NovelToon NovelToon
Wanita Cantik Tuan Muda Dingin

Wanita Cantik Tuan Muda Dingin

Status: tamat
Genre:CEO / Anak Kembar / Wanita Karir / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:14.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Asti Amanda

Cerita ini adalah lanjutan dari novel ~MIRA~

_____

Enam tahun telah berlalu di mana kejadian aksi bunuh diri Mira belum bisa dilupakan oleh Raka Alendra. Pria muda tampan yang memiliki kelebihan dapat mendengar isi pikiran orang lain.

Dengan kemampuannya itu ia dapat membangun perusahaan terbesar serta perusahaan lainnya. Seorang Presdir termuda di Perusahaan Welfin di kota Byusan. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Sovia indriani, wanita yang baru tiba dari luar negri sekaligus seorang single mom yang memiliki rupa yang sama dengan Mira dan memiliki seoarang Putra yang bernama Deva. Sovia bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Welfin.

Tiba-tiba saja seorang wanita lain hadir dan memiliki wajah yang juga mirip dengan Mira. Wanita itu mencoba untuk mengambil perhatiaan Raka. Namun karena gadis kecil yang bernama Dean, Putri kecil dari Raka mencoba untuk menyingkirkan wanita tersebut, karena tak ingin Ayahnya terjebak akan rencana jahatnya.

Begitupun dengan bocah yang bernama Deva, ia mencoba membantu Dean untuk mempersatukan Ibunya dengan Ayah Dean. Dan ternyata kedua bocah itu adalah saudara kembar yang artinya Sovia dan Raka adalah orangtua kandung mereka.

Lalu bagaimana semua itu terungkap?

Yuk kita baca sampai selesai:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Wanita Misterius

...(Beri like dan komen)...

Malam ini di ruangan Raka, Willy ternyata sudah menunggunya membicarakan tentang Sovia. Pria dingin yang sudah duduk di hadapan Willy kini mulai mendengar laporan langsung dari mulutnya.

"Apa yang kamu dapatkan setelah mengantar dia?" tanya Raka memopang dagunya menunggu Willy berbicara.

"Maaf sebelumnya Presdir, aku rasa ini belum pasti, ketika aku mengajaknya berbicara, Sovia tak mengerti dan tak mengetahui semua ini,"

"Jadi bisa dibilang ada dua hal yang bisa aku simpulkan. Bahwa Nona Sovia bisa jadi bukan lah Mira. Tapi saat aku menyebut nama itu, ia merasa tak asing mendengarnya bahkan memalingkan pembicaraan." jelas Willy panjang lebar.

"Jadi maksudmu Sovia bisa saja hanyalah wanita yang kebetulan memiliki wajah yang sama seperti Mira," Raka mulai menebak-nebak. Willy hanya mengangguk saja.

"Memang terlihat dari matanya, aku tak bisa melihat adanya sosok Mira namun ketika berada di sampingnya entah kenapa aku sepertinya merasa nyaman dengannya." lanjut Raka bergumam dalam hati.

"Keluarlah Willy, biarkan aku saja yang akan memastikannya." Raka menyentuh kepalanya mulai merasa aneh dengan perasaannya juga.

"Baik, Presdir." Willy menunduk pamit meninggalkan ruangan tersebut.

"Dari sifatnya sudah terlihat berbada tetapi kenapa firasatku mengatakan jika dia adalah dirimu, Mira."

Raka menatap secarik foto kecil di tangannya, gadis cantik berpakaian sekolah yang sedang melamun, ternyata Raka dulu diam-diam pernah memotret gadis itu.

Raka mulai sibuk dengan pikirannya, lalu tiba-tiba ia kembali tersadar akibat terdengar panggilan dari ponselnya.

...Kring ... kring...

Matanya langsung tertuju pada nomor yang tak dikenal masuk ke ponselnya, tanpa rasa ragu pun ia mengangkatnya.

"Halo." Raka memulai berbicara tetapi tak ada respon sama sekali.

