"Aku ingin mengakhiri semua nya"
Kalimat itulah yang selalu menempel dalam fikiran Anindita. Sampai saat ini ia belum mengetahui alasan kandas nya hubungan nya dengan Vano.
Hingga disuatu tempat, ia bertemu dengan pengusaha muda tampan bernama Fernan Wiratama,tak lain adalah Kakak dari Vano Wiratama. Dan takdir berkata lain Anindita harus selalu bersama Tuan Muda Fernan. Karena apa? Penasaran? Ikuti kisah nya.
Akankah Anindita bisa melupakan sang mantan kekasih? atau malah terjerat cinta dengan tuan muda tampan?
Up : setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Kali Nya
Pukul 06 pagi Anindita membuka matanya. Ia menoleh ke kiri masih ada Fernan disana. Tidur nya sangat rapih sekali selimut nya tidak berantakan kemana-mana. Berbeda dengan Anindita ia tidur disofa tetapi selimut sudah berjatuhan ke bawah. Dengan cepat Anindita merapihkan selimut nya. Menuju kamar mandi.
Setelah selesai, Anindita membangunkan Fernan yang masih terlelap.
"Ah aku harus membangunkan nya. Ini sudah hampir jam 7."
Anindita menghampiri Fernan yang masih memejam mata nya terlihat sangat tenang ketika tidur.
Anindita membungkukan badan nya menatap wajah suami nya. Ia tersenyum melihat wajah tenang Fernan ketika tidur berbeda ketika mata nya terbuka terlihat sangat menakutkan. Pikir Anindita.
"Tampan juga. " Gumam Anindita pelan. Ia menatap lekat wajah suami nya.
" Apakah cukup menatap ku nya hemm? " bertanya dengan masih memejamkan mata nya.
Anindita terlonjat kaget. Segera ia melangkah mundur.
Apakah dia mendengarkan perkataan ku tadi?
" Kau sudah bangun?. " tanya nya gugup.
" Ulangi ucapan mu tadi? " titah Fernan membuka mata nya tanpa bangun dari tidur nya.
Anindita mengernyitkan halis nya.
" Yang mana?. "
"Yang pertama." jawab nya cepat.
Dengan malas dan terpaksa Anindita harus melakukan nya.
"Kau tampan. " Ucap nya cepat. memalingkan wajah menunduk malu.
Fernan bangun dan duduk tegak lalu berdiri, melangkah maju menghampiri Anindita. Dengan segera Anindita melangkah mundur Fernan semakin memajukan tubuh nya dan hampir menempel dengan tubuh Anindita, Anindita semakin memundurkan langkah nya sampai tidak bisa bergerak lagi karna tubuh nya sudah menempel di sisi sofa. Ia terjatuh dan refleks menarik tangan Fernan hingga Fernan menindih tubuh Anindita. Seketika wajah Anindita pias, tubuh nya bergetar. Jantung nya bedetak dengan cepat. Fernan semakin mendekatkan wajah nya. Hidung mancung mereka menempel. Cup. Fernan mencium bibir Anindita lembut. Bibir nya beralih ke telinga Anindita ia menggigit pelan disana.
" Ini hukuman untuk mu karna telah menggodaku. " bisik nya pelan. Segera ia bangun.
Anindita melebarkan mata nya.
" Hey ini ciuman pertama ku. " Ucap nya polos, segera ia menutup mulut nya.
Fernan mengererutkan kening nya.
" Itu lebih bagus. " Ucap nya santai. Membalikan badan melangkah pergi" Aku mau mandi. " Ucap nya teriak tanpa menoleh.
Anindita semakin melebarkan matanya yang semakin membulat, ia kesal dengan Fernan, dengan jantung yang masih meloncat-loncat Anindita bangun berlari menuju kamar mandi unruk menyiapkan air hangat. melewati Fernan yang sedang berjalan. tiba-tiba Fernan langsung masuk ke kamar mandi. Ketika air sudah siap Anindiat segera berlari keluar takut Fernan tiba-tiba melakukan nya lagi. Pikir Anindita.
Fernan yang melihat nya menahan tawa.
" cukup menghibur. " Ucap Fernan merasa unik dengan tingkah istri baru nya itu.
Anindita terduduk di sofa. Memegang jantung nya yang sedikit demi sedikit berhenti meloncat.
