Dodik Aksara Bintara Bangga. Calon pewaris Maha Dewi Group yang mewarisi lebih dari sebagian saham di sana.
Suatu hari, Dodik mengetahui kebenaran orang tuanya yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Karena marah, ia kabur dari rumah. Tanpa sengaja, ia tidur bersama seorang perempuan--
Ini hanya tidur! Tidur dalam artian sebenarnya, bukan khusus. Namun, warga desa malah memaksanya menikahi perempuan, yang tak lain adalah anak Pak RT.
Kehidupan Dodik berubah 180 derajat. Tinggal di desa, dikelilingi sapi, dan ibu mertua yang menyebalkan ....
Bagaimanakah kisah kehidupan Dodik selanjutnya?
Instagram: @citragtw_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Dodik Yang Bijak
Setelah diam lama, Citra pun bangun untuk menyusul Dodik di kamarnya. Dodik tidak sibuk mengisi tas dengan pakaian layaknya orang yang akan kabur seperti dalam sinetron-sinetron. Dodik hanya duduk diam di tepi ranjang. Siapapun bisa tahu kalau dia sedang kesal dengan wajahnya sekarang. Citra pun bergegas mendekatinya.
“Tolong maafkan kata-kata kasar ibuku,” pinta Citra.
Dodik tetap diam tanpa menoleh atau menyahut.
“Kamu jangan langsung pergi karena perkataan ibuku,” tambah Citra.
“Kenapa?” Akhirnya Dodik menyahut. Wajahnya cemberut, tetapi hatinya tersenyum lebar. Udah kuduga: kamu pasti akan melarangku keluar dari rumah ini. Mana ada perempuan yang mau kehilangan suami sepertiku? batin Dodik angkuh.
Dodik senang karena dia tidak perlu mengemis untuk tidak pergi dari rumah ini. Dia pun semakin menaikkan harga dirinya. “Apa kamu juga berpikir kalau aku enggak bisa melakukannya?” tambah Dodik ketus.
“Enggak gitu. Kalau warga sekitar sampai tahu, mereka enggak akan diam aja. Kalau kamu emang mau pergi, pergilah, tapi biarkan orang lain yang menjemputmu,” sahut Citra.
Pyung! Rupanya Dodik terlalu mempercayai dirinya.
Apa dia sungguh menyuruhku pergi? batin Dodik tertegun.
“Kamu tunggulah keluargamu, aku akan menghubungi mereka sebentar,” tambah Citra. Dia langsung berbalik untuk mengambil ponselnya. Namun, langkahnya seketika tidak jadi karena Dodik menahannya. Dodik bahkan terbangun dari duduknya.
“Enggak usah!” seru Dodik mengejutkan.
“Ke-kenapa?” tanya Citra. Dia menjadi cemas karena Dodik tidak terlihat baik-baik saja. Namun, Dodik malah menggoreskan senyum. Laki-laki itu malah cengar-cengir.
“Karena ….” Dodik ragu mengatakannya.
“Ada apa, Yah?” tanya Citra penasaran.
“Karena aku enggak akan pergi.” Dodik menunduk. Dia tidak mau menunjukkan wajahnya dengan merendah seperti ini.
“Tapi, bukannya kamu tadi bilang ….”
“Ucapanku keluar gitu aja karena aku sangat kesal. Setelah kupikir-pikir, aku enggak akan pergi dari sini.” Akhirnya Dodik mengatakan kalimat lengkapnya. Kemudian dia pun mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Lagian kontrak kita kan masih berlaku sampai dua bulan ke depan.”
Citra langsung melepaskan tangan Dodik dari tangannya. “Enggak, Yah. Kamu akan kesusahan kalau masih tinggal di sini. Kamu enggak akan bisa tinggal di sini,” tolak Citra.
“Walau gitu, aku senang kok tinggal di sini,” dalih Dodik.
“Ibu pasti akan menyulitkanmu. Kalau gitu biar aku yang ngomong ke ibu. Jadi kamu enggak perlu cari rumput setiap paginya.” Kini Citra malah berbalik untuk keluar kamar. Namun, sekali lagi Dodik menahannya.
“Enggak usah!” seru Dodik panik. Kemudian dia tersenyum setelah menenangkan dirinya. “Lagian cuma cari rumput. Bukan sesuatu yang luar biasa, kok.” Dodik memegang pundak Citra. “Malah aku yang merasa bersalah karena sebagai suami, hanya ini yang bisa kulakukan.”
“Yah ….” Citra merasa terharu. Dia langsung menunduk berulang-ulang. “Maafkan aku, Yah, maafkan aku.” Citra menghentikan gerakannya dengan membungkuk. “Maafkan aku karena sebagai istri enggak bisa berbuat apa pun dalam kesulitan yang menimpamu. Tapi aku janji, sepanjang dua bulan ini, aku benar-benar akan bertanggung jawab sebagai istri dan menjalankan tugas-tugasku sebaik mungkin,” sumpah Citra.
“Merubah kesalahan emang sulit. Jadi kesulitan ini bukan karena ibu mertua. Justru ibu mertua yang akan membuatku menjadi lebih baik di masa depan,” sahut Dodik menenangkan.
Dasar Dodik! Kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu bijak. Dia benar-benar bermuka dua.
Dasar bodoh! Kalau ucapanmu bisa nenangin ibu mertua, aku enggak akan kesulitan sampai sekarang. Si Nenek Sihir itu orang yang nyebelin. Bukannya nenangin, kamu hanya akan menambah kesulitanku, dumel Dodik dalam hati berkebalikan dengan apa yang dikatakannya.
Kalau bukan karena Dodik tidak memiliki tujuan tempat lain di mana tidak ada orang yang mengenal keluarganya, dia akan benar-benar pergi dari sini. Sayangnya dia tidak bisa pergi ke rumah teman-temannya. Bahkan David mungkin sudah memasang woro-woro berhadiah lima puluh juta untuk menemukannya.
***
ga jelas2 ceritanya
pusing bacanya ceritanya TDK berkembang itu dan itu lagi di bolak balik