Soraya harus merasakan sakit yang luar biasa ketika mengetahui Mario yang tak lain calon suaminya menghamili wanita lain, padahal dia juga sedang mengandung anak Mario.
Soraya tidak punya alasan untuk mempertahankan hubungannya dengan Mario, dia memilih untuk melepaskan Mario dan menyuruh Mario untuk bertanggung jawab pada wanita itu.
Mario tentu tidak terima, karena dia tidur dengan wanita itu tanpa sengaja, dan dia kekeh ingin menikahi Soraya, tapi Soraya juga kekeh menolak.
karena tidak ingin Mario mengejar-ngejarnya lagi Soraya, nekad menikahi pria bayaran yang sudah memiliki kekasih, tentu saja Soraya melakukan ini demi status dari anak yang di kandung karena Mario belum tau bahwa dia mengandung dan selama bertahun-tahun pula, Soraya berhasil menyembunyikan fakta, bahwa anak yang dulu dia kandung adalah anak Mario.
Dan karena masih dendam dengan keputusan Soraya, Mario terus mengganggu Soraya dan menyakiti anak Soraya, yang juga tanpa dia sadari adalah anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Mario menatap bingung pada Joseph ketika Joseph menarik kemeja Cio. Sebenarnya juga Mario belum tahu tentang apa yang terjadi pada Soraya sampai semua berkumpul di rumah sakit.
"Jena, apa Cio membuat kesalahan pada Soraya sampai Joseph seperti itu?" tanya Mario yang langsung bertanya pada adiknya, sedangkan Jena tidak menjawab. Dia terlalu malas meladeni kakaknya.
"Pasti Cio berselingkuh," tebak Mario lagi.
"Cepat bilang pada suamimu untuk pisahkan Cio dan juga Soraya. Biarkan anak itu ikut dengan Cio agar Soraya bisa menata hidupnya kembali," ucap Mario dengan antusias.
Mendengar itu, Jena menoleh pada Mario.
"Kau bisa diam tidak?!" Jena hampir saja berteriak ketika Mario terus berbicara hingga Mario berdecak. Dia pun memutuskan untuk diam, Jika dia meladeni amarah Jena, pasti Jena akan semakin menjadi-jadi hingga pada akhirnya Mario tidak bertanya lagi.
***
Tubuh Cio terkapar di lantai. Semua wajahnya dipenuhi dengan memar karena tentu saja Joseph menghajar Cio membabi buta. Di tengah amarah yang melandanya, Joseph masih sempat mengingat bahwa sekarang mereka di rumah sakit hingga dia benar-benar menghajar Cio tanpa suara, dan tentu saja Cio tidak melawan.
Joseph menarik kerah jas Cio. "Aku bersumpah aku tidak akan pernah melepaskanmu dan kekasihmu. Kalian harus membayar apa yang terjadi pada Soraya walaupun kalian tidak seratus persen bersalah." Setelah mengatakan itu, Joseph pun langsung menghempaskan tubuh Cio lalu setelah itu keluar dari sana membiarkan Cio sendirian.
***
Soraya mengerjap, wanita cantik itu membuka mata. Setelah membuka mata, tatapan Soraya menatap ke arah depan, rasa sakit langsung menyergapnya karena dia langsung teringat apa yang terjadi sebelum dia tidak sadarkan diri.
Tanpa terasa, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. Rasa perih yang dirasakan oleh Soraya bukan karena Cio saja, tapi juga dia terpaksa harus membuka siapa ayah kandung Kirea di hadapan putrinya, sendiri dan dia tidak tahu, sehancur apa putrinya ketika mengetahui yang sebenarnya atau mungkin, putrinya akan kecewa padanya.
Ketika Soraya larut dalam lamunannya, pintu terbuka hingga Soraya mengerjap dan dengan cepat wanita itu menghapus air matanya, tapi Soraya enggan berbalik, karena rasanya terlalu melelahkan untuk menatap seluruh anggota keluarganya.
Mata Helmia membasah ketika melihat Soraya terbaring di brankar, wanita paruh baya itu baru saja tiba di rumah sakit, dan ketika sampai, tanpa menunggu lagi dia langsung masuk kedalam ruang rawat Soraya. Padahal tadi Joseph yang ingin menemui Soraya terlebih dahulu, tapi dia mengurungkan niatnya karena dia yakin Soraya sedang butuh ibunya.
Ketika berada di dekat brankar, Helmia langsung menarik kursi sedangkan Soraya masih enggan untuk menoleh hingga dia tidak tahu yang masuk adalah ibu angkatnya, Wanita yang selama ini Soraya rindukan, tapi dia tidak seberani itu untuk mendekat pada ibu angkatnya.