" Apa kata dia tadi? Hukuman? Jadi itu yang dinamakan hukuman? Mencium bibirku tanpa izin?" Ucap Anindita kesal memegang bibir nya. "Aaaaaaa bibir ku sudah tidak perawan lagi." Ucap nya teriak Frustasi.
Sementara dikamar mandi Fernan mendengar teriakan Anindita terdengar samar apa yang diucapkan Anindita tapi jelas di telinga Fernan. Ia menyunggingkan bibir nya mendengar Ucapan Anindita. Ia merasa cukup senang karna dialah suami yang pertama menyentuh bibir istri nya.
Anindita segera pergi menyiapkan baju kerja untuk Fernan. Setelah nya ia menuju dapur. menghampiri pak sem yang sedang memasak.
"Apa ada yang bisa saya bantu Pak sem?." Ucap Anindita di samping pak Sem.
Pak Sem kaget mendengar Nona Muda nya ingin membantu masakan di dapur. Ia menoleh membungkukan badan
"Tidak perlu Nona. Ini sudah tugas saya. Nona kembalilah ke kamar menunggu Tuan Muda untuk sarapan bersama. " Ucap nya sopan penuh hormat.
Anindita mengerucutkan bibir nya.
" Baiklah. " dengan terpaksa Anindita kembali ke kamar ia melihat Fernan sudah rapi dengan setelan jas nya. Terlihat sangat segar dan tampan. Bersih rapih wangi. Sempurna sudah Tuan Muda Fernan ini. Pikir Anindita.
Fernan melirik Anindita beberapa detik ia segera pergi untuk sarapan. Anindita mengikuti nya dari belakang. Seketika langkah Fernan terhenti. Anindita yang menyadari nya dengan cepat ia pun mengehentikan langkah nya.
Kebiasaan! Berhenti mendadak. Tapi Tidak boleh terulang lagi bukan kejadian waktu dilesteron? Haha.
"Jangan berjalan di belakangku. Kemari! " menyuruh Anindita berjalan disamping nya.
" Eh. Ba_baik. " Anindita kaget ia segera kedepan mensejajarkan tubuh nya dengan Fernan. Mereka jalan beriringan menuruni anak tangga satu persatu. Dimeja makan terlihat Papa Mama dan Grand Ma yang sedang menunggu Fernan sarapan.
" Pagi Nak. " mama dan papa menyapa bersama menatap Fernan.
"Pagi." jawab nya tanpa menoleh, bersiap duduk di bangku yang sudah disiapkan pak Sem. Anindita duduk di samping Fernan.
"Selamat pagi Cucuku dan Cucu menantuku. " safa Grand Ma tersenyum.
" Pagi Grand Ma. " jawab Fernan.
"Slamat pagi Grand Ma." jawab Anindita tersenyum manis. "Slamat pagi Pah Mah." lenjutnya menyapa sang mertus.
"Pagi Nak. " Jawab papa tersenyum
Mama yang hanya menjawab dengan anggukan.
Mereka makan bersama dengan sangat rapih, tidak ada yang berani mengeluarkan Satu kata patah pun, karna ini adalah aturan dari keluarga Wirtama ketika makan. Hanya ada suara dentingan sendok dan piring.
Mereka menyelesaikan makan pagi nya. Fernan mengelap sudut bibir nya dengan tisu.
"Bgaimana dengan malam ini cucu ku?. " tanya Grand Ma tersenyum cerah.
" Bagaimana apa nya Grand Ma? " Mengerutkan kening nya. Tidak mengerti dengan pertanyaan sang Nenek.
Sansai menghela nafas." Ya. Semalam. bagaiman malam pertama nya dengan Anindita? " Tanya Grand Ma kesal pada cucu nya yang tidak peka.
"Malam aku dan dia baik-baik saja. Apalagi ketika pagi tadi sangat menyenangkan. " Ucap Fernan santai melirik Anindita.
Uhuk uhuk.. Anindita terbatuk mendengar ucapan Fernan. Segara ia mengambil air minum.
Apa-apaan sih dia ini?. Menyenangkan katanya? Batin Anindita kesal.
" Hey cucuku mengapa melakukan nya tadi pagi?.Kenapa tidak malam saja? " tanya Grand Ma antusias. Pikiran nya sudah ngelantur kemana-mana.
" Ah ya. Benar juga apa katamu Grand Ma."
Anindita terlihat malu dan takut dengan perkataan Fernan. Wajah nya berubah memerah.
