Ketika putrinya menyinggung seorang ahli kuat di alam Yang Murni, sistem misterius berbunyi: “Ding! Berdasarkan cinta seorang ayah yang setinggi gunung dan kewajiban untuk melindungi darah dagingnya, kultivasimu meningkat ke alam Yang Lebih Tinggi,”Sejak saat itu, Bai Chen menyadari satu hal — setiap kali anaknya menimbulkan masalah, kekuatannya akan bertambah.Maka, perjalanan Bai Chen pun berubah menjadi jalan yang tak pernah berakhir... jalan untuk “menjebak” putrinya demi menjadi semakin kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Rahasia yang Tidak Perlu Dijelaskan
"Ayah pernah ke luar Dinasti Taixu?!" Bai Qingxue tercengang.
Dia tahu betul—jarak yang bisa ditempuh seseorang berbanding lurus dengan kekuatannya. Semakin kuat seseorang, semakin cepat pula pergerakannya, sehingga mampu menjangkau tempat yang lebih jauh. Tapi di sisi lain, semakin jauh perjalanan, semakin besar bahaya yang mengintai. Tanpa kekuatan memadai, tidak akan ada yang berani melangkah sejauh itu.
"Jauh lebih luas dari sekadar Dinasti Taixu," jawab Bai Chen sambil mengangkat kepala dengan bangga. Tapi sesaat kemudian, sorot matanya berubah—ada semburat ejekan diri yang lewat begitu saja.
"Ayah, kenapa?" Bai Qingxue menangkap perubahan itu dan langsung cemas.
Bai Chen terdiam sejenak, lalu menatap putrinya dengan raut sedih. "Kau tahu di mana ibumu sekarang?"
"Bukankah Ibu sudah lama meninggal?" Bai Qingxue mengernyit bingung. Sepanjang hidupnya, semua orang—termasuk ayahnya sendiri—selalu bilang begitu.
"Tidak. Ibumu masih hidup. Dia hanya... dibawa pergi oleh keluarganya," ucap Bai Chen pelan dan serak, seolah baru saja tersadar dari mabuk panjang dan kembali mengingat luka lama yang selama ini dikuburnya.
"Keluarga Ibu?!" Mata Bai Qingxue membelalak. Dia pernah dengar samar-samar bahwa ibunya dulu dibawa ayahnya dari suatu tempat jauh, asal-usulnya tak jelas. Pernikahan mereka pun ditentang habis-habisan oleh para tetua keluarga—bahkan tak satu pun yang hadir di pernikahan itu.
"Keluarga ibumu itu benar-benar raksasa. Bagi mereka, Dinasti Taixu bisa dimusnahkan hanya dengan sekali jentikan jari," lanjut Bai Chen.
Bai Qingxue menahan napas. Kekuatan macam apa yang bisa memusnahkan seluruh Dinasti Taixu semudah itu? Dinasti Taixu saja memiliki para ahli di Alam Pencapaian Surga—tingkat keenam dari sembilan Alam kultivasi utama: Penempaan Tubuh, Esensi Sejati, Alam Inti Asal, Yang Murni, Nirvana, Pencapaian Surga, Saint Tertinggi, Kaisar Alam, dan Dewa Bela Diri. Alam Pencapaian Surga saja sudah dianggap sangat kuat.
"Ayah, sebenarnya keluarga Ibu ada di level berapa?" tanyanya gemetar.
"Jangan tanya lagi," potong Bai Chen tegas. "Terlalu banyak tahu tidak baik untukmu sekarang. Jangan bermimpi terlalu tinggi untuk hal yang belum bisa kau capai."
"Baik..." Bai Qingxue mengangguk, meski diam-diam lega—setidaknya ibunya masih hidup. Setelah berpikir sejenak, dia bertanya lagi, "Ayah pasti sangat kuat dulu, kan? Tapi kenapa sekarang..."
Maksudnya jelas: kenapa sikap ayahnya sekarang begitu jauh berbeda dari cerita hebat yang baru saja didengarnya?
"Aku pernah disegel," jawab Bai Chen sambil menghela napas. "Waktu itu, mereka membawa ibumu pergi dengan niat membunuh kami berdua—aku dan kau. Ibumu adalah Santa dalam keluarga mereka. Kehadiran kita berdua dianggap noda bagi nama besar mereka."
"Untungnya ibumu mengancam akan bunuh diri, jadi mereka batal membunuh kami. Tapi supaya aku tidak bisa membalas dendam di kemudian hari, mereka menyegel kultivasiku—termasuk Inti Alam Asal yang sudah kubangun sebelumnya."
"Segel itu bukan hanya mengunci kekuatan asliku, tapi juga mencegahku memulai dari nol. Selama bertahun-tahun, aku cuma mampu bertahan di Alam Inti Asal." Dia mengangkat kepala dan tersenyum penuh amarah tertahan, hampir menggeretakkan gigi. "Tapi langit masih punya mata. Waktu aku masuk ke Tanah Terlarang mencari obat untukmu, aku tanpa sengaja memicu formasi kuno di sana—dan segel itu hancur!"
