bai mengingatkan sambil berdecak kesal.
Lan Hua ingin menyangkalnya namun ia kemudian menyadari ratusan warga kota saat ini memang sedang menonton dan memperhatikannya.
cerita yang satu demikian juga
lama tidak ada lanjutannya
entah ada apa dengan dirinya