Nanti malam? Apa maksud nya? Apa dia mau menciumku lagi? Aaaaa tidak! tolong aku tuhan.
Terlihata mama menatap Anindita tidak suka. Ya, karna mama masih mengharapkan Gilsya sebagai Menantu nya. Ditambah ia tahu latar belakang Anindita yang hanya di besarkan di sebuah panti asuhan yang tidak sederajat dengan keluarga besar nya.
"Grand Ma sudah minum obat?. " tanya mama pada Grand Ma untuk mengalihkan pembicaraa yang menurut nya tidak penting.
" Sudah. Kau tak perlu kuatir. Ada perawat yang mengurusku. " Ucap Grand Ma tersenyum getir. Ya, Jauh dari lubuk hati yang paling terdalam Sansai menginginkan Anak nya lah tak lain adalah mama Fernan. Ia ingin anak nya yang mengurus nya semasa ia tua. Sebelum ia menutup mata meninggalkan bumi ini. Tapi sang anak tidak peka tidak mengurus ibu nya dengan baik.
"Kemana Vano? " Tanya Fernan.
" Dia sudah berangkat kerja. " Jawab papa.
" Mengapa sepagi ini?. " Sahut Grand Ma.
" Seperti nya banyak kerjaan. " jawab Mama.
Kenyataan bukan seperti itu. Vano hanya menghindar dari Fernan. Ia belum bisa memutuskan untuk rutin kemoterapi sesuai peemintaan Fernan.
" Seperti nya dia benar-benar menantangku. " Ucap nya tersenyum masam.
Menantang Fernan? Apa maksudnya?. Batin Anindita.
" Ada apa ini?. " Tanya Grand Ma.
" Nanti aku ceritakan Grand Ma. " Ucap Mama.
*anin berkali berbohong tapi tidak disalahkan
*fernan berbohong langsung disalahkan dan tidak mudah dimaafkan fernan hadir mengemis dulu baru dimaafkan
*anjn tinggal dengan lelaki lain tidak disalahkan
*fernan bawah karina tinggal dirumahnya, (anin juga ada disitu) dianggap kesalahan besar tidak mudah dimaafkan dan harus mengemis maaf dulu
*anin salah paham lihat fernan pelukan dengan karina kesalahan fernan dan harus mengemis maaf dulu baru dimaafkan
*fernan lihat anin pelukan dengan devan bukan kesalahan
kesalahan anin dan fernan banyak yang sama tapi karena pemikiran yang egois dan munafik oleh authornya jadi semua yang dilakukan fernan kesalahan fatal tapi semua yang dilakukan anin bukan kesalahan dan dibenarkan
kalian bangga buat novel yang kelihatan sekali kemunafikannya kayak gini, ini sama saja kalian bangga memamerkan pola pikir dan imajinasi kemunafikan kalian sendiri
* pelakor kalian laknat tapi pebinor kalian puja2 bahkan kalian spesial kan bisa berkali kontak fisik dengan istri orang (munafik)
* karina diajak fernan tinggal dirumah kalian laknat tapi anin kabur dari rumah dan tinggal dirumah lelaki lain bahkan anak panggil anin mama mereka tingg kayak sebuah keluarga kalian benarkan (munafik)
* fernan tidak tegas pada karina kalian laknat tapi anin tidak tegas pada devan dan vano kalian benarkan (munafik dan murahan)
* intraksi fernan dengan wanita lain kalian bela tapi intraksi anin dengan pria lain kalian benarkan bahkan pelukan kalian benarkan (munafik)
*anin salah paham fernan pelukan dengan karina kalian buat anin tegas pergi dan fernan harus mengejar dan mengemis maaf tapi saat fernan melihat anin pelukan pada devan kalian buat fernan kayak orang bodoh Terima begitu saja (munafik)
*saat anin tidak percaya fernan, maka fernan salah karena tidak bisa menjaga kepercayaan tapi saat devan tidak percaya anin tetap devan salah karena harus saling percaya (munafik)
*fernan membohongi anin adalah kesalahan fatal, fernan dihukum, dan harus mengemis maaf pada anin tapi anin membohongi fernan dibenarkan
* dan masih banyak lagi kemunafikan dalam novel ini yang dibela oleh author
Thor jadi novelis wanita jangan egois benar semua kesalahan anin dibela dan dibenarkan semuanya, tapi giliran fernan buat salah, dilaknat habis2an, jadi wanita dewasa sedikit jadi bisa buat novel adil