novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Dias menghadap pada Teo.
"Maaf Bos, dia tidak terdata di database manapun," ucap Dias sambil menaruh foto Taupan di atas meja di hadapan Teo. Teo menatap Dias. Dias yang berwajah lusuh dan tampak kecapean.
"Cuma ada satu petunjuk, wajahnya pernah terpampang di kepolisian sebagai perampok."
"Perampok???" ulang Teo meyakinkan dengan wajah heran.
"Iya Bos, tidak ada data apapun selain itu."
"Oh iya Bos, ada informasi menarik dari orang-orang kita yang suka bermain judi ilegal. Katanya para bandar judi dari Singapur dan Makau mengirim banyak pembunuh bayaran untuk menangkap seorang penjudi ulung," ucap Dias.
"Maksudmu??" Teo tidak mengerti apa maksud tujuan Dias membicarakan seorang penjudi ulung di tengah kekalahannya.
"Dari sumber yang dapat dipercaya, penjudi itu selalu menang dan bisa menghilang. Maaf kalo Bos tidak tertarik, Tapi-"
"Sebentar, sebentar Dias. Kamu yakin dengan informasi itu?"
"Bos tahu sendiri, bos yang merekrut dan mengenal semua orang yang royal dengan kita, jadi untuk apa mereka membual. Maksud saya, maaf Bos. Bagaimana kalo kita temui orang itu dan ajak bergabung dengan kita," ucap Dias dengan sedikit keraguan dan takut. Takut Bos nya itu menganggap konyol idenya itu. Tapi Teo menunjukkan wajah tertarik.
"Seseorang yang bisa menghilang?" Angan Teo melayang. Akhir-akhir ini ia memang sedang berurusan dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Belum selesai urusannya dengan Dul Karim yang punya pukulan mematikan, lalu datang lagi seseorang yang selalu utuh kembali meski di tembak berkali-kali. Putus sudah akal sehat Teo. Lalu sekarang Dias menyarankan dirinya untuk menemui orang yang bisa menghilang.
"Sekali lagi, maaf Bos. Kalo tidak tertarik, saya sendiri juga tidak yakin orang itu bisa menghilang."
"Si Abdullah Karim bisa memecahkan kepala manusia hanya dengan satu pukulan tangan kosong. Lalu kemarin, kalian bilang, ada seseorang yang dikirim ke dalam bank dan dia punya kemampuan aneh. Di tembak berkali-kali pelurunya keluar sendiri dari dalam tubuhnya dan lukanya sembuh saat itu juga."
"Iya Bos, si Dera yang menembaknya langsung bilang ke saya, saat itu juga," jawab Dias.
"Tidak ada yang mustahil dan tidak ada yang tidak bisa dikalahkan. Baiklah, kirim utusan untuk menemui orang itu, atur pertemuan secepatnya, sebelum ia ditangkap orang-orang suruhan bandar judi itu."
"Siap Bos."
***
Setelah pulang dari makan malam bersama Fani yang sangat berkesan, Taupan senyam-senyum sendiri sambil berjalan melewati Abe yang sedang bengong. Abe kebagian jatah jaga malam ini di gudang kamuflase itu. Abe berpakaian satpam dan Taupan turun dari taksi di kejauhan.
"Hai Abang Sakti Kedua, bagaimana makan malamnya? lancar kah?" Tanya Abe dengan wajah kepo.
"Lancar sekali, hehe, terima kasih atas bantuannya," senyum Taupan sambil menepuk pundak Abe lalu mengacak-acak rambut Abe yang bergulung seperti sarang tawon itu.
"Dia cantik sekali, saya sudah tidak sabar, ingin segera menikahinya, hehe."
"Waduh! Santai dulu Abang Sakti Kedua, jangan buru-buru, nanti dia kaget to."
" Iya, iya, tapi bagaimana caranya?" lanjut Taupan.
"Tapi bagaimana dulu ceritanya, baru nanti saya kasih tahu 'rencana selanjutnya' ya kan?"
"Halah, sendirinya aja gagal terus deketin cewek, sok ngasih rencana," celetuk Nugroho yang kebetulan lewat. Ia juga baru pulang. Ini malam Minggu dan mau-maunya Abe ambil jatah jaga malam.
"Sembarang kau bicara Nugroho, kau belum tahu saya to."