"Hahaha ...." Akhirnya terdengar tawa dari ponselnya, alis kanan Raka mulai naik sepertinya ia mengenal tawa bodoh ini.

"Roy?"

"Haha ... ternyata masih mengingatku bukan begitu Raka, teman lama masa SMA-ku." jawabnya dengan rasa kesenangan.

"Siapa temanmu, aku tak pernah berteman denganmu." Raka menjawab dengan suara rasa malas.

"Ckc ... dasar manusia berhati dingin, aku pikir kamu sudah berubah ternyata masih sama saja." Roy terdengar kesal menerima ucapan Raka.

"Oh, jika tak ada urusan lebih baik aku tutup." jelas Raka dengan suara cool-nya.

"Cih, kamu harus tau jika aku sekarang berada di kota ini, bagaimana kamu bisa lupa mengundangku di pestamu besok!" Dengan kesalnya Roy menggertak di telpon.

"Dia masih saja dengan tingkah sok kuat, padahal secara fisik sekali pukul sudah tumbang begitu saja." gumam Raka mengingat kejadian masa lalu di mana Roy pingsan akibat dipukul oleh Mira sendiri.

Senyuman kecil terlihat di wajahnya mengingat Roy pernah dulu menjadi saingannya.

"Tanpa memberi tahumu kau akan datang juga." jelas Raka dengan suara malas.

"Walau begitu, kamu seharusnya memberi tahuku, bagaimana jika aku lupa untuk hadir, setiap tahun aku selalu datang ke pesta perayaan perusahaanmu itu, dan ngomong ngomong di mana gadis kecilmu? Kenapa aku tak mendengar celotehnya?"

"Kenapa kau mencarinya?" tanya Raka.

"Aku hanya ingin mendengar suaranya." Roy berbicara bertubi-tubi tak henti-hentinya di panggilan itu membuat Raka kesal.

"Oh. Dia sudah tidur, dan juga acara besok akan diadakan di rumahku bukan di perusahaan lagi."

"Jadi sudah pindah jadwal rupanya ya." ujar Roy.

"Ya sudah, aku tutup telponnya, lagi pula aku tak peduli sama sekali dengan hal ini." Raka menutup langsung panggilan itu. Roy yang masih ingin berbicara nampak marah dengan sikap dinginnya Raka.

"Bocah ini bisa-bisanya menutup panggilanku, awas saja aku akan memberinya pelajaran besok." Terlihat Roy dibalik jendela menatap ke luar melihat lampu lampu rumah dari apartemennya.

"Mira, apa mungkin kamu benar-benar sudah mati?"

"Kamu harus tau jika lelaki yang kamu sukai dulu sekarang sudah berjaya di kota ini bahkan telah memiliki putri kecil disampingnya, entah bagaimana ia bisa tidur dengan wanita lain dan memiliki anak." gumam Roy memikirkan Raka yang sudah memiliki anak.

Terlihat Roy masih berharap jika ia masih bisa menemukan cintanya kembali. Memang Pria itu juga ikut mencari di mana Mira berada, tapi ia masih belum menemukan jejaknya.

"Meski banyak perempuan yang telah kupermainkan di luar sana hatiku tetap menunggu kabar darimu, aku memang sudah bodoh telah mencintaimu dulu hingga hatiku ini telah tertutup untuk menerima wanita lain." gumam Roy mengepal tangan menatap luar jendela apartemennya.

****

Di rumah Sovia, makan malam telah tiba, terlihat keempatnya telah berkumpul bersama. Terlihat Deva asik menyantap Sup Ayam nampak senang dengan masakan Ibunya, Vani yang makan sambil melihat ponselnya tampak menunggu pesan, dan Bu Risma yang sedari tadi terlihat tak nafsu makan membuat Sovia heran.

"Apa mungkin Supnya tak enak hingga Ibu belum memakannya juga."

"Bu? Kenapa Supnya tidak dimakan? Apa mungkin kurang garam?" Bu Risma tersadar akan pertanyaan Sovia.

