Lian Az Zahra putri
Gadis mungil lulusan akuntansi universitas negeri ternama mulai meniti kariernya di ibukota seorang diri. Mempunyai karier yang cemerlang, ia menduduki jabatan penting di usia muda.
Keberhasilan kariernya tak membuatnya lepas begitu saja dari belenggu masa lalu. Trauma menjalin kasih dengan perbedaan status sosial membuatnya berada di situasi terendah dalam hidupnya.
Dapatkah Lian bangkit dari ujian yang datang bertubi-tubi di tengah kariernya yang menjulang tinggi.
Novel perdana saya, menceritakan kehidupan seorang Lian di ibukota. Karier dan kehidupan cintanya merubah banyak hal dalam dirinya.
Follow juga akun media sosial
FB : YoejaLove
Instagram : YoejaLove
Happy reading guys 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoejaLove, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gank Rempong
Jam pulang kantor sebentar lagi, Lian yang baru selesai memeriksa beberapa dokumen terlihat merapikan mejanya. Sementara teman-teman rempongnya pun sudah ribut membetulkan dandanan masing-masing. Mereka sepakat selesai makan malam akan mengunjungi salah satu toko untuk membeli gaun yang akan mereka gunakan untuk acara pernikahan Dimas dan Wati.
"Udah siap semua? Ayoo." Lian sudah membawa tasnya dan tak lupa menyemprotkan parfume favoritnya.
Mereka berjalan beriringan menuju lobby kantor, menunggu mobil yang mereka pesan melalui aplikasi online. Di dalam lift ponsel Lian berbunyi, tanda ada pesan masuk.
"Dek, kamu jadi beli gaun?" Dimas dan Wati mengirim pesan di waktu yang bersamaan.
"Astagaa, dalam suasana mereka ribet ngurus pernikahan masih sempat-sempatnya memikirkan gaun untukku. Kalian baik banget sama Lili. Sebenarnya mereka ini ada dimana, sepertinya ada di tempat terpisah." Batin Lian, dia sangat bersyukur atas kasih sayang yang didapatkannya dari Wati dan Dimas.
Membalas pesan dari keduanya, Lian sengaja membuat room chat agar dia tidak membalas dua kali.
"Lian mau makan malam dulu sama anak-anak mbak, mas. Baru cari gaun di mall X. Kalian sudah di hotel Darmawangsa kah?"
"Sudah dek, mbak lagi spa mas lagi pijat. Kamu hati-hati pulangnya. Nanti di apartemen sudah ada Bu Anna orang Winata Group yang mas mu bilang semalam." Wati.
"Iya mbak, makasih." Lian menyadari apa yang dilakukan Dimas memang tidak main-main makanya dia tidak protes, ini semua kebaikannya.
"Li, ayo itu mobilnya sudah sampai." Bu Nina.
"Baiklah." Lian memasukkan ponselnya ke dalam tas warna kuningnya.
Di dalam perjalanan, mereka ngobrol ngalor ngidul, memang berisik tapi Lian suka. Mereka sudah memesan makan malam di resto steak yang lagi banyak diperbincangkan. Tempat yang cozy untuk sekedar makan dan ber-selfie ria. Cocok untuk teman-teman Lian yang memang hoby foto.
-- Mall X --
"Baiklah ibu-ibu. Silahkan pesan sesuai selera." Lian duduk diikuti yang lain. Mereka memakai private room sesuai keinginan Lian agar leluasa dan tidak mengganggu pengunjung lainnya.
"Li, mau minum apa?" Bu Nina.
"Thai tea bu. Yang lain juga minumannya milih sendiri yah." Hari ini Lian benar-benar ingin menyenangkan hati teman-temannya yang setia kepadanya. Sebenarnya Lian dari tadi memikirkan siapa yang akan menggantikan dirinya. Dia ingin meminta pendapat gang rempongnya.
"Lian, waktu ibumu hamil kamu ngidam apa sih. Aku penasaran kamu pinter dan masih muda lagi." Mbak Ika mulai kepo.
"Apaaa yaa mbak, Lian gak tahu. Cuma waktu mau melahirkan, ibuku minta udang goreng sama ikan tuna. Selebihnya Lian gak tahu." Lian tertawa geli menjawab pertanyaan absurd dari Ika.
"Udah jangan nanya yang aneh-aneh, kalian ini makan ya makan aja." Bu Citra menghentikan aksi kepo Ika, jika tidak sesi tanya jawab itu tidak akan ada ujungnya.
"Ibu neh, khan aku penasaran bu. Lian masih belum 25 tahun tapi otaknya cerdas udah kayak kerja tahunan." Ika melengos mencomot hidangan selamat datang yang sudah tersaji.
"Hahahahahaha, itu nasib Ika, sudahlah kamu selesaikan dulu itu ujian. Nanti juga bisa belajar sama Lian." Bu nina mengingatkan Ika tentang kursus yang dijalani Ika untuk menambah ilmunya tentang keuangan.
"Ya sudah ayo makan dulu." Dewi mempersilakan pelayan yang datang untuk menghidangkan pesanan mereka.
Hampir satu jam mereka menikmati makan malamnya. Walaupun diselingi dengan aksi berselfi ria, Lian menikmati kebersamaan dengan keluarga barunya ini. Setelah membayar bill ke kasir Lian dan teman-temannya meninggalkan restoran tersebut menuju salah satu toko yang menjual gaun pesta.