"Sudah, sudah, saya masuk dulu," pamit Taupan pada Abe yang lantas mencegat Nugroho.
"Kau habis dari mana? Gak ajak-ajak kau."
"Salah sendiri mau di suruh jaga malam."
Taupan terus melenggang memasuki lorong, tidak menghiraukan kedua teman barunya itu yang terlibat cekcok. Taupan merasa sangat bahagia dan aroma parfum Fani mengikutinya sampai tempat tidur.
***
Pagi kemudian, Don Lee melangkah pasti ke sebuah gedung perpustakaan. Gedung modern berlantai 10. Dia sudah ada janji dengan seorang profesor ahli arkeologi. Don Lee berpakaian resmi, stelan jas hitam dan topi kodok khas seniman. Don Lee yang bertubuh gempal jadi tampak seperti detektif atau orang penting lainnya.
Seorang resepsionis yang ramah menyapa dan semua percakapan Don Lee di tanah kelahirannya ini dalam bahasa Mandarin.
"Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu."
"Saya sudah ada janji dengan Profesor Jiang," ucap Don Lee sambil menunjukkan kartu identitas.
"Oh iya, sebentar," ucap resepsionis itu lalu menekan sejumlah nomer dan mengangkat telepon.
"Halo, Pak, ada tuan Don Lee mau menemui Bapak."
"Oh iya, saya di perpustakaan, sektor G 3," suara dari dalam telepon itu. "Antar kan tuan Don Lee kesini."
"Siap Pak," jawab resepsionis itu, lalu menutup telepon dan mempersilahkan Don Lee untuk mengikutinya.
"Mari, ikuti saya."
"Ya."
Keduanya pun melangkah. Gedung yang bersih dengan lantai parkuet kayu mahoni yang mengkilat. Sepatu pantofel Don Lee menapak dengan pasti.
Akhirnya Don Lee sampai ke dalam ruang perpustakaan yang di maksud. Seorang Tua berkacamata tebal dan bertubuh kurus tampak menunggu.
"Selamat pagi Pak, tuan Don Lee, ini Profesor Jiang."
"Selamat pagi," sapa Don Lee sambil tersenyum sok wibawa dan menjulurkan tangan. Keduanya pun bersalaman dan duduk.
Resepsionis tadi pun berlalu dengan sopan. Don Lee dan Profesor Jiang duduk satu meja dengan wajah serius.
"Maaf sebelumnya Prof, tapi mendesak sekali, makanya saya datang jauh-jauh," ucap Don Lee.
"Saya mencetak foto yang saudara kirim. Ini," ucap profesor Jiang sambil membuka sebuah map dan mengeluarkan sebuah foto digital yang besar ukuran 24R.
"Semalaman saya mencoba mencocokkannya dengan semua peta yang ada. Tapi maaf, tidak ada yang cocok dengan garis-garis yang ada di foto ini," ucap profesor Jiang sambil mengamati garis-garis berliku dengan simbol-simbol aneh di foto itu.
"Saya bahkan menggunakan citra satelit. Tapi hasilnya nihil. Jadi, saya yakin, ini bukan peta bumi saat ini."
"Maksudnya??" Don Lee tak mengerti.
"Sebut saja setiap tahunnya peta bumi berubah satu centimeter. Jadi, saya kira, peta ini berusia ribuan tahun yang lalu dan anehnya, simbol-simbol ini, tidak pernah saya lihat sebelumnya, kalo dari kebudayaan Mesir kuno, Aztec dan sebagainya, saya sudah tidak asing. Tapi ini, aneh sekali."
"Yah, memang aneh, saya saja hampir gila memikirkannya.
"Maaf Saudara Don Lee, Anda belum memberitahu saya, dari mana Anda mendapatkan peta ini." tanya profesor Jiang dengan mata lapar.
Semakin pintar seseorang, jelas ia semakin lapar dan haus akan pengetahuan.
"Sepertinya, Bapak tidak akan percaya pada apa yang akan saya ceritakan," ucap Don Lee. Hati Don Lee pesimis. Tapi di balik itu, Cawan suci, khasiat air yang ada di dalamnya, kekuatan dan hal-hal di luar nalar lainnya yang diceritakan gurunya itu adalah harapan satu-satunya.
up
up