"Bukan begitu nak, hanya saja Ibu kepikiran ayahmu di desa,"

"Bu, jika Ibu ingin pulang biarkan Sovia mengantar Ibu ke desa."

"Ah! Tidak perlu, Ibu bisa pulang sendiri, Ibu hanya tak tega meninggalkan cucuku yang baru saja ku temui ini." Bu Risma mengelus kepala Deva yang duduk di sampingnya.

"Aduh Bu, tak perlu di pikirkan, tentu saja kan ada aku yang jagain. Lagi pula aku belum dapat kerja yang bagus jadi ada waktu buat jagain keponakan ku ini." ucap Vani mencubit pipi Deva yang lagi makan.

"Haha dasar Vani, ternyata kamu belum dapat pekerjaan rupanya." tawa Sovia diiringi tawa geli Vani.

"Hehehe ..."

"Baiklah karena ada Vani, besok Ibu pulang ke desa memastikan ayah kalian dulu, kalian jaga cucu Ibu ini ya."

Bu Risma tersenyum sambil ikut mencubit pipi Deva, membuat ketiganya tertawa lepas, terlihat sungguh keluarga kecil yang harmonis. Tapi tidak untuk Bocah itu yang masih saja memikirkan gadis kecil tadi siang sekaligus Putri yang belum juga terlihat batang hidungnya.

Sedangkan di tempat lain di waktu yang sama, terlihat seorang wanita yang memiliki kesamaan dengan Mira, berdiri di sebuah gedung tinggi menatap keseluruhan kota, nampaknya ia menikmati malam yang ditemani lampu lampu indah serta senyum piciknya.

"Sudah lama aku meninggalkan Kota ini, tak disangka tak ada perubahan sama sekali, aku rasa inilah waktunya bermain denganmu Raka Alendra."

Entah siapa wanita ini, sungguh sangat misterius walaupun begitu tampaknya ada sesuatu yang ingin ia rencanakan.

Wanita itu berbalik meninggalkan atap gedung diiringi tawa piciknya memecahkan malam yang indah itu.

...****...

...Siapakah wanita misterius ini? ...

...Apakah dia wanita di dalam potret?...

...Halo Readers...

...Jangan lupa...

...Like...

...Komen...

...Dan...

...Vote...

...Terima kasih...

1
Naraa 🌻
Duh peran Sovia lemah bgt sih, masa ga bisa membela diri sendiri
Aileen
mantap aq suka karya mu thor lanjut kn👍👍👍👍👍👍
Rie_za
no aku🤣🤣
Adka
semangat💪🏼💪🏼💪🏼💪🏼💪🏼💪🏼💪🏼💪🏼
Adeeva Miezha
trlalu bnyak drama cerita novel nya udah kaya di sinetron
Adeeva Miezha
trlalu ribet nih novell bnyak bnget drama sinetron nya
Puput
Lumayan
Rahmawaty❣️
Widih seremm😣
Rahmawaty❣️
Hantu ini siapa ya?
Rahmawaty❣️
Trs bgaimna bisa si dean ada padamu raka??
Maaf aku blm bca season 1 soalnya . Mau bca tp males ah..kpngen lgsug bca yg ini aja🤭
Rahmawaty❣️
Tak suka tak suka.. Kya meymey 😂😂
Rahmawaty❣️
Raka sma deva pda punya indra kesepuluh😅😅
Nf@. Conan 😎
mira ntuh yg mn ya
Rosmawati/jnr
Bagus
Toniweiling Weiling
bagus, semoga sukses selalu
U. Boy
ya namanya berhadapan dengan orang yang disukai🤣
Kafadzar: hai ka, maaf 🙏numpang promo novelku,judulnya " kisa mistis saat tinggal dirumah panggung" jika berkenan silahkan mampir😊. terimah kasih.
total 1 replies
U. Boy
ck,pinter banget ni anak
U. Boy
kuy kuy,raka cuma punya mami mu dean
U. Boy
waduh ngakak🤣
U. Boy
wah sama tuh kesukaan ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!