NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:514.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Bahagia?

☕🍜Bagai kupu-kupu yang patah sayapnya. Aku tetap terbang menujumu, demi dapat meraihmu. Meski dengan cara tertatih dan dengan menahan luka yang amat pedih🍜☕

Pembicaraan dua laki-laki itu sempat terhenti sebab ada tukang kebab yang mengantar pesanan mereka.

Jalan raya yang ada di depan mata mereka masih sibuk oleh kendaraan berlalu-lalang.

Pria 28 tahun itu tampak gelisah. Dia merasa tak puas dan tidak terima dengan jawaban yang dia dapatkan dari temannya.

“Jadi kamu termasuk orang yang sepakat dengan adanya syarat bibit-bebet-bobot itu?” Akhirnya Juan memutuskan bertanya lagi.

Sebelum menjawab Rizky menghela napas panjang, “Bukan sepakat. Aku ini hanyalah salah satu korban yang mau nggak mau harus menerima fakta tentang itu.”

Rizky memainkan kunci motornya di atas meja. Juan menelan ludah, tangannya meraih paper cup berisi kopi. Lalu menyeruputnya.

“Tapi, Ky. Menurutku nggak semua orang begitu,” ujar Juan setelah menyesap kopinya.

“Yah ... hanya kemungkinan kecil, Bang,” sahut Rizky, tak bersemangat.

“Siapa yang tahu? Kalau ternyata orangtua Salwa masuk ke dalam kemungkinan kecil itu?” Juan mencoba membesarkan hati Rizky.

Pria 24 tahun itu menatap sejenak pria gondrong di hadapannya. Menerawang wajah berjambang itu. Sesaat kemudian Rizky tahu, pria di hadapannya sedang mencoba membesarkan hatinya.

Rizky melemparkan pandangan ke jalan raya. Mengamati kendaraan yang sibuk berlalu-lalang.

“Aku sempat berpikir begitu. Tapi, itu jauh sebelum Kak Salwa menceritakan tentang rencana perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya. Setelah semalam dia bercerita, rasanya harapanku semakin menipis,” tutur Rizky dengan suara pelan. Pandangannya masih lurus ke jalan raya.

“Setidaknya kamu masih punya kesempatan untuk berusaha! Manfaatkan waktu setahun itu dengan baik. Sebenarnya, selagi keduanya saling mencintai. Maka, cinta tak butuh syarat apapun untuk bisa bersatu. Mungkin hanya butuh usaha yang lebih saja,” papar Juan. Dia ikutan memandang lurus ke jalan raya.

Rizky menoleh. Dia tampak menimbang-nimbang apa yang baru saja dipaparkan oleh temannya.

Dalam hati pria 24 tahun itu setuju dengan pendapat temannya. Walau belum seratus persen membuat dia percaya diri untuk memperjuangkan cintanya.

Dia masih belum bisa yakin sepenuhnya. Tapi, tak menolak untuk berjuang di suatu hari nanti.

Juan memperhatikan raut wajah Rizky. Wajah-wajah yang seperti nyaris putus harapan.

Harusnya, jika dihitung-hitung siapa sebenarnya yang paling berhak galau adalah Juan. Baru saja, kasus percintaannya dibilang sara oleh Rizky.

Segala sesuatu yang bersifat sara, selalu memiliki tingkat kepelikkan tersendiri.

Pria 24 tahun itu meraih paper cup berisi kopi, menyeruput isinya.

Dalam beberapa saat, kedua laki-laki itu masih saling diam. Pandangan mata mereka masih tertuju pada jalanan yang berlalu-lalang.

Rizky segera menghabiskan kopinya, teringat Salwa yang pasti sudah sedang menunggunya. Dia tak mau membuat Salwa menunggu lebih lama.

Juan sudah menghabiskan kopinya sedari tadi. Pria gondrong itu, jika urusan dengan kopi sudah seperti minum air mineral saja. Sekali seruput bisa langsung tandas hingga ampas.

Doyan dan haus, memang beda tipis.

“Yuk!” ajak Rizky setelah selesai menghabiskan kopinya. Dia bangkit dari tempat duduk.

“Bukannya malam ini ada polisi itu? Emang nggak papa?” Juan memastikan Rizky  benar-benar tak masalah jika dirinya ikut.

“Ya nggak papa, lah! Kan udah kenalan waktu itu,” sahut Rizky seraya berjalan menuju motornya.

Juan sedikit ragu-ragu bangkit dari tempat duduk. Membiarkan Rizky memutar balik motornya terlebih dahulu.

Rizky memberi isyarat untuk segera naik. Juan menurut.

Kendaran roda dua itu bergerak ke seberang jalan. Masuk ke dalam mulut gang yang berseberangan dengan Ilfi Midi.

