Bertahun- tahun Arini berusaha menjadi istri yang baik buat Ilham. Dan menantu yang penurut untuk Bu Lastri.
Atas permintaan Ilham. Arini terpaksa melepas posisinya yang cukup bagus di sebuah perusahaan swasta. alasanya Ilham ingin Arini menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Namun seiring waktu, karier Ilham yang terus melejit membuat perubahan sikap mertuanya. Arini masih bernafas lega, karna Ilham selalu membelanya.
Puncaknya ketika sebuah rahasia terungkap. Ilham telah mengkhianatinya. Dia berselingkuh dengan Anita, sahabatnya sendiri. Alasannya sepele, yaitu Arini yang tak kunjung hamil. Berbagai konflik mulai terjadi.
Ilham yang berbakti menjadi buta hatinya. Ia selalu menuruti apapun yang di katakan ibunya.
Di tengah keterpurukannya, Denis datang sebagai penyelamat.
Akankah Arini memperjuangkan Ilham? ataukah memilih Denis menjadi partner hidupnya?
Kita ikuti kisah selengkapnya yuuk!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Karena keasikan bekerja, Arini jadi lupa untuk makan siang.
Ia sadar saat Denis meletakkan bungkusan di mejanya.
"Kau lupa makan, kan?"
Arini meminta maaf karena sudah mengabaikan pesan Denis untuk makan siang.
"Aku tidak mau tau, kau harus makan dulu!"
Denis menuntun Arini untuk duduk makan serta meninggalkan meja kerjanya.
"Aku bisa sendiri pak !" kata Arini.
Denis menahan tawanya.
"Kenapa?" Arini terheran-heran.
"Kau lucu kalau bersikap formal begitu."
"Owh... itu? wajar lah. Saya, kan bawahan."
"Hei kita hanya berdua, tidak usah terlalu formal, kesannya jadi agak gimana... gitu."
"Tapi ini area kantor. aku takut ada yang melihat." jawab Arini.
"Tenang saja, semua masih keluar makan siang." bisik Denis.
"Kecuali saya pak Denis." seorang wanita cantik sudah berdiri di ambang pintu.
Arini dan Denis terdiam sejenak.
"Oh,ya.. mungkin saya kurang cermat berbicara. benar, semua sedang keluar makan siang kecuali kita bertiga." ralat Denis.
Tiara tersenyum setuju.
Tiara melirik Arini yang kebetulan sedang memandangnya pula.
"Ayo makan! hargai usaha pak Denis. Dia memang baik pada semua orang. Bahkan pada seorang karyawan biasa sepertimu..!" ucapannya bernada mengejek.
"Eeemh... Bu Tiara, apalah bedanya karyawan biasa atau pun yang tidak biasa. Saya pikir semua sama saja, karna sama-sama masih bekerja untuk orang lain juga." ucap Denis.
Tiara tampak terpojok, dan tersenyum di paksakan.
"Saya permisi dulu, Pak!" wanita itu berlalu dengan hati dongkol.
"Ayo makan!" Denis membuka botol air mineral untuknya.
"Aku mau balik keruangan ku dulu.." Denis berbalik dan berjalan hendak keluar.
"Tunggu...!" Denis menoleh.
"Terimakasih" ucap Arini singkat.
Denis tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
Arini merasa lebih baik. ia bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Ilham.
***
Di kantornya, Ilham terlihat lesu. Adit teman yang seruangan dengannya merasa heran.
'Apalagi bro? Anita sudah kau dapatkan, Arini masih di tangan. kenapa wajahmu masih kucel begitu?" goda Adit.
"Arini meninggalkan rumah, Dit." ucapnya lemas.
Adit tercengang.
"Maksudmu...?" Ilham mengangguk.
Adit ikut lemas di tempatnya.
"Sangat di sayangkan kalau Arini yang harus pergi." gumamnya pelan.
"Aku tau Arini wanita hebat. Kalau tidak, sudah dari dulu dia meninggalkan mu." ucapan Adit membuat Ilham berang.
"Apa maksudmu Dit?"
"Aku jujur Ham, Menurutku, Arini adalah tipe istri yang harus di pertahankan. Saat aku tau kau menghianatinya, aku bertanya-tanya. Apa kurangnya dia? dia penurut, sabar, setia. cantik lagi!"
Ilham mendongak saat Adit menyebut Arini cantik.
'Memang istrimu cantik, hanya saja kurang kau modali. Coba Arini yang ada di posisi Anita? aku yakin Anita kalah jauh di bawah Arini."
Penjelasan Adit yang panjang lebar membuat kepala Ilham semakin berdenyut.
Ia semakin tenggelam dalam penyesalan.
Kenapa dia tidak bisa melihat kelebihan Arini.
Matanya sudah di balik oleh sosok Anita. Hingga yang tampak indah di matanya Saat itu hanyalah Anita.
"Terus, kapan pernikahanmu dengan Anita.?"
tanya Adit ketus.
Ilham menggeleng linglung.
"Aku bingung, kemungkinan aku tunda. Arini belum tau kabar beritanya."
ucap Ilham pasrah.
Ilham hanya melirik sekilas ponselnya yang menyala.
ia malas meladeninya saat tau Anita yang menelpon.
Tapi Anita tidak mau menyerah. Ia terus berusaha menghubungi calon suaminya itu.
"Ada apa lagi Nit?" sapanya dengan enggan.
"Sore ini kita mau fitting gaun, kan?"
Ilham menghela nafas berat.
"Halo, Mas, kau masih disana?"
"Iya... Anita, kita mundurkan acara pernikahan kita!" ucapnya dengan berat hati.
