Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Perasaan
"Bukan kau yang mengontrol cinta. Tetapi dia yang menuntun arahmu." ~Diandra Lee.
.
.
.
Gionard menekan sebuah nomor di ponselnya dan menunggu beberapa saat hingga teleponnya tersambung.
"Apa kau yakin itu dia?" tanyanya tegas.
"Aku sangat yakin itu dia," jawab sebuah suara di sebrang, Leonard.
"Dimana dia sekarang?" rahang Gionard mengeras.
"Di Lyon. Mungkin akan kembali ke Paris dalam waktu dekat," Leonard kembali menjawab.
Gionard mengepalkan tangannya. Meredam emosi yang perlahan merasukinya.
"Kenapa dia muncul lagi?" pria itu menyeringai kesal.
Leonard tertawa kecil.
"Mana aku tahu," katanya asal-asalan.
"Terus awasi dan beritahu kabar tentang dia. Jangan sampai lengah," pesan Gionard, nada suaranya berubah berat.
"Baiklah,"
"Ah, mungkin saja...," Leonard menggantung kalimatnya.
"Apa yang kau fikirkan?" Gionard mendelik.
"Mungkin saja dia ingin mengambil kembali Diandra. Apa lagi alasannya muncul?" kata Leonard lagi.
Gionard meninju sofa yang berada di dekatnya. Amarahnya memuncak bahkan hanya karena mendengar kata-kata Leonard barusan. Rahangnya mengeras dan matanya menajam.
"Kau baik-baik saja, Bang?" Leonard mendengar suara tinju di sebrang, khawatir abang semata wayangnya itu menghancurkan sesuatu.
"Jaga bicaramu, kau membuatku kesal!"
Leonard terkikik pelan.
"Kau terlalu lamban. Jika aku jadi kau, telah kubawa dia ke Paris secepatnya," ujar Leonard lagi, mematikan sambungan telepon.
Belum sempat Gionard memaki adiknya itu, suaranya telah menghilang. Telepon itu telah terputus. Sialan. Brengsek. Leonard kadang benar dalam beberapa hal. Apakah dia terlalu lamban menangani ini?
Gionard menarik napas panjang. Menyesap birnya. Minum bir di tengah hari seperti ini tidak nikmat, namun tubuhnya perlu peralihan dari emosi yang kian membara. Dia perlu menenangkan diri sejenak.
***
Diandra menatap layar laptopnya dan melakukan approve untuk beberapa dokumen. Dia telah piawai dalam mengurus perusahaan, semuanya karena bimbingan Bram.
Di sela aktivitasnya, fikirannya melayang pada buku kanvas merah muda dan pensil-pensil yang kemarin dibelinya saat kencan bersama Bram. Tunggu, kencan? Hati Diandra panas memikirkan kata itu. Kencan mungkin belum tepat. Mereka hanya pergi ke mall, berkeliling dan makan di sebuah restoran. Itu saja. Apakah itu dapat disebut kencan? Diandra menggeleng cepat, mengusir semua fikiran tentang Bram dan kencannya kemarin.
Dia sudah lama tidak menorehkan pensilnya. Setelah pernikahannya dilangsungkan, Diandra belum lagi melukis. Dia meninggalkan semua draft dan hasil design-nya di Paris, yang masih tersusun rapi di dalam lemarinya. Madam Moina pasti membersihkannya secara berkala, hingga Diandra tidak perlu khawatir. Mungkin saja dia akan kembali ke Paris dalam waktu dekat?
Diandra memikirkan Paris untuk sesaat. Kota dimana dia merajut impiannya menjadi seorang designer. Kota dimana dia menghabiskan waktunya untuk mengejar mimpinya. Diandra menyandarkan kepalanya di kursi. Mengingat semua kenangan tentang kota romantis itu. Masa-masa kuliahnya, masa-masa club-nya, waktu yang berlalu bersama George dan Madam Moina, waktu yang dia lalui bersama Gionard, dan waktu dimana dia merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
Bibirnya bergetar saat fikirannya dengan cepat beralih pada lelaki itu. Lelaki yang telah dicintainya, menjadi cinta pertamanya, sekaligus lelaki yang menorehkan luka mendalam pada hati Diandra.
Semakin jauh dia berfikir, semakin sakit rasanya, perasaan yang bergemuruh dalam hatinya. Perasaan yang didominasi rasa benci, luka, namun menyimpan cinta.
Diandra telah mengubur lelaki itu dalam-dalam, hingga tidak ada lagi ruang yang tersisa. Dia belum bisa menceritakan apapun mengenai itu, karena membuka kisahnya masih terasa terlalu berat untuknya.
Dua tahun berlalu begitu saja. Diandra menyepi dari cintanya, setiap hari menguatkan diri untuk terus bangkit dan hidup tanpa hadir lelaki itu lagi.
Diandra tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Dia sungguh tidak ingin jatuh cinta pada lelaki yang salah, lagi. Cukuplah cinta pertamanya yang menorehkan luka mendalam, sebaiknya cintanya yang sekarang tidak.
Diandra membenci lelaki itu. Dia berharap agar lelaki itu musnah dan tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Dia tidak ingin goyah.
Diandra melirik Bram yang masih memandangi layar laptopnya di kursinya, fokus mengetikkan jari-jarinya pada tuts keyboard, tidak menyadari sepasang mata indah Diandra mengawasinya sejak tadi.
Diandra tersenyum kecil. Bram semakin tampan dari hari ke hari. Dia sadar dan paham betul perasaannya yang semakin hari semakin jelas. Bram telah memiliki ruang tersendiri di hati Diandra. Dia tidak ingin mengakui itu, karena mencintai Bram berarti dia siap untuk memiliki akhir yang sama seperti cinta pertamanya.
Diandra menghela napas panjang. Dia tidak tahu bagaimana kisahnya dengan Bram akan berakhir. Toh mereka akan berpisah, hanya tinggal menunggu waktu. Bila itu terjadi, apa yang akan terjadi pada Diandra? Dia akan kembali sendirian. Meratapi nasibnya yang sungguh mengenaskan soal asmara.
Dia tidak mau jatuh terlalu dalam. Namun, bukan kau yang mengontrol cinta, tetapi cinta yang mengontrolmu.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Support Like & Comment nya ya.. Makasih banyak masih ngikutin sampai sekarang💕~
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