Azella Belva atau akrab disapa Zee adalah seorang DJ bertubuh seksi yang dengan sukarela menikahi pria lansia berusia 70 tahun.
Gillberto Maddison, seorang casanova berparas tampan yang kembali dari Italia setelah mendapat kabar bahwa sang ayah jatuh sakit. Namun, Gill justru dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang pernah ia tiduri. Parahnya, gadis itu kini menjadi ibu tirinya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Akankah keduanya saling menerima takdir sebagai ibu dan anak tiri? Atau justru melawan takdir dengan menjalin hubungan terlarang?
Jangan lupa kepo'in IG author @Oniya_99
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 ~ Dia Adalah....
"Bagaimana rasanya, sayang?"
"Seperti biasa, masakan mama adalah yang terbaik," balas Vinson yang terlihat begitu menikmati makan siang yang dimasakkan langsung oleh sang ibu tercinta. Zee tersenyum lebar mendengar penuturan sang putra, ia senang karena akhirnya dapat meluangkan sedikit waktu untuk melepaskan rasa rindu kepada Vinson. Karena selama menikah, ia jarang sekali punya banyak waktu untuk sang putra.
Tak hanya menemani Vinson makan siang, Zee juga menemani sang putra hingga terlelap tidur siang. Setelah memastikan Vinson terlelap nyenyak, Zee pun pergi untuk kembali ke rumah suami. Berat rasanya meninggalkan sang putra di apartemen sendirian, tapi apa boleh buat. Zee tak punya pilihan lain, karena juga ada suami yang harus ia urus. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan kepada Dison sebagai ucapan terima kasihnya.
Sampai di rumah, Zee langsung melangkah menuju kamar sang suami, di mana sudah ada seorang dokter yang memeriksa kondisinya, tampaknya Zee sudah terlambat datang.
"Bagaimana kondisi kesehatan suami saya, dokter?" tanya Zee khawatir saat melihat wajah keriput Dison yang tampak pucat pasi.
"Tidak terlalu baik, tapi istirahat dan obat dapat membantu kondisi tuan menjadi lebih baik," kata sang dokter menjelaskan.
Zee mengantarkan dokter sampai ke pintu kamar, setelah itu barulah ia kembali duduk di pinggir ranjang. Samping sang suami yang terlelap dengan nyenyaknya.
"Takdir macam apa ini, Tuhan? Aku sama sekali tidak masalah menikah dengan pria lansia, tapi kenapa harus ayah dari pria yang pernah menjadi partner ranjangku? Kenyataan ini tetap menggelikan meski aku menempatkan diri sebagai anak, bukan sebagai istri," gumam Zee menghela napas dengan kasar.
***
"Jangan-jangan, ini rambut—"
"Sudah kukatakan kalau ini adalah rambut malaikat kecilku. Sudah, jangan bicara yang tidak-tidak, lebih baik lakukan tugasmu sebagai seorang dokter dengan benar," potong Gill membuat dokter Kelvin memasang ekspresi tak sukanya, meski begitu ia tetap menyimpan rambut tersebut untuk dilakukan test DNA.
"Kapan hasilnya akan keluar? Jangan lama-lama," Gill sudah tak sabar ingin melihat hasilnya.
"Hasilnya akan keluar paling cepat dalam 2-3 hari, untuk itu bersabarlah sedikit," jawaban dokter Kelvin tentu membuat Gill murka.
"Kenapa bisa selama itu? Kudengar ada yang selesai selama 24 jam," protes Gill tak terima.
"Kalau pakai darah memang cepat, 24 jam bisa langsung keluar hasilnya. Namun, tidak dengan rambut, aku butuh waktu paling cepat 2 hari," dokter Kelvin mejelaskan dengan sabar, Gill menghela napas kasar.
"Hubungi aku kalau hasilnya keluar," pesan Gill kemudian pergi dari ruangan dokter Kelvin yang tak lain adalah sahabatnya.