"Di undur? jangan bercanda Mas?" jawabnya sewot.
"Arini pergi dari rumah."
"Terus?" tanya Anita tanpa ada simpati sedikitpun mendengar Arini meninggalkan rumah. Seolah itu berita yang sangat di tunggunya.
"Terus? kau benar-benar tidak punya hati, ya? apa kau tega bersenang-senang sedangkan Arini belum tau kabar beritanya?" suara Ilham meninggi.
"Itu lagi yang di bahas, Arini sudah menerima pernikahan kita. kalau dia memilih pergi, itu, urusan dia dong!"
Jawaban Anita membuat Ilham naik darah. seandainya saja mereka bicara berhadapan, ingin sekali Ilham menampar mulut lues calon istrinya itu.
Ilham menutup telpon secara sepihak. Ia sangat jengkel pada pendapat Anita.
"Kenapa semakin kesini, aku semakin muak pada sikap Anita? andai ini kurasakan saat sebelum semua ini terjadi..' Ilham kembali menyesali dirinya.
"Ilham, apa yang kau bilang pada Anita? dia sedang hamil. Jaga sedikit perasaanya!"
Ilham mendesah panjang.
"Dia ngadu apa ke ibu?" tanyanya dengan malas.
"Dia bilang, kau menunda acara pernikahan kalian, benar?"
Ilham mengangguk.
"Kau sudah gila? ibu sudah cukup shok dengan masalah yang terjadi di antara kalian bertiga. Jangan membuat ibu tambah pusing!" ketus Bu Lastri.
Ilham tidak menanggapi amarah ibunya. Ia malah meninggalkan Bu Lastri mengoceh sendiri.
Ilham berniat untuk mencari Arini.
"Aku tidak pernah bertanya dimana dia bekerja, posisinya apa? aku memang laki -laki yang tak berguna."
Ilham membaca pesan Anita yang masuk di ponselnya.
(Mas, aku minta maaf atas kejadian kemarin, sekarang bisa kita bertemu?)
Ilham mendesah panjang.
"Pesan apa Mas?" tanyanya dengan manis saat merek sudah duduk di sebuah kafe.
"Terserah kau saja!"
Anita menatapnya sejenak.
"Dia kelihatan masih marah.." bathin Anita.
"Mas.. kau sudah merubah keputusanmu tentang menunda pernikahan kita, kan?"
tanyanya hati-hati.
"Aku tau kau tidak akan setuju kalau aku menundanya. Tapi aku minta waktu sampai aku tau keadaan Arini, ya! bagaimana pun dia masih tanggung jawabku!"
Anita terdiam.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Kau sendiri tau keadaanku. Perutku akan semakin membesar Mas!"
Akhirnya Ilham mengalah kalau Anita memakai kehamilannya sebagai alasan untuk mendesakbya.
'Saat mereka keluar dari kafe itu, tak sengaja mata Ilham menangkap sosok Arini yang sedang di bonceng seseorang.
"Arini?" gumam Ilham pelan.
"Arini? mana?" sergah Anita tidak senang.
Ilham tidak menanggapi pertanyaan Anita. Dia langsung tancap gas mengejar motor yang membawa Arini.
"Mas, pelan sedikit!" keluh Anita memegangi perutnya.
"Kalau pelan, kita akan kehilangan jejak!"
Anita memutar bola matanya dengan malas.
Ia merasa tidak senang karna Ilham begitu semangat kalau sudah mengenai Arini.
Sedangkan Ilham sendiri merasa penasaran. Siapa sebenarnya yang membonceng Arini.
"Aduuh..!" Anita meringis memegangi perutnya.
"Kenapa?" Ilham spontan menghentikan mobilnya.
"Perutku sakit sekali Mas.." rintihnya dengan wajah berkeringat.
Ilham melupakan niatnya mengejar Arini. Ia membawa calon istrinya ke klinik langganan mereka.
Ilham menuntun Anita ke tempat duduk untuk mengantri.
"Ibu Arini hafsari!" terdengar suara memanggil nama Arini.
Ilham kaget dan menoleh.
ia merasa lebih kaget lagi karna yang di maksud adalah 'Arini' istrinya.
Spontan Ilham hendak mengejar Arini yang sudah berjalan masuk keruangan untuk di periksa.
Tapi tangannya di tahan oleh Anita.
"Aduuh. perutku semakin sakit Mas!" rintihnya dengan air mata berlinang.
"Tapi..?" Ilham menjadi bimbang antara Arini dan Anita.
Karna terus merintih, Ilham memutuskan untuk mengabaikan Arini dan memilih menemani Anita yang sedang kesakitan.
"Sambil menenangkan Anita, mata Ilham terus menatap ke pintu. Ia berharap bisa melihat Arini saat keluar dari ruangan itu.
Ilham jadi teringat dengan kertas yang dia temukan di lemari Arini saat itu.
Sebuah kartu kunjungan klinik tempat mereka berada saat ini.
"Apa hubungannya kertas itu dengan keberadaan Arini disini?"
Wajahnya terlihat gelisah. Di tambah suara Anita yang terus merintih.
"Tahan Nit, sebentar lagi giliran kita."
Ilham memapah Anita masuk ke ruangan.
Dia heran karna tidak melihat Arini keluar dari pintu. padahal ia menunggunya sampai enggan berkedip.
Ilham celingukan sendiri di ruangan itu.
"Cari sesuatu pak?" sapa seorang perawat ramah.
Ilham menggeleng linglung.
"Bagaimana kondisi ke hamilanmu?"
"Alhamdulillah sehat, dia aktif kata Dokter."
"Syukurlah!" ucap Denis.
Like dan komennya mana?