Napas Bai Qingxue tercekat. Dia menatap ayahnya dengan mata berbinar. "Ayah, maksudnya... kekuatan Ayah..."
"Segelnya sudah rusak. Kekuatanku akan segera pulih ke tingkat semula—bahkan bisa terus berkembang lagi," ucap Bai Chen mengangkat kepala dengan bangga, seolah aura kepahlawanan membubung ke langit, rambutnya berkibar tanpa angin.
Penuh wibawa, seakan seluruh dunia ada dalam genggamannya—sosok jenius tak tertandingi yang dulu menggetarkan langit dan bumi, kini telah kembali.
"Ayah dulu sampai di Alam apa?" tanya Bai Qingxue gugup.
Bai Chen menunduk menatap putrinya dan tersenyum misterius. "Kau tidak akan mengerti meski kuberi tahu. Yang bisa kukatakan—kultivasi itu tidak berhenti di sembilan Alam saja."
Dia sengaja bersikap misterius. Sebagai mantan pebisnis, dia paham betul—sebagian hal sebaiknya tidak dijelaskan gamblang. Pertama, terlalu detail bisa membongkar kebohongan. Kedua, sesuatu yang dijelaskan tuntas biasanya kehilangan daya tariknya. Hanya dengan tetap misterius, kesan agung bisa terjaga.
Bai Qingxue menahan napas dalam-dalam, hampir tersedak di tempat. Dia memang selalu percaya penuh pada ayahnya—sefantastis apa pun ucapannya, setidaknya tujuh puluh persen langsung dia percayai begitu saja.
Melihat itu, Bai Chen segera memanfaatkan momen. Dia melirik cincin hitam di jari putrinya dan berkata santai, "Cincin ini bagus juga. Kau dapat dari mana? Waktu jalan-jalan tadi?"
"Um... iya..." Bai Qingxue langsung menunduk, matanya menghindar, ada sedikit rasa bersalah dan perlawanan di sana.
Bai Chen langsung mengerti. Kemungkinan besar ada sesosok orang tua tersembunyi di dalam cincin itu—pastinya orang itu berpesan agar putrinya tidak membocorkan rahasianya, makanya dia merasa bersalah karena "menyembunyikan sesuatu" dari ayahnya.
Diam-diam, saat putrinya sedang menunduk, Bai Chen melirik tajam ke arah cincin itu dengan tatapan penuh makna—seolah berkata, *pak tua, jangan bersembunyi, aku sudah tahu.*
Kalau memang benar ada orang tua di dalam cincin itu, tatapan "sudah tahu semuanya" ini pasti akan membuatnya terkejut. Dan kalau orang itu nanti bercerita ke putrinya soal ini, citra Bai Chen sebagai ahli hebat akan makin tertanam kuat di benak Bai Qingxue.
Tentu saja, bisa jadi tidak ada siapa-siapa di dalam cincin itu—hanya rahasia lain. Tapi tidak masalah. Toh tidak ada yang melihat. Sekalipun dia hanya melirik kekosongan, tidak ada yang perlu dipermalukan.
"Ayah, sebenarnya..." Setelah lama menahan diri, Bai Qingxue menggigit bibir, mengangkat kepala, seolah hendak mengaku sesuatu. Bagaimanapun, tidak ada yang lebih penting dari seorang ayah—bahkan pepatah bilang, guru sehari pun setara ayah seumur hidup. Padahal dia belum resmi jadi murid siapa pun.
"Sudahlah," potong Bai Chen sambil menepuk kepala putrinya dan tersenyum. "Setiap orang punya rahasia masing-masing. Ayah tidak keberatan."
Bai Qingxue tergetar, lalu mengangguk terharu. Hanya ayahnya yang selalu memahaminya seperti ini.
"Orang yang tidak menjaga janjinya tidak akan bertahan lama. Ingat, kau harus berusaha sekuat tenaga memenuhi setiap janji yang kau buat pada orang lain." Bai Chen berkata lembut, lalu melirik cincin itu sekali lagi. "Tapi kalau memang benar-benar tidak sanggup... masih ada ayahmu."
Kalimat itu punya makna ganda—ditujukan sekaligus untuk putrinya dan kemungkinan "orang tua di dalam cincin". Kalau memang benar ada, ucapan ini akan makin meyakinkannya bahwa Bai Chen sudah tahu keberadaannya. Dan kalau si penghuni cincin itu percaya lalu memberi sedikit bantuan, maka di mata putrinya, sosok ayahnya akan benar-benar menjelma sebagai ahli tak tertandingi.
Tentu saja, semua ini cuma kemungkinan. Bisa jadi memang tidak ada siapa-siapa di sana.
Tapi toh, meski tidak ada siapa-siapa, dua kalimat itu tetap tidak memalukan. Seorang ayah mengajarkan prinsip hidup pada putrinya—apa salahnya?
Sama sekali tidak ada masalah!