"Soraya," panggil Helmia, dia menggenggam tangan Soraya dan ketika mendengar suara ibunya, Soraya menoleh. Tangis tidak bisa dibendung ketika melihat Helmia.
"Mommy," panggil Soraya. Dia hanya memanggil Helmia dan tidak berbicara lagi hingga Helmia semakin mendekat kemudian dia mengelus rambut Soraya.
"Mommy dan Daddy berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah membiarkanmu sendiri lagi," kata Helmia, jujur dia pun shock ketika mendengar apa yang terjadi.
Soraya menundukkan pandangannya. Entah kenapa, apapun yang dikatakan oleh Helmia tidak mampu mengikis luka di masa lalu di mana dulu Helmia pernah menabrak dan memfitnahnya.
"Aku baik-baik saja," jawab Soraya dengan suara yang lirih, tadi dia begitu senang ketika melihat ibunya, tapi ketika kenangan itu datang lagi, Soraya berusaha untuk tidak memperlihatkan perasaannya bahwa dia rindu pada Helmia
Soraya melepaskan genggaman tangannya dari tangan Helmia, kemudian dia langsung memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Mommy, bisa Mommy keluar?" Aku ingin istirahat," ucap Soraya yang terlalu sesak untuk mengingat semuanya. Entah kenapa sampai sekarang Soraya benar-benar tidak bisa melupakan apapun yang terjadi di masa lalu.
Helmia bangkit dari duduknya kemudian dia langsung membungkuk, lalu mencium kening Soraya.
"Mommy tidak akan meninggalkanmu lagi. Istirahatlah, Mommy dan yang lain akan menunggu di luar," ucap Helmia dan ketika terdengar suara pintu terbuka pertanda Helmia sudah keluar dari ruangannya, Soraya menarik selimut kemudian menyelimuti tubuhnya. Kenangan buruk berputar di otak Soraya.
***
"Apa dia tidak ingin ditemui, Mom?" tanya Joseph ketika Helmia keluar dari ruang rawat Soraya.
"Kita beri dia waktu," ucap Helmia hingga Joseph mengurungkan niatnya untuk masuk.
***
"Kau ingin sesuatu yang lain?" tanya Kelvin ketika dia dan Kirea duduk di kantin rumah sakit. Sedari tadi masuk ke dalam kantin, Kirea hanya memilih satu jus kemasan, itupun hanya meminumnya sedikit lalu kemudian gadis kecil itu menunduk hingga Kevin sedikit kebingungan, bagaimana cara memulai pembicaraan dengan Kirea.
"Tidak, Paman," jawab Kirea kemudian gadis kecil itu kembali menunduk.
"Paman belikan camilan yang lain, oke?" tanya Kelvin, tapi dengan cepat Kirea menggeleng.
"Tidak, Paman, ini sudah cukup," ucap Kirea.
"Apa Paman boleh bertanya?" tanya Kelvin hingga Kirea mengangguk, tapi dia tidak mengangkat kepalanya.
"Apa yang terjadi pada Mommy-mu, sampai dia seperti ini?" Kelvin memberanikan diri bertanya, berharap Kirea menjawabnya.
"Tadi Mommy dimarahi oleh Paman, dan Mommy hampir saja di ...." Tiba-Tiba, Kirea menghentikan ucapannya ketika mengatakan bahwa Soraya hampir ditampar oleh Kalindra.
"Tidak usah diteruskan, tidak apa-apa," jawab Kelvin yang mengerti terlalu berat untuk Kirea menceritakan semuanya, hingga pada akhirnya Kirea kembali menunduk.
"Paman, aku ingin pergi menemui Mommy," kata Kirea. Walaupun tidak ingin melihat Mario, tapi ketika barusan Kelvin membahas ibunya tiba-tiba Kirea ingin menghampiri Soraya, hingga pada akhirnya Kelvin pun mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan mereka pun berjalan ke arah lift untuk naik ke atas.
***
Cio masuk kedalam apartemen, di tengah rasa sakit akibat hajaran Joseph, lelaki itu tetap mencari Marry, dia harus membuat perhitungan dengan kekasihnya. Belum hilang rasa marah cio karena dulu Marry tidak menyampaikan Kirea yang sedang dirawat, sekarang Cio di buat marah lagi dengan kelakuan Marry yang memfitnah Soraya.
Brak
Cio membuka kamar, tapi ternyata Marry tidak ada di kamar, sepertinya wanita itu kabur, karena takut melihat Cio. Awalnya Marry yakin, Kalindra tidak akan memberitahu pada semua jika dia datang mengadu, hingga dia yakin posisinya aman. Tapi, perasaannya mendadak tidak enak hingga dia memutuskan untuk kabur sebentar.
Ingat dah kena strok