Tak jauh setelah masuk mulut gang. Kendaraan roda dua itu belok kanan masuk ke halaman kontrakan.

Seorang gadis berusia 26 tahun sedang duduk memeluk lutut di teras kontrakannya.

Gadis itu berambut pendek sebahu, memakai setelan piyama berwarna biru muda. Wajahnya yang eksotis tampak bersorak senang melihat seseorang yang dinanti telah datang.

Rizky memarkirkan sepeda motornya di tempat biasa. Juan turun terlebih dahulu. Namun, tidak langsung mendekat pada gadis itu.

Ekspresi Salwa biasa saja melihat keberadaan pria gondrong yang rambutnya diikat dengan model hair bun. Salwa sama sekali tidak menunjukkan ekspresi tidak suka atas keberadaan orang lain yang membersamai pria yang dia nanti sedari tadi.

Pria berseragam hitam ala Bookstore itu mencabut kunci motornya, kemudian berjalan mendekat ke teras dengan menenteng bungkusan berisi kebab. Di belakang Juan mengekor.

Salwa mengambil alih tentengan yang Rizky ulurkan. Rizky duduk di sebelahnya—masih diikuti oleh Juan.

Meski ragu, tapi demi kesopanan Juan berusaha melayangkan senyum untuk menyapa Salwa. Salwa membalas sapaan Juan dengan senyuman juga.

Rizky sibuk melepas tali sepatu.

“Ngomong-ngomong, ada kabar baik loh, Ky.” Salwa membuka pembicaraan.

“Apa itu, Kak?” tanya Rizky, tangannya sembari melepas kaos kaki.

“Maira sedang dalam perjalan balik ke Jakarta,” jawabnya, kemudian menggigit kebab yang baru saja dibuka.

Deg!

Ada jiwa yang mendadak bergetar. Cukup hebat. Lebih hebat dari gempa yang baru sore tadi terjadi di kota Sukabumi, Jawa Barat. Meski tidak berpotensi tsunami, namun cukup membuat resah warga.

Seperti itulah kiranya gambaran hati seorang pria berambut gondrong ketika mendengar kepulangan Maira—gadis pujaan hatinya.

Entah mengapa, mendadak dia resah mendengar kabar itu. Rasa senang dan kecemasan yang entah berasal dari mana, membuat si pria gondrong itu ingin segera beranjak meninggalkan dua orang di sebelahnya.

Berbeda dengan si pria gondrong, Rizky bersorak senang mendengar kabar kembalinya Maira ke Jakarta.

“Ki-Kiddo … aku pulang, yaa,” ucap Juan sedikit patah-patah.

Rizky mengernyit, “Loh? Baru juga sampai.”

“He-he-he … kebelet, Bro!” Juan beralasan. Tangannya menyentuh bahu Rizky.

Pria 24 tahun itu menatap wajah Juan, menyelidik.

“Lain kali saja, oke?”

“Abang bisa pakai toiletku, kenapa harus pulang?” Rizky mencoba mencegah.

Sepertinya dia tahu, apa yang membuat temannya tiba-tiba ingin pulang.

Juan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Salwa seperti biasa hanya menatap bergantian orang yang sedang berbicara. Mulutnya sibuk mengunyah kebab.

“Ngngng … lubang pantatku ini suka ngadat, Men! Nggak mau keluar kalau bukan di toilet sendiri. He-he-he.” Lagi-lagi itu hanyalah alibi Si Gondrong.

Rizky mengangkat sudut bibir atasnya. Merasa geli mendengar Juan mengucapkan lubang pantat. Memang Si Gondrong ini urat malunya sudah putus.

Pria 24 tahun itu mengibaskan tangannya ke udara, mengisyaratkan agar Juan segera pergi. Dia enggan berbasa-basi menawarkan diri untuk mengantar Juan ke Ilfi Midi.

Pokoknya Rizky ingin Juan segera enyah dari hadapannya.

Juan melangkah menjauh sembari terkekeh kecil. Salwa hanya mengulas senyum melihat tingkah pria gondrong yang masih tampak sangat aneh di matanya.

Punggung Juan menghilang di ambang perempatan mulut gang masuk halaman kontrakan. Dia melangkah cepat menuju mobilnya.

Begitu sampai di mobilnya, dengan debar tak menentu, dia memacu cepat kendaraan roda empatnya. Tentu saja tujuannya adalah rumah.

Seperti malam kemarin. Dia ingin segera merebah di ranjang kamarnya.

Yang sebenarnya, pria itu sangat bahagia mendengar kembalinya Maira ke Jakarta. Namun, dia mencoba mengontrol rasa bahagianya.

Sebab, dia masih tergiang-ngiang soal pendapat Rizky mengenai percintaan beda keyakinan.

***

1
T.N
eemm... morus 🤭
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!