"Makasih ya Lian, aku makan enak di tanggal tua." Dewi terkikik, karena dia juga seperti Lian, merantau jauh ke Jakarta demi penghasilan yang lebih menjanjikan.
"Sama-sama semuanya." Lian berpelukan dengan teman-temannya seperti kartun Teletubbies.
Bunyi tanda pesan masuk di ponsel Lian, dilihatnya ada pesan singkat dari Wati yang ternyata mentransfer sejumlah uang untuknya.
"Mbaakkk, salah transfer ya?" Lian tak percaya sampai mengira wati salah transfer karena dia merasa tidak ada pesan apapun sebelumnya dari wati ataupun dimas.
"Enggak dek, itu buat kamu dari pak Alvino buat beli gaun sama aksesoris. Sebagai hadiah kamu naik jabatan. Manager baru penampilannya harus glamour lah. Nanti kamu banyak ketemu manager-manager dari cabang lain Winata Group. Cari gaun di toko 'DeLuna' di mall X ada di lantai 2 dek. Itu juga langganan mbak juga." Wati.
"Dek, ini dari mas sama mbak mu. Hadiah naik jabatan. Yang dari pak Alvino sudah ditransfer mbak mu." Dimas juga mentransfer sejumlah uang agar Lian tetap semangat dan tidak takut terhadap orang-orang yang berusaha mencelakai dirinya.
"Mas, mbak??? Serius ini?? banyak banget lho ini. Mana dari pak Alvino juga banyak. Lian ngucapin terima kasihnya gimana donk."
"Besok khan kamu ketemu di acara resepsi dek. Nanti mas bantu, udah sana belanja dan jangan lupa pesan mbak mu. Bye."
"Astagaaa uang sebanyak ini bisa buat beli tanah kavling dikampung. Huuffttt, orang kaya memang beda kalau urusan penampilan." Batin Lian tak percaya uang yang diterimanya cukup besar dari pemilik Winata Group.
"Li, di lantai dua ada butik bagus. Liat kesana dulu bagaimana? Siapa tahu ada diskon. hihihihi." Bu Citra.
"Boleh, kebetulan Lian mau liat di 'DeLuna' kata mbak Wati bagus."
"Baiklah, selera manager memang beda." Dewi menatap Lian bangga dengan status barunya.
"Ngomong-ngomong, nanti yang gantiin kamu siapa Li?" Ika.
"Belum tahu mbak, ahh iya coba kalian diskusi yah. Senin aku harus dapat nama, nanti nambah staff satu lagi. Bagaimana kalau mbak Nena yang di resepsionis kita tarik ke admin?" Lian teringat mbak Nena yang berada di meja resepsionis kantornya.
"Setuju, kebetulan mbak Nena khan tetangga depan kost ku Li. Baik kok orangnya." Dewi.
"Baiklah, tinggal kita pikirkan yang duduk di kursi ku siapa, hehehe. Masih ada waktu sehari lagi. Nanti kita bicarakan, sekarang saatnya kita beli gaun." Mata Lian berbinar melihat gaun yang berada di etalase toko 'De Luna' rekomendasi Wati.
"Karena bersebelahan dengan toko 'Luxurious' jadi mudah kita. Assyyiiikkkk." Lian bak anak kecil yang menemukan mainan baru.
,
"Hahahaha, akhirnya kita melihat Lian bertingkah seperti ini. Kapan lagi coba." Ika yang sedari tadi memperhatikan tingkah atasannya tertawa puas, seperti menemukan sisi lain gadis yang terkenal jutek dan tegas walaupun dengan pembawaan yang kalem.
"Iiihhh, mbak Ika, udah ayo masuk!" Lian melengos, malu dengan tingkahnya barusan.
"Wah waahh, ini bagus. Aaahh semua bagusss." Dewi berteriak membuat pengunjung lain melihat ke arahnya.
"Jangan berisikkk." Bu Citra yang kesal melihat tingkah Dewi menepuk pundaknya kencang membuat Dewi mengaduh.
"Sakitt ibuuuu."
"Makanya lihat tempat. Apa gak malu kamu?"
"Hehehe, maaf." Dewi mengusap-usap pundaknya yang dipukul Bu Citra.
"Udah jangan ribut, ayo pilih-pilih." Ika dengan antusias memilih beberapa gaun untuk dicobanya.
Sementara Lian sendiri masih menimbang-nimbang gaun mana yang dipilihnya. Bu Nina yang melihat kegalauan lian mendekati gadis itu.
"Li, apa mau lihat dulu ke sebelah. Kamu bilang dapat rekomendasi dari Bu Wati."
"Boleh bu, saya bilang yang lain dulu kalau begitu."
Lian mencari dimana Ika, Dewi dan bu Citra. Yang ditemui nya kebetulan Bu Citra.
"Bu, saya sama Bu Nina ke sebelah dulu. Kalau sudah selesai kita cari yang lain." Lian.
"Oke, nanti ibu sampaikan ke yang lain."
(Author nya bingung lihat Lian ini gaya bener, anak kampung saja seleranya tinggi. Hahahaha, yasudah kita nantikan gaun dengan merk apa yang akan Lian beli)
a world full of zombies hadir lagi menceritakan tentang, Teen, Romantis, dan petualangan 👍😆
Salam kenal dari (Calon Istri vs Mantan Istri) 👋
Semangat terus yaa💪
salam sukses selalu buat thornya dari a world full of zombies hadir lagi 💚🙂
Jangan lupa mampir juga ya di ceritaku 😉
Like sama favorit juga biar bisa saling like tiap update baru 🙂