Butuh pikiran terbuka dan kebijkan membaca novel ini.
Mona Ayunda, itulah nama seorang wanita pengantar pizza yang tidak sengaja bertemu dengan seorang pengacara terkenal bernama Abraham Reno Winata, di sebuah Penthouse mewah milik sang pengacara.
Dengan kehidupannya yang sulit di sebabkan ibu tirinya. Mona harus bekerja paruh waktu sambil berkuliah di sebuah Universitas Swasta terkenal dengan beasiswa yang dia dapatkan.
Namun peristiwa berdarah yang melibatkan keluarganya membuat dirinya terpaksa terikat pernikahan kontrak dengan sang pengacara. Selama perjalanan pernikahan kontrak itu, Mona harus menerima semua perjanjian yang di tetapkan sepihak oleh sang pengacara, yang merugikan dirinya.
Di tambah kisah masa lalu yang sedikit demi sedikit terkuak, memperburuk hubungan keduanya.
Bagaimanakah hubungan mereka selanjutnya? Apa kebencian mereka bisa berubah cinta atau semakin jauh jarak dia antara keduanya.
Ikuti terus cerita My Love My Lawyer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rimza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Titik Terang Part 2
Mona terus mengejar mobil tersebut. Dia tak mengira bahwa pria yang di maksud Adi adalah Didit, mantan teman dan rekan kerja ayahnya dulu. Mona cukup tahu kebangkrutan yang di alami ayahnya, yaitu di sebabkan oleh pria yang kini dia kejar.
"Om Didit, aku tak akan pernah memaafkan mu." Batin Mona merasa geram.
Dia mencoba melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Sampai akhirnya berhasil memotong jalannya mobil itu.
"Dasar wanita gila! Apa dia ingin mati?!" Ucap Didit yang begitu kesal.
"Sayang ada apa?" Saut wanita yang di sampingnya.
"Tunggu disini, aku akan keluar sebentar."
Didit lalu keluar dari mobilnya. "Kau?" ucapnya yang terkejut dengan adanya Mona yang telah menghalangi jalannya. Dia bisa melihat raut wajah amarah dari putri Herman itu.
Om Didit!" teriak Mona. Lalu dengan cepat menghampiri pria itu. Dia melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras ke salah satu pipi Didit, hingga pria itu meringis kesakitan.
Didit begitu kaget dengan apa yang di alaminya. Dia mengernyitkan dahi menatap marah wanita yang sudah menampar pipinya.
"Hei! Kau sudah gila ya?!" ucap Didit dengan suara tinggi.
Tak kalah dengan Didit, Mona pun membalas dengan keras ucapan pria itu. "Ya, saya memang sudah gila!" menatap Didit dengan rasa amarah yang tak mampu dia kendalikan, tidak peduli pria itu lebih tua darinya.
"Om kan yang sudah mengancam adik saya?"
"Kau jangan bicara sembarangan. Aku tidak pernah lakukan itu!"
"Saya tahu Om mengancam adik saya. Om pikir saya bicara seperti ini tanpa ada bukti."
"Apa buktinya?! Ucap Didit dengan tersenyum sinis ke arah Mona.
"Adi sudah cerita semuannya."
Didit langsung memasang wajah terkejut mendengar ucapan Mona. Dia tak mengira bocah itu berani menceritakan semuanya pada orang lain.
"Benar kan, Om yang melakukan itu?"
"Jangan bicara omong kosong, aku bisa menuntut mu karena menuduhku sembarangan!" sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Mona.
"Om jangan berkelit, karena percuma saja menyembunyikan kebusukan Om sendiri. Karena saya pasti akan membongkarnya."
Pria itu langsung mencengkram lengan Mona dengan kuat. "Dasar wanita tak tahu diri! Kau pikir aku takut dengan ancaman mu itu?! Lagi pula pengakuan adikmu hanya omong kosong, karena dia hanya bocah yang stres."
Dia langsung mengepalkan kedua tangannya, tak terima dengan ucapan Didit menghina adiknya. Mona yang tersulut emosi langsung menyerang Didit dengan sekuat tenaga, dari menjambak rambutnya, mencakar bahkan memukulnya.
"Dasar wanita gila!" Maki Didit. Karena terus di serang oleh Mona.
"Sayang?" Suara seorang wanita yang keluar dari mobil. Pastinya itu selingkuhannya yang baru.
"Cepat bantu aku dari wanita gila ini!" perintah Didit yang menjadi sasaran amukan Mona.
Selingkuhan Didit itu langsung menarik kuat rambut Mona dari belakang hingga tubuhnya ikut terseret. Didit pun langsung membalas Mona dengan memukuli tubuhnya dengan membabi buta. Mona yang sudah meringkuk di tanah terus di tendang, baik oleh Didit maupun selingkuhannya.