Setelah kepergian sang sahabat, dokter Kelvin segera bangkit untuk meletakkan rambut Gill dan malaikat kecilnya ke dalam laboratorium. Setelah itu, ia pun kembali ke ruangan untuk melanjutkan tugasnya. "Si bajingan itu tidak menyuruhku menutup mulut, haruskah aku ceritakan kepada paman Dison?" pikiran liciknya bermain.
"Ayahku sakit jantung, bego! Kau mau membunuhnya?" sahut Gill yang tiba-tiba masuk, membuat kaget dokter Kelvin.
"Hei! Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu!"
"Agar aku tidak mendengar rencana licikmu, begitu? Sebenarnya kau itu sahabatku atau bukan?" cerca Gill mulai naik pitam.
"Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apa pun pada paman Dison!" tegas dokter Kelvin membuat Gill menganggukkan kepala kemudian berlalu pergi kembali ke rumah karena baru saja Zee mengirim pesan bahwa kondisi ayahnya sedang memburuk.
Sampai di rumah, langkah kaki Gill langsung menuju ke kamar sang ayah. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa yang terjadi?" Gill langsung bertanya pada Zee yang tampak tengah mengelap keringat sang suami yang bercucuran.
"Dokter bilang ayahmu akan bangun dalam 15 menit ke depan, tapi ini sudah hampir satu jam. Kurasa ayahmu harus dibawa ke rumah sakit," terang Zee dan Gill pun langsung mengangkat tubuh sang ayah untuk dibawa ke rumah sakit. Tentu saja Zee juga ikut menemani sang suami yang lebih ia anggap seperti ayahnya sendiri.
Sampai di rumah sakit, Dison langsung ditangani oleh dokter dan kondisinya pun mulai membaik. Dison dipindahkan ke ruang rawat inap, Gill dan Zee ikut membantu mendorong brankar.
"Kamu mau ke mana, Gill?" tahan Dison dengan suara lemahnya.
"Pulang, Pa. Di sini ada istri papa yang jagain," kata Gill seakan tak peduli pada kesehatan sang ayah yang menurun.
"Jangan pergi, nak," tahan Dison berharap sang putra mau mendengarkan perkataannya.
Gill menghela napas kasar, kemudian terpaksa membalikkan badannya dengan malas. Pada akhirnya, ia menjatuhkan tubuh di sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang.
"Kemarilah nak, papa ingin bicara denganmu," pinta Dison seakan tak bertenaga, kondisinya benar-benar memburuk, padahal tadi pagi belum seburuk sekarang.
"Apa?" tanya Gill singkat, ia bangkit kemudian berdiri di sebelah brankar.
"Papa rasa, usia papa sudah tidak lama lagi. Untuk itu papa mohon, menikahlah nak," Dison memohon dengan ekspresi sedihnya.
"Wanita yang Gill sukai belum menjadi janda, Pa. Tahanlah sebentar pagi, jangan mati sekarang," balas Gill asal, ia menatap Zee dengan bibir tertarik lebar. Zee mati kutu.
"Siapa wanita itu? Apa dia menderita hidup bersama suaminya? Katakan pada papa, papa akan membantunya agar cepat menjadi janda."
"Karena papa sangat penasaran, akan aku beritahu," kata Gill dengan tatapan yang tak lepas dari Zee. ia menggelengkan kepala dengan cepat, berharap Gill tak mengatakan yang sebenarnya
"Siapa dia? Apa kamu juga mengenal wanita yang Gill sukai, Zee?" tanya Dison kepada sang istri, Zee menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Ibu tiriku itu tahu segalanya, tapi Gill rasa dia tidak akan memberitahu papa," Gill berkata dengan entengnya.
"Siapa, Zee?" tekan Dison membuat Zee tak bisa mengelak.
"SIAPA?" ulangnya dengan suara lantang.
Zee menelan saliva dan kemudian berkata, "Di-dia ... Dia adalah....
.
.
.
luar biasa..!!!
suka banget sama cerita yg ini..
ada humornya tapi ada misterinya juga..
pokoknya the best lah😘😘😘
sehat2 terus ya kak..
tetap semangat untuk terus berkarya.. 😍🥰🤩😘
btw, skr lanjut berkarya dimana kak?
udah g ada novel baru lg..