"Dasar wanita kurang ajar. Kau sama saja dengan Ayahmu, tidak berguna dan menyusahkan." Kutuk Didit dengan nafas yang terengah-engah. Karena dia benar-benar menghajar Mona dengan sekuat tenaganya.
Setelah puas menganiaya Mona yang tak berdaya, keduanya meninggalkannya sendiri.
Tangisan kesakitan Mona terdengar memilukan disunyi nya jalanan yang jarang di lalui kendaraan. Dadanya mulai terasa sesak dan pandangannya mulai kabur. Nampak darah segar keluar dari hidung dan pelipisnya. Serta luka lebam di sekujur tubuhnya. Tak berapa lama dia kehilangan kesadarannya.
...----------------...
"Terima kasih Pak Reno, karena anda, saya bisa memenangkan gugatan tersebut." ucap seorang pria baya yang merupakan kliennya.
Benar saja. Hari ini Reno di undang klienya, yang merupakan CEO perusahaan besar, untuk merayakan keberhasilannya dalam memenangkan sebuah gugatan hak merek dagang di perusahaan tersebut.
"Sama-sama Pak Duan. Baiklah saya pamit dulu." Lekas Reno beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan restoran mewah Jepang itu.
Reno mengendarai mobilnya dengan perasaan puas. Namun di sisi lain dia pun masih bingung, bagaiman caranya untuk menghindari perjodohan itu. Andai ayahnya tidak melibatkan rumah peninggalan ibunya, mungkin dia dengan mudah menghindar dari perjodohan. Karena dia rela kehilangan sebagai hak waris ketimbang harus kehilangan rumah ibunya, dan dia akan lakukan segalanya untuk bisa mendapatkan hak atas rumah tersebut.
Namun di tengah perjalan, dia di kagetkan dengan tubuh manusia yang tergeletak di tepi jalan, yang tak sengaja di lihatnya.
"Apa-apaan ini? Apa dia korban tabrak lari?" ucap Reno. Segera dia turun dari mobilnya, dan mendekati sosok tubuh wanita yang tergeletak di tanah dengan posisi tertelungkup. Namun anehnya dia seperti mengenali motor yang tak jauh dari tubuh itu.
Sesaat kemudian. "Ini kan Motor wanita itu?Dia?" Reno mulai menyadari sesuatu, dan dia langsung meraih tubuh wanita tersebut.
"Mona?!" Raut wajah Reno sangat terkejut dengan apa yang disaksikannya saat ini. Tak ingin membuang waktu, Reno melarikannya ke rumah sakit terdekat.
"Apa yang sebenarnya yang terjadi padanya? Selalu saja bertemu dengannya di situasi yang seperti ini?" batin Reno, yang melajukan mobilnya dengan cepat mengejar waktu.
Sesampainya di rumah sakit. Mona di bawa ke ruang gawat darurat. Disana dia dirawat intensif, karena ada luka yang membutuhkan beberapa jahitan. Setelahnya dia di pindahkan ke ruang perawatan.
"
"
"Anda sudah sadar?" tanya seorang dokter wanita, yang sedang menyuntikkan obat ke dalam cairan infusnya.
"Saya ada dimana?" ucap Mona yang setengah sadar.
"Anda sedang ada di rumah sakit."
"A-apa?! Saya di rumah sakit?" Mona kaget dengan apa yang di dengarnya. Dia mulai mengingat-ingat kejadian kemarin malam yang menimpannya. "Siapa yang membawa saya kesini, Dok?" tambahnya.
"Anda juga akan tahu sendiri, karena sebentar lagi orangnya akan datang." ucap si dokter.
Mona di tambah bingung lagi dengan perkataan dokter itu. Ia tak mengerti apa maksudnya.
"Tasku." Tiba-tiba ia teringat dengan tasnya. "Dok, apa anda melihat tas saya waktu di bawah kesini?"
"Oh, tas anda? Sebentar saya ambilkan." Dokter itu mengambilkan tas yang berada di dalam nakas samping tempat tidur, dan memberikannya pada Mona.
"Terimakasih Dok?"
"Baiklah, saya keluar sebentar. Jika butuh apa-apa, anda tinggal pencet tombol saja, nanti ada perawat yang akan datang." ucap dokter, kemudian berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Mona segera meraih ponselnya dan menghubungi adiknya. Tak lupa dia pun menghubungi Resti. Karena keduanya pasti saat ini mengkhawatirkan dirinya.
Mona terbaring di atas tempat tidur ruang perawatan yang hanya ada dirinya dari empat tempat tidur yang tersedia di ruangan tersebut. Dia menatap langit-langit atap ruang perawatan yang sangat sunyi dan sepi. Tak pernah di sangka, dia kembali di rawat di rumah sakit dengan kondisi yang lebih parah.
"Om Didit harus bertanggung jawab semua perbuatannya." Batin Mona.
nambah satu bab dulu sambil ngopi
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Coffee//Rose/
defenisi jodoh gak ke mana /CoolGuy/
tenyta naskah yang sama/Bye-Bye/